Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Spiritualitas dan Pengertiannya Menurut Para Ahli

Teori Spiritualitas dan Pengertiannya Menurut Para Ahli - Kali ini universitaspsikologi.com akan membahas variabel spiritualitas. Beberapa tahun belakangan muncul kajian yang relatif baru dalam dunia psikologi organisasi yang berfokus pada nilai-nilai spiritual dalam pekerjaan atau yang sering di sebut sebagai spiritualitas di tempat kerja. Spiritualitas di tempat kerja bukanlah agama atau penggantinya, dan bukan tentang menemukan orang yang menerima suatu sistem kepercayaan tertentu.

Pengertian Spiritualitas

Marques (2001) menjelaskan bahwa spiritualitas adalah melihat ke dalam batin menuju kesadaran akan nilai-nilai universal, sedangkan agama formal melihat keluar menggunakan ritus formal dan kitab suci. Senada dengan pernyataan itu (Cacioppe, 2000) mengatakan bahwa agama formal memiliki orientasi eksternal, sedangkan spiritualitas mencakup seseorang yang memandang ke dalam batinnya dan oleh karenanya dapat dijangkau oleh semua orang, baik yang religius maupun yang tidak. Kajian spiritualitas di tempat kerja yang berlandasakan semangat tersebut, menawarkan kondisi psikologis dalam bekerja yang jika dimiliki dan dikembangkan dalam sebuah organisasi, maka dapat membawa dampak yang positif pada kehidupan individu sendiri maupun organisasi tempat ia bekerja.

Ashmos & Duchon (2000) mendefinisikan secara sistematis bahwa spiritualitas di tempat kerja merupakan pemahaman diri individu sebagai makhluk spiritual yang jiwanya membutuhkan pemeliharaan di tempat kerja dengan segala nilai yang ada dalam dirinya; mengalami pengalaman akan rasa bertujuan dan bermakna dalam pekerjaannya; serta juga mengalami perasaan saling terhubung dengan orang lain dan komunitas di tempat individu bekerja.
Teori Spiritualitas dan Pengertiannya Menurut Para Ahli
Teori Spiritualitas
Baca juga: Teori Modal Psikologis Menurut Para Ahli
Menurut (Milliman, dkk, 2003; dalam Yogatama, 2015) spiritualitas di tempat kerja mencakup level personal (pekerjaan yang bermakna/meaningful work), level komunitas (perasaan terhubung dengan komunitas/sense of community), dan level organisasi (penegakkan serta pemeliharaan nilai personal dan kesesuaiannya dengan nilai organisasi/alignment of values).

Kajian mengenai spiritualitas di tempat kerja terinspirasi oleh gagasan Maslow (Maslow, dkk, dalam Yogatama, 2015) mengenai pentingnya makna hidup dalam dunia kerja. Dirks (dalam Widyarini, 2010) mengungkapkan bahwa kajian tentang spiritualitas di tempat kerja mulai gencar di Amerika sejak tahun 1990-an. Berkembangnya minat terhadap spiritualitas kerja di Amerika dapat dilihat dari merebaknya publikasi berupa jurnal cetak maupun online, buku dan konferensi dengan tema spiritualitas di tempat kerja. Namun demikian, di Eropa hal ini kurang mendapat perhatian serius (Krasteva, 2007). Bagai-manapun sebagian orang masih meragukan penerapan spiritualitas di tempat kerja, dianggap sebagai hal yang tidak pada tempatnya. Beberapa artikel mengemukakan kritik yang cukup tajam mengenai spiritualitas di tempat kerja, menganggap spiritualitas kerja sebagai upaya memanipulasi secara terorganisir terhadap kepercayaan dan praktik disiplin karyawan, sehingga secara sistematis meningkatkan perilaku pencarian dan pencapaian tujuan-tujuan organisasi (Case & Gosling, 2010).

Spiritualitas adalah pembawaan lahir dan bersama mencari makna transeden dalam kehidupan seseorang (Ashar & Lane-Maher, 2004). Spiritualitas tidak lagi terbatas pada lembaga keagamaan tetapi juga dapat ditemukan di organisasi tempat kerja. Spiritualitas di tempat kerja melibatkan keinginan individu untuk melakukan pekerjaan dengan tujuan melayani orang lain dan menjadi bagian dari komunitas. Menurut (Ashmos & Duchon, 2000), spiritualitas di tempat kerja adalah pengakuan bahwa seorang karyawan memiliki kehidupan batin yang memelihara dan dipelihara oleh pekerjaan yang bermakna yang mengambil tempat dimana dalam konteks ini adalah komunitas.

Spiritualitas dalam pekerjaan didefinisikan sebagai kerangka kerja dari nilai-nilai budaya organisasi yang mendorong pengalaman transenden para karyawan melalui proses bekerja, memfasilitasi perasaan terhubung mereka dengan orang lain sekaligus memberikan mereka perasaan lengkap dan bahagia (Giacalone dan Jurkiewicz, 2003; dalam Khasan, 2018). (Marques, dkk, 2007) mendefinisikan spiritualitas di tempat kerja sebagai pengalaman yang ditimbulkan oleh makna yang melekat dalam pekerjaan sehingga menghasilkan motivasi yang lebih besar dan kesuksesan organisasi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa spritualitas adalah makna dari identitas individu yang ada dalam sebuah organisasi perusahan sebagai makhluk ciptaan tuhan yang mempunyai hati nurani dan akal pikiran dan mempunyai perasaan terhubung dalam organisasi serta pemaknaan dari setiap tindakan dalam bekerja sehingga dapat memberikan efektivitas kerja yang positif bagi perusahaan dan terjalankannya organisasi secara lebih baik demi mencapai kesuksesan dalam organisasi perusahaan.

Dimensi Spiritualitas 

Ashmos & Duchon (dalam Sufya, 2015) membagi spiritualitas di tempat kerja menjadi tiga dimensi, yaitu:

1. Kehidupan batin

Kehidupan batin adalah pemahaman mengenai kekuatan Ilahi dan bagaimana cara menggunakannya untuk kehidupan lahiriah yang lebih memuaskan. Duchon dan Plowman (2005) mengemukakan bahwa orang-orang membawa seluruh diri mereka untuk bekerja dan semakin terlihat seluruh diri mereka termasuk diri spiritual. Dengan demikian, dimensi penting dari spiritualitas di tempat kerja adalah gagasan bahwa karyawan memiliki kebutuhan rohani (kehidupan batin) dan tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, emosional, dan kognitif.

2. Makna dan tujuan bekerja

Menurut Fox (dalam Ashmos & Duchon, 2000), hidup dan mata pencaharian bukan dua hal yang terpisah melainkan berasal dari sumber yang sama yaitu spirit. Spirit berarti hidup. Hidup maupun pekerjaan yang menyangkut kehidupan dengan makna, tujuan, kedamaian dan perasaan memiliki kontribusi terhadap komunitas yang lebih luas. Spiritualitas kerja menyangkut bagaimana membawa hidup dan pekerjaan berjalan bersama. Gerakan spiritualitas di tempat kerja menyangkut kerja yang lebih bermakna, hubungan antara jiwa dan pekerjaan, dan bagaimana mendapatkan perhatian dari perusahaan bahwa memupuk jiwa pada saat kerja dapat berdampak baik bagi bisnis.

3. Perasaan terhubung dengan komunitas

Spiritualitas di tempat kerja tidak hanya bagaimana mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan batin dengan mencari pekerjaan yang bermakna melainkan bagaimana hidup dapat terhubung dengan orang lain. Merasa menjadi bagian dari suatu komunitas adalah bagian yang penting dalam perkembangan spiritual. Menurut Vail (dalam Ashmos & Duchon, 2000), hubungan kekerabatan dapat membantu atasan dan bawahan menghadapi kesendirian, kekecewaan, sakit hati di dalam organisasi dan untuk menentukan seharusnya kondisi ini tidak berlanjut di dalam organisasi dan orang-orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Spiritualitas dan Pengertiannya Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar untuk "Teori Spiritualitas dan Pengertiannya Menurut Para Ahli"

Berlangganan via Email