Pengertian Kecerdasan Emosional dan Aspek-aspek Emotional Intelligence Menurut Para Ahli


Pengertian Kecerdasan Emosional dan Aspek-aspek Emotional Intelligence Menurut Para Ahli - Manusia memiliki tipe kecerdasan diantaranya ada kecerdasan emosional (emotional intelligence), kecerdasan inteligensi (kognitif), dan kecerdasan spiritual. Semua kecerdasan tersebut terdapat pada manusia yang berbeda hanya tingkat kecerdasannya saja. Di zaman modern sekarang ini penting rasanya setiap manusia mempunyai kecerdasan emosional. Kenapa? karena kecerdasan ini akan membentuk sifat-sifat positif yang ada dalam diri manusia. Universitaspsikologi.com akan memberikan contoh apa saja sifat tersebut; salah satunya adalah kepekaan rasa, emapati, ataupun simpati dan lainnya. Untuk yang ingin memahami lebih jauh tentang kecerdasan emosional, silahkan baca penjelasan di bawah ini.
Pengertian Kecerdasan Emosional dan Aspek-aspek Emotional Intelligence Menurut Para Ahli
Kecerdasan Emotional (Emotional Intelligence)
Baca juga: Pentingnya Memahami Kepuasan dalam Bekerja

Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional menurut Dyanisa (2008) adalah kemampuan dan potensi dalam diri individu untuk dapat mengenali, memahami, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri, sehingga individu tersebut dapat berempati terhadap orang lain dan menghargai orang lain, serta menerapkan atau mengaplikasikannya dalam menghadapi dorongan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Akbar (2010) menambahkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya. Kecerdasan emosional dapat diartikan sebagai kemampuan mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan tersebut.

Emosional berasal dari kata emosi yang dapat dirumuskan sebagai satu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosional berkaitan dengan ekspresi emosi, atau dengan perubahan yang mendalam yang menyertai emosi (Kartono, 2011). Hal yang sama juga dikatakan oleh Mayer dkk (dalam Barlow dkk, 2009) model of emotional intelligence (EI) outlines the construct as a cognitive ability involving four skills: the ability to perceive, use, understand and regulate emotion. These abilities form a hierarchy, increasing in complexity from emotion perception to emotion management. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar.

Bar-On (dalam Nurita, 2012) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengatur perasaan dengan baik, mampu memotivasi diri sendiri, berempati, ketika menghadapi gejolak emosi dari diri maupun dari orang lain. Manusia juga harus dapat memecahkan suatu masalah, fleksibel dalam situasi dan kondisi yang kerap berubah. Kecerdasan emosional ini sangat mempengaruhi kehidupan seseorang secara keseluruhan mulai dari kehidupan dalam keluarga, pekerjaan, sampai interaksi dengan lingkungan sosialnya. Petrides dkk (dalam Kokkinos dan Kipritsi, 2011) mengatakan trait emotional intelligence is briefly defined as a constellation of emotional self-perceptions located at the lower levels of personality hierarchies.

Saefullah (2012) mengatakan bahwa istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Menurut Goleman (2015) kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi; menjaga keselarasan emosi dan mengungkapkannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

Kecerdasan emosional menurut Subiantoro (2015) adalah kemampuan seseorang dalam mengenali diri sendiri serta orang lain, memotivasi diri, mengelola emosi baik pada diri sendiri maupun hubungannya dengan orang lain, memiliki rasa empati terhadap orang lain serta membangun keterampilan dan komunikasi dengan orang lain. Kecerdasan emosional menuntut seseorang belajar mengakui dan menghargai perasaan pada dirinya dan orang lain untuk menanggapi dengan tepat, menerapkan dengan efektif informasi dan energi serta emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Effendi (dalam Subiantoro, 2015) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional merupakan jenis kecerdasan yang fokusnya memahami, mengenali, merasakan, mengelola dan memimpin perasaan diri sendiri dan orang lain serta mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi dan sosial, kecerdasan dalam memahami, mengenali, meningkatkan, mengelola dan memimpin motivasi diri sendiri dan orang lain untuk mengoptimalkan fungsi energi, informasi, hubungan dan pengaruh bagi pencapaian-pencapaian tujuan yang dikehendaki dan di tetapkan.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengendalikan emosinya, menempatkan emosinya sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapinya. Orang yang cerdas emosi adalah orang yang mampu memahami dirinya, mengenali emosinya, apa yang menjadi pengaruh bagi baik buruk emosinya, memahami orang lain, mampu berempati dan mampu memahami lingkungan sekitarnya.

Aspek-aspek Kecerdasan Emosional

Menurut Goleman (2015), aspek-aspek kecerdasan emosional terdiri dari:

a. Kemampuan mengenali emosi diri

Kemampuan mengenali emosi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri saat perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap, dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan seperti memilih sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai soal pasangan hidup.

b. Kemampuan mengelola emosi

Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara salah. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota  tujuan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya, seorang yang sedang marah dapat mengendalikan kemarahannya secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.

c. Kemampuan memotivasi diri

Kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkadung unsur harapan dan optimis yang tinggi sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan  aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.

d. Kemampuan mengenali emosi orang lain

Kemampuan mengenali emosi orang lain adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebuuhan orang lain sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Kemampuan ini sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non verbal dari orang lain. Dengan demikian, peserta didik ini akan cenderung disukai orang.

e. Kemampuan membina hubungan

Kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Peserta didik dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan menjadi lebih popular.

Menurut Uno dan Kuadrat (2009) banyak dijumpai peserta didik yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak mampu mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan sombong sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada peserta didik sejak usia dini karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang ditengah masyarakat kelak sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan aspek-aspek dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional.

Model Kecerdasan Emosional

Menurut The Encyclopedia of Applied Psychology (dalam Chandra, 2010) terdapat tiga model kecerdasan emosional, yaitu:

a. The Salovey-Mayer Model

Kemampuan yang utama dalam model ini adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengelola, dan menggunakan emosi untuk menjembatani pemikiran yang diukur dengan ukuran yang didasarkan pada kemampuan.

b. The Goleman Model

Model Goleman merupakan kesatuan antara berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang merangsang kemampuan manajeral dan diukur menggunakan penilaian nilai ganda.

c. The Bar-On Model

Merupakan perpaduan antara kompetensi, keterampilan, dan fasilitator yang mempengaruhi perilaku cerdas yang dikur berdasarkan laporan diri dalam suatu pendekatan multi modal, termasuk wawancara dan penilaian nilai ganda.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Kecerdasan Emosional dan Aspek-aspek Emotional Intelligence Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Akbar, Nurillahi. 2010. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial pada siswa akselerasi di SMA Negeri 1 Padang. Skripsi. Padang : Universitas Putra Indonesia YPTK
  • Barlow, Alexandra dkk. 2009. Relationships between Machiavellianism, emotional intelligence and theory of mind in children. Jurnal. Preston : University of Central Lancashire
  • Chandra, Giovanni. 2010. Kecerdasan emosional. Mojokerto : Manuscript
  • Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
  • Dyanisa, Tifanny. 2008. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku agresif pada masayarakat di Nagari Muaro Paneh Kabupaten Solok Selatan. Skripsi. Padang : Universitas Putra Indonesia YPTK
  • Goleman, Daniel. 2015. Emotional Intelligence Kecerdasan Emosional. Jakarta : Gramedia
  • Kokkinos, M. Constantinos & Kipritsi Eirini. 2011. The relationship between bullying, victimization, trait emotional intelligence, self-efficacy and empathy among preadolescents. Jurnal. Published online: 26 July 2011
  • Nurita, Meta D.S. 2012. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional (EQ) dengan Kinerja Perawat pada Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta-Selatan. Jurnal. Universitas Gunadarma
  • Subiantoro, A. Nilasari. 2015. Peranan Pendidikan Karakter dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional Siswa (Suatu Penelitian pada Pembelajaran Matematika di Kelas VII SMP Negeri 1 Telaga). Jurnal. Universitas Negeri Gorontalo
  • Uno, D. Hamzah & Masri Kuadrat. 2009. Mengelola kecerdasan dalam pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Kecerdasan Emosional dan Aspek-aspek Emotional Intelligence Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel