Pengertian Perfeksionisme dan Aspek-aspek Prefeksionis Menurut Para Ahli

Daftar Isi
Pengertian Perfeksionisme dan Aspek-aspek Prefeksionis Menurut Para Ahli - Pernah punya teman yang kelihatannya rapi banget, segala sesuatunya harus teratur, tidak boleh ada yang terlewatkan? Ya, mungkin bisa jadi itu adalah sifat perfeksionis. Perfeksionisme adalah sebuah paham yang menghendaki segala sesuatunya menjadi sempurna untuk mendapatkan kepuasan bagi individu itu sendiri. Ulasan ini akan universitaspsikologi.com bahas pada tulisan di bawah ini, silahkan disimak.
Pengertian Perfeksionisme dan Aspek-aspek Prefeksionis Menurut Para Ahli
Perfeksionisme (Perfeksionis)
Baca juga: Cara Mengatasi Sifat Menunda atau Prokrastinasi

Pengertian Perfeksionisme

Perfeksionisme secara umum adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna untuk mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non materi. Murray (dalam Wattimena, 2015) menyatakan Perfeksionisme adalah seorang yang mengalami Icarus complex, akan memasang tujuan terlalu tinggi dan mengembangkan ambisi yang berlebihan. Pemikiran ini merujuk pada kecenderungan individu untuk mengevaluasi kualitas pribadi diri sendiri secara ekstreem. Pemikiran "Bila saya tidak begini maka saya bukan apa - apa sama sekali" merupakan dasar dari perfeksionisme yang menuntut kesempurnaan. Perfeksionisme merupakan salah satu hasil distorsi yang negatif (Burns, dalam Gunawinata, Nanik, & Lasmono, 2008). Seorang perfeksionis melihat dunianya sebagai " all or nothing", hitam atau putih.

Horney (dalam Gunawinata, Nanik, & Lasmono, 2008) mendefinisikan bahwa seseorang yang mengembangkan need for perfection, yaitu dorongan untuk menggabungkan keseluruhan kepribadian ke dalam diri ideal secara neurotik, sehingga menjadi tidak puas dengan sedikit perubuhan, tidak menerima sesuatu yang belum sempurna. Mereka meraih kesempurnaan dengan membangun seperangkat “keharusan” dan “ketidak harusan” yang kompleks, ini yang kemudian dinamakan oleh Horney “tyranny of the should”.

Romas & Sarma (dalam Gunawinata, Nanik, & Lasmono, 2008) Perfeksionisme menciptakan pikiran yang tidak realistis dan tekanan yang sebenarnya membuatya menderita. Pikiran tersebut adalah, “Saya harus sempurna untuk setiap apa yang saya kerjakan”, “Saya seharusnya tidak membuat kesalahan, demikian pula orang lain”,” Saya berusaha keras untuk melakukan yang benar, saya pantas terhindar dari frustasi dan kesulitan hidup”, “Selalu ada satu cara yang benar untuk menyelesaikan sesuatu”, “Jika saya melakukan kesalahan maka hancurlah segalanya”, “Bilamana seseorang tidak melakukan sebagaimana seharunya mereka lakukan, mereka adalah manusia yang buruk”, “saya pantas menghukum diri sendiri”, “Jika saat ini saya tidak melakukannya dengan sempurna, maka saya harus bisa sempurna di lain waktu”, “Saya harus sempurna atau saya seorang yang gagal”.

Huelsman, Furr & dkk (dalam, Ananda, & Mastuti, 2013) mendefinisikan perfeksionisme sebagai suatu hasrat untuk mencapai kesempurnaan dimana ditandai dengan perfeksionisme adaptif (Concientius Perfectionism) yang berasal dari internal individu dan perfeksionisme maladaptive (Self-evaluate Perfectionism) yang berasal dari eksternal individu.

Menurut Hamachek (dalam, Ratna & Widayat, 2013) perfeksionisme adalah karakteristik kepribadian paling penting yang diasosiasikan dengan keberbakatan. Hamachek percaya bahwa perfeksionisme dapat dihargai sebagai pengaruh positif, dan ia juga melihat perfeksionisme sebagai sebuah sikap dalam berperilaku dan sebuah sikap berpikir tentang perilaku.

Menurut Hill (dalam, Widiningrum, 2017) perfeksionisme merupakan suatu disposisi kepribadian yang ditandai dengan berjuang untuk mencapai kesempurnaan dan standar pribadi yang sangat tinggi disertai dengan terlalu kritis mengevaluasi diri sendiri serta kekhawatiran tentang penilaian diri individu lain.

Hewitt & Flett (dalam, Setiawan & Faradina, 2018), menyatakan perfeksionisme dalam konsep multidimensional serta mendefinisikan perfeksionisme sebagai suatu tindakan atau sikap untuk tidak melakukan kesalahan dan untuk mencapai kesempurnaan dalam setiap aspek kehidupan individu. Perfeksionisme mencakup standar yang tinggi untuk diri sendiri, standar yang tinggi untuk orang lain, dan percaya bahwa orang lain memiliki pengharapan kesempurnaan untuk dirinya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perfeksionisme adalah aktualisasi diri ideal dengan ambisi dan tujuan yang terlalu tinggi, tuntutan dengan kesempurnaan yang berlebihan, serta tidak dapat menerima suatu yang tidak sempurna.

Aspek-aspek Perfeksionisme

Hill (dalam, Widiningrum, 2017) mengembangkan suatu pengukuran baru terhadap perfeksionisme, yaitu the perfectionism inventory yang teridiri dari delapan aspek:

a. Ruminasi (Rumination) merupakan kecenderungan untuk obsesif khawatir tentang kesalahan masa lalu, kurangnya kinerja sempurna atau kesalahan akan masa depan.

b. Membutuhkan persetujuan (Need for approval) merupakan kecenderungan untuk mencari pembuktian dari orang lain dan peka terhadap kiritk.

c. Memikirkan kesalahan (Concern over mistakes) merupakan kecenderungan untuk mengalami penderitaan atau kecemasan atas masalah.

d. Penuh perancanaan (Planfulness) merupakan kecenderungan untuk merencanakan dan membuat keputusan.

e. Tekanan orang tua yang dirasakan (Perceived parent pressure) merupakan kecenderungan untuk tampil sempurna di depan orangtua.

f. Dorongan untuk hasil yang sangat baik (Striving for excellence) merupakan kecenderungan untuk mengejar hasil yang sempurna dan standar yang tinggi.

g. Standar tinggi untuk orang lain (High standard for others) merupakan kecenderungan memiliki standar yang tinggi terhadap orang lain.

h. Keteraturan (Organization) merupakan kecenderungan untuk menjadi rapi dan teratur.

Hewitt & Flett (dalam, Gunawinata, Nanik, & Lasmono, 2008) membaginya menjadi tiga aspek, yaitu:

a. Self oriented perfectionist, merupakan komponen personal dari perfeksionisme, seseorang membuat standar yang sangat tinggi dan tidak realisti untuk kinerja dan perilaku mereka, serta motivasi yang kuat untuk menjadi sempurna.

b. Other oriented perfectionist, merupakan dimensi interpersonal dari perfeksionisme yang melibatkan keyakinan dan harapan akan kemampuan orang lain.

c. Socially prescribed perfectionist, perfeksioni yang merupakan hasil bentukan dari lingkungan sosialnya karena mereka yakin orang lain memiliki standar yang tidak realistis dan motif perfeksionistik terhadap perilakunya.

Menurut Horney (dalam, Gunawinata, Nanik & Lasmono, 2008) perfeksionisme merupakan salah satu aktualisasi diri ideal yang memiliki 3 aspek, yaitu perncarian keagungan yang neurotic, penuntuk yang neurotic, dan kebanggaan neurotik.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Perfeksionisme dan Aspek-aspek Prefeksionis Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Ananda, Nicky & Mastuti, Endah. 2013. "Pengaruh Perfeksionisme Terhadap Prokrastinasi Akademik Pada Siswa Program Akselerasi". Dalam Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. Vol.2, No.3. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
  • Gunawinata, Vensi, & dkk. 2008. "Perfeksionisme, Prokrastinasi Akademik, dan Penyelesaian Skripsi Mahasiswa". Dalam Jurnal Anima Indonesia  Pschological. Vol.23, No.3.  Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. 
  • Ratna, Paramita & Widayat, Iwan. 2013. "Perfeksionisme pada Remaja Gifted (Studi Kasus pada Peserta Didik Kelas Akselerasi di SMAN 5 Surabaya)".  Dalam Jurnal Psikologi. Vol.2, No.3. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. 
  • Universitas Psikologi: https://www.universitaspsikologi.com/2019/12/pengertian-perfeksionisme-dan-aspek-perfeksionis.html
  • Setiawan, Heru & Faradina, Syarifah. 2018. "Perfeksionisme Dengan Prokrastinas Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Universitas Syiah Kuala". Dalam Seurune, Jurnal Psikologi Unsyiah. Vol.1, No.2. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
  • Wattimena, Elizabeth. 2015. "Hubungan Antara Perfeksionisme Dengan Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Di Fakultas Psikologi". Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
  • Widiningrum, Agatha. 2017. "Hubungan Antara Tipe Perfeksionisme Dengan Gaya Manajemen Konflik Pada Individu Dewasa Awal Yang Sedang Menjalani Hubungan Pacaran". Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar