Pengertian Overtraining dan Contoh Kasusnya dalam Aktivitas Fitnes

Pengertian Overtraining dan Contoh Kasusnya dalam Aktivitas Fitnes - Olahraga adalah suatu kegiatan kebugaran untuk fisik (jasmani). Orang yang memiliki fokus dan ahli di bidang olahraga disebut atlit. Banyak rangkaian latihan fisik yang dilakukan para atlit salah satunya adalah fitnes. Fitnes adalah tempat latihan kebugaran, banyak alat atau benda yang bisa digunakan untuk melatih fisik manusia. Melatih fisik tidak boleh sembarangan sebab akan menimbulkan cidera. Jika berlebihan atau overtraining juga akan mengakibatkan berbagai kerusakan pada tubuh. Untuk lebih jelasnya mengenai overtraining ini maka universitaspsikologi.com akan mengulasnya pada tulisan di bawah ini.
Overtraining (Orang Sedang Melakukan Fitnes)
Baca juga: Gambaran Diri Manusia dalam Ilmu Psikologi

Overtraining Dalam Fitnes

Pengertian Fitnes

Menurut Syafihati (dalam Wahyudi, 2014) fitnes merupakan bagian dari kegiatan olahraga untuk pembentukanotot-otot tubuh/fisik yang dilakukansecara rutin dan berkala, yang bertujuan untuk menjaga fitalitas tubuh dan juga berlatih disiplin. Memiliki otot tubuh yang ideal dan proforsional adalah idaman banyak orang, yang mana hal ini cukup mempengaruhi performa kita dipandangan mata orang lain. Ini adalah merupakan bagian dari tujuan olahraga.

Menurut Nudin & Adek (2012) Fitnes adalah kegiatan olahraga pembentukan otot-otot tubuh atau fisik yang dilakukan secara rutin dan berkala, yang bertujuan untuk menjaga fitalitas tubuh dan berlatih disiplin. Fitness berhubungan dengan pergerakan tubuh dari fungsi internal serta kemampuan untuk memenuhi tantangan-tantangan fisik sehari-hari (Greenberg & Pargman, dalam Yuanita dan Monique. 2013).

Jenis Latihan Fisik

Jenis-jenis latihan fisik menurut Wiarto (2013) adalah:

a. Latihan aerobik

Latihan aerobik adalah latihan yang menggunakan banyak oksigen. Penggunaan oksigen ini dimaksud untuk memperpanjang waktu ketika melakukan latihan. Latihan aerobik merupakan dasar dari program latihan untuk olahraga prestasi.

Macam-macam latihan aerobik:

1) Aerobik low impact
Latihan atau olahraga aerobik yang cendrung santai dan dapat meningkatkan denyut jantung secara perlahan-lahan.

2) Aerobik high impact
Latihan atau olahraga aerobik yang bisa meningkatkan denyut jantung secara cepat.

b. Latihan anaerobik

Anaerobik adalah latihan tanpa menggunakan oksigen untuk melakukan aktifitas. Latihan anaerobik ini bertujuan untuk mendapatkan energi yang eksplosif secara singkat. Manfaatnya adalah memiliki kekuatan otot yang eksplosif.

c. Latihan interval

Latihan interval mengandung arti suatu rangkaian dari pengulangan-pengelangan kegiatan dari suatu latihan yang diselingi oleh waktu istirahat. Latihan interval dapat meningkatkan jumlah kerja yang dihasilkan, hal ini dikarenakan penggunaan asam laktat yang lebih optimal.

d. Lari kontinu

Metode ini mengandung makna yang melibatkan lari secara terus-menerus dengan jarak yang relatif panjang dan diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu continous slow running training(latihan lari kontinu lambat), continous fast running training (latihan lari kontinu cepat) dan jogging.

e. Latihan beban

Latihan beban merupakan suatu jenis latihan yang memusatkan kepada penggunaan beban yang memiliki tujuan meningkatkan komponen-komponen kebugaran terutama sekali dari segi kekuatan, daya dan daya tahan otot.

f. Latihan pliometrik

Menurut Wilt (dalam Wiarto, 2013) menterjemahkan pliometrik sebagai latihan yang menghasilkan pergerakan otot isometrik yang berlebihan yang menyebabkan refleks regangan dalam otot. Objek utama latihan ini adalah untuk meningkatkan kekuatan eksplosif dan boleh dilakukan dengan menggunakan berat badan sendiri atau bantuan alat

Prinsip-prinsip Latihan

Prinsip- psinsip latihan menurut Wiarto (2013) adalah:

a. Prinsip overload

Prinsip overload atau beban berlebih yaitu dalam setiap melakukan aktifitas fisik harus selalu diupayakan adanya penambahan beban latihan antara latihan saat ini dan latihan yang selanjutnya.

b. Prinsip tahanan bertambah

Prinsip tahanan bertambah adalah tahanan dari setiap melakukan latihan harus bertambah.

c. Prinsip latihan beraturan

Prinsip latihan beraturan adalah prinsip yang harus dilakukan secara beraturan yaitu secara sistematik dan kontinu.

d. Prinsip spesivitas

Bentuk latihan hendaknya bersifat spesifik sesuai dengan maksud dan tujuan latihan dilakukan.

e. Prinsip individu

Dosis latihan pada setiap orang berbeda-beda dan bersifat individu sehingga latihan harus diberikan sesuai dengan umur, jenis kelamin, motivasi, pengaruh lingkungan, kondisi kesehatan dan tinkat kesegaran jasmaninya.

Overtraining

Pengertian Overtraining

Overtraining adalah suatu proses yang melibatkan latihan beban secara berlebihan dan pemulihan yang tidak memadai (Meehan dalam Andi, 2013). Menurut Giriwijoyo & Dikdik (2012) overtraining adalah bentuk kronis dari kelelahan patologis dalam olahraga. Menurut Bompa (dalam  Bafirman, 2013) overtraining adalah keadaan latihan yang patologi.  Selain akibat kesalahan latihan, hal-hal yang mempercepat terjadinya overtraining antara lain; gaya hidup yang tidak teratur, lingkungan sosial yang tidak sehat, dan kondisi kesehatan yang tidak bugar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa overtraining adalah melakukan latihan yang berlebihan dan melebihi batas kemampuan fisik yang akan dapat menyebabkan kelelahan yang bisa memunculkan suatu gejala-gejala tertentu.

Gejala-gejala Overtraining

Menurut Gardon (dalam Giriwijoyo & dikdik, 2012) Gejala-gejala overtraining meliputi gejala-gejala yang bersifat psikologis, fisiologis maupun patologis sebagai berikut:

a. Insomnia ( susah tidur) & sakit kepala
b. Sulit memusatkan perhatian (berkonsentrasi)
c. Gairah dan motivasi menurun
d. Lesu, letih, lemah sehingga menjadi rentan  cedera
e. Rasa lelah > 24 jam
f. Anorexsia (mual)
g. Gangguan fungsi percernaan – diare
h. Berat badan menurun
i. Haus dan banyak minum di malam hari
j. Tekanan darah menurun dan terjadi orthostasis
k. Nadi istrahat meningkat > 10 deyut & nadi terhadap standar latihan sangat meningkat
l. Tungkai terasa berat
m. Dosis latihan tak habis
n. Nyeri otot dan sendi
o. Rentan terhadap alergi dan infeksi
p. Penyembuhan luka lambat
q. Lymphadenitis (radang kelenjar getah bening )
r. Amenorhoea/oligomenorhoea/ tak teratur
s. Hemolisi meningkat sehingga dapat terjadi anemia
t. Libido menurun

Sering Pusing akibat Overtraining

Pengeluaran keringat merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap latihan yang berlebihan,  dalam rangka untuk homeostasis terhadap suhu tubuh. Akibat pengeluaran cairan yang terlalu banyak, maka di dalam tubuh akan menimbulkan kekurangan cairan. Salah satu cairan organ tubuh yang berkurang adalah cairan serebro spinalis. Komposisi cairan serebro spinalis ini adalah, air, protein, garam, limposit, dan CO2. Fungsi cairan serebro spinalis adalah, memelihara kelembaban otak dan madulla spinalis, melindungi peralatan otak dan madulla spinalis dari tekanan, melicinkan alat-alat otak dan medula spinalis (Tortora, dalam Bafirman, 2013).

Dampak Overtraining

Menurut Widiyanto (dalam Andi, 2013) overtraining memiliki dampak yang buruk terhadap fisiologis dan psikologis, adapun dampak tersebut sebagai berikut:

1. Dampak Fisiologis

a. Penurunan berat badan yang berlebihan
b. Peningkatan denyut jantung
c. Penurunan kekuatan otot
d. Nyeri otot kronis
e. Sembelit
f. Sering infeksi kecil

2. Dampak Psikologis

a. Kehilangan nafsu makan
b. Kehilangan motivasi
c. Kehilangan semangat
d. Kelelahan secara mental
e. Iritabitas / menjadi tidak peka

Sekian artike Universitas Psikologi tentang Pengertian Overtraining dan Contoh Kasusnya dalam Aktivitas Fitnes. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Andi, Petrus. 2013. Hubungan antara citra tubuh dengan kecenderungan overtraining di fitness center pada pria dewasa. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
  • Bafirman, HB. 2013. Kontribusi Fisiologi olahraga mengatasi resiko menuju prestasi optimal. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia. Semarang: Universitas Negeri Semarang
  • Giriwijiyo & didik zafar sidik. 2012. Ilmu kesehatan olahraga. Bandung: PT remaja rosdakarya
  • Wiarto, Giri. 2013. Panduan Olahraga untuk Kesehatan dan Kebugaran. Yogyakarta : Graha Ilmu
  • Nudin & Adek Yudah Tri Pratama. 2012. Sistem pendukung keputusan pemilihan suplemen untuk program latihan fitnes menggunakan basis data fuzzy model tahani. Jurnal Manajemen Informatika. Vol 01 No 02. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
  • Wahyudi, Dwi Putra. 2014. Hubungan latihan kebugaran di fitness center dengan kejadian tendinitis pada pelanggan mutiara. Jurnal. Jawa Barat: Universitas Muhammadiyah 
  • Yuanita, Happy & Monique Elizabeth Sukamto. 2013. Fenomena body dissatisfaction pada perempuan anggota fitnes centre. Jurnal Psikologi. Vol 4 No 1. Surabaya: Universitas Surabaya

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Overtraining dan Contoh Kasusnya dalam Aktivitas Fitnes"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel