Pengertian Kejenuhan (Burn Out) dan Faktor-faktor Kejenuhan Kerja Menurut Para Ahli


Pengertian Kejenuhan (Burn Out) dan Faktor-faktor Kejenuhan Kerja Menurut Para Ahli - Kehidupan seseorang tidak terlepas pada suatu kegiatan rutin. Dimana aktivitas yang dijalani hampir sama pada setiap harinya. Rutinitas yang melelahkan bisa membuat seseorang mengalami kelelahan atau dapat dikatakan dengan istilah burn out. Kejenuhan yang paling sering terjadi biasanya pada orang yang bekerja, atau juga dapat terjadi pada siswa atau mahasiswa dalam proses menimba ilmu. Lalu bagaimana proses burn out itu atau kejenuhan itu terjadi? Maka dari itu pembahasan kali ini universitaspsikologi.com akan menguraikan topik tentang kejenuhan pada tulisan di bawah ini. Perlu diketahui bahwa kejenuhan termasuk variabel psikologi yang dapat diukur menggunakan alat ukur. Untuk lebih jelasnya mengenai kejenuhan ini beserta teori-teorinya silahkan disimak berikut ini:

Pengertian Kejenuhan (Burn Out) dan Faktor-faktor Kejenuhan Kerja Menurut Para Ahli
Kejenuhan (Burn Out)
Baca juga: Penyebab dan Proses Terjadinya Kecemasan

Pengertian  Burnout

Menurut Setyawati (dalam Khusniyah, 2014) bahwa secara umum burnout merupakan keadaan yang dialami tenaga kerja yang dapat mengakibatkan penurunan vitalitas dan produktivitas kerja. Sedangkan menurut  Papalia, Olds dan Feldman (2009) burnout adalah respons yang berkepanjangan terhadap stresor kronis di tempat kerja yang diakibatkan oleh ketidaksesuaian antara karyawan dengan pekerjaannya.

Menurut Leatz dan Stolar (dalam Rahmawati, 2013) burnout didefinisikan sebagai kondisi dimana individu mengalami kelelahan fisik, sinisme (depersonalization), kelelahan mental, berkurangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah (reduced personal accomplishment) dan kelelahan emosional (emotional exhausted) yang terjadi karena stres diderita dalam jangka waktu yang cukup lama di dalam situasi yang menuntut keterlibatan emosional yang tinggi, burnout juga merupakan sebuah penyakit melainkan hasil dari sebuah reaksi sebagai akibat dari harapan dan tujuan yang tidak realistic dengan perubahan (situasi) yang ada.

Menurut Muslihudin (dalam Maharani, 2012) kejenuhan kerja atau burnout adalah suatu kondisi fisik, emosi, dan mental dan sangat drop yang diakibatkan oleh situasi kerja yang sangat menuntut dalam jangka panjang. Leiter & Maslach (1997) mendefinisikan burnout lebih mungkin terjadi ketika ada ketidakcocokan besar antara sifat pekerjaan dan sifat orang yang melakukan pekerjaan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa burnout adalah keadaan yang dialami seseorang berupa kejenuhan kerja, kelelahan mental, fisik, yang disebabkan oleh situasi kerja yang menuntut yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang yang menyebabkan tidak ada  kesesuaian antara seseorang dengan pekerjaannya.

Dimensi Burnout

Leiter & Maslach (1997:08) menyebutkan ada tiga dimensi dari burnout, yaitu:

a. Exhaustion

Ketika pekerja merasakan kelelahan (exhaustion), mereka cenderung berperilaku overextended baik secara emosional maupun fisikal. Mereka tidak mampu menyelesaikan masalah mereka. Tetap merasa lelah meski sudah istirahat yang cukup, kurang energi dalam melakukan aktivitas.

b. Cynicism

Ketika pekerja merasakan cynicism (sinis), mereka cenderung dingin, menjaga jarak, cenderung tidak ingin terlibat dengan lingkungan kerjanya. Cynism juga merupakan cara untuk terhindar dari rasa kecewa. Perilaku negatif seperti ini dapat memberikan dampak yang serius pada efektivitas kerja.

c. Ineffectiveness

Ketika pekerja merasa tidak efektif, mereka cenderung mengembangkan rasa tidak mampu. Setiap pekerjaan terasa sulit dan tidak bisa dikerjakan, rasa percaya diri berkurang. Pekerja menjadi tidak percaya dengan dirinya sendiri dan orang lain tidak percaya dengannya.

Dimensi dalam burnout dapat disimpulkan berupa exhaustion yaitu kelelahan secara fisik ataupun mental, cynicism berupa sikap sinis dan menarik diri dan ineffectiveness yaitu perasaan tidak mampu dalam mengerjakan sesuatu.

Aspek-Aspek Burnout

Maslach (dalam Rahmawati, 2013) mengungkap burnout merupakan suatu sindrom psikologis yang terdiri dari tiga aspek, yaitu:

a. Emotional exhaustion, yaitu adanya keterlibatan emosi yang menyebabkan energi dan sumber – sumber dirinya terkuras oleh satu pekerjaan, ditandai oleh terkurasnya tenaga, mudah letih, jenuh, mudah tersinggung, sedih, tertekan, merasa terjebak dalam pekerjaan, perkembangan emosi yang negatif yang dapat menimbulkan sikap yang negatif terhadap diri sendiri, pekerjaan dan orang lain serta perusahaan.

b. Depersonalization, yaitu sikap dan perasaan yang negatif terhadap klien atau orang–orang disekitar, ditandai dengan adanya kecendrungan individu menjauhi lingkungan pekerjaannya, apatis dan merasa kurang dipedulikan oleh lingkungan pekerjaan dan orang-orang yang terlibat dalam pekerjaannya.

c. Low of personal accomplishment, yaitu penilaian diri negatif dan perasaan tidak puas dengan peforma pekerjaan, dimana individu tersebut menilai rendah kemampuan diri sendiri, kecendrungan mengalami ketidakpuasan terhadap hasil kerjanya, merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain dalam pekerjaannya, merasa tidak mampu untuk mencapai suatu prestasi atau tujuan dalam pekerjaannya.

Aspek yang ada ketika burnout menurut Myendeki (dalam, Khusniyah, 2014) yakni:

a. Kelelahan emosional, meningkatnya perasaan kelelahan emosional, dimana “sumber emosional individu terperas habis dan ia merasa tidak bisa lagi memberikan diri mereka sendiri pada tingkatan psikologis”.

b. Sikap sinis, perkembangan negatif, sikap sinis dan perasaan yang mungkin berhubungan dengan pengalaman kelelahan emosional, yaitu berperasaan atau persepsi dehumanized terhadap orang lain. Sinisme juga menunjukkan bahwa seorang karyawan tidak lagi bersedia untuk melakukan tugas karena penurunan tingkat toleransi terhadap upaya.

c. Dehumanisasi atau kecendrungan untuk mengevaluasi diri sendiri negatif, terutama berkenaan dengan satu kerja yang dapat menyebabkan perasaan ketidakbahagiaan tentang diri sertas ketidakpuasan dengan prestasi di tempat kerja. Individu merasa tidak memadai dan tidak produktif yang pada gilirannya, memilii efek langsung terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek burnout terdiri dari kelelahan mental yang terkait dengan emosi, sikap negatif terhadap orang-orang sekitar, dan memandang negatif kemampuan diri sendiri yang dimiliki

Faktor yang Mempengaruhi Burnout

Leiter & Maslach (1997:08) membagi beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya burnout, yaitu:

a. Work Overloaded

Work overload kemungkinan terjadi akibat ketidaksesuaian antara pekerja dengan pekerjaannya. Pekerja terlalu banyak melakukan pekerjaan dengan waktu yang sedikit. Overload terjadi karena pekerjaan yang dikerjakan melebihi kapasitas kemampuan manusia yang memiliki keterbatasan

b. Lack of Work Control

Semua orang memiliki keinginan untuk memiliki kesempatan dalam membuat pilihan, keputusan, menggunakan kemampuannya untuk berfikir dan menyelesaikan masalah, dan meraih prestasi. Adanya aturan terkadang membuat pekerja memiliki batasan dalam berinovasi, merasa kurang memiliki tanggung jawab dengan hasil yang mereka dapat karena adanya kontrol yang terlalu ketat dari atasan.

c. Rewarded for Work

Kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja membuat pekerja merasa tidak bernilai. Apresiasi bukan hanya dilihat dari pemberian bonus (uang), tetapi hubungan yang terjalin baik antar pekerja, pekerja dengan atasan turut memberikan dampak pada pekerja.

d. Breakdown in Community

Pekerja yang kurang memiliki rasa belongingness terhadap lingkungan kerjanya (komunitas) akan menyebabkan kurangnya rasa keterikatan positif di tempat kerja. Seseorang akan bekerja dengan maksimal ketika memiliki kenyamanan, kebahagiaan yang terjalin dengan rasa saling menghargai, tetapi terkadang lingkungan kerja melakukan sebaliknya. Ada kesenjangan baik antar pekerja maupun dengan atasan, sibuk dengan diri sendiri, tidak memiliki quality time dengan rekan kerja.

e. Treated Fairly

Perasaan diperlakukan tidak adil juga merupakan faktor terjadinya burnout. Adil berarti saling menghargai dan menerima perbedaan. Adanya rasa saling menghargai akan menimbulkan rasa keterikatan dengan komunitas (lingkungan kerja). Pekerja merasa tidak percaya dengan lingkungan kerjanya ketika tidak ada keadilan.

f. Dealing with Conflict Values

Pekerjaan dapat membuat pekerja melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai mereka.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya burnout menurut Change (dalam Khusniyah, 2014) adalah sebagai berikut:

a. Beban kerja (workload)

Bagi seorang yang emosian beban kerja dianggap terlalu berat, waktu terlalu sedikit, dan tidak tersedia sumber daya yang membuatnya terbantu ataupun untuk bisa mengembangkan potensinya di lua kapasitas. Bagi mereka, pekerjaan dianggap telah menelan kehidupan mereka. Sebaliknya bagi orang yang tetap mantap (stay cool), beban kerja seperti itu dianggap masih bisa dikelola, memungkinkan individu memenuhi tuntutan pekerjaan, dan mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan baru.

b. Perasaan terhadap kontrol (Control)

Aturan yang kaku atau linkungan pekerjaan yang kacau menghambat seorang yang emosian untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Seringkali mereka kesal dengan mengatakan “saya tidak bodoh”.

c. Terkait imbalan (reward)

Karyawan yang mengalami burnout merasa tidak pernah dihargai sehingga berpikir bahwa pekerjaan tersebut tidak berharga. Akibatnya, individu tersebut menjadi tidak gembira dan putus asa.

d. Terasing dari komunitas (Community)

Meningkatnya tensi dengan yang lain dalam bekerja membuat karyawan merasa frustasi, marah, ketakutan merasa asing tidak dihormati, dan dicurigasi. Komunitas juga terasa menjauh jika individu secara fisik atau sosial terisolasi dari para kolega. Bagi karyawan yang sedang emosian, mereka merasa tidak ada semangat tim.

e. Tidak ada keadilan (fairness)

Karyawan mengalami burnout karena merasa ada ketidakadilan dalam perusahaan, misalnya soal insentif; mungkin juga salah dalam melakukan evaluasi dan promosi atau ada yang mendapatkan penghargaan sementara yang lain terabaikan.

f. Sistem nilai (value)

Kadang – kadang sebuah pekerjaan bisa menyebabkan karyawan melakukan segala sesuatu yang tidak etis atau hal bertentangan dengan nilai – nilai pribadi.

g. Stres kerja

Burnout yang terjadi karena banyaknya faktor pemicu stres membuat individu secara emosional sudah tidak mampu lagi mentolerir konsidi stres tersebut sehingga menimbulkan kelelahan emosional.

h. Motivasi kerja

Motivasi kerja yang kuat diperlukan untuk menurunkan gejala burnout.
Burnout dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti lingkungan kerja yang meliputi beban kerja, stres kerja, motivasi kerja, fairness . Keterlibatan emosional yang meliputi perasaan sabar dalam melayani. Termasuk karakteristik individu itu sendiri.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Kejenuhan (Burn Out) dan Faktor-faktor Kejenuhan Kerja Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Khusniyah, Nur Andita. 2014. “Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Burnout Pada Karyawan CV. Ina Karya Jaya Klaten”. Naskah Publikasi. Jawa Tengah: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  • Papalia, Olds & Feldman. 2008. Human Development, Perkembangan Manusia (Terjemahan Brian Marwensdy). Jakarta: Salemba Humanika.
  • Leiter, P. Michael & Christina Maslach. 1997. The Truth About Burnout. San Fransisco: Jossey-Bass. 
  • Maharani, Puspa Ayu.2012. “Kejenuhan Kerja (Burnout) Dengan Kinerja Perawat Dalam Pemberian Asuhan Keperawatan”.Jurnal STIKES. Jawa Timur:Stikes RS Baptis Kediri
  • Rahmawati, Yunita. 2103. “Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Burnout  Pada Karyawan Bagian Operator PT. Bukit Makmur Mandiri Utama”. Naskah Publikasi. Jawa Tengah: Surakarta.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Kejenuhan (Burn Out) dan Faktor-faktor Kejenuhan Kerja Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel