Perkembangan Psikososial pada Masa Dewasa Madya

Perkembangan Psikososial pada Masa Dewasa Madya - Dalam mempelajari psikologi perkembangan tidak terlepas dari melihat perkembangan manusia itu sendiri, termasuk dalam aspek psikososialnya. Dalam artikel ini Universitas Psikologi akan membahas bagaimana perkembangan psikososial yang terjadi pada masa dewasa madya. Semoga dengan artikel ini anda dapat mengenal dan memahami bagaimana perkembangan psikososial khususnya pada dewasa madya.

Erikson menekankan teori pada pengaruh sosial terhadap perkembangan individu. Beliau menekankan pada konflik-konflik yang dihadapi individu, yang berada dalam 2 titik (positif dan negatif), yang menimbulkan krisis. Terselesainya suatu krisis akan berpengaruh baik dalam perkembangan individu, jika krisis tidak terselesaikan maka yang terjadi adalah sebaliknya. Menurut Erikson, masa dewasa madya berada dalam tahapan “generativity versus stagnation”. Krisis yang dihadapi individu pada masa ini adalah membantu orang lain dalam keluarganya, pengabdian masyarakat, dan manusia pada umumnya. Pengalaman masa lalu akan membuat individu dapat berkarya bagi masyarakat. Jika pengalaman sebelumnya negatif, maka individu akan terkurung dalam kebutuhannya sendiri (Hurlock, 2003).

Masa dewasa madya ini berkisar antara usia 40-60 tahun. Pada umumnya manusia pada periode ini sudah mapan, berkeluarga, dan memiliki anak. Untuk manusia yang berkarir, periode ini merupakan periode puncak keberhasilan dimana manusia dapat mempengaruhi orang lain. Fisiknya sudah tidak sekuat periode sebelumnya dan seringkali penyakit fisik muncul. Pada wanita di periode ini (sekitar usia 50 tahun) akan mengalami menopause, dan laki-laki (sekitar usia 60 tahun) akan mengalami climacteric syndrome (Hurlock, 2003).
Perkembangan Psikososial pada Masa Dewasa Madya
image source: jemswimschool(dot)com
Baca juga: Perkembangan Aspek Fisik dan Kognitif Masa Dewasa Madya

Dewasa Madya dalam Keluarga

Di luar keluarga inti, kakek dan nenek merupakan sosok terpenting dalam kebanyakan keluarga. Kakek dan nenek memengaruhi cucu secara langsung ketika mereka berperan sebagai pengasuh, teman bermain, dan pencerita sejarah keluarga yang mewariskan informasi yang memperkuat rasa keberlanjutan generasi. Mereka merupakan pengaruh langsung ketika mereka bertindak sebagai mentor bagi cucu mereka dan ketika mereka bernegosiasi antara orangtua dan anak. Mereka memengaruhi cucunya secara tidak langsung ketika mereka memberikan dukungan psikologis dan materi pada orangtua, yang kemudian mendapat lebih banyak sumber daya dalam pengasuhan. Karena keluarga kaum minoritas berinteraksi lebih banyak dengan keluarga besar, banyak informasi mengenai peran kakek dan nenek dalam keluarga tersebut tersedia dibandingkan dengan keluarga lainnya. Keluarga besar mencakup salah satu atau kedua kakek dan nenek. Nenek membantu keluarga menjaga dan mengasuh anak dengan cara yang tidak terlalu terstruktur dan lebih spontan ketika hanya ada dua gene­rasi. Peran kakek tergantung pada apakah salah satu orangtua atau keduanya tinggal di rumah (Brooks, 2011).

Biasanya, kontak antara kakek, nenek, dan cucunya bervariasi tergantung pada usia, kesehatan, dan kedekatan dengan kakek dan nenek. Kakek dan nenek biasanya menengok cucunya satu atau beberapa kali da­lam sebulan. Meski beberapa penelitian menunjukkan bahwa hanya persentase kecil kakek dan nenek yang menikmati hubungan yang dekat dan memuaskan dengan cucunya, banyak penelitian lain yang me­nunjukkan bahwa orang dewasa muda biasanya dekat dengan kakek dan neneknya (rata-rata nilai 4 dalam skala 5 mengenai kedekatan emosional) dan bahwa ikatan kakek, nenek, dan cucunya terus menguat secara mengejutkan hingga tahapan dewasa (Brooks, 2011).

Kedekatan geografis merupakan hal terpenting dalam menjaga hubungan tersebut. Ketika kakek dan nenek tinggal berdekatan, kontak secara alamiah akan meningkat. Ketika kakek dan nenek cukup muda dan sehat untuk beraktivitas, cucu merasakan kedekatan karena ada kebahagiaan yang dibagi. Di saat yang sama, ketika kakek dan nenek sudah tua dan tidak terlalu sehat, cucu merasa dekat karena dapat membantu mereka. Gender memainkan peranan penting dalam hubungan ini. Nenek cenderung terlibat dengan cucunya dibandingkan kakek, dan mereka turut memainkan peran penting dalam kesejahteraan anak. Penelitian antropologis yang dipresentasikan dalam konferensi internasional mengenai nenek menunjukkan bahwa keterlibatan nenek dan kerabat wanita yang sudah tua memperkuat kehidupan cucunya. Dalam satu penelitian, hadirnya nenek dari pihak ibu meningkatkan ketahanan masa kecil anak usia 6 tahun sebanyak 96 persen. Ketahanan tanpa nenek ialah 83 persen. Kehadiran nenek dari pihak ayah tidak mengubah rata-rata ketahanan masa kecil (Brooks, 2011).

Ketika cucu masih sangat kecil, mereka melihat kakek dan nenek sebagai sumber kesenangan dan hadiah. Ketika cucu berada di sekolah dasar, mereka mencari kakek dan nenek untuk berbagi kegiatan yang menyenangkan, dan pada usia awal remaja, mereka juga senang berbagi kegiatan bersama kakek dan nenek. Cucu sering melihat kakek dan nenek sebagai sosok yang lebih sabar dan lebih memahami dibandingkan orangtua, dan kakek nenek pun mencoba memenuhi harapan tersebut. Mereka menjadi sosok pendukung cucunya, bukan sosok pengganggu kritis. Kakek dan nenek dapat menjadi dekat saat adanya perubahan dalam keluarga dan berperan sebagai orang kepercayaan dan pendamping anak (Brooks, 2011).

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Perkembangan Psikososial pada Masa Dewasa Madya. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Perkembangan Psikososial pada Masa Dewasa Madya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel