Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar - Lama tidak berjumpa, kali ini universitaspsikologi.com akan membagikan artikel tentang teori dan hal yang dapat membuat prestasi belajar menjadi baik. Setiap manusia selalu menginginkan sebuah capaian yang baik. Misalnya di sekolah, prestasi belajar selalu menjadi ukuran bagi siswa dan siswi untuk menentukan bahwasannya anak itu sukses. Prestasi belajar yang baik dapat dicapai dengan adanya keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh. Maka dari itu langsung saja Universitas Psikologi akan membagikan persoalan yang berkaitan dengan prestasi belajar agar dapat meningkatkan prestasi belajar anda, langsung saja disimak uraian dibawah ini.

Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Ilustrasi: Murid Belajar (Prestasi Belajar)
Baca Juga: Pengertian Kepuasan Pernikahan dan Faktor yang Membuat Pernikahan Menjadi Bahagia

Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Purwadarminta (dalam Hamdani, 2011) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai,dilakukan, dikerjakan dan sebagainya, jadi prestasi belajar tidak akan dihasilkan selama seseorang tidak melakukan kegiatan.

Qohar (dalam Hamdani, 2011) mengatakan bahwa prestasi sebagai hasil yang telah dicapai, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang di peroleh dengan jalan keuletan. Harahap memberikan batasan prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.

Winkel (dalam Hamdani, 2011) mengemukakan bahwa prestasi belajar berupakan bukit-bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan demikian prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Gunarso mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha yang didapatkan seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.

Gagne (dalam Hamdani, 2011) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan oleh lima aspek, yaitu kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Blom dalam hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu, aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Prestasi belajar dibidang pendidikan adalah hasil dari pengkuran terhadap siswa yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses pembelajaran yang di ukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi, prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol,huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu.

Menurut Harahap (dalam Hamdani, 2011) prestasi belajar adalah penelitian tentang perkembangan dan kemajuan siswa yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurukulum.

Sudjana (dalam Ariwibowo, 2012) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah merupakan hasil belajar yang dicapai siswa atau mahasiswa dengan kriteria tertentu. Menurut Sugihartono (dalam Wulandari, 2015) hasil pengukuran yang berwujud angka ataupun pernyataan yang mencerinkan tingkat penguasaan materi pelajaran bagi para siswa. Tu’u (dalam Wulandari, 2015) menyatakan prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu.

Narwoto (2013) bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dalam menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol untuk menuntujukan kemampuan pencapaian dalam hasil belajar. Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang di peroleh akan membentuk kepribadian siswa, memperluas kepribadian siswa, memperluas wawasan kehidupan  serta meningkatkan kemampuan siswa.

Bertolak dari hal tersebut maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan dalam pembelajaran akan memperoleh banyak pengalaman, dengan demikian siswa akan aktif dalam banyak pembelajaran akan banyaknya pengalaman dan prestasi belajarnya yang meningkat. Sebaliknya siswa yang tidak aktif akan minim atau sedikit memiliki pengalaman sehingga dapat dikatakan prestasi belajarnya tidak maningkat atau tidak berhasil.

Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu,yaitu perubahan tingkah laku. Dengan demikian prestasi belajar adalah hasil yang di peroleh melalui kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar dan dapat memeberikan nilai-nilai atau tingkatan kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak, dan menilai informasi-informasiyang diperoleh dalm proses belajar mengajar.

Faktor-faktor Prestasi Belajar

Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun menghambat. Demikian juga yang dialami dalam belajar. Slameto (2015) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, diantaranya:

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri siswa sendiri faktor-foktor ini terdiri dari :

1) Kecerdasan (inlegensi)

Kecerdasan adalah kemampuan belajar yang di serati kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat di tentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berada antara satu anak dengan anak lainnya sehingga anak pada usia tertentu sudah memiliki tinggkat kecerdasan lebih tinggi dengan dari kawan sebayanya. Oleh karena itu faktor intelegensi merupakan salah satu yang tidak boleh abaikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Menurut Kartono (dalam Hamdani, 2011) kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil atau tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau diatas rata-rata maka secara potensi ia akan dapat memperoleh hasil belajar yang tinggi.

Muhibbin (dalam Hamdani, 2011) berpendapat intelegensi adalah semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa, semakin kecil peluang untuk meraih sukses.

Dari pendapat diatas dapat di ambil kesimpulan tinggi atau tidaknya intelegensi seorang siswa merupakan faktor yang sangat penting bagi anak dlam usaha belajar. Intelegensi pada artinya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.

2) Faktor jasmaniah atau faktor fisiologis

Kondisi jasmaniah atau fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Uzer dan Lilis (dalam Hamdani, 2011) mengatakan bahwa faktor jasmaniah, yaitu pancaindra yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, befungsinya kelenjer yang membawa kelainan tingkah laku.

3) Sikap

Sikap yaitu kecendrungan untuk mereaksi terhadap suatu hal, orang atau benda dengan suka atau tidak suka  atau acuh tak acuh. Sikap seseorang dapat mempengaruhi oleh faktor pengetahuan, kebiasaan, dan keyakinan.

Dalam diri siswa harus ada sikap yang positif (menerima) kepada sesama siswa atau gurunya. Sikap positif ini akan menggerakannya untuk belajar. Adapun siswa yang sikapnya yang negatif (menolak) kepada sesama siswa atau gurunya tidak akan mempunyai kemampuan untuk belajar.

4) Minat

Minat menurut ahli psikologi adalah suatu kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus-menerus. Minat ini erat kaitannya dengan perasaan, terutama dengan perasaan senang. Dapat dikatan minat itu terjadi karena perasaan senang pada sesuatu.

Menurut Winkel (dalam Hamdani, 2011) mengatakan minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung di bidang itu. Selanjutnya Slameto (dalam Hamdani, 2011) mengemukakan bahwa minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus dan disertai dengan rasa sayang. Adapun Sardiman (dalam Hmadani, 2011) mengatakan minat adalah suatu kondisi yang gterjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi, yang dihubungakan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.

Bedarkan pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa minat sangat berpengaruh besar terhadap minat dalam belajar atau kegiatan.

5) Bakat

Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Setiap orang memiliki bakat dalam artian berpotensi untuk mencapai prestasi sampai tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

6) Motivasi

Motivas adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat menetukan baik buruknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar hasil yang di dapatkan. Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar.

Persoalan dalam motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula, dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik akan didikan akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal terdiri dari dari dua macam, yaitu lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Yang termasuk dari lingkungan sosial yaitu, guru, kepala sekolah, teman sekelas, rumah tempat tinggal siswa, alat-alat belajar, dan lain-lain. Adapun lingkungan nonsosial adalah gedung sekolah, tempat tinggal dan waktu belajar.

Pengaruh lingkungan pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan terhadap individu. Menurut Slamett (dalam Hamdani, 2011) faktor eksteren yang dapat mempengaruhi belajar adalah keadaan keluarga, keadaan sekolah, dan linggkkungan masyarakat.

1) Keadaan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan di besarkan. Sebagaima yang di jelaskan oleh Slameto bahwa, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar, yaitu pendidikan bangsa, negara, dan dunia.

Hasbullah (dalam Hamdani, 2011) mengatakan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama medapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anaka adalah sebagai peeletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.

Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan keluarga. Adapun  sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerja sama yang baik  antara orang tua dan guu sebagai pendidik dalam usaha penngkatan hasil belajar.

2) Keadaan sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu lingkukngan sekolah yang baik dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran, dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa yang kurang baik akan memengaruhi hasil-hasil belajarnya.

Menurut Kartono (dalam Hamdani, 2011) guru di tuntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar. Oleh karena itu, guru harus menguasai bahan pelajaran yang sisajikan dan memiliki metode yang tepat dalm mengajar.

3) Lingkungan masyarakat

Disamping orang tua, limgkungan juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam proses pendidikan. Lingkungan alam sekitar sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi anak sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana tempat ia berada.

Kartono (dalam Hamdani, 2011) berpendapat bahwa lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran anak belajar, terutama dengan anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak karna dalam pergaulan sehari-hari, seseorang akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. BANDUNG: Pustaka Setia
  • Slameto.2012. Belajar Dan Fakto-faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta
  • Watoyo Dwi. 2008. Hubungan Antara lingkungan belajar dan Minat Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Akuntansi kelas XI jurusan IPS SMA NEGERI 1 PANINGGARAN Kabupaten Pekalongan. TESIS. Universitas Sebelas Maret

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori dan Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel