Pengertian Asertif dan Aspek-aspek Asertivitas Menurut Para Ahli

Pengertian Asertif dan Aspek-aspek Asertivitas Menurut Para Ahli - Setiap individu memiliki perilaku asertif. Mengungkapkan sesuatu apa yang dirasakan ataupun dilihat individu secara langsung bisa dikatakan hal tersebut adalah prilaku asertif. Poin penting dalam prilaku asertif adalah kejujuran. Dalam ilmu psikologi, asertif sering kali ditemukan dalam kajian keilmuan psikologi kepribadian. Untuk itu langsung saja simak ulasan yang telah universitaspsikologi.com rangkum di bawah ini.

Pengertian Asertif dan Aspek-aspek Asertivitas Menurut Para Ahli
Assertive (Asertif)
Baca juga: Pengertian dan Aspek Disiplin Kerja dalam PIO

Pengertian Perilaku Asertif

Perilaku asertif adalah perilaku interpersonal individu yang berupa pernyataan mengenai apa yang dirasakan oleh individu tersebut, yang bersifat jujur dan relatif langsung Rimm dan Master (dalam Anjar dan Satiningsih, 2013).

Menurut Rees & Graham (dalam Satuti, 2014), asertif adalah perilaku yang memungkinkan seseorang menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya agar mendapat hasil yang diinginkan sementara tetap mempertahankan harga diri dan menghormati orang lain. Selanjutnya Jay (dalam Sunata, 2014)  menjelaskan lima hal penting yang harus dikuasai yang menjadi komponen berperilaku asertif, antara lain menunjukkan rasa hormat pada orang lain, mengekspresikan perasaan pribadi, berbicara jujur, mempertahankan hak pribadi dan berani berkata tidak.

Menurut Alberti dan Emmons (dalam Abdurrahman, 2013) asertif sebagai perilaku yang mempromosikan kesetaraan dalam hubungan manusia, yang memungkinkan kita untuk bertindak menurut kepentingan kita sendiri, untuk membela diri sendiri tanpa kecemasan yang semestinya, untuk membela diri sendiri tanpa kecemasan yang tidak semestinya, untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman, untuk menerapkan hak-hak pribadi kita tanpa menyangkali hak-hak orang lain. Selanjutnya Jay (dalam Sunata, 2014) mengemukakan asertivitas sebagai kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan secara jujur, tidak menyakiti orang lain dan tanpa merugikan diri sendiri serta dapat membuat seseorang mendapatkan apa yang diinginkan.

Perilaku asertif adalah ekspresi yang langsung jujur, dan pada tempatnya dari pikiran, perasaan kebutuhan atau hak-hak tanpa kecemasan yang tidak beralasan. Langsung merupakan perilaku individu yang tidak berputar-putar, jelas terfokus dan wajar, serta tidak menghakimi. Jujur merupakan individu yang laras dan cocok. Kata-kata gerak gerik dan perasaan individu semuanya mengatakan hal yang sama,  sedangkan pada tempatnya merupakan perilaku individu yang memperhitungkan hak-hak dan perasaan-perasaan orang lain sesuai dengan waktu dan tempat yang tepat Cawood (dalam Hapsari, 2011)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif merupakan sebuah kemampuan seseorang dalam menyampaikan perasaan, pendapat sesuai dengan hak-haknya tanpa mengganggu hak orang lain dan menghormati orang lain dalam menyampaikan pendapat.

Tipe-tipe Perilaku Asertif

Lange dan Jakubowski (dalam Hapsari, 2011)menyatakan beberapa tipe tingkah laku asertif. Tipe-tipe tingkah laku asertif tersebut adalah:

a. Basic Assertion

Basic Assertion mengacu pada ekspresi penghargaan secara sederhana terhadap hak, keyakinan, perasaan, atau opini individu tanpa melibatkan keterampilan sosial lain seperti empati, konfrontasi, atau persuasi. Selain itu Basic Assertion juga melibatkan pengekspresian perasaan dan penghargaan terhadap orang lain.

b. Emphatic Assertion

Bentuk ini dilakukan jika seseorang ingin untuk melakukan sesuatu yang lebih daripada sekedar mengekspresikan perasaan atau kebutuhan mereka secara sederhana. Individu menyampaikan pernyataan yang menunjukkan adanya pemahaman akan situasi atau perasaan orang lain dan diikuti dengan pernyataan lain yang menunjukkan usaha mempertahankan hak pribadi yang bersangkutan.

c. Escalating Assertion

Rimm & Masters (dalam Hapsari, 2011) menyatakan bahwa Escalating Assertion dimulai dengan respon asertif minimal yang bisanya dapat mencapai tujuan dengan emosi negatif dan usaha minimum serta kemungkinan konsekuensi negatif yang kecil. Ketika orang lain tidak merespon dan terus melanggar hak pribadi, individu secara bertahap meningkatkan tingkah laku asertifnya tanpa menjadi agresif. Bentuk escalating assertion dapat berupa permintaan sampai tuntutan, mulai dari mencoba memilih sampai langsung menolak atau menialai dari escalating assertion sampai basic assertion yang tegas.

d. Confrontative Assertion

Bentuk ini digunakan ketika kata-kata seseorang bersifat kontradiktif dengan perbuatannya. Tipe ini meliputi penggambaran secara objektif mengenai apa yang telah dikatakan seseorang, yang sebenarnya telah dilakukan dan apa yang anda inginkan.

e. I Languange assertion

I Languange terutama berguna untuk orang-orang dalam mengekspresikan perasaan-perasaan negatif. Prinsip-prinsip dalam I Languange saat membantu individu mempelajari bagaimana menentukan perasaan individu.

Aspek-Aspek Asertivitas

Menurut Jay (dalam Sunata, 2014) menjelaskan lima hal penting yang harus dikuasai yang menjadi komponen berperilaku asertif, antara lain:

a. Menunjukkan rasa hormat pada orang lain

Prinsip dasar asertif adalah tentang rasa hormat, dan rasa hormat harus datang dari belah dua pihak. Jika ingin mendapatkan rasa hormat dan perlakuan yang adil dari orang lain maka kita juga harus menghormati dan memperlakukan orang dengan adil.

b. Mengekspresikan perasaan pribadi

Cara mengekspresikan perasaan asertif yaitu mengekspresikan apa yang  anda rasakan tanpa memancing respons yang konfrontatif.

c. Berbicara jujur

Jika tidak setuju maka jujurlah. Jika ingin bersikap jujur maka jangan bertele-tele menyampaikan pendapat, jadi sampaikanlah secara langsung.

d. Mempertahankan hak pribadi

Tetap menjaga perilaku supaya tidak merugikan diri sendiri, serta mampu memberikan pilihan-pilihan yang terbaik terhadap diri sendiri.

e. Berani berkata tidak

Berkaitan dengan keberanian seseorang mengatakan “tidak” pada orang lain jika memang itu tidak sesuai dengan keinginannya. Jadi seseorang yang memiliki asertif yang tinggi mampu megatakan “tidak” kapanpun ia menginginkannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, aspek-aspek asertivitas adalah menunjukkan rasa hormat pada orang lain, mengekspresikan perasaan pribadi, berbicara jujur, mempertahankan hak pribadi, berani berkata tidak.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Asertif

Faktor-faktor  yang mempengaruhi perkembangan perilaku asertif menurut Rathus & Nevid (dalam Hapsari, 2011) antara lain:

a. Jenis kelamin
b. Harga diri
c. Kebudayaan
d. Tingkat pendidikan
e. Situasi-situasi tertentu di sekitarnya

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Asertif dan Aspek-aspek Asertivitas Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Abdurrahman. 2013. Hubungan Antara Asertivitas Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Angkatan 2009 Di Fakultas XXX Universitas YYY. Skripsi. Fakultas psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang
  • Anjar, Dyah dan Satiningsih. 2013. Hubungan Antara Parenting Style Orangtua dengan Perilaku Asertif Pada Remaja. Jurnal Psikologi. Volume 01, Nomor 02. Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
  • Hapsari, Ratna Maharani. 2011. Sumbangan Perilaku Asertif Terhadap Harga Diri Pada Karyawan. Jurnal Psikologi. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
  • Satuti, Noviani Bening. 2014. Hubungan Antara Harga Diri dengan Perilaku Asertif Pada Mahasiswa Aktivis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Naskah Publikasi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Sunata, Pebria. 2014. Hubungan Antara Asertivitas Dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa Kelas XI SMK Kosgoro Padang. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Asertif dan Aspek-aspek Asertivitas Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel