Teori Work-Life Balance Lengkap (Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan) Menurut Para Ahli

Teori Work-Life Balance (Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan) Menurut Para Ahli - Kehidupan ini haruslah seimbang agar kita sebagai manusia merasakan kehidupan yang sebenarnya di dunia ini. Urusan keseimbangan tersebut adalah yang berkaitan antara pekerjaan dan kehidupan. Manusia sering kali terobsesi terhadapa suatu materi yang di dapat dari bekerja sehingga abai terhadap kehidupan dan hal-hal sosialnya. Work-life balance atau keseimbangan antara hidup dan pekerjaan, inilah yang akan universitaspsikologi.com bahas pada tulisan di bawah ini.
Teori Work-Life Balance Lengkap (Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan) Menurut Para Ahli
Work-Life Balance
Baca juga: Melatih Kemampuan Kecerdasan Emosi Diri Sendiri

Pengertian Work-Life Balance

Menurut Greenhaus, Collins, dan Shaw (dalam Ula,dkk, 2015), balance pada umumnya dipandang sebagai tidak adanya konflik. Tetapi apabila dihubungkan dan dimasukkan kedalam pengertian work-life balance, keseimbangan atau balance disini berasal dari efektivitas (berfungsi baik, produktif, sukses) dan dampak positif (memuaskan, bahagia) baik untuk pekerjaan ataupun peran keluarga.

Menurut (Direnzo,dalam Ula,dkk, 2015) work-life balance Menurut Schermerhorn, (dalam Purwati, 2016) adalah bagaimana seseorang mampu untuk menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi dan keluarganya. Menurut Fisher (dalam Darmawan, dkk, 2015) mendefinisikan work-life balance sebagai upaya yang dilakukan oleh individu untuk menyeimbangkan dua peran atau lebih yang dijalani.

Menurut Moorhead dan Griffin (dalam Hafid & Prasetio, 2017) mengungkapkan bahwa Work-Life Balance adalah kemampuan seseorang untuk menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi dan keluarganya. Menurut Grzywacz dan Carlos (dalam Laela, 2015) mendefinisikan work life balance sebagai pemenuhan harapan bagi peran terkait yang dinegosiasikan dan dibagi antara peran-peran yang terkait dalam pekerjaan dan keluarga.

Apabila didefinisikan secara keseluruhan, Work-life balance adalah sejauh mana individu dapat mengimbangi dan sama-sama merasa puas dalam hal waktu dan keterlibatan psikologis dengan peran mereka di dalam kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (misalnya dengan pasangan, orangtua, keluarga, teman dan anggota masyarakat) serta tidak adanya konflik diantara kedua peran tersebut.

Komponen Work-Life Balance

 Menurut Fisher (dalam Ula,dkk, 2015) work-life balance merupakan stressor kerja yang meliputi empat komponen penting, yaitu:

a. Waktu, meliputi banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk aktivitas lain di luar kerja.

b. Perilaku, meliputi adanya tindakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini berdasarkan pada keyakinan seseorang bahwa ia mampu mencapai apa yang ia inginkan dalam pekerjaannya dan tujuan pribadinya.

c. Ketegangan (strain), meliputi kecemasan, tekanan, kehilangan  aktivitas penting pribadi dan sulit mempertahankan atensi.

d.  Energi, meliputi energi yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Energi merupakan sumber terbatas dalam diri manusia sehingga apabila individu kekurangan energi untuk melakukan aktivitas, maka dapat meningkatkan stress.

Dimensi Work-Life Balance

Fisher, Bulger, dan Smith (2009) juga mengatakan jika work-life balance memiliki 4 dimensi pembentuk, yaitu:

a. WIPL (Work Interference With Personal Life) Dimensi ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat mengganggu kehidupan pribadi individu. Misalnya, bekerja dapat membuat seseorang sulit mengatur waktu untuk kehidupan pribadinya.

b. PLIW (Personal Life Interference) With Work) Dimensi ini mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi individu mengganggu kehidupan pekerjaannya. Misalnya, apabila individu memiiliki masalah didalam kehidupan pribadinya, hal ini dapat mengganggu kinerja individu pada saat bekerja.

c. PLEW (Personal Life Enhancement Of Work) Dimensi ini mengacu pada sejauh mana kehidupan pribadi seseorang dapat meningkatkan performa individu dalam dunia kerja. Misalnya, apabila individu merasa senang dikarenakan kehidupan pribadinya menyenangkan maka hal ini dapat membuat suasana hati individu pada saat bekerja menjadi menyenangkan.

d. WEPL (Work Enhancement Of Personal Life) Dimensi ini mengacu pada sejauh mana pekerjaan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi individu. Misalnya keterampilan yang diperoleh individu pada saat bekerja, memungkinkan individu untuk memanfaatkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Work-Life Balance

Menurut Schabracq, Winnubst, dan Coope (dalam Ula,dkk, 2015) ada beberapa faktor yang mungkin saja mempengaruhi work-life balance seseorang, yaitu:

a. Karakteristik Kepribadian Karakteristik

Kepribadian berpengaruh terhadap kehidupan kerja dan di luar kerja. Menurut Summer dan Knight (dalam Novelia, 2013) terdapat hubungan antara tipe attachment yang didapatkan individu ketika masih kecil dengan work-life balance. Ia menyatakan bahwa individu yang memiliki secure attachment cenderung mengalami positive spillover dibandingkan individu yang memiliki insecure attachment.

b. Karakteristik Keluarga

Karakteristik keluarga menjadi salah satu aspek penting yang dapat menentukan ada tidaknya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Misalnya konflik peran dan ambiguitas peran dalam keluarga dapat mempengaruhi work-family conflict.

c. Karakteristik Pekerjaan

Pola kerja, beban kerja dan jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja dapat memicu adanya konflik baik konflik dalam pekerjaan maupun konflik dalam kehidupan pribadi. Menurut Valcour (dalam Novelia, 2013) jumlah jam kerja akan mempengaruhi kepuasan seseorang akan keseimbangan dalam kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Menurut Ayuningtyas (2013) Work life balance berhubungan dengan berbagai faktor lain, diantaranya:

a. Dukungan Organisasi

Dukungan Organisasi berkaitan dengan kepedulian organisasi mengenai kesejahteraan karyawan, kemauan organisasi mendengarkan keluhan karyawan, kemauan organisasi mencoba membantu karyawan ketika sedang menghadapi masalah, dan cara organisasi memperlakukan karyawan dengan adil. Semakin tinggi dukungan yang diterima dari organisasi, maka semakin tinggi pula tingkat work life balance pada seorang pekerja.

b. Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga yang tinggi cenderung berhubungan dengan tingkat work life balance yang tinggi pula pada seorang pekerja. Ada beberpa strategi yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk mencapai work life balance, seperti dengan cara meminta orang yang dipercaya untuk mengambil alih pekerjaan rumah.

c. Kepribadian

Kepribadian dapat mempengaruhi work life balance karena Karakteristik Kepribadian berpengaruh terhadap kehidupan kerja dan di luar kerja

d. Orientasi Kerja

Hal ini berkaitan dengan bagaimana organisasi menunjang segala kebutuhan karyawan. Hal-hal tersebut dapat berupa fasilitas-fasilitas  yang diberikan seperti sarana transportasi, ruangan kerja yang nyaman untuk bekerja, waktu istirahat yang cukup, kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah jenjang karir yang jelas. Hal ini mampu mendukung terjadinya work life balance.

e. Jenjang Karir

Jenjang karir yang jelas dalam organisasi dapat membantu karyawan untuk lebih optimal dalam bekerja dan berhubungan dengan munculnya work life balance.

f. Iklim organisasi

Iklim organisasi berdampak positif jika iklim organisasi memenuhi perasaan dan kebutuhan pegawai. Iklim ditentukan oleh seberapa baik anggota diarahkan, dibangun dan dihargai oleh organisasi sehingga membentuk pola perilaku positif dan dapat meningkatkan work life balance.

d. Sikap

Sikap masing-masing individu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi work-life balance. Adanya pendapat bahwa sentralitas terhadap suatu domain tertentu dalam kehidupan individu, akan meningkatkan jumlah waktu dan usaha yang dihabiskan dalam domain tersebut. Hal ini membuat individu sulit untuk menyediakan waktu untuk domain yang lain.

Aspek-aspek Work-life balance

Menurut Fisher (dalam Anggraeni, 2018) Work Life Balance  memiliki empat aspek penting, yaitu:

a. Waktu Perbandingan antara waktu yang dihabiskan untuk  bekerja dan waktu yang digunakan untuk aktivitas lain.

b. Perilaku Perbandingan antara perilaku individu dalam bekerja aspek kehidupan lain.

c. Ketegangan (Strain) Ketegangan yang dialami dalam pekerjaan maupun aspek lain dapat menimbulkan konflik peran dalam diri individu.

d. Energi Perbandingan antara energi yang digunkan individu untuk menyelesaikan pekerjaannya dan energi yang digunakan dalam aspek kehidupan sehari-hari.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Work-Life Balance (Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan) Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Anggraeni, P. N. (2018). Hubungan Jenjang Karir dengan Work-Life Balance Pada Wanita Karir. UIN Sunan Ampel Surabaya: Skripsi
  • Novelia, P. (2013). Hubungan Antara Work/Life Balance Dan Komitmen Berorganisasi Pada Pegawai Perempuan. Skripsi: Universitas Indonesia
  • Universitas Psikologi: https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/teori-work-life-balance-lengkap.html
  • Widyasari, S. D., Susilawati, I. R., & Ula, I. I. (2015).Hubungan Antara Career Capital Dan Worklife Balance Pada Karyawan Di PT. Petrokimia Gresik.Jurnal Psikoislamika. Malang: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Vol. 12, No. 1, Halaman: 13-22
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Tidak ada komentar untuk "Teori Work-Life Balance Lengkap (Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan) Menurut Para Ahli"

Berlangganan via Email