Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja

Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja - Dalam psikologi ada aliran psikologi yang membahas mengenai perkembangan manusia yaitu psikologi perkembangan. Universitas Psikologi kali ini akan membahas perkembangan remaja mulai dari fisik hingga kognitifnya. Teori yang akan dipaparkan pada artikel psikologi di bawah ini adalah teori psikologi perkembangan.

G. Stanley (dalam Santrock, 2011) menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa-masa “badai dan stres” (storm and stress) untuk menggambarkan masa bergolak yang diwarnai oleh konflik dan perubahan suasana hati (mood).

Lainnya halnya dengan pendapat dari Daniel Offer (Santrock, 2011) yang menyatakan bahwa pada umumnya remaja merasa bahagia, menikmati hidup, memandang dirinya mampu melatih kendali diri, menghargai kerja dan sekolah, mengekspresikan keyakinan sehubungan dengan seksualitasnya, memiliki perasaan yang positif terhadap keluarga, dan merasa mampu menghadapi tekanan hidup.

Sikap masyarakat umum yang terbentuk terhadap remaja dapat merupakan hasil kombinasi dari pengalaman pribadi, gambaran yang diberikan oleh media, maupun gambaran objektif mengenai perkembangan remaja yang normal diberikan oleh sumber lain (Feldman & Elliott, dalam Santrock, 2011).

Banyak stereotip negatif terhadap remaja, namun kita perlu memandang remaja sebagai kelompok heterogen akibat munculnya berbagai gambaran mengenai remaja, tergantung dari remaja yang sedang dideskripsikan itu sendiri.
Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja
image source: yeubaby(dot)vn
Baca juga: Dinamika Perkembangan dan Psikoseksual Manusia

Perubahan (Perkembangan) Fisik

Pubertas

Pubertas (puberty) adalah sebuah periode di mana kematangan fisik berlangsung cepat, yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh, yang terutama berlangsung di masa remaja awal.

Perubahan yang paling terlihat jelas di masa ini adalah terdapatnya tanda-tanda kematangan seksual serta pertambahan tinggi dan berat tumbuh.

Karakterisitik perubahan fisik pada pubertas pria:
  • Meningkatnya ukuran penis dan testis 
  • Munculnya rambut kemaluan 
  • Perubahan pada suara 
  • Ejakulai pertama (biasanya melalui masturbasi atau mimpi basah) 
  • Terjadinya pertumbuhan maksimal 
  • Tumbuhnya rambut di ketiak, wajah dan bagian tubuh lainnya 
  • Bertambahnya berat badan
Karakteristik perubahan fisik pada pubertas wanita:
  • Payudara membesar 
  • Rambut kemaluan muncul 
  • Tumbuh rambut di ketiak 
  • Bertambah tinggi 
  • Melebarnya pinggul 
  • Menarche: menstruasi pertama pada wanita 
  • Bertambahnya berat badan 

Growth spurt (pertumbuhan yang berlangsung cepat) pada anak perempuan rata-rata terjadi dua tahun lebih awal dibandingkan anak laki-laki.

Di masa remaja, konsentrasi hormon-hormon tertentu dapat meningkat secara dramatis:
  • Testoteron: hormon yang diasosiasikan dengan perkembangan genital, bertambahnya ketinggian tubuh, dan perubahan suara pada laki-laki. 
  • Estradiol: hormon yang diasosiasikan dengan perkembangan payudara, uterus, dan kerangka pada perempuan. 

Pubertas pada anak laki-lai sebagian besar dimulai pada usia 10 s/d 13,5 tahun dan berakhir pada usia 13 s/d 17 tahun. Sedangkan pubertas pada anak perempuan biasanya terjadi pada usia 9 s/d 15 tahun.

Precocious puberty: pubertas yang terjadi sebelum waktunya à pubertas dan perkembangannya sangat cepat. Sebuah aspek psikologis pasti terjadi dan berkaitan dengan perubahan fisik:

  • Remaja akan sangat memperhatikan tubuhnya dan mengembangkan citra mengenai tubuhnya. 
  • Citra tubuh akan sangat terlihat pada masa remaja awal. 
  • Secara umum, jika dibandingkan dengan anak laki-laki, anak perempuan kurang puas dengan tubuhnya dan memiliki citra tubuh yang lebih negatif selama pubertas (Bearman dkk dalam Santrock, 2011). 
  • Remaja yang matang lebih awal dini atau yang terlambat dibandingkan dengan kawan-kawan sebaya memandang dirinya secara berbeda. 

Berdasarkan Berkeley Longitudinal Study, anak laki-laki yang lebih cepat matang memandang dirinya lebih positif dan lebih berhasil dalam relasi dengan kawan-kawan dibandingkan dengan anak laki-laki yang matang lebih lambat (Jones dalam Santrock, 2011). Hal ini didukung pula oleh riset yang dilakukan belakangan ini, yang mengkonfirmasi bahwa, pada remaja laki-laki, matang lebih dini cenderung menguntungkan daripada matang lebih akhir (Graber, Brooks-Gunn, & Warren dalam Santrock, 2011)

Sedangkan bagi anak perempuan, kematangan lebih dini dan lebih lambat terkait dengan citra tubuh. Semakin banyak peneliti yang menemukan bahwa kematangan lebih awal meningkatkan kerentanan pada anak perempuan untuk mengalami sejumlah masalah, seperti misalnya, kecenderungan merokok, minum minuman keras, depresi, memiliki gangguan makan, menuntut kemandirian lebih dini dari orang tua, memiliki kawan-kawan yang lebih tua; tubuh mereka cenderung membangkitkan respons dari pria yang mengarah pada pacaran dan pengalaman seksual lebih awal.

Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja

Otak

Koneksi synaptic yang digunakan diperkuat dan tetap bertahan, sementara koneksi yang tidak digunakan diganti oleh jalur lain atau menghilang à koneksi-koneksi ini akan “dipangkas”. Hasil dari pemangkasan ini adalah pada akhir masa remaja, seseorang memiliki koneksi neuro yang lebih sedikit, lebih selektif, dan lebih efektif dibandingkan ketika masa kanak-kanak. Selain itu, otak remaja juga mengalami perubahan struktur yang signifikan. Corpus callosum semakin tebal pada masa remaja sehingga meningkatkan kemampuan remaja dalam memproses informasi.

Prefrontal cortex (level tertinggi dari lobus depan yang meliputi penalaran, pengambilan keputusan, dan kendali diri) belum selesai berkembang hingga dewasa awal. Sementara itu, amygdala (tempat emosi seperti rasa marah) berkembang lebih awal daripada prefrontal cortex à akibatnya, remaja mampu mengalami emosi yang sangat kuat, namun belum mampu mengendalikan emosi tersebut.

Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja

Seksualitas

  • Masa remaja adalah masa eksplorasi dan eksperimen seksual, masa fantasi dan realitas seksual, masa mengintegrasikan seksualitas ke dalam identitas seseorang. 
  • Menguasai perasaan-perasaan seksual yang muncul dan pembentukan penghayatan mengenai identitas diri merupakan dua tantangan yang dihadapi di periode ini. 
  • Menguasai perasaan seksual mencakup kemampuan belajar untuk mengelola perasaan seksual, mengembangkan bentuk intimasi yang baru, serta mempelajari keterampilan untuk mengelola tingkah laku seksual agar terhindar dari konsekuensi yang tidak diinginkan. 
  • Identitas seksual remaja mencakup aktivitas, minat, gaya perilaku, dan indikasi yang mengarah pada orientasi seksual (entah individu itu memiliki ketertarikan pada jenis kelamin yang sama atau berbeda).

Isu tentang Kesehatan Remaja

Masa remaja adalah masa kritis dalam hal kesehatan karena ada berbagai kebiasaan yang tidak sehat dan kematian dini yang terjadi di usia dewasa, dimulai di masa remaja. Beberapa masalah yang berkaitan dengan kesehatan bahkan kematian yang sering muncul pada masa remaja antara lain penyalahgunaan narkoba, gangguan makan (anorexia nervosa dan bulimia nervosa), dan bunuh diri.
  • Anorexia nervosa: gangguan pola makan dengan ciri-ciri selalu berusaha untuk kurus yang dilakukan dengan cara menahan lapar.
  • Bulimia Nervosa: gangguan makan di mana individu secara konsisten mengikuti pola makan berlebihan dan membersihkannya.

Kognisi Remaja

Teori Piaget

  • Remaja berada pada tahap operasional formal, di mana pemikiran individu menjadi lebih abstrak, idealis, dan logis, dibandingkan di tahap operasional kongkret.
  • Kualitas abstrak pemikiran di tahap operasional formal pada remaja terbukti pada kemampuan mereka untuk memecahkan masalah secara verbal.
  • Indikator lain yang memperlihatkan kualitas abstrak dari pemikiran remaja adalah meningkatnya tendensi untuk berpikir mengenai pikiran itu sendiri.
  • Remaja terlibat di dalam berbagai spekulasi mengenai karakteristik-karakteristik ideal-kualitas yang mereka inginkan terdapat pada dirinya maupun pada orang lain. Cara berpikir semacam itu seringkali menggiring remaja untuk membandingkan dirinya dengan orang lain menurut standar ideal tersebut.
  • Pemikiran remaja sering kali bersifat fantasi mngenai kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
  • Kemampuan remaja untuk berpikir logis tampak dari caranya dalam memecahkan masalah melalui trial and error. Remaja mulai berpikir sebagaimana seorang ilmuwan berpikir, membuat rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji solusi.
  • Remaja menjadi lebih mampu bernalar secara hipotetis-deduktif à mencakup penciptaaan sebuah hipotesis dan melakukan deduksi terhadap implikasinya, yang memungkinkan untuk menguji hipotesis.

Egosentrisme Remaja

Egosentrisme remaja adalah meningkatnya kesadaran diri pada remaja.
  • David Elkind (Santrock, 2011) berpendapat bahwa egosentrisme remaja mengandung dua komponen utama, yaitu imaginary audience dan personal fable.
  • Imaginary audience (audiens imajiner): keyakinan remaja bahwa orang lain berminat pada dirinya sebagaimana ia berminat pada dirinya sendiri, termasuk juga tingkah laku menarik perhatian – berusaha untuk diperhatikan, terlihat, serta berada di “panggung”.
  • Sebagai contoh, seorang remaja laki-laki kelas delapan berjalan ke dalam kelas ambil berpikir bahwa semua mata tertuju pada wajahnya yang penuh bercak à merasa semua orang memeperhatikannya (“berada di panggung”).
  • Personal fable (fabel pribadi): bagian dari egosentrisme remaja yang mengandung penghayatan bahwa dirinya unik dan tak terkalahkan à merasa tidak ada seorang pun yang memahami perasaan mereka sebenarnya.
  • Sebagai contoh, seorang remaja berusia 13 tahun, mengatakan pada dirinya sendiri, “Tidak seorang pun yang memahami diriku, khususnya orang tuaku. Mereka sama sekali tidak memahami perasaanku”. Selain itu, remaja juga seringkali memperlihatkan rasa tidak terkalahkan atau kuat.

Pemrosesan Informasi

Menurut Kuhn (Santrock, 2011), kognitif terpenting yang berlangsung pada remaja adalah peningkatan di dalam fungsi eksekutif, yang melibatkan aktivitas kognitif dalam tingkat yang lebih tinggi. Peningkatan di dalam fungsi eksekutif membuat remaja dapat belajar secara lebih efektif danlebih mampu menentukan bagaimana memberikan perhatian, mengambil keputusan, dan berpikir kritis.

Konteks sosial berperan penting dalam pengambilan keputusan remaja à contoh, pengaruh teman sebaya dalam pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan beresiko. Pengambilan keputusan remaja dapat dijelaskan dengan model proses ganda (dual-process model), yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh dua sistem kognitif (analitis dan pengalaman) yang saling berkompetisi.

Model ini menekankan bahwa pengalaman lah yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan remaja, dan bukan sistem analitis. Remaja membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk melatih dan mendiskusikan pengambilan keputusan yang realistis. Masa remaja adalah periode transisi yang penting dii dalam perkembangan berpikir kritis.

Meningkatnya kecepatan dalam memproses, otomatisasi, dan kapasitas, maupun bertambahnya isi dan jangkauan pengetahuan serta spontanitas dalam penggunaan strategi, memungkinkan kemampuan berpikir kritis pada remaja meningkat.

Peningkatan berpikir kritis di masa remaja dapat mencakup:
  • Meningkatnya kecepatan, otomatisasi, dan kapasitas dalam memproses informasi yang memungkinkan penggunaan informasi yang diperoleh untuk dimanfaatkan bagi tujuan-tujuan lain
  • Isi pengetahuan yang lebih luas di berbagai bidang
  • Meningkatnya kemampuan untuk mengkonstruksikan kombinasi baru dari pengetahuan
  • Penggunaan strategi atau prosedur secara lebih luas dan spontan dalam mengaplikasikan atau memperoleh pengetahuan, seperti perencanaan, mempertimbangkan berbagai alternatif, dan pengawasan kognitif.

Sekolah

Transisi menuju SMP dan SMA berlangsung bersama-sama dengan berbagai perubahan sosial, keluarga, dan individual di kehidupan remaja. Perubahan-perubahan ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pubertas dan citra tubuh; munculnya pemikiran operasional formal, termasuk perubahan dalam kognisi sosial; meningkatnya tanggung jawab dan menurunnya ketergantungan pada orang tua; memasuki struktur sekolah yang lebih besar dan impersonal; perubahan dari satu guru ke banyak guru serta perubahan dari kelompok rekan sebaya yang kecil dan homogen menjadi kelompok rekan sebaya yang lebih besar dan heterogen.

Transisi ini seringkali menekan remaja. Salah satu sumber stres lainnya adalah fenomena top-dog, yaitu perubahan situasi dari menjadi siswa yang paling tua, paling besar, dan paling kuat di sekolah dasar, menjadi siswa yang paling muda, paling kecil, dan paling lemah di sekolah menengah. Partisipasi dalam aktivitas ekstrakurikuler terkait dengan hasil akademis dan psikologis yang positif. Remaja mendapat manfaat dari beragam aktivitas ekstrakurikuler; kualitas dari aktivitas tersebut juga penting.

Service learning adalah suatu bentuk pendidikan yang bertujuan mengembangkan tanggung jawab sosial dan layanan kepada masyarakat. Misalnya, mengajar (menjadi tutor), membantu orang tua, bekerja di rumah sakit, membantu di pusat penitipan anak dll. Tujuan penting dari service learning adalah bahwa remaja tidak terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centerred) dan lebih termotivasi untuk menolong orang lain.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori Perkembangan Fisik dan Kognitif pada Masa Remaja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel