Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kekuatan Karakter dalam Psikologi Menurut Para Ahli

Kekuatan Karakter dalam Psikologi Menurut Para Ahli - Manusia adalah makhluk yang unik, perbedaan dan keberagaman yang dimiliki manusia adalah anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri. Keunikan tersebut dapat kita lihat dan rasakan dengan adanya perbedaan karakter seseorang. Karakter seseorang pastinya berbeda-beda dan ada yang lebih dominan. Misalnya yang kali ini universitaspsikologi.com bahas ialah merupakan kekuatan karakter atau bisa disebut karakter yang menonjol, contohnya kuatnya Budi pada pemahaman tentang matematik tidak sama dengan Ari. Pemahaman kita terhadap karakter yang ada pada diri kita sendiri akan menjadi awal yang baik untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam diri. Maka dari itu universitaspsikologi.com akan membahas variabel tersebut di bawah ini.
Kekuatan Karakter dalam Psikologi Menurut Para Ahli
Kekuatan Karakter Seseorang
Baca juga: Bagaimana Cara Menyesuaikan Diri Setelah Perkawinan?

Definisi Kekuatan Karakter

Kekuatan karakter adalah unsur atau mekanisme psikologis yang membentuk keutamaan untuk menunjukan suatu keutamaan lainnya, Linley dan Joseph (dalam Listiyandini dan Akmal, 2015). Sedangkan menurut Chaplin (dalam Marlina, 2011) menyatakan karakter (character) adalah watak, karakter, atau sifat. Karakter merupakan satu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi, suatu objek atau kejadian.

Karakter adalah sekumpulan kode dari tingkah laku yang ditampilkan pada saat individu atau tingkah lakunya dinilai dari orang lain, Allport (dalam Marlina, 2011). Sedangkan menurut Seligman (dalam Handayani, 2010) individu memiliki karakter positif dan negatif. Namun, yang dimaksud dengan kekuatan karakter adalah karakter positif yang membawa individu kepada perasaan yang positif.

Karakteristik inti yang dihargai oleh para filosof dan para agamawan. Virtue yang ada pada diri manusia dibagi menjadi enam kategori, yaitu wisdom, courage, humanity, justice, temperance, and transcedence. Kesemua virtue ini bersifat universal dan terpilih melalui proses evolusi karena penting untuk keberlangsungan hidup. Seseorang dikatakan memiliki karakter baik apabila ia memiliki seluruh virtue tersebut dengan nilai tinggi, Peterson dan Saligman (dalam Handayani, 2010).

Kekuatan karater sendiri merupakan unsur psikologis (proses atau mekanisme) yang memberikan defenisi pada virtue (wisdom, courage, humanity, justice, temperance, and transcedence). Kekuatan karakter dapat dibedakan dalam menampilkan satu atau virtue lainnya. Misalnya, virtue wisdom dapat dicapai melalui kekuatan seperti rasa ingin tahu dan kecintaan untuk belajar, berpikiran terbuka, kreativitas, dan perspektif, yakni memiliki suatu gambaran besar mengenai hidup.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kekuatan karakter menjadi unsur mekanisme psikologis yang membentuk watak, sifat atau karakter yang ditampilkan individu dalam mengidentifikasi suatu kejadian atau permasalahan yang sedang dihadapi. Karakter sendiri memiliki beberapa kategori, untuk mencapai karakter yang positif individu harus memiliki beberapa kategori yang dimaksud.

Klasifikasi Kekuatan Karakter

Menurut Peterson dan Saligman (dalam Handayani, 2010) klasifikasi kekuatan karakter adalah sebagai berikut:

a. Wisdom and Knowledge

Kekuatan kognitif yang memerlukan kemahiran dan penggunaan pengetahuan.

1) Creativity (originality, ingenuity)

Cara berfikir yang produktif dan baru, termasuk pencapaian aristik namun tidak hanya terbatas pada hal ini.

2) Curiosity (interest, novelty-seeking, openness to experience)

Menyukai seluruh pengalaman, mencari semua topik dan pokok persoalanan yang menarik, mengali dan menemukan banyak hal.

3) Open-mindedness (judgment, critical thinking)

Berpikir dari segala sudut pandang, tidak langsung atau berhati-hati dalam mengambil keputusan, menimbang semua bukti dengan adil, mampu mengubah pikiran pada bukti yang nyata.

4) Love of learning

Menguasai berbagai keterampilan baru, menguasai topik-topik ilmu pengetahuan baik formal maupun informal.

5) Perspective (wisdom)

Mampu memberi saran, memiliki cara pandang yang luas dan dapat diterima oleh orang lain.

b. Courage

Kekuatan emosional yang mengandung keinginan yang kuat untuk menyelesaikan tujuan walaupun terdapat halangan yang bersifat internal maupun eksternal.

1) Bravery (valor)

Tidak takut terhadap ancaman, tantangan, kesulitan, atau rasa sakit, berani mengungkapkan keinginan walaupun ada lawan, berani tampil beda walaupun tidak popular.

2) Persistence (perseverance, industriousness)

Menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai, tekun dalam menjalani kegiatan walaupun ada hambatan, fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai, senang dalam menyelesaikan tugas.

3) Integrity (authenticity, honesty)

Menyampaikan kebenaran tetapi lebih bersifat luas yang menampilkan diri sendiri apa adanya, bertanggung  jawab terhadap perasaan dan tingkah laku.

4) Vitality (zest, enthusiasm, vigour, energy)

Penuh suka cita dan berenergi, melakukan sesuatu hingga selesai, menjalani hidup seolah sedang berpetualang, penuh semangat dan aktif.

c. Humanity

Kekuatan interpersonal yang meliputi keinginan untuk dekat dan bersahabat dengan orang lain.

1) Love

Menghargai hubungan dengan orang lain, saling berbagi dan memperhatikan, dekat dengan orang lain.

2) Kindness (generosity, nurturance, care, compassion, altruistic love, niceness)

Melakukan kebaikan terhadap orang lain, menolong orang lain, menjaga orang lain.

3) Social intelligence (emotional, personal intelegence)

Peka terhadap motif dan perasaan orang lain dan diri sendiri, dapat menyesuaikan diri pada situasi sosial yang berbeda, mengetahui cara menggerakan orang lain.

d. Justice

Kekuatan publik yang mendasari kehidupan masyarakat yang sehat.

1) Citizenship (social responsibility, loyalty, teamwork)

Bekerjasama dengan orang baik dalam suatu kelompok, serta pada suatu kelompok, berbagi dengan kelompok.

2) Fairness

Memperlakukan setiap orang secara adil, tidak membiarkan perasaan subjektif mempengaruhi keputusan yang menyangkut orang lain, memberikan kesempatan yang sama pada setiap orang.

3) Leadership

Mendorong  orang dalam kelompok untuk bekerja sekaligus menjaga hubungan baik dengan anggota kelompok, menyiapkan aktivitas kelompok dan mengevaluasinya.

e. Temperance

Kekuatan yang melindungi dari suatu tindakan yang berlebihan.

1) Forgiveness and  mercy

Memaafkan orang lain yang berbuat salah, memberikan kesempatan bagi orang lain, tidak mendendam.

2) Humility/modesty

Membiarkan prestasi anda berbicara atas namanya, tidak mencari perhatian, tidak menganggap diri lebih spesial dari orang lain.

3) Prudence

Berhati-hati dengan keputusan yang dibuat, tidak mengambil resiko yang tidak semestinya, tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab.

4) Self-regulation (self-control)

Mengatur perasaan dan tingkah laku disiplin, mengontrol emosi dan selera.

f. Transcendence

Kekuatan yang dapat menciptakan hubungan dengan lingkungan semesta yang lebih luas dan memberi makna.

1) Appreciation of beauty and excellence (awe, wonder, elevation)

Menyadari dan menghargai keindahan, kesempurnaan, dan kinerja keterampilan didalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari alam, kesenian, matematika, sains hingga pengalaman sehari-hari.

2) Gratitude

Menyadari dan berterimakasih atas hal-hal yang terjadi, menyediakan waktu untuk mengekspresikan rasa bersyukur.

3) Hope (optimism, future-mindedness, future-orientation)

Mengharapkan yang terbaik untuk masa depan dan berusaha mewujudkanya, meyakini bahwa nasib bisa berubah dimasa depan yang baik bisa dicapai.

4) Humor (playfulness)

Senang tertawa dan menggoda, membuat orang lain tersenyum, melihat sisi terang, membuat gurauan.

5) Spirituality (religiousness, faith, purpose)

Memiliki keyakinan yang koheren tentang kehendak yang lebih tinggi dan makna dari alam semesta, memiliki  keyakinan mengenai makna kehidupan yang membentuk tingkah laku dan memberikan kenyamanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Strengh (Kekuatan Karakter)

Menurut Peterson dan Seligman (dalam Handayani, 2010) ada beberapa faktor yang mempengaruhi strength atau kekuatan, yaitu:

a. Creativity (originality, ingenuity)

Di sisi positif, kreativitas difasilitasi oleh lingkungan yang mendukung, yang memperkuat (reinforcing), terbuka, dan informal. Kemudian, individu-individu yang sangat kreatif cenderung untuk bekerja pada beberapa persoalan atau proyek secara bersamaan, serta kerap kali memikirkan gagasan-gagasan mengenai satu hal disaat bekerja pada hal yang lain. Di sisi negatif, ekspresi kreativitas dapat dihalangi ketika seseorang berada di bawah tekanan berat.

b. Curiosity (interest, novelty-seeking, openness to experience)

Penelitian eksperimental telah menemukan bahwa perolehan pengetahuan yang spesifik membangkitkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk memperoleh informasi lebih jauh. Pengalaman kompetensi dan penguasaan berbasis reward juga mendorong rasa ingin tahu di masa depan. Keyakinan bahwa seseorang dapat bertindak sesuai kehendaknya sendiri (otonomi) dalam suatu situasi dapat memfasilitasi secara kuat rasa ingin tahu di berbagai tugas, pengaturan, dan berbagai domain.

Faktor penghambat yang ada meliputi percaya diri yang berlebihan, dogmatisme, sumber daya kognitif yang rendah untuk memproses stimulus, dan kondisi patologis seperti narsisisme, psikopat, dan skizofrenia.

Lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang mempengaruhi rasa ingin tahu dan eksplorasi, studi eksperimental telah menemukan bahwakegelisahan menghambat rasa ingin tahu dan menghambat eksplorasi dalam interaksi interpersonal. Kecemasan interaksi sosial (misalnya, takut bertemu orang baru, takut memulai percakapan) menunjukkan hubungan yang unik dan negatif dengan rasa ingin tahu. Lebih lanjut lagi, perhatian terhadap diri (self-focused) yang berlebihan juga menghambat rasa ingin tahu dan menghambat eksplorasi terhadap lingkungan.

Sebuah penelitian besar menunjukkan bahwa tekanan internal, seperti rasa bersalah dan ketakutan, serta tekanan eksternal seperti ancaman dan hukuman, dan imbalan eksternal yang nyata mengurangi rasa ingin tahu untuk tugas-tugas tertentu.

c. Open-mindedness (judgment, critical thinking)

Open-mindedness dapat diaktifkan atau dihambat tergantung dari bagaimana suatu ide atau gagasan dibingkai dalam pikiran individu. Tetlock (dalam Peterson dan Seligman 2004) berpendapat, individu berpandangan terbuka (open minded) secara lebih aktif ketika mereka harus membuat penilaian atau pun keputusan mencakup nilai-nilai serta tujuan-tujuan yang kesemuanya sama-sama kuat dan bertentangan. Janis dan Mann (dalam Peterson dan Seligman 2004) berpendapat bahwa pemikiran yang baik terjadi ketika keputusan yang diambil merupakan keputusan yang penting, ketika si pembuat keputusan memiliki waktu untuk memutuskannya, dan ketika ada kemungkinan bahwa beberapa hasil keputusan dapat diterima. Tekanan waktu yang sangat berat, atau rasa putus asa, mengarah ke disorganisasi total atau panik.

d. Love of learning

Sejumlah faktor situasional yang telah diidentifikasi mendukung kecintaan untuk belajar, yakni mencakup strategi-strategi yang dapat digunakan oleh pengajar atau pun orang tua diantaranya dalam menyesuaikan, mengatur atau menyetel instruksi atau pun tugas yang memenuhi kekuatan, minat, serta kebutuhan yang dimiliki anak atau siswa, strategi lainnya juga termasuk menyesuaikan atau pun menyetal metodemetode sehingga individu dapat mengatur proses belajar mereka sendiri. Pendahulu dan kondisi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menemukan koneksi ke konten yang dipelajari; menghasilkan dan merevisi strategi; merasakan dukungan; dan mengatur diri sendiri untuk terlibat dan mempelajari bidang konten tertentu adalah sebagai berikut:

1) Perasaan positif untuk area konten tertentu yang akan dipelajari.
2) Pengetahuan tentang bidang konten yang relatif terhadap keterlibatan lain yang dimiliki.
3) Keyakinan bahwa tugas yang bersangkutan dapat dilakukan.
4) Rasa ingin tahu terhadap tugas yang bersangkutan.
5) Kemampuan untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengerjakan tugas yang bersangkutan.

e. Perspective (wisdom)

Studi longitudinal Hartman (dalam Peterson dan Seligman 2004) tentang perempuan setengah baya yang diidentifikasi pada beberapa faktor yang mengaktifkan atau menghambat perkembangan kebijaksanaan (wisdom) dan Perspective. Dalam investigasinya, menunjukkan bahwa kepribadian memainkan peran yang signifikan sebagai prediktor pendahulu atas perkembangan kebijaksanaan pada usia paruh baya, dengan potensi kreatif dan produktivitas kreatif menyajikan jalur independen bagi kebijaksanaan, dan produktivitas motivasi yang secara signifikan memprediksi perkembangan kebijaksanaan pada usia setengah baya. Selain itu, Hartman (dalam Peterson dan Seligman 2004) menemukan bahwa akumulasi berbagai pengalaman dewasa mengawali perkembangan kebijaksanaan.

f. Bravery (valour)

Penelitian menunjukkan beberapa faktor yang dapat memunculkan keberanian (dalam Peterson dan Seligman 2004):

1) pesan-pesan kontekstual yang mendukung keberanian
2) dukungan kontekstual dari nilai-nilai prososial dan penekanan pada penyampaian kebenaran
3) kepemimpinan yang kuat kepercayaan
4) harapan yang jelas terhadap perilaku
5) hubungan masyarakat
6) kepribadian seseorang

Keberanian dapat ditingkatkan dengan praktek (kebiasaan moral), dengan mencontoh (pemodelan), dan dengan mengembangkan atribut tertentu dari individu (self-confidence) atau kelompok (kohesi). Namun disamping faktor-faktor di atas, tampak bahwa kepribadian merupakan faktor yang juga penting untuk meningkatkan keberanian.

g. Persistence (perseverance, industriousness)

Faktor yang mempengaruhi ketekunan yakni, dukungan sosial, umpan balik positif, penghargaan atas usaha yang positif, pengendalian diri yang baik serta self- awareness yang tinggi.Beberapa masalah pribadi dan patologi juga dikaitkan dengan penurunan ketekunan pada tugas-tugas. Masalah-masalah ini secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut: retardasi mental, anak-anak retardasi mental telah terbukti memiliki ketekunan yang kurang dari anak-anak normal terutama dalam menghadapi tugas-tugas motorik, anak berkesulitan, depresi, serta orang-orang yang memiliki kontrol diri rendah seperti perokok, pemakai obat-obatan, dan alkoholik.

h. Integrity (authenticity, honesty)

Stress psikososial, termasuk perceraian, penyalahgunaan, dan penelantaran, juga dapat meningkatkan anak-anak untuk berbohong. Sikap dan tindakan berbohong yang dilakukan oleh keluarga dapat menjadikan contoh yang dapat dimodel oleh anak-anak dalam tingkah lakunya baik langsung atau pun tidak langsung. Teman sebaya juga menjadi faktor yang mendukung anak untuk dapat berbohong. Terakhir, norma budaya dan praktek budaya dapat menekan gambaran diri (self-portrayal) yang asli. Sebuah masyarakat pluralistic memberikan kontribusi penerimaan diri (self-acceptance), penerimaan orang lain, dan keselarasan antara diri dan tindakan di dunia. Kesadaran akan multikulturalisme dan keragaman merupakan bagian dari lingkungan yang aman di mana individu bisa hidup secara autentik.

i. Vitality (zest, enthusiasm, vigour, energy)

 Penelitian oleh Ryan dan Frederick (dalam Peterson dan Seligman 2004) menunjukan bahwa terdapat faktor fisik dan sosial yang mempengaruhi semangat. Dari segi fisik, penyakit, rasa sakit, dan kelelahan semuanya menghambat semangat atau vitalitas. Selain itu, merokok, diet yang buruk, dan kurang olahraga juga dapat menyebabkan rendahnya vitalitas. Konteks sosial juga mempengaruhi vitalitas. Dalam beberapa penelitian, faktor-faktor yang berkaitan dengan dukungan untuk otonomi telah terbukti secara positif terkait dengan vitalitas

j. Love

Teori kelekatan (attachment theory) didasarkan pada gagasan bahwa kapasitas untuk mencintai dan dicintai adalah aspek sifat manusia yang berevolusi. Namun, kekuatan adaptif yang sama bertanggung jawab atas kapasitas alamiah kita untuk mencintai dan dicintai hal tersebut juga berakibat pada keberadaan diri kita melalui alam, dengan responsif dan lunak terhadap masukan (input) dari lingkungan. Apa yang menumbuhkan kapasitas untuk mencintai dan dicintai adalah pengalaman sensitivitas dengan orang yang berarti (significant others).

k. Kindness (generosity, nurturance, care, compassion, altruistic love, "niceness")

Dalam mempertimbangkan faktor-faktor yang meningkatkan dan menghambat altruisme dan kebaikan, akan sangat membantu untuk membedakan antara altruisme sebagai sifat dan altruisme sebagai perilaku diskrit dalam menanggapi situasi tertentu. Altruisme sebagai suatu (trait) Para ahli telah lama menduga bahwa ada jenis orang yang berdasarkan sifat-sifat yang mereka miliki, cenderung ke arah altruisme dan jenis perilaku prososial lainnya. Meskipun berbagai ciri telah terlibat sebagai ciri kepribadian altruistik. Tiga ciri (trait) telah mendominasi percobaan percobaan peneliti untuk mengidentifikasi trait-trait ini secara empiris, yakni: empati / simpati, moral penalaran, dan tanggung jawab sosial.

Altruisme sebagai Perilaku Diskrit Mood positif. Salah satu efek yang menarik dan terdokumentasi dengan baik adalah bahwa orang-orang yang berada ke dalam suasana hati yang positif jauh lebih bersedia untuk membantu orang lain daripada orang-orang yang berada dalam suasana hati netral. Empati. Dalam situasi di mana seorang individu tidak mengalami empati terhadap orang yang membutuhkan, motif altruistik tidak muncul untuk distimulasi, dan dengan demikian, perilaku membantu yang mungkin timbul tidak akan muncul.

l. Social intelligence (emotional intelligence, personal intelligence)

Sedikit yang diketahui tentang faktor-faktor yang menghambat atau memfasilitasi kecerdasan sosial ini. Misalnya, seseorang mungkin percaya bahwa berada dalam state emosi yang kuat seperti depresi dapat mengganggu kecerdasan emosional yang diukur, namun bukti yang ada belum kuat.

m. Citizenship (social responsibility, loyalty, teamwork)

Secara historis, kelompok-kelompok pemuda telah berbagi misi umum dalam pembinaan karakter generasi berikutnya dari penduduk kota dengan mengintegrasikan orang-orang muda ke dalam norma-norma dan adat istiadat tatanan sosial. Kelompok-kelompok menyediakan struktur untuk waktu luang, kelompok sebaya prososial, dan pembimbing dewasa yang biasanya secara sukarela menyediakan waktu mereka. Suasana belajar nonformal dan struktur egaliter serta fakta bahwa orang-orang muda sendiri sering bertugas menawarkan keuntungan unik untuk praktek kewarganegaraan.

Secara bersama sama, orang muda dapat membentuk karakter organisasi, memutuskan secara kolektif tujuan kelompok, dan terus saling bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Fitur program sukses termasuk penekanan pada kolektif bukan pada sifat individu dari agensi pemuda dan gaya kepemimpinan yang memelihara kelompok, sebagai perhatian utama; kesempatan bagi semua anggota untuk mempraktekkan berbagai peran; keseimbangan antara kebebasan dan struktur serta orang dewasa yang membimbing dan melatih tapi tidak memimpin, juga peran yang serius bagi para pemuda dalam pembuatan keputusan dan dalam memberikan hal-hal yang berharga untuk komunitas mereka.

n. Fairness

Faktor-faktor tertentu dapat dipengaruhi dalam intervensi untuk mempercepat atau menghambat pengembangan penalaran keadilan. Diantaranya, yakni pengasuhan, pengasuhan penting dalam pengembangan penalaran moral anak. Dalam studi kualitatif dari pengalaman hidup dan jalur perkembangan yang terkait dengan pengembangan penalaran moral, disimpulkan bahwa orang-orang yang berkembang dalam penilaian moral adalah mereka yang suka belajar, yang mencari tantangan baru, yang menikmati lingkungan yang menstimulus secara intelektual, yang reflektif, yang membuat rencana dan menetapkan tujuan, yang mengambil risiko, yang melihat diri mereka dalam konteks sosial yang besar dari sejarah dan lembaga-lembaga serta tren budaya yang luas, yang bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Selanjutnya, mereka menerima dorongan dari orang lain untuk melanjutkan pendidikan mereka, mereka mengalami lingkungan yang menstimulus, dan mereka memiliki dukungan sosial yang luas untuk karya dan prestasi mereka.

o. Forgiveness and mercy

Faktor yang mempengaruhinya, yakni empati, attribusi serta penilaian terhadap kesalahan dari orang yang bersalah. Permintaan maaf juga meningkatkan kemungkinan untuk pengampunan atau dimaafkan. Pada umumnya, efek permintaan maaf tidak langsung. Korban mengembangkan empati yang lebih besar atas penyesalan orang yang bersalah. Terakhir, memaafkan (forgiveness) dapat dipengaruhi oleh karakteristik dari hubungan di mana kesalahan terjadi. Studi telah menunjukkan bahwa pasangan lebih bersedia untuk memaafkan kesalahan satu sama lain jika hubungan mereka dicirikan dengan kepuasan tinggi, komitmen, dan kedekatan.

p. Humility and Modesty

Faktor yang berpengaruh yakni, perkembangan identitas (jati diri), pola asuh. Faktor-faktor tersebut dan disipliner lain serta gaya interaksi dengan keluarga hanya secara tidak langsung mendorong perkembangan kerendahan hati. Pengaruh langsung (baik positif maupun negatif) terhadap nilai-nilai ini tetap belum tereksplorasi hingga saat ini.

q. Prudence

Banyak spekulasi yang muncul di antara para ahli mengenai faktor yang mempengaruhi prudence, namun, yang dapat digaris bawahi adalah fakta bahwa studi-studi yang telah ada menunjukkan bahwa sedikit kurang dari setengah varians dalam pengukuran sifat kehati-hatian dalam hal ini prudence, dapat diwarisi. Hal itu menujukkan bahwa pengaruh lingkungan merupakan hal yang penting dan prudence pada prinsipnya dibentuk oleh lingkungan.

r. Self-regulation (self-control)

Perhatian sangat penting bagi keberhasilan kontrol diri, dan memang proses perhatian ini sering menjadi langkah pertama menuju baik keberhasilan atau kegagalan pada kontrol diri. Orang yang hidup hanya pada saat ini tidak mungkin untuk menunjukkan pengendalian diri yang baik, sedangkan pikiran masa depan akan memudahkan pengaturan diri. Selain itu, lingkungan juga dapat mengajarkan orang apakah mengontrol diri dan menentang godaan merupakan usaha yang berharga atau tidak. Pertentangan atau standar yang tidak jelas merusak pengaturan diri. Standar yang tidak jelas sering menjadi masalah karena orang-orang focus pada pencapaian tujuan yang beragam. Kesadaran diri (self-awareness) sangat penting untuk memonitor perilaku seseorang serta penting juga untuk pengendalian diri.

s. Appreciation of beauty and excellence (awe, wonder, elevation)

Orang yang dibesarkan dalam keluarga, sekolah, atau lingkungan lokal di mana orang secara terbuka menyatakan apresiasi mereka tentang keindahan dan kesempurnaan dapat meningkatkan sifat penghargaan terhadap kecantikan dan kesempurnaan. Sebaliknya, lingkungan budaya di mana kekaguman dan penghargaan disamakan dengan kenaifan dan sinisme serta dianggap secara dingin mungkin dapat menghambat sifat menghargai kecantikan dan kesempurnaan itu.

t. Gratitude

Optimisme serta murah hati pada pandangan hidup akan mendorong rasa syukur, begitu juga dengan kesadaran spiritual dan kereligiusan intrinsik, serta empati, kerendahan hati, dan pandangan hidup yang luas dapat mendorong rasa syukur seseorang. Hambatan untuk rasa syukur dan terima kasih, yakni persepsi bahwa seseorang adalah korban pasif, rasa akan  memiliki suatu hak tertentu, suatu kenikmatan materi, dan kurangnya refleksi diri. Rasa terima kasih juga memerlukan kesadaran atau kepekaan terhadap kekurangan sebelumnya. Salah satu variabel kepribadian utama yang memungkinkan menghambat rasa syukur dan terima kasih adalah narsisme. Orang dengan kecenderungan narsistik keliru. Mereka percaya bahwa mereka layak akan hak-hak khusus dan hak istimewa sehingga tidak perlu merasa berterimakasih.

u. Hope (optimism, future-mindedness, future orientation)

Bahwa peristiwa tunggal dapat mengubah dan membuat seseorang lebih optimis atau pesimis secara tiba-tiba, tetapi mereka juga mengakui bahwa hipotesis tersebut tidak mungkin diuji.

v. Humor (playfulness)

Studi empiris yang baru, menemukan bahwa kemampuan untuk menciptakan humor berkorelasi dengan kecerdasan dan kreativitas, kemudian suasana hati yang buruk terkait dengan apresiasi sindiran, sinisme, dan sarkasme.

w. Spirituality (religiousness, faith, purpose)

Ada beberapa bukti empiris bahwa faktor jaringan sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan perkembangan agama dan spiritual. Kohesi (kepaduan) keluarga juga memainkan peran penting dalam pengaturan tahapan untuk transmisi antargenerasi atas nilai-nilai agama dan komitmen. Sedikit yang diketahui tentang faktor-faktor yang menghambas spiritualitas dan religiusitas. orang yang merasa tidak dapat menemukan makna mendalam dan besar dari suatu pengalaman kehilangan ataupun menyakitkan akan berpaling dari agama. Faktor-faktor lain (misalnya, stres, kesehatan yang buruk, pengalaman keberagamaan negatif) mungkin memainkan peran dalam keputusan seseorang untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan formal.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Kekuatan Karakter dalam Psikologi Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Handayani, F. (2010). Hubungan antara Kekuatan Karakter dengan Resiliensi Residen Narkoba di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional LIDO. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Listiyandini, R. A, Akmal, S. Z. (2015). Hubungan Antara Kekuatan Karakter dan Resiliensi pada Mahasiswa. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas YASRI Jakarta.
  • Universitas Psikologi: https://www.universitaspsikologi.com/2020/01/kekuatan-karakter-dalam-psikologi.html
  • Marlina, D. (2011). Perbedaan Kekuatan Karakter (Character Strengths) Narapidana pada Tindak Pidana Kriminal dan Narkotika di Lapas Kelas II A Pemuda Tanggerang. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar untuk "Kekuatan Karakter dalam Psikologi Menurut Para Ahli"

Berlangganan via Email