Religiusitas: Pengertian dan Dimensi Religiusitas Menurut Para Ahli

Daftar Isi
Religiusitas: Pengertian dan Dimensi Religiusitas Menurut Para Ahli - Variabel psikologi yang paling menarik salah satunya adalah religuisitas. Karena variabel ini akan mengungkap sejauh mana konsitensi seseorang tentang apa yang ia yakini atau dalam artian apa yang mengikatnya (suatu keyakinan). Lebih jelasnya universitaspsikologi.com telah merangkum pengertian dan dimensi/aspek-aspek religuisitas pada tulisan berikut ini, silahkan disimak.

Pengertian Religiusitas

Gazalba (dalam Ghufron, 2012) religiusitas berasal dari kata religi dalam bahasa latin “religio” yang akar katanya adalah religure yang berarti mengikat. Dengan demikian, mengandung makna bahwa religi atau agama pada umumnya memiliki aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemeluknya. Kesemua itu berfungsi mengikat seseorang atau  sekelompok orang dalam hubungannya dengan tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya.

Anshori (dalam Ghufron, 2012) membedakan antara istilah religi atau agama dengan religiusitas. Jika agama menunjuk pada aspek-aspek formal yang berkaitan dengan aturan dan kewajiban, maka religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh seseorang dalam hati. Pendapat tersebut sendada dengan Dister (dalam Ghufron, 2012) yang mengartikan religiusitas sebagai keberagamaan karena adanya internalisasi agama ke dalam diri seseorang. Monks dkk (dalam Ghufron, 2012) mengartikan keberagamaan sebagai keterdekatan yang lebih tinggi dari manusia kepada Yang Maha Kuasa yang memberikan perasaan aman.

Menurut Ronald Abeles (dalam Widiyawati, 2015) defenisi konseptual dari religiusitas adalah religiousness has spesific behavioral, social, doctrinal, and denominational characteristics because it involves a system of worship and doctrine that is shared within a group”.

Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa religiusitas adalah sistem peribadatan dan doktrin ada pada suatu kelompok, yang bersifat perilaku (behavioral), sosial (social), dan kedoktrinan (doctrinal), dan penginternalisasian sifat-sifat tertentu.

Jalaluddin dan Ramayulis (dalam widiyawati, 2015) religiusitas atau keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yanng mendorong seseorang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama. Keberadaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif persamaan terhadap agama sebagai komponen konatif. Didalam sikap kegamaan antara komponen kognitif, afektif, dan konatif saling berintegrasi sesamanya secara komplek.

Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa religiusitas menunjuk pada tingkat ketertarikan individu terhadap agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa individu telah menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya.

Dimensi-dimensi Religiusitas

Agama adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi (ultimate meaning).

Religiusitas merupakan menifestasi sejauh mana individu meyakini, memahami, mengetahui, menghayati, dan mempraktekkan agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Religiusitas: Pengertian dan Dimensi Religiusitas Menurut Para Ahli
Pengertian Religuisitas
Baca juga: Kematangan Karir Perlukah Dalam Dunia Kerja?
Aktifitas beragama tidak hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual, tetapi juga ketika melakukan aktifitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Yakni bukan hanya berkaitan dengan aktifitas yang tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karena itu, menurut Glock dan Stark religiusitas (keberagamaan) seseorang meliputi berbagai macam sisi atau dimensi.

Adapun dimensi-dimensi keberagamaan menurut Glock dan Stark, yaitu:

1) Dimensi keyakinan
2) Dimensi praktik agama
3) Dimensi pengalaman
4) Dimensi pengetahuan
5) Dimensi konsekuensi

Dimensi keyakinan adalah bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai termasuk dalam kategori dimensi ideologis. Kepercayaan atau doktrin agama adalah dimensi yang paling dasar. Inilah yang membedakan satu agama dengan agama yang lainnya, bahkan satu mazhab dalam satu agama dari mazhab lainnya.

Muhyani (dalam Widiyawati, 2015) menjelaskan Dimensi praktik agama adalah dimensi keberagamaan yang berkaitan dengan sejumlah perilaku. Yang dimaksud dengan perilaku disini bukanlah perilaku umum yang dipengaruhi keimanan seseorang, melainkan mengacu kepada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama, seperti tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa, atau menjalankan ritus-ritus khusus pada hari-hari suci. Shalat dengan menghadap kiblat beserta ruku’ dan sujud adalah dimensi ritualistik Islam. Dimensi ini merupakan refleksi langsung dari dimensi pertama. Ketika agama mengkonsepsikan adanya Allah yang menjadi pusat penyembahan, disebut juga dimensi praktek agama atau peribadatan (ritual).

Dimensi pengalaman berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama. Pengalaman keagamaan ini bisa saja terjadi sangat moderat, seperti kekhusukan di dalam shalat atau sangat intens seperti yang dialami oleh para sufi. Dimensi pengalaman adalah bentuk respon kehadiran Tuhan yang dirasakan seseorang atau komunitas keagamaan. Respon kehadiran Tuhan dalam diri seseorang atau komunitas keagamaan tercermin pada adanya emosi keagamaan yang kuat. Terdapat rasa kekaguman, keterpesonaan, dan hormat yang demikian melimpah.

Dimensi pengetahuan. Setiap agama memiliki sejumlah informasi khusus yang harus diketahui oleh para pengikutnya. Ilmu fiqih di dalam Islam menghimpun informasi tentang fatwa ulama berkenaan dengan pelaksanaan ritus-ritus keagamaan. Sikap orang dalam menerima atau menilai ajaran agamanya berkaitan erat dengan pengetahuan agamanya itu. Orang yang sangat dogmatis tidak mau mendengarkan pengetahuan dari kelompok manapun yang bertentangan dengan keyakinan agamanya. Dimensi pengetahuan dan keyakinan jelas berkaitan satu sama lain karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimanya. Walaupun demikian keyakinan tidak perlu diikuti oleh syarat pengetahuan, juga semua pengetahuan agama tidak selalu bersandar pada keyakinan. Lebih jauh, seseorang dapat berkeyakinan kuat tanpa benar-benar memahami agamanya, atau kepercayaan bisa kuat atas dasar pengetahuan yang amat sedikit.

Dimensi konsekuensi menunjukkan akibat ajaran agama dalam perilaku umum, yang tidak secara langsung dan secara khusus ditetapkan agama (seperti dalam dimensi praktik agama). Inilah efek ajaran agama pada perilaku individu dalam kehidupannya sehari-hari. Pengalaman adalah bentuk nyata dari semua perbuatan manusia yang disandarkan kepada Tuhan. Hidup dalam pengertian ini merupakan pengabdian yang sepenuhnya diabadikan kepada Tuhan. Orientasi dari semua perilaku dalam hidup semata tertuju kepada Tuhan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Religiusitas

Keberagamaan atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah Individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang difleksikan kedalam peribadatan kepada-Nya, baik yang bersifat hablimminallah dan hablumminannas. Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan yaitu:

1) Faktor Pembawaan (internal)

Matt Bradshaw dan Christhoper G. Ellison dalam penelitiannya menjelaskan bahwa genetik dan faktor biologi memainkan peran pada psikologis manusia. Faktor genetik akan membentuk suatu kepribadian pada diri seseorang, dan kepribadian seseorang tentunya akan mempengaruhi keberagamaan seseorang. Jadi, faktor genetik dan biologi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberagamaan seseorang.

2) Faktor Lingkungan (eksternal)

Faktor pembawaan atau fitrah beragama merupakan potensi yang mempunyai kecenderungan untuk berkembang. Namun, perkembangan itu tidak akan terjadi jika tidak ada faktor luar yang memberikan rangsangan atau stimulus yang memungkinkan fitrah itu berkembang dengan sebaik-baiknya. Faktor eksternal itu adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah:

a) Lingkungan Keluarga

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Menurut Rasul Allah SAW fungsi dan peran orang tua bahkan mampu untuk membentuk arah keyakinan anak-anak mereka. Menurut beliau, setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama, namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan, pemeliharaan, dan pengaruh kedua orang tua mereka.

Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan dapaat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Perkembangan jiwa keagamaan seseorang erat kaitannya dengan pembentukan moral yang dibentuk melalui materi pengajaran, sikap, dan keteladanan seorang guru sebagai pendidik serta pergaulan antar teman di sekolah.

b) Lingkungan Masyarakat

Boleh dikatakan setelah menginjak sekolah, sebagian besar waktu jaganya dihabiskan di sekolah dan masyarakat. Berbeda dengan situasi di rumah dan sekolah, umumnya pergaulan di masyarakat kurang menekankan pada disiplin atau aturan yang dipatuhi secara ketat. Lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keagamaan anak, sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa secara garis besar religiusitas dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: (1) faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu dan, (2) faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Religiusitas: Pengertian dan Dimensi Religiusitas Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar