Pengertian Prokrastinasi Akademik dan Aspek Prokrastinasi Menurut Para Ahli

Pengertian Prokrastinasi Akademik dan Aspek Prokrastinasi Menurut Para Ahli - Siapa yang pernah menunda pekerjaan atau tugas? Tidak baiknya menunda perkerjaan atau tugas sebaiknya segera dikerjakan ya. Tulisan kali ini universitaspsikologi.com akan membahas terkait hal tersebut. Menunda sesuatu atau bahasa ilmiahnya prokrastinasi, prilaku ini sangat tidak baik jika diterapkan dalam kehidupan karena bisa mengganggu produktivitas kita teman-teman. Apa saja uraian pembahasan kali ini? Uraiannya adalah menyangkut seputar, kenapa prokrastinasi itu sampai terjadi, apa saja faktor yang dapat mencegah atau mengatasi prokrastinasi si sifat yang selalu menunda-nunda. Langsung saja ya, kita bahas variabel yang satu ini.
Pengertian Prokrastinasi Akademik dan Aspek Prokrastinasi Menurut Para Ahli
 Prokrastinasi Akademik
Baca juga: Cara Membentuk Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Pengertian Prokrastinasi

Istilah prokrastinasi berasal dari bahasa Latin procrastinare, dari kata pro yang artinya maju, ke depan, bergerak maju, dan crastinus yang berarti besok atau menjadi hari esok. Jadi, dari asal katanya prokrastinasi adalah menunda hingga hari esok atau lebih suka melakukan pekerjaannya besok. Orang yang melakukan prokrastinasi dapat disebut sebagai procrastinator (dalam, Kartadinata & Sia, 2008)

Menurut Lay (dalam Wattimena, 2015), prokrastinasi adalah menunda apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu hingga beberapa waktu ke depan karena hal tersebut dirasakan berat, tidak menyenangkan, atau kurang menarik. Lay (dalam Gunawinata, Nanik, dan Lasmono, 2008)  juga menyatakan prokrastinasi berarti "The putting off of that which is neces sarry to reach some goal", yang dapat di artikan sebagai penundaan terhadap hal - hal yang di perlukan untuk mencapai suatu tujuan.

Menurut Steel (dalam Wattimena, 2015) mengatakan bahwa prokrastinasi bukan saja komponen yang menunda tugas dengan prioritas tinggi jika tersedia perilaku lain yang memberikan reward dengan segera dan kerugian yang rendah. Steal menuliskan definisi prokrastinasi sebagai "To voluntarily delay an intended course of action despite expection to be worse - off for the ddelay". Dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi adalah perilaku menunda - nunda secara sukarela terhadap pekerjaan yang suda terjadwal dan penting dilakukan sehingga menimbulkan konsekuensi secara emosional, fisik dan akademik.

Milgram (dalam Gunawinata, Nanik dan Lasmono, 2008) menunjukkan bahwa prokrastinasi terutama adalah: bagian dari perilaku menunda, menghasilkan produk perilaku yang berada di bawah standar, melibatkan tugas yang dianggap oleh Prokrastinator sebagai hal yang penting untuk dilakukan, dan menghasilkan kondisi emosional yang mengganggu.

Menurut Tuckman  (dalam Wattimena, 2015)  prokrastinasi akademik adalah kecenderungan untuk meninggalkan, menunda atau menghindari menyelesaikan aktivitas yang seharusnya diselesaikan. Prokrastinasi akademik memiliki banyak dampak yang kurang baik seperti, stress dan juga disertai dengan perasaan bersalah (Ferrari, Johnson, dan Mccown, dalam Ananda & Mastuti, 2013).

Menurut Solomon dan Rothblum (dalam, Husetia, 2010) mengemukakan bahwa prokrastinasi adalah suatu kecenderungan untuk menunda dalam  memulai maupun menyelesaikan  kinerja secara keseluruhan untuk melakukan aktivitas lain yang tidak berguna, sehingga kinerja menjadi terhambat, tidak pernah menyelesaikan tugas tepat waktu, serta sering terlambat dalam perkuliahan. Solomon dan Rothblum (dalam, Husetia, 2010) juga mengungkapkan bahwa indikasi penundaan akademik adalah masa studi 5 tahun atau lebih.

Solomon & Rothblum (dalam Kartadinata & Sia, 2008) juga menyatakan prokrastinasi adalah penundaan mulai mengerjakan atau penyelesaian tugas yang disengaja. dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa perilaku prokrastinasi adalah perilaku yang disengaja, maksudnya faktor-faktor yang menunda penyelesaian tugas berasal dari keputusan dirinya sendiri. Prokrastinasi sendiri merupakan perilaku tidak perlu yang menunda kegiatan walaupun orang itu harus atau berencana menyelesaikan kegiatan tersebut. Perilaku menunda ini akan dapat dikategorikan sebagai prokrastinasi ketika perilaku tersebut menimbulkan ketidaknyamanan emosi seperti rasa cemas.

Vestervelt (dalam Kartadinata & Sia, 2008) mendefinisikan prokrastinasi sebagai suatu kekurang sesuaian kronis antara intensi, prioritas, atau penentuan tujuan terkait mengerjakan tugas yang sudah ditetapkan. Vestervelt juga mengingatkan individu tidak dianggap berprokrastinasi apabila salah mengingat jadwal atau tidak menyadari penundaan yang dilakukannya. Vestervelt mengatakan pula bahwa prokrastinasi haruslah disertai afeksi negatif, misalnya merasa tertekan atau tidak nyaman.

Menurut Silver (dalam Kartadinata & Sia, 2008) prokrastinator adalah seorang yang tidak bermaksud untuk menghindari atau tidak mau tahu dengan tugas yang dihadapi, akan tetapi mereka hanya menunda-nunda untuk mengerjakannya sehingga menyita waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Penundaan tersebut sering kali menyebabkan dia gagal menyelesaikan tugas tepat waktu. Lain halnya dengan Watson (dalam, Kartadinata & Sia, 2008) yang menyatakan bahwa prokrastinasi berkaitan dengan takut gagal, tidak suka pada tugas yang diberikan, menentang dan melawan control, mempunyai sifat ketergantungan dan kesulitan dalam membuat keputusan.

Ferrari, Johnson dan McCown (dalam Kartadinata & Sia, 2008) mendifinisikan prokrastinasi akademik sebagai kecenderungan untuk selalu atau hampir selalu menunda pengerjaan tugas-tugas akademik dan selalu atau hampir selalu mengalami kecemasan yang mengganggu terkait prokrastinasi.

Berdasarkan pendapat menurut para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan seseorang untuk menunda-nunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang sedang ia hadapi yang pada akhirnya mengakibatkan kecemasan karena dia tidak dapat menyelesaikan tugas dengan tepat pada waktunya dan tidak maksimal dalam mengerjakan tugas atau bahkan bisa gagal menyelesaikannya.

Aspek-aspek Prokrastinasi Akademik

Tuckhman (dalam Wattimena, 2015) salah satu ahli yang mengembangkan alat ukur prokrastinasi, membahas perilaku prokrastinasi dari tiga aspek yaitu:

a. Penggambaran diri secara umum terhadap kecenderungan untuk menunda atau berhenti mengerjakan sesuatu, misalkan "ketika saya punya deadline, saya akan tunggu sampai menit terakhir".

b. Kecenderungan mengalami kesulitan untuk mengerjakan hal yang tidak disukai, dan jika mungkin, menghindari atau mengelak hal yang tidak disukai tersebut, misalkan "saya melihat celah atau jalan pintas untuk menghindari tugas yang berat".

c. Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain atas keadaan buruk yang dialaminya, misalkan "saya percaya bahwa orang lain tidak berhak untuk memberi saya deadline".

Muhid (dalam Ananda & Mastuti, 2013) menyatakan bahwa prokrastinasi biasanya dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti rendahnya kontrol diri, self esteem, self efficacy, self conscius, dan juga kecemasan sosial.

Ferrari, dkk dan Stell (dalam Kartadinata & Sia, 2008)  mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati, ciri-ciri tersebut berupa:

a. Perceived time, seseorang yang cenderung prokrastinasi adalah orangorang yang gagal menepati deadline. Mereka berorientasi pada masa sekarang dan tidak mempertimbangkan masa mendatang. Prokrastinator tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan, tetapi ia menunda-nunda untuk mengerjakannya atau menunda menyelesaikannya jika ia sudah memulai pekerjaannya tersebut. Hal ini mengakibatkan individu tersebut gagal memprediksikan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas.

b. Intention-action. Celah antara keinginan dan tindakan Perbedaan antara keinginan dengan tindakan senyatanya ini terwujud pada kegagalan siswa dalam mengerjakan tugas akademik walaupun siswa tersebut punya keinginan untuk mengerjakannya. Ini terkait pula dengan kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu. seorang siswa mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugasnya pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi saat waktunya sudah tiba dia tidak juga melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan sehingga menyebabkan keterlambatan atau bahkan kegagalan dalam menyelesaikan tugas secara memadai.

c. Emotional distress, adanya perasaan cemas saat melakukan prokrastinasi. Perilaku menunda-nunda akan membawa perasaan tidak nyaman pada pelakunya, konsekuensi negatif yang ditimbulkan memicu kecemasan dalam diri pelaku prokrastinasi. Pada mulanya siswa tenang karena merasa waktu yang tersedia masih banyak. tanpa terasa waktu sudah hampir habis, ini menjadikan mereka merasa cemas karena belum menyelesaikan tugas.

d. Perceived ability, atau keyakinan terhadap kemampuan diri. Walaupun prokrastinasi tidak berhubungan dengan kemampuan kognitif seseorang, namun keragu-raguan terhadap kemampuan dirinya dapat menyebabkan seseorang melakukan prokrastinasi. Hal ini ditambah dengan rasa takut akan gagal menyebabkan seseorang menyalahkan dirinya sebagai yang tidak mampu, untuk menghindari munculnya dua perasaan tersebut maka seseorang dapat menghindari tugas-tugas sekolah karena takut akan pengalaman kegagalan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik

Prokrastinasi merupakan hasil kombinasi ketidak percayaan akan kemampuannya untuk melakukan suatu tugas, ketidak mampuan untuk menunda kesenangan, dan menyalahkan sesuatu diluar dirinya untuk keselahan yang dilakukan nya (Bandura & Tuckman dalam Wattimena, 2013).

Menurut Steel (dalam Wattimena, 2013) ada empat faktur utama yang mendukung perilaku prokrastinasi:

a. Fenologi prokrastiansi, adalah intended action gap, mood, dan kinerja orang yang melakukan prokrastinasi pada awalnya tidak bermaksud untuk menunda. Ia memiliki niat untuk menyelesaikan tugas, tetapi kemudian ia menundanya. Seseorang menghindari cemas dan meningkatkan kinerja dengan melakukan prokrastinasi, dengan melakukan prokrastinasi mereka dapat mengeluarkan seluruh kemampuan fisik dan kognitif ketika tenggang waktu mendekat.

b. Karakteristik tugas, waktu pemberian reward dan punishment, Samuel Johnson (dalam Wattimena, 2013) berpendapat bahwa temporal proximity sebagai penyebab alami prokrastinasi. Prokrastinasi akan menurun ketika tugas semakin dekat (temporal proximity). Menurut Samuel, temporal proximity sebagai "to be solicitous for that that is by its nearness enable to make the strongest impressions", yang artinya kecemasan paling besar saat - saat terakhir menimbulkan kesan yang kuat. Task aversiveness yaitu, ketika suatu tugas dirasa tidak menyenangkan, orang cenderung menghindari tugas yang aservif tersebut.

c. Perbedaan individual, Steel meneliti tipe kepribadian, yaitu Neuroticism, Extraversion, Agreeableness, Openness to experience, dan Conscientiousness. Tipe openness to experience tidak berkorelasi dengan prokrastinasi, sedangkan agreeableness memiliki korelasi yang negatif dengan prokrastinasi. Tipe kepribadian Conscientiousness merupakan prediktor negatif terkuat terhadap perilaku prokrastinasi. Komponen impulsiveness dari tipe kepribadian extraversion juga dipercaya memainkan peran dalam perilaku prokrastinasi. Dari studi literatur yang dilakukan beberapa peneliti, disimpulkan bahwa neuroticism adalah sumber utama dari prokrastinasi. Peneliti berpendapat bahwa orang melakukan prokrastinasi pada tugas karena mereka aservif atau penuh tekanan, dan orang yang sering merasakan pengalaman stres akan melakukan prokrastinasi lebih banyak. Namun, Steel  menemukan hasil korelasi yang lemah neuroticism dan prokrastinasi, kecuali self-efficacy memiliki korelasi negative yang kuat dengan prokrastinasi

d. Demografi, munculnya perilaku prokrastinasi dipopulasi tidak hanya disebabkan oleh sifat-sifat kepribadian saja, penelitian telah memperkirakan faktor demografi dari prokrastinasi. Seharusnya prokrastinasi menurun saat seseorang menjadi lebih berumur dan telah belajar dari pengalaman.

Faktor lain yang mempengaruhi perilaku prokrastinasi adalah rasionalisasi. Tuckman (dalam Wattimena, 2013) melakukan penelitian tentang dukungan kognitif terhadap perilaku prokrastinasi yaitu berupa rasionalisasi. Rasionalisasi merupakan pikiran yang membantu prokrastinator untuk melakukan penundaan secara logis. Pikiran demikian berupa wishfull thinking, yaitu prokrastinator mengharapkan hasil yang positif dari perilaku yang disfungsional, seperti perilaku yang menunda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan prokrastinasi pada tingkat rendah kurang menggunakan rasionalisasi, dibandingkan dengan tingkat prokrastinasi yang sedang sampai tinggi. Sementara tingkat prokrastinasi tidak berbeda secara signifikan digunakan oleh prokrastinator adalah “Saya sulit memulai,” “Saya menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya,” “Saya tahu saya dapat menyelesaikannya di menit terakhir.”

Selain itu menurut Burka & Yuen (dalam Wattimena, 2015) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku prokrastinasi akademik adalah perfeksionisme. Burka & Yuen mengklaim bahwa prokrastinator membuat keinginan yang tidak realistis terhadap diri mereka sendiri, selain itu prokrastinasi banyak mengekspresikan karakteristik secara kognitif yang berhubungan dengan perfeksionisme, misalnya kecenderungan untuk mendukung pentingnya continue success (sukses yang berkelanjutan).

Jenis-jenis Tugas Prokrastinasi Akademik

Prokrastinasi dapat dilakukan pada beberapa jenis pekerjaan. Peterson mengatakan bahwa seseorang dapat melakukan penundaan hanya pada hal-hal tertentu saja atau pada semua hal. Sedang jenis-jenis tugas yang sering ditunda oleh prokrastinator yaitu pada tugas pembuatan keputusan, aktivitas akademik, tugas rumah tangga dan pekerjaan kantor.

Istilah yang sering digunakan para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas tersebut adalah prokrastinasi akademik dan non akademik. Prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademik, misalnya tugas sekolah, tugas kursus dan tugas kuliah. Prokrastinasi non akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan sebagainya.

Dalam hal ini yang menjadi subyek adalah siswa sekolah sehingga selanjutnya dalam penelitian ini yang dibahas adalah prokrastinasi akademik. Solomon dan Rothblum membagi enam area akademik dimana biasa terjadi prokrastinasi pada pelajar. Enam area akademik tersebut, yaitu:

a. Tugas menulis, contohnya antara lain keengganan dan penundaan pelajar dalam melaksanakan kewajiban menulis makalah, laporan, dan tugas menulis lainnya.

b. Belajar menghadapi ujian, contohnya pelajar melakukan penundaan belajar ketika menghadapi ujian, baik ujian tengah semester, ujian akhir semester, kuis-kuis, maupun ujian yang lain.

c. Tugas membaca per minggu, contohnya antara lain penundaan dan keengganan pelajar membaca buku referensi atau literatur-literatur yang berhubungan dengan tugas sekolahnya.

d. Tugas administratif, meliputi penundaan pengerjaan dan penyelesaian tugas-tugas administratif, seperti menyalin catatan materi pelajaran, membayar SPP, mengisi daftar hadir (presensi) sekolah, presensi praktikum, dan lain-lain.

e. Menghadiri pertemuan, antara lain penundaan dan keterlambatan dalam masuk sekolah, praktikum dan pertemuan lainnya.

f. Tugas akademik pada umumnya, yaitu penundaan pelajar dalam mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik lainnya secara umum.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Prokrastinasi Akademik dan Aspek Prokrastinasi Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Ananda, Nicky & Mastuti, Endah. 2013. "Pengaruh Perfeksionisme Terhadap Prokrastinasi Akademik Pada Siswa Program Akselerasi". Dalam Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. Vol.2, No.3. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
  • Wattimena, Elizabeth. 2015. "Hubungan Antara Perfeksionisme Dengan Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Di Fakultas Psikologi". Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
  • Husetia, Yemima. 2010. "Hubungan Asertivitas Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universita Diponegoro Semarang".  Dalam Jurnal Psikologi. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.
  • Kartadinata, I & Sia, T. 2008.  "Prokrastinasi Akademik dan Manajemen Waktu". Dalam  Jurnal Anima, Indonesian Psychological. Vol.23, No.3.
  • Universitas Psikologi: https://www.universitaspsikologi.com/2019/12/pengertian-prokrastinasi-akademik-dan-aspek-procrastination.html
  • Wattimena, Elizabeth. 2015. "Hubungan Antara Perfeksionisme Dengan Prokrastinasi Akademik Dalam Menyelesaikan Skripsi pada Mahasiswa Di Fakultas Psikologi". Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Prokrastinasi Akademik dan Aspek Prokrastinasi Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel