Pengertian Religiusitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keagamaan


Pengertian Religiusitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keagamaan - Akhir-akhir ini mencuat ke permukaan publik dengan adanya seorang artis yang pindah agama. Dalam persoalaan itu psikologi sendiri mempunyai pembahasan mengenai religiusitas atau keberagamaan seseorang. Artinya seseorang yang mempunyai tingkatan keyakinan, seberapa kuat dia meyakini dan mendalami hal yang berhubungan dengan keyakinannya tersebut. Untuk tidak memperpanjang pembukaan langsung saja universitaspsikologi.com akan memberikan ulasan terkait religuisitas ini.
Baca juga: Sebab-akibat Kenapa Kejenuhan Itu Terjadi

Pengertian Religiusitas

Menurut Glock & Stark (dalam Ancok dan Suroso, 2011) religiusitas merupakan merupakan sistem simbol, sietem keyakinan, sitem nilai, dan sistem perilaku yang terlembagakan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi.

Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tampak dan terjadi dalam hati seseorang (Ancok dan Suroso, 2011).
Pengertian Religiusitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keagamaan
Religuisitas (Keberagamaan)
Menurut Nashori (dalam Reza, 2013) mengatakan bahwa religiusitas adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah, dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianut.

Menurut Youseff et al (dalam Maulida, 2013) religiusitas merupakan tingkat keterkaitan seseorang terhadap agama yang dianutnya. Religiusitas meliputi pengetahuan agama, pengalaman ritual agama, pengalaman agama, perilaku moral (moralitas) agama dan sikap sosial keagamaan.

Yusuf (dalam Affandi dan Diah, 2011) menjelaskan pada dasarnya manusia dikatakan makhluk homoreligius sebab manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa keagamaan dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai religi, baik yang bersifat ritual personal maupun ibadah sosial, seperti menjalin hubungan antar manusia serta menciptakan lingkungan hidup yang bermanfaat bagi kesejahteraan atau kebahagiaan umat manusia.

Orang yang sadar akan agamanya atau orang yang memiliki religious counsousness apabila menghadapi kesukaran atau bahaya sebesar apapun akan mampu menghadapinya. Seseorang yang berpegang teguh terhadap agama, apabila mengalami kekecewaan, ia tidak akan merasa putus asa dan akan menghadapinya dengan tenang dan tabah (Burhanuddin dalam Affandi dan Diah, 2011).

Binswanger (dalam Dewi, 2013) menyatakan religiusitasitas sebagai suatu motivasi transenden dengan sebutan ada melampaui dunia dan tidak mengartikan dunia lain (surga) melainkan mengungkapkan begitu banyaknya kemungkinan yang dimiliki manusia untuk mengatasi dunia yang disinggahinya dan memasuki dunia baru. Religiusitas sebagai suatu motivasi yang transenden merupakan bentuk upaya internalisasi manusia.

Safaria (dalam Darmawanti, 2012) religiusitas merupakan pengalaman yang universal yang tidak hanya terdapat dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan di tempat-tempat ibadah namun juga pada keseluruhan aspek kehidupan manusia.

Mangunwijaya (dalam Darmawanti, 2012) menambahkan bahwa religiusitas merupakan aspek personal dari kehidupan yang beragama, mencakup totalitas rasa kedalaman pribadi dari individu itu sendiri. Religiusitas ini hanya dapat dihayati dari dalam, lebih menekankan kepasrahan diri dan rasa hormat pada Tuhan. Sekilas nampak hal ini sukar untuk diukur dan dinilai dari luar, namun religius individu dapat diamati dari aspej-aspek kehidupan beragama di tengah-tengah pergaulan sosial.

Secara garis besar, agama Islam mencakup tiga hal, yaitu keyakinan, (aqidah), norma atau hukum (syari’ah), dan perilaku (akhlak). Oleh karena itu, pengertian religiusitas Islam adalah tingkat internalisasi beragama seseorang yang dilihat dari penghayatan aqidah, syari’ah, dan akhlak seseorang (Amawidyati & Utami, 2007).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas merupakan suatu keterikatan terhadap suatu keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya serta aktivitas keyakinan melalui norma-norma atau agama yang dipercayainya secara konsisten antara pikiran, perasaan dan perilakunya. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tampak dan terjadi dalam hati seseorang.

Dimensi-dimensi Religiusitas

Menurut Glock & Stark (dalam Ancok dan Suroso, 2011) menjelaskan bahwa untuk melihat religiusitas seseorang dapat dilihat dari lima macam dimensi:

a. Dimensi keyakinan

Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Seperti keyakinan tentang malaikat, Nabi dan Rasul, kitab-kitab Allah SWT, surga dan neraka, serta Qadha dan Qadar.

b. Dimensi Praktik agama

Dimensi ini mencakup perilaku ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen pada agama yang dianut seperti pelaksanaan sholat, zakat, puasa, haji, membaca Al-Qur’an, doa, dan sebagainya.

c. Dimensi Pengalaman

Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman-pengalaman agama, perasaan-perasaan, dan sensasi-sensai yang pernah dialami seseorang seperti perasaan tentram setelah beribadah, doa-doa yang terkabul dan sebagainya.

d. Dimensi Pengetahuan Agama

Dimensi ini mencakup pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, kitab suci dan tradisi seperti, pengetahuan tentang isi al-qur’an, hukum-hukum islam, sejarah islam dan sebagainya.

e. Dimensi Pengamalan

Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan individu yang berprilaku dengan dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan dunianya, terutama dengan manusia lain seperti, suka menolong, berderma, berlaku jujur, tidak mencuri dan sebagainya.

Berdasarkan teori Allport dan Fetzer (dalam Purnama, 2011) melalui skor angka peringkat dari aspek, yaitu:

1) Instrinsik yaitu menggunakan agama sebagai alat-alat untuk mencapai sesuatu seperti untuk memperoleh keamanan, kenyamanan, status, atau dukungan sosial, dan

2) Ekstrinsik yaitu melaksanakan agama semata-mata tulus karena perintah Tuhan bukan untuk kepentingan pribadi.

Masing-masing aspek terdiri dari 12 indikator, yaitu:

a) Pengalaman Spritual sehari-hari (daily spritual experiences)

Dimensi ini merupakan persepsi individu terhadap sesuatu yang berkaitan dengan dampak menjalankan agama (pengalaman spritual) dalam kehidupan sehari-hari. Secara terperinci dimensi ini berkaitan dengan pengalaman-pengalaman, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang yang melihat komunikasi dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan Tuhan, kenyataan terakhir dengan otoritas transdental.

b) Makna Beragama (Meaning)

Meaning adalah pencarian makna dari kehidupan dan berbicara mengenai pentingnya makna atau tujuan hidup sebagai bagian dari fungsi penting untuk mengatasi hidup atau unsur kesejahteraan psikologis. Tujuan hidup manusia ialah bertemu (liqa’) dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dalam ridha-Nya. Sedangkan makna hidup manusia didapatkan dalam usaha penuh kesungguhan (mujahadah) untuk mencapai tujuan itu melalui iman kepada Tuhan dan beramal kebaikan.

c) Nilai-nilai beragama (values)

Values adalah pengaruh keimanan terhadap nilai-nilai hidup, seperti mengerjakan tentang nilai cinta, saling menolong, saling melindungi, dan sebagainya. Nilai-nilai agama tersebut mengatur tata kehidupan manusia untuk mencapai ketentraman, keselamatan, dan kebahagiaan.

d) Keyakinan (beliefs)

Konsep beliefs merupakan sentral dari religiusitas. Dalam bahasa Indonesia disebut keimanan yaitu kebenaran yang diyakini dengan nilai dan diamalkan dengan perbuatan. Keyakinan dan kecintaan kepada agama merupakan karakter dasar dan ciri khas ekspresi kesadaran bawah sadar seseorang yang mengimani ajaran agama tersebut.

e) Pengampunan (forgiveness)

Secara harfiyah forgiveness adalah memaafkan, yaitu suatu tindakan yang bertujuan untuk memberi maaf bagi orang yang melakukan kesalahan dan berusaha keras untuk melihat orang itu dengan belas kasihan, kebajikan dan cinta.

f) Praktek Keberagaman Individual (private religious practices)

Private religious practices merupakan perilaku beragama dalam mempelajari agama meliputi ibadah, mempelajari kitab suci, dan kegiatan-kegiatan lain untuk meningkatkan religiusitasnya. Secara mendasar dimensi ini dapat dipahami untuk mengukur tingkatan sejauh mana seseorang mengerjakan ritual agamanya. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.

g) Pengaruh Beragama (religious/spritual coping)

Masalah kecemasan (anxiety), kegelisahan (restlessness) dan stress merupakan bagian masalah yang banyak dipelajari, diteliti dan dibahas dalam kajian psikologi. Karena itu Fetzer menawarkan pola religious/spritual coping yang merupakan coping stress guna mengatasi persoalan tersebut dengan menggunakan pola dan metode religius, seperti dengan berdo’a, beribadah untuk menghilangkan stress, dan sebagainya. Bastaman mengungkapkan bahwa beraneka ragam terapi dikembangkan para ahli guna mengatasi rasa cemas tersebut, di antaranya terapi relaksasi, terapi tingkah laku, dan ada juga terapi yang menghadirkn perasaan tenang dan tenteram adalah dengan berdzikir secara terus menerus dengan penuh kekhidmatan.

h) Dukungan Agama (religious support)

Religious Support adalah aspek hubungan sosial antar individu dengan pemeluk agama sesamanya. Dalam Islam hal semacam ini sering disebut dengan Ukhuwah Islamiyah. Agama mengandung otoritas dan kemampuan pengaruh untuk mengatur kembali nilai-nilai dan sasaran yang ingin dicapai masyarakat.

i) Riwayat Beragama (spritual religious/spritual history)

Religious /spritual history seberapa jauh individu berpartisipasi untuk agama dalam hidupnya dan seberapa jauh agama mempengaruhi perjalanan hidupnya.

j) Komitmen Beragama (commitment)

Commitmen adalah seberapa jauh individu mementingkan agamanya, komitmen serta berkontribusi kepada agamanya.

k) Pengorganisasian Agama (organizational religiousness)

Dimensi ini merupakan konsep yang mengukur seberapa jauh individu ikut serta dalam lembaga keagamaan yang ada di masyarakat dan beraktivitas di dalamnya.

l) Pilihan Terhadap Agama (religious preference)

Dimensi ini bisa diartikan sebagai pijakan untuk menentukan sejauh mana individu membuat pilihan dan memastikan agama yang dianutnya. Contohnya bagi umat Islam adalah menjalankan Jihad.

Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas

Jalaluddin (2012) menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan religiusitas seseorang antara lain:

a. Faktor internal yaitu faktor yang muncul dari dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk tunduk kepada Allah SWT.

b. Faktor eksternal yaitu faktor yang meliputi lingkungan masyarakat.Lingkungan keluarga dimana keluarga adalah sebuah sistem kehidupan sosial terkecil dan merupakan tempat seseorang anak pertama kali belajar mengenai berbagai hal salah satunya adalah mengenai religiusitas.

Thouless (dalam Dewi, 2013) membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi keagamaan menjadi empat macam, yaitu:

a. Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan asosial (faktor sosial). Faktor ini mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan itu, termasuk pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, tekanan-tekanan lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

b. Berbagai pengalaman yang dialami oleh seseorang dalam membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman-pengalaman seperti: keindahan, keselarasan, dan kebaikan di dunia lain (faktor alamiah) seperti menjalin hubungan yang baik pada semua dengan saling tolong menolong. Adanya konflik moral (faktor moral) seperti mendapatkan tekanan-tekanan dari lingkungan dan pengalaman  emosional keagamaan (faktor efektif) seperti perasaan mendapat peringatan atau mendapat pertolongan dari Tuhan. Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan-kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri dan ancaman kematian.

c. Berbagai proses pemikiran verbal (faktor intelektual) dimana faktor ini juga dapat mempengaruhi religiusitas individu. Manusia adalah makhluk yang dapat berpikir, sehingga manusia akan memikirkan tentang keyakinan-keyakinan agama yang dianutnya.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Religiusitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keagamaan. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Affandi, G. R., & Diah, D. R. 2011. Religiusitas Sebagai Prediktor Terhadap Kesehatan Mental Studi Terhadap Pemeluk Agama Islam. Jurnal Psikologi, Volume 6, No.1, 383-389.
  • Amawidyati, S. AG., & Utami, M. S. 2007. Religiusitas dan Psychological Well-Being Pada Korban Gempa. Jurnal Psikologi, Volume 34, No.2, 164-176.
  • Ancok, D & Suroso, F.N. 2011. Psikologi Islami : Solusi Islam Atas Problem-Problem Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Belajar.
  • Dewi, Shinta. 2013. Hubungan Religiusitas dan Kepribadian Otoritarian dengan Kepuasan Pernikahan pada Perempuan yang Menikah secara Ta’aruf. Skripsi (tidak diterbitkan). Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.
  • Maulida, Sri. 2013. Pengaruh Religiusitas Terhadap Perilaku Beramal (Charitable Behavior) Masyarakat Kota Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia, Volume 3, No.1, Juni 2013.
  • Purnama, T. S. 2011. Hubungan Aspek Religiusitas dan Aspek Dukungan Sosial Terhadap Konsep Diri Selebriti Di Kelompok Pengajian Orbit Jakarta. Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Religiusitas dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keagamaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel