Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Dewasa Madya

Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Dewasa Madya - Artikel psikologi selanjutnya yang akan dibagikan Universitas Psikologi adalah mengenai perkembangan fisik dan kognitif dewasa madya. Akan dilihat berbagai perkembangan dari aspek fisik dan kognitif tersebut, dengan adanya artikel ini semoga anda dapat mengerti perkembangan yang terjadi pada masa madya.

Menurut Hurlock (2003), masa dewasa madya berkisar antara usia 40-60 tahun. Pada umumnya, manusia pada periode ini sudah mapan, berkeluarga, dan memiliki anak. Untuk manusia yang berkarir, periode ini merupakan periode puncak keberhasilan dimana manusia dapat mempengaruhi. Fisiknya sudah tidak sekuat periode sebelumnya dan seringkali penyakit fisik muncul. Pada wanita di periode ini (sekitar usia 50 tahun) akan mengalami menopouse dan laki-laki (sekitar usia 60 tahun) akan mengalami climacteric syndrome (Hurlock, 2003).
Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Dewasa Madya
image source: www(dot)mentalhealthy(dot)co(dot)uk
Baca juga: Teori Perkembangan dan Terjadinya Kelompok

Perkembangan Fisik Dewasa Madya

Hipertensi (tekanan darah yang tinggi secara kronis) perlu diperhatikan dari usia pertengahan pada faktor risiko penyakit jantung dan penyakit ginjal. Prevalensi hipertensi di Amerika Serikat meningkat 30 persen pada dekade terakhir, untuk semua waktu dengan catatan tertinggi. Sekarang, memengaruhi hampir 30 persen orang dewasa, dan prevalensinya meningkat sejalan dengan usia. Orang yang banyak mengonsumsi protein dan sayuran cenderung memiliki tekanan darah rendah. Ketidaksabaran dan kemarahan meningkatkan risiko terjadi hipertensi jangka panjang. Hipertensi dapat dikontrol melalui pemeriksaan tekanan darah, diet garam rendah, dan pengobatan (medikasi), tetapi hanya 73,5 persen orang dewasa usia menengah (usia baya) dengan hipertensi rentan terhadap kondisi ini, hanya 61 persen di bawah penanganan, dan hanya 40,5 persen berada pada kondisi di bawah pengawasan (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).

Kegiatan fisik pada usia dewasa madya dapat meningkatkan kesempatan untuk tetap gesit di usia tua. Selanjutnya, kegiatan fisik juga membantu menghambat mortalitas (kematian). Diantara 9.824 sampel orang dewasa Amerika Serikat yang berusia 51 hingga 61 tahun pada tahun 1992, beberapa orang yang melakukan latihan sedang rutin atau latihan giat sekitar 35 persen kemungkinan jarang meninggal dunia pada periode delapan tahun ke depan dibandingkan dengan beberapa orang dengan gaya hidup tidak sehat. Beberapa orang dengan faktor risiko jantung, seperti merokok, kencing manis (diabetes), tekanan darah tinggi, dan riwayat penyakit pembuluh koroner, memperoleh manfaat dari olahraga secara fisik. Sedikitnya, latihan 72 menit setiap minggu secara signifikan dapat meningkatkan kebugaran pada wanita dengan kehidupan menetap sebelumnya (Papalia et al., 2009).

Emosi dan Kesehatan

Peribahasa lama mengenai Solomon, “Jantung yang ceria sama baiknya seperti pengobatan” (Pepatah 17:12) yang dihasilkan oleh penelitian kontemporter. Emosi negatif, seperti kecemasan dan keputusasaan seringkali berhubungan dengan kesehatan fisik dan mental yang buruk. Emosi positif seperti harapan, dengan kesehatan yang baik dan kehidupan yang sangat panjang, karena otak berinteraksi dengan semua sistem biologis tubuh, perasaan dan keyakinan memengaruhi fungsi tubuh, termasuk fungsi sistem kekebalan. Suasana hati yang negatif menyerang fungsi kekebalan dan meningkatkan rentanitas terhadap penyakit, perasaan yang positif diduga meningkatkan fungsi kekebalan (Papalia et al., 2009).

Perkembangan Kognitif Dewasa Madya

Salah satu pertanyaan yang paling banyak menimbulkan kontroversial dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia. Gisela (dikutip dalam Desmita, 2006), menyatakan bahwa pemikiran dewasa madya menunjukkan suatu perubahan yang signifikan. la percaya bahwa masyarakat kita yang kompleks memiliki pertimbangan-pertimbangan yang praktis dan bahkan mengubah bentuk logika kaum idealis. Karena itu, pemikiran orang dewasa madya menjadi lebih konkret dan pragmatis, sesuatu yang dikatakan sebagai tanda kedewasaan. Dengan demikian, kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa. Akan tetapi, bagaimana pun tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa tersebut yang mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian, sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan (Desmita, 2006).

Perkembangan Memori

Salah satu karakteristik yang paling sering dihubungkan dengan orang dewasa dan usia tua adalah penurunan dalam daya ingat. Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses penuaan selama masa dewasa terjadi kemunduran inteligensi umum. Misalnya, dalam studi kroseksional, peneliti menguji orang-orang dari berbagai usia pada waktu yang sama. Ketika memberikan tes inteligensi kepada sampel yang representatif, peneliti secara konsisten menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua memberikan lebih sedikit jawaban yang benar dibanding orang dewasa yang lebih muda. Oleh karena itu, Wechsler (dikutip dalam Desmita, 2006), menyimpulkan bahwa kemunduran kemampuan mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme secara umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia antara 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran (Desmita, 2006).

Pendekatan penelitian lain membedakan antara dua aspek inteligensi: fluid intelligence dan crystallized intelligence. Fluid Intelligence adalah kemampuan untuk memecahkan masalah baru yang membutuhkan sedikit pengetahuan atau tanpa pengetahuan, seperti metode penelitian melalui rangkaian gambar. Fluid intelligence melibatkan persepsi hubungan, pembentukan konsep, dan penarikan kesimpulan. Kemampuan lebih ditentukan oleh status saraf (neurologis). Crystallized intelligence adalah kemampuan untuk mengingat dan menggunakan informasi yang diperoleh seumur hidup, seperti pencarian persamaan kata (sinonim). Disini diukur dengan tes perbendaharaan kata (vocabulary), informasi umum, dan respon terhadap situasi sosial dan masalah sosial, kemampuan lebih bergantung pada pendidikan dan pengalaman budaya (Papalia et al., 2009).

Dua jenis inteligensi ini mengikuti arah yang berbeda. Pada dasarnya, fluid intelligence diduga meningkat pada masa dewasa awal, sedangkan crystallized intelligence meningkat pada usia baya (menengah) dan seringkali mendekati akhir hidup. Selanjutnya, sebagian penelitian ini adalah penelitian cross-sectional, maka hanya sebagian kecil yang menjelaskan perbedaan generasi dibandingkan dengan perubahan pada usia. Hasil penelitian percontohan Seatlle sedikit berbeda. Meskipun kemampuan cairan menurun lebih awal dibandingkan kemampuan kristalisasi, kemampuan cairan seseorang biasanya bertambah lebih awal, dimulai pada usia dua puluh sebagai kecepatan persepsi. Penggunaan kemampuan memori (ingatan) juga mulai menurun. Selanjutnya, beberapa diantaranya berubah secara berangsur dan tidak menyebabkan gangguan fungsional. Kegiatan fisik diduga memperbaiki fungsi kognitif, khususnya inteligensi cairan atau fluid intelligence (Papalia et al., 2009).

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Dewasa Madya. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Dewasa Madya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel