Pengertian Body Image dan Body Dissatisfaction dalam Ilmu Psikologi

Pengertian Body Image dan Body Dissatisfaction dalam Ilmu Psikologi - Apakah pembaca setia universitaspsikologi.com pernah mendengar kata body image (gambaran diri) dan body dissatisfaction (ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh) saat membaca buku ata diskusi? Pada tulisan kali ini Universitas Psikologi akan mengulas apa itu body image dan body dissatisfaction berserta teorinya. Di antara teman-teman sekalian mungkin bisa menjadi refrensi mengenai gambaran diri yang baik untuk pembaca setia di website ini, langsung saja disimak di bawah ini.
Pengertian Body Image dan Body Dissatisfaction dalam Ilmu Psikologi
Body Image dan Body Dissatisfaction
Baca juga: Teori Asertif dalam Psikologi Menurut Para Ahli

Pengertian Body Image

Menurut Cahyaningrum (2014) Body Image adalah persepsi seseorang tentang tubuhnya, mencakup pikiran, presepsi erasaan, emosi, imajinasi, penilaian, sensasi fisik, kesadaran dan perilaku mengenai penampilan dan bentuk tubuhnya dipengaruhi oleh idealisasi pencitraan tubuh di masyarakat dan interaksi sosial seseorang dalam lingkungannya dan dapat mengalami perubahan.

Body image menururut Honigman dan Castle (dalam Rombe, 2014) mendefinisikan bahwa citra tubuh atau body image sebagai gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana orang tersebut akan mempersepsikan dan memberikan penilaian terhadap apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, serta bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya.

Gardner (dalam Muklis, 2013) mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran yang dimiliki seseorang dalam pikirannya tentang penampilan (misalnya ukuran dan bentuk) tubuhnya,  serta sikap yang  dibentuk seseorang terhadap karakteristik-karakteristik dari tubuhnya. Jadi terdapat dua komponen dari citra tubuh, yaitu komponen perseptual (bagaimana seseorang memandang tubuhnya sendiri) dan komponen sikap (bagaimana seseorang merasakan tentang penampilan atau tubuh yang dipersepsinya). Papalia, dkk (dalam Kany, 2015)  yaitu body image sebagai suatu gambaran dan evaluasi mengenai penampilan dirinya sendiri.

Jadi dapat disimpulkan body image merupakan pandangan seseorang mengenai bentuk tubuh yang dimilkinya. Body image juga merupakan cara seseorang untuk menilai tubuhnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Body Image

Faktor-faktor yang mempengaruhi body image (Atikah dalam, Cahyaningrum, 2014) adalah:

1) Usia Remaja 

Dengan rentang usia 14-19  tahun mengalami perkembangan yang pesat akan gambaran diri dan peran diri. Pada tahap ini, body image menjadi penting dan berdampak pada usaha yang berlebihan pada remaja untuk mengontrol berat badan. Umumnya terjadi pada remaja putri dimana remaja putri merasa tidak puas dengan penampilan tubuhnya dan menyebabkan gangguan makan.

2) Pengetahuan Gizi Remaja

Pengetahuan gizi remaja merupakan kemampuan untuk menerapkan informasi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan gizi sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku dalam memilih makanan yang tepat. Pengetahuan gizi yang baik dapat menghindarkan seseorang dari konsumsi makanan yang salah ataupun buruk. Pengetahuan gizi dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal, selain itu juga dapat diperoleh dengan melihat, mendengar sendiri atau melalui alat-alat komunikasi.

3) Sosial Ekonomi Asupan Gizi

Pada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi dengan keluarga  tingkat sosial ekonomi yang rendah tentu saja asupan gizinya berbeda. Pada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi asupan akan zat gizi lebih tercukupi karena kemampuan membeli bahan makanan yang kaya sumber zat gizi terpenuhi.

4) Media

Media yang muncul dimana-mana memberikan gambaran ideal menegenai figur perempuan dan laki-laki yang dapat mempengaruhi body image. Figur ini biasanya disebut dengan idola. Remaja mengikuti setiap bentuk dan tindakan yang dilakukan oleh idolanya tersebut, terutama pada penampilan.

5) Lingkungan

Dalam hidup bermasyarakat remaja dituntut untuk bersosialisasi. Sejak anak-anak usia 4 tahun, anak telah merasakan kebutuhan atau kehausan sosial. Pada masa menjelang remaja, anak cenderung berkumpul terdiri atas satu  jenis kelamin yang sama, karena  mempunyai ciri fisik yang berbeda. Pada masa remaja awal anak laki-laki maupun perempuan timbul kesadaran terhadap dirinya atau mempunyai persepsi terhadap dirinya yang disebut body image (Rumini dalam, Cahyaningrum, 2014).

Menurut Muklis (2013) Citra tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor, meliputi:

a. penilaian atau komentar dari orang lain
b. pelecehan seksual dan rasial
c. stigmatisasi
d. nilai-nilai sosial  yang  berlaku
e. perubahan-perubahan fisik selama masa pubertas, menopause, dan kehamilan
f. Sosialisasi
g. bagaimana perasaan seseorang  tentang  dirinya  sendiri
h. kekerasan, baik verbal, fisik, maupun  seksual
i. kondisi-kondisi aktual dari tubuh, seperti penyakit atau disabilitas.

Ciri-ciri Body Image

Rubin & Steinberg (dalam Kany, 2015) menyatakan ciri-ciri dari body image itu sendiri yaitu:

a. Merasa rendah diri
 menganggap dirinya tidak berguna dan tidak berarti ditengah masyarakat.
b. Merasa keberadaannya tidak dibutuhkan oleh masyarakat dan lingkungan.
c. Merasa tidak pantas atau tidak berhak memiliki atau mendapatkan sesuatu.
d. Merasa terlalu muda atau terlalu tua untuk melakukan sesuatu.
e. Merasa dibenci dan tidak disukai oleh lingkungan dan orang sekitar.
f. Merasa tidak mampu dan selalu khawatir mendapatkan kegagalan dan cemoohan dari orang disekelilingnya.
g. Merasa kurang pendidikan disbanding orang lain.
h. Kurang memiliki dorongan dan semangat hidup, tidak berani memulai sesuatu hal yang baru, selalu khawatir berbuat kesalahan dan ditertawakan orang.

Kriteria Body Image

Menurut Romansyah & Desi (2012) Body image  terdiri dari 3 kriteria yaitu:

a. Body image baik

Orang dengan body image baik selalu memandang positif dirinya, nyaman dengan keadaan yang ada pada dirinya bagimanapun keadaannya.

b. Body image sedang

body image cukup selalu labil dan merasa ragu dengan bagaimana harus bersikap, memandang, dan menilai dirinya sendiri, kadang merasa kurang nyaman dengan keadaan dirinya tapi masih bisa menerima keadaannya dengan baik.

c. Body image buruk

 Orang yang memiliki body image buruk selalu tidak percaya diri, merasa minder, mudah emosi karena tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri sehingga menarik diri.


Pengertian Body Dissatisfaction

Annastasia (dalam Rohmah, 2014) berpendapat bahwa Body Dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap sosok tubuh adalah ketidaksukaan individu terhadap tubuhnya atau bagian-bagian tubuh tertentu. Menurut Rohmah (2014) Body Dissatisfaction juga merupakan suatu bentuk ketidakpuasan yang merupakan produk pengalaman individu atau hasil evaluasi individu mengenai penilaian tubuhnya dengan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu reaksi dari individu sendiri mengenai keadaan tubuhnya atau disebabkan karena adanya perbandingan dengan orang lain yang memiliki perkembangan tubuh yang diinginkannya sebagai hasil pengamatan dari lingkungan yang dianggap ideal.

Body dissatisfaction adalah komponen perseptif citra tubuh sebagai perbedaan antara ukuran tubuh ideal dan ukuran tubuh saat ini (Thompson, dalam Yuanita & Monique, 2013). Jadi dapat disimpulkan body dissatisfaction merupakan ketidakpuasan seseorang terhadap bentuk tubuh yang dimilikinya.

Penyebab Munculnya Body Dissatisfaction

Menurut Freedman (Prima & Endah, 2013) body dissatisfaction dapat menyebabkan timbulnya permasalahan kesehatan fisik yang serius pada orang yang mengalaminya. Permasalahan yang mungkin timbul meliputi gangguan makan, diet yang ternyata justru menimbulkan kelebihan berat badan dan timbulnya perilaku-perilaku menghukum diri

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Body Dissatisfaction

Menurut Bremh (dalam Rohmah, 2014), faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya Body Dissatisfaction (ketidakpuasan bentuk tubuh) antara lain:

a. Standar Kecantikan yang tidak mungkin dicapai

Setiap kebudayaan dalam suatu tempat atau wilayah memiliki standar kecantikan yang mungkin dapat berbeda satu dengan yang lain. Sebagian besar kebudayaan, walaupun berbeda, biasanya menganggap penampilan yang baik dan menyenangkan sebgai status yang lebih tinggi, kesempatan yang lebih baik untuk menariklawan jenis, dan hal positif yang lain. Body Dissatisfaction merupakan kesenjangan antara bentuk tubuh yang ideal dengan bentuk tubuh individu yang sesungguhnya. (Esther dalam Rohmah, 2014).

b. Kepercayaan atau keyakinan

bahwa kontrol terhadap diri akan menghasilkan tubuh yang sempurna  Secara teori, salah satu hal yang dapat diubah dari tubuh adalah berat badan (Esther dalam Rohmah, 2014). Hal ini menyebabkan berat badan menjadi sasaran ketika seseorang tidak puas dengan hal lain dari tubuhnya, misalnya wajahnya dan kadang aspek psikologis dari dirinya sendiri. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa berat badan merupakan fungsi dari self-control. Lebih lanjut lagi menurut Chrisler dkk (dalam Rohmah, 2014) kecantikan mendorong individu untuk merasa bersalah dan frustasi ketika berat badan individutidak memberikan tubuhyang sempurna bagi individu karena mitos kecantikan itu mengatakan bahwa setiap wanita dapat mencapai berat badan yang ideal jika wanita dapat mengontrol dirinya (Esther dalam Rohmah, 2014).

c. Ketidakpuasan yang mendalam terhadap diri sendiri dan kehidupan

Ahli citra tubuh atau body image percaya bahwa body dissatisfaction, terutama jika meningkat menjadi rasa benci terhadap tubuhnya, merupakan gambaran harga diri yang rendah dan perasaan inadekuat (Esther dalam Rohmah, 2014).

d. Kebutuhan akan kontrol

Banyak hal yang tidak dapat dikontrol Manusia pasti memiliki masalah masalah dalam hidupnya, dan sebagian masalah tersebut tidak memiliki jawaban kendati orang yang bersangkutan sangat membutuhkan jawaban atas suatu masalah. Keadaan ini dapat menyebabkan sebagian orang berusaha mengontrol hal-hal yang dapat mereka kontrol, misalnya mengontrol apa yang mereka makan dan mengontrol berat badan. Dengan mengontrol tubuh seperti itu, individu dapat merasa tertolong sebab setidaknya individu tersebut memiliki pengaruh terhadap hidupnya (Esther dalam Rohmah, 2014).

e. Hidup dalam budaya “first tim pressions (kesan pertama)”

Penampilan seseorang merupakan hal yang sangat penting. Ini dibuktikan dengan adanya penilaian terhadap orang lain yang baru dikenal berdasarkan bagaimana orang tersebut berpakaian, cara berbicara, cara berjalan dan lain-lain (Esther dalam Rohmah, 2014)

Aspek-aspek  Body Dissatisfaction

Gerner dan Wilson (dalam Rohmah, 2014) menambahkan beberapa aspek ketidakpuasan bentuk tubuh antara lain:

a. Body Disparagement (meremehkan bentuk tubuh), bahwa seseorang sering meremehkan bagian tubuh tertentu ataupun keseluruhan tubuh.
b. Feeling Fat (perasaan gemuk), yaitu perasaan sering merasa gemuk atau memiliki berat badan berlebih.
c. Lower Body Fat (rendahnya lemak tubuh), yaitu menganggap tubuh yang ideal adalah tubuh yang memiliki sedikit timbunan lemak.
d. Salience Of Weight And Shape (arti penting dari berat dan bentuk), yaitu sikap mengutamakan pada berat serta bentuk tubuh seperti apa yang ideal.
6. Indicators behavioral body dissatisfaction Menurut Grogan (2008):

Diet

Makan lebih sedikit untuk menurunkan berat badan secara umum dipandang sebagai aktivitas feminin (Bordo dalam Grogan, 2008). Pria lebih cenderung untuk mencoba makan diet tinggi protein, seperti diet Atkins, atau untuk mengurangi lemak dalam diet mereka, daripada mengurangi asupan kalori dalam rangka untuk mencoba untuk mencapai fisik ramping (Creary & Sasse dalam Grogan, 2008).

Exercise and bodybuilding (latihan dan binaraga)

Penelitian Clare Donaldson (dalam Grogan, 2008), 65 persen dari responden ia dilaporkan keterlibatan dalam olahraga secara khusus untuk meningkatkan citra tubuh mereka. Aktivitas yang paling jelas dikaitkan dengan peningkatan citra tubuh untuk pria adalah latihan berat badan dan binaraga, kegiatan-kegiatan yang akan diharapkan menyebabkan perkembangan massa otot, untuk membawa tubuh pria lebih ke sejalan dengan langsing dan ideal otot.

Anabolic steroid use (Penggunaan steroid anabolik)

Penggunaan steroid anabolik untuk meningkatkan kinerja atlet adalah didokumentasikan (See Lennehan, Grogan 2008). Steroid anabolik telah lama digunakan oleh binaragawan profesional untuk meningkatkan sebagian besar otot. Steroid memungkinkan pengguna untuk membangun sebagian besar otot lebih cepat.

Cosmetic surgery (operasi)

Lelaki semakin cenderung untuk menjalani operasi untuk membentuk tubuh mereka. Berdasarkan survay yang dijalankan sejak tahun 1990-an mendapati dengan pasti bahawa lebih banyak lelaki dirujuk melakukan operasi daripada sebelumnya.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Body Image dan Body Dissatisfaction dalam Ilmu Psikologi. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Cahyaningrum, Herlina Dwi. 2013. Hubungan antara body image dengan status gizi pada remaja putri kelas XI IPS di SMA batik 1 Surakarta. Naska Publikasi. Surakarta: Universitas Muhammad Surakarta
  • Grogan, Sarah. 2008. Body Image. London: Routledge
  • Kany, Annisa. 2015. Hubungan antara body image dengan konsep diri pada wanita yang melakukan olahraga kebugaran di jetset fitnes center palembang. Jurnal psikologi. Palembang: Universitas Bina Darma
  • Mukhlis, Akhmad. 2013. Berpikir positif pada ketidakpuasan terhadap citra tubuh (body image dissatisfaction). Jurnal Psikoislamika. Vol 10 No 1. Malang : Universitas Islam Negeri 
  • Rombe, Sufrihana. 2014. Hubungan Body Image dan Kepercayaan Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri di SMA Negeri 5 Samarinda. Jurnal Psikologi. Vol.2 No. 1. Universitas Mulawarmano
  • Prima & Endah Puspita Sari. 2013. Hubungan antara body dissatisfaction dengan kecenderungan perilaku diet pada remaja putri. Jurnal Psikologi Integratif. Vol. 1 No. 1.Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia
  • Rohmah, Kholifatur. 2014. Hubungan antara Body dissatisfaction dengan harga diri pada pria dan wanita dewasa awal. Skripsi. Tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
  • Romansyah, Maret. 2012. Gangguan body image dihubungkan dengan aktivitas olahraga pada mahasiswa obesitas. Jurnal Stikes. Vol 5, No 2. STIKES RS Baptis Kediri

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Body Image dan Body Dissatisfaction dalam Ilmu Psikologi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel