Teori Disiplin Kerja dan Aspek-aspek Work Discipline Menurut Para Ahli

Teori Disiplin Kerja dan Aspek-aspek Work Discipline Menurut Para Ahli - Jepang adalah negara yang sangat terkenal dengan budaya disiplinnya dalam bekerja. Disiplin memang menjadi poin bagi perusahaan dalam menerima calon karyawannya sebab dengan adanya disiplin dalam bekerja atau yang dikenal juga dengan sebutan discipline work akan sangat membantu mobilitas perusahaan. Dalam ulasan ini universitaspsikologi.com akan menyajikan teori-teori yang berkaitan dengan disiplin kerja ini. Bahkan dalam ilmu psikologi industri dan organisasi pasti akan ditemukan pembahasan disiplin kerja karyawan, karena sangat pentingnya variabel satu ini. Langsung saja disimak pada tulisan berikut ini pembaca setia Universitas Psikologi.

Teori Disiplin Kerja dan Aspek-aspek Work Discipline Menurut Para Ahli
Disiplin Kerja (Work Discipline)
Baca juga: Memahami Diri Sendiri dengan Teori Konsep Diri

Pengertian Disiplin Kerja

Secara etimologis disiplin berasal dari bahasa latin “disipel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin kerja adalah suatu sikap  ketaatan seseorang terhadap aturan atau ketentuan yang berlaku dalam organisasi, yaitu : menggabungkan diri dalam organisasi itu atas dasar keinsafan, bukan unsur paksaan (Wursanto, dalam Masyjui, 2005).

Disiplin yaitu suatu sikap menghormati, menghargai, patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya (Sastrohadiwirja dalam Labudo, 2013).

Disiplin merupakan bentuk pengendalian diri dari karyawan dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukan tingkat kesungguhan tim kerja di dalam sebuah organisasi, tindakan disiplin digunakan oleh organisasi untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran dari aturan-aturan kerja atau harapan-harapan sedangkan keluhan-keluhan digunakan oleh karyawan yang merassa hak-haknya telah dilanggar oleh organisasi. Disiplin kerja pada karyawan sangat dibutuhkan karena apa yang menjadi tujuan organisasi akan sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja (Roffi, 2012).

Disiplin adalah sikap dari individu atau kelompok yang mencerminkan ketaatan dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku di dalam suatu organisasi sedangkan pengertian disiplin kerja dapat dikatakan sebagai sikap dari seseorang atau kelompok yang taat dan patuh terhadap peraturan atau tata tertib yang berlaku dalam melakukan tugas dan kewajibannya pada suatu organisasi untuk mencapai tujuan (Suprayitno, 2007).

Disiplin bila sudah menyatu dengan dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan akan sebaiknya akan membebani dirinya bila ia tidak berbuat sebagaimana mestinya. Dengan demikian disiplin kerja seseorang dalam bekerja merupakan sikap atau perlakuan ketaatan, ketertiban, tanggung jawab dan loyalitas karyawan terhadap segala tata tertib yang berlaku dalam organisasi. Bila karyawan bertindak atau berbuat sesuai dengan keinginan organisasi maka peraturan itu menjadi efektif. Disiplin kerja bila karyawan datang tepat waktu, mempergunakan alat kantor dengan rasa tanggung jawab, hasil pekerjaan memuaskan dan bila bekerja dengan semangat tinggi (Larterner dalam Prihantoro, 2012).

Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manejer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah sutu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati peraturan-peraturan dan norma-norma sosial yang berlaku (Sutrisno dalam Labudo, 2013).

Disiplin kerja adalah suatu sikap tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan aturan dari instansi baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Disiplin kerja merupakan kebijaksanaan yang menuju kearah rasa tanggung jawab dan kewajiban bagi karyawan untuk mentaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan perusahaan di tempat karyawan itu bekerja (Harlei, 2010).

Disiplin kerja adalah sikap pribadi karyawan dalam hal ketertiban dan keteraturan diri yang dimiliki oleh karyawan dalam bekerja di perusahaan tanpa ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan dirinya, orang lain, atau lingkungannya (Aritonang dalam Prestawan, 2010).

Disiplin kerja adalah suatu sikap menghormati, menghargai, mematuhi dan mentaati peraturan-peraturan yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankan dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar aturan-aturan, tugas, wewenang yang diberikan kepadanya (Siswanto dalam Sopian, 2016).

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja adalah sikap ketaatan dan kesetiaan seseorang atau sekelompok orang terhadap peraturan tertulis atau tidak tertulis serta menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya, hal tersebut tercermin dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan pada suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Ciri-ciri Disiplin Kerja

Menurut Terry (dalam Masyjui, 2005) ada beberapa ciri-ciri disiplin kerja yaitu:

a. Adanya hasrat yang kuat untuk melakdanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi norma, etika, kaidah yang berlaku.
b. Adanya perilaku yang terkendali.
c. Adanya ketaatan.

Bentuk-bentuk Perilaku Disiplin Kerja

Perilaku disiplin karyawan tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dibutuhkan untuk dibentuk, sehing diperlukan pembentukan perilaku disiplin kerja (Grant dalam Sukirman, 2016) dalam melakukan melakukan pembentukan disiplin kerja, yaitu:

a. Preventive discipline merupakan tindakan yang diambil untuk mendorong para pekerja mengikuti atau mematuhi norma-norma dan aturanaturan sehingga pelanggaran tidak terjadi. Tujuannya adalah untuk mempertinggi kesadaran pekerja tentang kebijaksanan dan peraturan pengalaman kerjanya.

b. Corrective discipline merupakan suatu tindakan yang mengikuti pelanggaran dari aturan-aturan, kondisi tersebut digunakan untuk mengecilkan pelanggaran lebih lanjut sehingga diharapkan perilaku yang akan datang dapat mematuhi norma-norma peraturan.

c. Progresif discipline yaitu tindakan memberi hukuman berat terhadap pelanggaran yang berulang. Contoh dari tindakan disiplin progresif yaitu teguran secara lisan oleh atasan, teguran tertulis, skorsing dari pekerjaan selama beberapa hari, diturunkan pangkatnya dan dipecat.

Menurut Helmi (dalam Agus, 2007) terdapat dua jenis disiplin kerja berdasarkan terbentuknya yaitu disiplin diri dan disiplin kelompok.

a. Disiplin Diri

Disiplin diri merupakan upaya yang dilakukan oleh seseorang atas prakarsa sendiri dalam melaksanakan tugas. Disiplin diri merupakan disiplin yang dikembangkan atau dikontrol oleh diri sendiri berwujud pada kontrol terhadap tingkah laku yang berupa ketaatan terhadap peraturan baik yang ditetapkan sendiri maupun oleh pihak lain, sehingga disiplin diri ditujukan pula demi pencapaian tujuan organisasi. Disiplin diri pada tiap karyawan bila telah tumbuh dengan baik akan merupakan kebanggaan bagi setiap organisasi, karena pengawasan yang terus menerus tidak dibutuhkan lagi. Melalui disiplin diri, karyawan-karyawan merasa bertanggung jawab dan dapat mengatur diri sendiri untuk kepentingan organisasi.

b. Disiplin Kelompok

Disiplin kelompok akan tercapai jika disiplin diri telah tumbuh dalam diri karyawan, artinya kelompok akan menghasilkan pekerjaan yang optimal jika masing-masing anggota kelompok dapat memberikan andil yang sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya. Karyawan juga dituntut untuk mampu mengatur sikap dan perilaku yang sesuai dengan peraturan kerja sehingga hal ini menjadi sarana untuk mempertahankan eksistensi organisasi. Disiplin kerja dapat pula terbentuk bila karyawan benar-benar mampu mempunyai semangat kerja yang tinggi, apabila terdapat semangat kerja diantara karyawan, dapat diharapkan tugas yang diberikan kepada mereka akan dilakukan dengan baik dan cepat. Dengan adanya semangat kerja yang tinggi maka akan timbul kesetiaan, kegembiraan, kerja sama, dan ketaatan atau disiplin terhadap peraturan-peraturan perusahaan.

Aspek-aspek Disiplin Kerja

Menurut Natsir aspek-aspek disiplin kerja meliputi:

a. Aspek keteraturan dan ketepatan waktu kerja yaitu datang dan pulang kerja dengan teratur dan tepat waktu.
b. Aspek penggunaan pakaian kerja yaitu berpakaian rapi dan lengkap ditempat kerja.
c. Aspek penggunaan bahan dan alat perlengkapan kerja yaitu menggunakan alat bahan dan alat perlengkapan dengan hati-hati.
d. Aspek penggunaan waktu kerja yaitu menggunakan waktu kerja yang sepenuhnya dan seefisien mungkin.
e. Aspek kepatuhan terhadap peraturan kerja yaitu tidak melakukan hal-hal yang telah menjadi larangan perusahaan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja

Menurut faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Faktor dari dalam diri individu meliputi kepribadian, semangat kerja, motivasi kerja intrinsik serta kepuasan kerja.
b. Faktor dari luar individu meliputi motivasi kerja ekstrinsik, kepuasan kerja, kepemimpinan, lingkungan kerja dan tindakan indisipliner yang diberikan.

Menurut (Singodimedjo dalam Sutrisno, 2016) faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja, yaitu:

a. Besar kecilnya pemberian kompensasi
b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan
d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan
e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan
f. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan
g. Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Disiplin Kerja dan Aspek-aspek Work Discipline Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Labudo, Yusritha, 2013. Disiplin Kerja dan Kompensasi Pengaruhnya Terhadap Produktivitas Karyawan. Manado
  • Masyjui, Isnan, 2005. Pengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai Kantor Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Grobongan. Semarang
  • Prihantoro, Agung. 2012. Peningkatan Kinerja Sumber Daya Manusia Melalui Motivasi, Disiplin, Lingkungan Kerja dan Komitmen. Pati
  • Rofi, Ahmad Nur, 2012. Pengaruh Disiplin Kerja dan Pengalaman Kerja terhadap Prestasi Kerja Karyawan pada Departemen Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang. Semarang
  • Prestawan, Anang, 2010. Hubungan antara Kepuasan Kerja dan Disiplin Kerja dengan Produktivitas Kerja Karyawan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera Surakarta. Surakarta
  • Sukirman, 2016. Hubungan Kepuasan Kerja dengan Disiplin Kerja Karyawan Bagian Produksi PT. Bintratex Semarang. Semarang
  • Sopian, Irpan. 2016. Disiplin Kerja Pegawai dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja Pegawai. Provinsi Kepulauan Riau
  • Sutrisno, Edy, 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakart: Kencana Prenada Media Group

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori Disiplin Kerja dan Aspek-aspek Work Discipline Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel