Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli

Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli - Pada artikel ini Universitas Psikologi akan membahas mengenai masa remaja. Masa remaja secara umum dimulai dengan pubertas, proses yang mengarah kepada kematangan seksual, atau fertilitas (kemampuan untuk bereproduksi). Masa remaja dimulai pada usia 11 atau 12 sampai masa remaja akhir atau awal usia 20, dan masa tersebut membawa perubahan besar saling bertautan dalam semua ranah perkembangan. Masa remaja awal (sekitar usia 11 atau 12 sampai 14 tahun), transisi keluar dari masa kanak-kanak, menawarkan peluang untuk tumbuh, bukan hanya dalam dimensi fisik, tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial (Papalia et al., 2009).

Penghargaan Diri, Identitas, dan Perkembangan Spiritual dan Religi

Penghargaan Diri

Penghargaan diri (self-esteem): keseluruhan cara yang kita pergunakan untuk mengevaluasi diri kita. Berdasarkan hasil sebuah studi, harga diri cenderung turun drastis selama masa remaja, meskipun diketahui mereka memiliki penghargaan diri yang tinggi di masa kanak-kanak. Menurut hasil studi ini, di masa remaja, penurunan penghargaan diri pada anak perempuan lebih besar dibandingkan pada anak laki-laki, salah satu alasannya adalah karena di masa pubertas, remaja perempuan memiliki pencitraan tubuh yang negatif.

Penghargaan diri mencerminkan persepsi yang tidak selalu sesuai dengan realitasnya, penghargaan diri yang tinggi dapat mengacu pada persepsi yang akurat mengenai nilai seseorang sebagai manusia, serta keberhasilan dan pencapaian seseorang, namun juga dapat mengindikasikan kesombongan, berlebihan dan merasa superior, dengan cara yang sama, penghargaan diri yang rendah mengindikasikan persepsi mengenai kekurangan atau penyimpangan seseorang, atau bahkan rasa inferior dan ketidakamanan patologis.

Narsisme: mengacu pada pendekatan terhadap orang lain yang berpusat pada diri (self-centered). Biasanya pelaku narsisme tidak menyadari keadaan aktual diri sendiri dan bagaimana orang lain memandangnya, menimbulkan masalah penyesuaian pada mereka. Pelaku narsisme berpusat pada diri sendiri, selalu menekankan bahwa dirinya sempurna (self-congratulatory), serta memandang keinginan dan harapannya adalah hal terpenting.
Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli
image source: www(dot)express.co(dot)uk 
Baca juga: Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif Masa Remaja

Identitas

Identitas merupakan potret diri yang tersusun dari berbagai aspek yang mencakup:
  • Identitas karier: jejak karier dan pekerjaan yang ingin dirintis seseorang 
  • Identitas politik: apakah seseorang itu konservatif, liberal, atau berada di antara keduanya. 
  • Identitas spiritual: keyakinan spiritual seseorang 
  • Identitas relasi: apakah seseorang itu lajang, menikah, bercerai, dan seterusnya 
  • Identitas prestasi, intelektual: sejauh mana seseorang termotivasi untuk berprestasi dan intelektualitasnya 
  • Identitas seksual: apakah seseorang itu heteroseksual, homoseksual, atau biseksual 
  • Identitas budaya atau etnik: latar beakang negara seseorang dan seberapa kuatkah orang itu beridentifkasi dengan budaya asalnya. 
  • Minat: hal-hal yang senang dilakukan seseorang, seperti olahraga, musik dll 
  • Kepribadian: karakteristik kepribadian individual, seperti introvert atau ekstrovert, bersemangat atau tenang, bersahabat atau kasar dll 
  • Identitas fisik: citra tubuh individu 

Teori Erikson : tahap yang dialami individu di masa remaja àtahap identitas vs kebingungan identitas (identity vs identity confusion) > di masa ini, remaja harus memutuskan siapakah dirinya, bagaimanakah dirinya, tujuan apakah yang hendak diraihnya. Pencarian identitas ini disertai juga oleh moratorium psikososialà kesenjangan antara keamanan kanak-kanak dan otonomi orang dewasa. Remaja bereksperimen dengan berbagai peran dan kepribadian. Remaja yang berhasil mengatasi konflik identitas àtumbuh dengan penghayatan mengenai diri yang menyegarkan dan dapat diterima. Remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas > kebingungan identitas.

Kebingungan identitas muncul dalam dua bentuk, yaitu menarik diri, mengisolasi diri dari kawan sebaya dan keluarga, atau mereka meleburkan diri ke dalam dunia kawan sebaya dan kehilangan identitas di tengah crowd nya. James Marcia (dalam Santrock, 2011) berpendapat bahwa teori perkembangan identitas Erikson terdiri dari empat status identitas:

Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli

Krisis: periode perkembangan identitas di mana individu berusaha melakukan eksploasi terhadap berbagai alternatif. Komitmen: investasi pribadi di dalam identitas. Difusi Identitas: status individu yang belum pernah mengalami krisis ataupun membuat komitmen apapun. Mereka tidak hanya membuat keputusan yang menyangkut pilihan pekerjaaan atau ideologi, mereka juga cenderung kurang berminat terhadap hal-hal semacam itu.

Pernyataan identitas: status individu yang telah membuat komitmen namun tidak pernah mengalami krisis.Status identitas itu sering terjadi jika orang tua menurunkan komitmen pada remajanya, biasanya secara otoriter, sebelum remajanya itu memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pendekata, ideologis, dan pekerjaannya sendiri.

Moratorium identitas: adalah status individu yang berada di pertengahan krisis namun yang komitmennya tidak ada atau hanya didefinisikan secara kabur.
Pencapaian identitas: adalah status individu yang telah mengalami krisis dan membuat komitmen.

Pada masa remaja, mereka juga mengembangkan identitas etnikà aspek yang menetap dari diri yang mencakup penghayatan sebagai anggota dari sebuah kelompok etnik, bersama dengan berbagai sikap dan perasan yang berkaitan dengan keanggotaan itu. Untuk remaja dari etnik minoritas, banyak remaja yang mengatasinya dengan mengembangkan identitas bikultur (bicultural identity). Para peneliti menemukan bahwa identitas etnik yang positif juga berdampak positif pada remaja minoritas etnik.

Perkembangan Spiritual dan Religi

  • Peningkatan cara berpikir abstrak menjadikan remaja mempertimbangkan berbagai gagasan tentang konsep religius dan spiritual. 
  • Cara berpikir idealistik remaja yang meningkat menjadi dasar pemikiran apakah agama dapat memberikan jalan terbaikmenuju dunia yang lebih ideal dari sebelumnya. 
  • Peningkatan penalaran logis remaja memberikan kemampuan untuk mengembangkan hipotesis dan secara sistematis melihat berbagai jawaban terhadap pertanyaan spiritual. 
  • Peneliti telah menemukan bahwa berbagai aspek agama terkait dengan hasil yang positif bagi remaja. Agama juga berperan dalam kesehatan remaja dan masalah perilaku mereka. 
  • Kebanyakan remaja yang religius menerapkan pesan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. 

Keluarga

Pengawasan Orang Tua: pengawasan mencakup mengawasi pilihan remaja terhadap setting sosial, aktivitas, dan rekan-rekannya, serta akademis mereka.

Minat terbaru yang melibatkan pengawasan orang tua berfokus pada keterbukaan remaja secara suka rela kepada orang tuaà remaja lebih bersedia untuk terbuka kepada orang tua ketika orang tua bertanya kepada mereka dan ketika reaksi remaja kepada orang tua dicirikan dengan rasa kepercayan, penerimaan, dan kualitas yang tinggi.

Otonomi dan Kelekatan

Ketika remaja didorong untuk meraih otonomi, orang dewasa yang bijaksana akan mengurangi kendali dalam bidang-bidang di mana remaja dapat mengambil keputusan yang masuk akal. Orang dewasa tetap membimbing mereka untuk mengambil keputusan di bidang-bidang di mana pengetahuan remaja masih terbatas. Secara bertahap, remaja memperoleh kemampuan untuk mengambil keputusan yang matang secara mandiri.

Secure attachment (kelekatan yang aman) juga merupakan hal yang penting untuk menciptakan relasi antara remaja dan orang tuanya. Meskipun remaja beranjak ke arah kemandirian, mereka masih perlu menjalin relasi dengan keluarganya.

Konflik Orang Tua dan Remaja

Konflik dengan orang tua sering kali meningkat di remaja awal, masih tetap berlangsung selama masa SMA, kemudian meurun ketika remaja mencapai usia 17-20 tahun : relasi orang tua – remaja menjadi lebih positif ketika remaja meninggalkan rumah untuk berkuliah dibandingkan jika mereka masih tinggal di rumah bersama orang tua.

Konflik sehari-hari yang merupakan ciri dan relasi orang tua – remaja biasanya memberikan fungsi perkembangan yang positif : perselisihan dan negosiasi kecil dapat mendukung transisi remaja dari sosok yang tergantung pada orang tua menjadi individu yang otonom. Model lama mengenai relasi orang tua dan remaja menyatakan konflik orang tua dan remaja berlangsung secara intens dan banyak menimbulkan stres selama masa remaja.

Model baru menekankan: orang tua berfungsi sebagai tokoh kelekatan dan sistem pendukung yang penting bagi remaja. konflik orang tua – remaja tergolong moderat.

Kawan Sebaya

Persahabatan: menurut Harry Stack Sullivan (Santrock, 2011), selama masa remaja sahabat menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sosial > kebutuhan akan intimasi meningkat di masa remaja awal, dan memotivasi remaja untuk mencari sahabat > jika remaja gagal untuk menempa persahabatan yang akrab > mereka akan mengalami kesepian dan penghayatan akan martabat dirinya (self-worth) juga akan menurun.

Dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda, remaja lebih terbuka mengenai hal-hal yang intim dan informasi yang bersifat pribadi kepaa kawan-kawannya. àremaja lebih banyak tergantung pada kawan-kawan daripada orang tua untuk memenuhi kebutuan mereka atas kebersamaan, ketentraman hati, dan intimasi. Karakteristik teman berpengaruh penting terhadap perkembangan remaja.

Kelompok Kawan Sebaya

Remaja yang tidak yakin akan identitas sosialnya, cenderung lebih menyesuaikan diri dengan kawan sebayanya, ketidakyakinin ini sering kali meningkat selama masa transisi, kawan sebaya cenderung lebih menyesuaikan diri ketika ada seseorang yang menurut mereka statusnya lebih tinggi.

Klik (clique): kelompok kecil yang jumlah anggotanya berkisar dari 2 hingga 12 individu dan rata-rata 5-6 individu. biasanya memiliki kesamaan gender dan usia.
Crowd: bersifat lebih besar dari klik dan kurang personal > keanggotaan biasanya didasarkan pada reputasi, diidentifikasi sesuai dengan aktivitas yang dilakukan oleh remaja.

Pacaran dan Relasi Romantik

Tiga tahapan mencirikan perkembangan relasi romantis di masa remaja:
  • Mulai memasuki afiliasi dan atraksi romantis pada usia 11-13 tahun > dipicu oleh pubertas. 
  • Mengeksplorasi relasi romantis pada usia sekitar 14-16 tahunà terjadi dua jenis keterlibatan romantis, yaitu: pacaran biasa dan pacaran secara berkelompok. 
  • Mengonsolidasi keterikatan romantis pada usia sekitar 17-19 than àdicirikan dengan ikatan emosi yang kuat > lebih stabil dan tahan lama. 

Konteks sosiobudaya sangat kuat terhadap pola berpacaran remaja. Pacaran mengandung hubungan pria-wanita dan merupakan bentuk penyesuaian diri selama remaja. Pacaran yang terlalu dini dapat berkaitan dengan masalah perkembangan.

Budaya dan Perkembangan Remaja

Perbandingan Lintas Budaya: terdapat persamaan dan perbedaan di antara para remaja di berbagai budaya. Dengan perkembangan teknologi, budaya anak muda yang memiliki karakteristik yang serupa muncul. Meskipun demikian, masih terdapat banyak variasi di antara para remaja di berbagai budaya.  Terdapat upacara-upacara yang menandai transisi individu dari sebuah status ke status lainnya, khusunya ke masa dewasa.

Etnisitas

Sebagian besar riset mengenai remaja dari minoritas etnis tidak berhasil memisahkan pengaruh etnisitas dan status sosial ekonomi. Etnisitas dan status sosial ekonomi dapat saling berinteraksi sedemikian rupa sehingga memperbesar pengaruh etnisitas. Meskipun beberapa remaja etnis minoritas berasal dari latar belakang ekonomi menengah, keuntungan ekonomi tidak sepenuhnya membuat mereka terbebas dari prasangka, diskriminasi, dan bias yang terkait dengan menjadi anggota kelompok etnis minoritas.

Media

Remaja di seluruh dunia semakin bergantung pada internet, meskipun terdapat perbedaan substansial dalam penggunaanya di berbagai negara di seluruh dunia dan oleh berbagai kelompok sosial ekonomi. Penelitian terbaru telah menemukan bahwa sekitar satu dari tiga remaja lebih membuka diri secara online dibandingkan langsung > dalam penelitian ini, remaja laki-laki merasa lebih nyaman membuka diri secara online dibandingkan remaja perempuan. Internet adalah sebuah teknologi yang memerlukan pengawasan dan aturan dari orang tua terhadap remaja yang menggunakannya.

Masalah-masalah Remaja

Kenakalan Remaja

Remaja nakal yaitu remaja yang melakukan pelanggaran hukum atau melakukan tindakan yang dianggap tidak legal. Kenakalan remaja dapat disebabkan oleh hereditas, masalah identitas, pengaruh komunitas, dan pengalaman di dalam keluarga. Beberapa karakteristik dari sistem dukungan keluarga juga berkaitan dengan kenakalan remaja.

Orang tua dari remaja-remaja yang terlibat dalam kenakalan ini kurang mampu mengurangi perilaku anti sosial dan mengembangkan sejumlah keterampilan dibandingkan dengan orang tua lainnya. Pengawasan dari orang tua terhadap remaja adalah hal yang penting untuk menentukan apakah seorang remaja akan terlibat dalam kenakalan atau tidak. Kini juga semakin banyak hasil studi yang menemukan bahwa saudara kandung dapat memiliki pengaruh besar terhadap kenakalan.

Depresi dan Bunuh Diri

Jumlah remaja yang mengalami depresi lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak. Dibandingkan remaja laki-laki, remaja perempuan cenderung lebih banayak mengalami gangguan suasana hati dan gangguan depresi.
Ada beberapa faktor tertentu di dalam keluarga yang dapat membuat remaja beresiko mengalami depresi. Faktor-faktor ini meliputi:
  • Orang tua yang menderita depresi 
  • Orang tua yang tidak terikat secara emosi 
  • Orang tua yang mengalami konflik perkawinan 
  • Orang tua yang mengalami masalah finansial 

Relasi dengan kawan sebaya yang buruk juga berkaitan dengan depresi remaja. Beberapa hal lain yang dapat meningkatkan tendensi depresi pada remaja adalah:
  • Tidak memiliki sahabat dekat 
  • Kurang kontak dengan kawan-kawan 
  • Mengalami penolakan dari kawan sebaya 

Masalah dalam relasi romantik juga dapat memicu gejala depresi pada remaja, khususnya remaja perempuan. Persahabatan sering kali memberikan dukungan sosial. meskipun demikian, apakah persahabatan terkait dengan tingkat depresi yang rendah pada remaja bergantung pada jenis persahabatan. Tindakan bunuh diri jarang terjadi di masa kanak-kanak, meningkat ketika remaja, dan semakin tinggi ketika menjelang dewasa. Profil psikologis remaja yang bunuh diri > biasanya memiliki gejala depresif.

Kurangnya afeksi dan dukungan emosional, kontrol yang tinggi dan tekanan untuk berprestasi dari orang tua di masa kanak-kanak juga dapat menjadi faktor yang menyebabkan usaha bunuh diri. Relasi dengan kawan sebaya juga terkait dengan percobaan bunuh diri. Faktor genetik juga memiliki kaitan dengan bunuh diri.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Perkembangan Diri, Sosioemosi, Spiritual pada Masa Remaja Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel