Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Burnout (Kejenuhan) dan Aspek-aspek Burnout Menurut Para Ahli

Pengertian Burnout (Kejenuhan) dan Aspek-aspek Burnout Menurut Para Ahli - Setiap manusia pasti mengalami kejenuhan dalam menjalani aktivitasnya. Baik dalam bekerja, sekolah, dan rutinitas lainnya. Burnout atau jenuh adalah suatu yang lumrah dalam melakukan rutinitas. Namun seperti apa burnout yang dialami, mari kita bahas pada tulisan dibawah ini.

Pengertian Burnout

Menurut Maslach dan Leiter (dalam Swastidkk, 2017) burnout adalah respon paparan stres kerja yang berkepanjangan yang memberikan efek negatif pada individu, organisasi, maupun pengguna pelayanan.

Etzion (dalam Schaufeli dkk, 2017) berpendapat bahwa burnout adalah proses laten dari erosi psikologis yang diakibatkan oleh stres kerja yang berkepanjangan. Maslach dan Leiter (1997) mengatakan bahwa burnout bukanlah masalah individu itu sendiri, tetapi juga merupakan masalah dari lingkungan sosial di mana individu tersebut bekerja. Bentuk struktur dan fungsi  tempat kerja, bagaimana orang berinteraksi satu sama lain dan bagaimana mereka melaksanakan pekerjaan mereka. Ketika tempat kerja tidak mengenali keselamatan kerja, maka risiko burnout akan tumbuh.

Brill  (dalam Schaufeli dkk, 2017) juga mengatakan bahwa burnout adalah stres kerja yang berkepanjangan. Menurut Brill, stres mengacu kepada proses adaptasi yang bersifat sementara dan disertai dengan gejala mental dan fisik.

Menurut Maslach & Johnson  (dalam Papalia dkk, 2011) mengatakan  bahwa burnout mengandung kelelahan emosional, perasaan tidak mampu menyelesaikan apapun dalam pekerjaan yang diberikan, dan perasaan tidak berdaya serta lepas kontrol. Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang dalam profesi memberikan bantuan (seperti guru, pengobatan, terapi, kerja sosial, dan polisi) yang merasa frustasi dengan ketidakmampuan mereka menolong orang sebanyak yang ingin mereka lakukan.

Burnout biasanya merupakan respons terhadap stress yang berkelanjutan ketimbang krisis yang bersifat kilat. Simtomnya dapat berupa kelelahan, insomnia, sakit kepala, pilek yang terus-menenrus, gangguan perut, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, dan kesulitan berbaur dengan orang. Pekerja yang burnout bisa jadi berhenti tiba-tiba, menjauhkan diri dari keluarga dan teman, dan tenggelam dalam depresi.

Pinus dan Aronson (dalam Schaufeli dkk, 2017) mendefinisikan burnout sebagai suatu keadaan kelelahan fisik, emosional dan mental yang disebabkan oleh keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang secara emosional menuntut, keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut : (1) kelelahan psikis ditandai oleh energi yang rendah, kelelahan yang kronis dan kelemahan, (2) kelelahan emosional, komponen kedua dari burnout, terutama melibatkan perasaan yang tidak berdaya dan putus asa, (3) kelelahan mental, hal ini ditandai dengn adanya muncul sikap negatif terhadap diri sendiri, pekerjaan, dan kehidupan.
Pengertian Burnout (Kejenuhan) dan Aspek-aspek Burnout Menurut Para Ahli
Burnout Menurut Ilmu Psikologi
Baca juga: Pengertian, Faktor, dan Ciri-ciri Gaya Hidup Hedonisme Menurut Ilmu Psikologi
Berdasarkan defenisi-defenisi burnout yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa burnout merupakan suatu kondisi psikologis yang dialami individu akibat dari timbulnya stress dalam jangka waktu yang lama dan dengan intensitas yang cukup tinggi, yang ditandai dengan kelelahan fisik, mental, dan emosional.

Dimensi Burnout

Maslach & Leiter (1997) menyebutkan bahwa ada tiga dimensi dari burnout, yaitu:

a. Exhaustion

Ketika pekerja merasakan kelelahan (Exhaustion), mereka cendrung berperilaku overextended baik secara emosional maupun fisikal. Mereka tidak mampu menyelesaikan masalah mereka. Tetap merasa lelah meski sudah istirahat yang cukup, kurang energi dalam melakukan aktivitas.

b. Cynicism

Ketika pekerja merasakan cynicism (sinis), mereka cendrung dingin, menjaga jarak, cendrung tidak ingin terlibat dengan lingkungan kerjanya. Cynicism juga merupakan cara untuk terhindar dari rasa kecewa. Perilaku negatif seperti ini dapat memberikan dampak yang serius pada efektivitas kerja.

c. Ineffectiveness

Ketika pekerja merasa tidak efektif, mereka cendrung mengembangkan rasa tidak mampu. Setiap pekerjaan terasa sulit dan tidak bisa dikerjakan, rasa percya diri berkurang. Pekerja menjadi tidak percaya dengan dirinya sendiri dan orang lain tidak percaya dengannya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa dimensi dalam burnout antara lain exhaustion yaitu kelelahan secara fisik ataupun mental, cynicism berupa sikap sinis dan menarik diri dan ineffectiveness yaitu perasaan tidak mampu  dalam mengerjakan sesuatu.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Burnout

Maslach & Leiter (1997) membagi beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya burnout, yaitu:

a. Work overloaded

Work overloaded kemungkinan terjadi akibat ketidak sesuaian antara pekerja dengan pekerjaanya. Pekerja terlalu banyak melakukan pekerjaan dengan waktu yang sedikit. Overload terjadi karena pekerjaan yang di kerjakan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang memiliki keterbatasan.

b. Look of  work control

Semua orang memiliki keinginan untuk memiliki kesempatan dalam membuat pilihan, keputusan, menggunakan kemampuannya untuk berfikir dan menyelesaikan masalah, dan meraih prestasi, adanya aturan terkadang membuat pekerja memiliki batasan berinovasi, merasa kurang memiliki tanggung jawab dengan hasil yang mereka dapat karena adanya kontrol yang terlalu ketat dari atasan.

c. Rewarded for work

Kurang apresiasi dari lingkungan kerja membuat pekerja merasa tidak bernilai. Apresiasi bukan hanya dilihat dari pemberian bonus (uang), tetapi hubungan yang terjalin baik antara pekerja, pekerja dengan atasan turut memberikan dampak pada pekerja.

d. Breakdown in community

Pekerjaan yang kurang memiliki rasa belongngines terhadap lingkungan kerjanyan (komunitas) akan menyebabkan kurangnya rasa ketertarikan positif di tempat kerja. Seseorang akan bekerja dengan maksiamal ketika memiliki kenyamanan, kebahagiaan yang terjalin dengan rasa saling menghargai tetapi terkadang lingkungan kerja melakukan sebaliknya. Ada kesenjangan baik antara pekerja maupun dengan atasan, sibuk dengan dari sendiri tidak, memiliki qualty time dengan rekan kerja.

e. Treated fairly

Perasaan diperlakukan tidak adil juga merupakan faktor terjadinya burnout. Adil berarti saling mengahargai dan menerima perbedaan. Adanya rasa saling menghargai akan menimbulkan rasa keterikatan dengan komunitas (lingkungan  kerja). Pekerja merasa tidak percaya dengan lingkungan kerjanya ketika tidak ada keadilan.

f. Dealing with Conflict Values

Pekerjaan dapat membuat pekerja melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai mereka.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya burnout adalah Work overloaded, Look of work control, Rewarded for work, Breakdown in community, Treated fairly, danDealing with Conflict Values.

Dampak Burnout

Adapun dampak dari burnout menurut Leiter & Maslach (2005) adalah:

a. Burnout is Lost Energy

Pekerja yang mengalami burnout akan merasa stress, overwhelmed, dan exhausted. Pekerja juga akan sulit untuk tidur, menjaga jarak dengan lingkungan. Hal ini akan mempengaruhi keinerja performa dari pekerja. Produktivitas dalam bekerja juga semakin menurun.

b. Burnout is Lost Enthusiasm

Keinginan dalam bekerja semakin menurun, semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan menjadi tidak menyenangkan. Kreatifitas, ketertarikan terhadap pekerjaan semakin berkurang sehingga hasil yang diberikan sangat minim.

c. Burnout is Lost Confidence

Tanpa adanya energi dan keterlibatan aktif pada pekerjaan akan membuat pekerja tidak maksimal dalam bekerja. Pekerja semakin tidak efektif dalam bekerja yang semakin lama membuat pekerja itu sendiri merasa ragu dengan kemampuannya. Hal ini akan memberikan dampak bagi pekerjaan itu sendiri.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya dampat dari burnout adalah sebagai berikut Burnout is Lost Energy, Burnout is Lost Enthusiasm dan Burnout is Lost Confidence.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Burnout (Kejenuhan) dan Aspek-aspek Burnout Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.
Beberapa tulisan-tulisan di universitaspsikologi.com mungkin tidak dimuatkan daftar pustakanya. Untuk teman-teman yang menginginkan daftar pustakanya, silahkan kontak kami melalui email. Alamat email Universitas Psikologi tertera pada halaman kontak website ini.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar untuk "Pengertian Burnout (Kejenuhan) dan Aspek-aspek Burnout Menurut Para Ahli"

Berlangganan