Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Teori Kemajemukan Budaya

Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Teori Kemajemukan Budaya - Di dalam kelas, perbedaan budaya di antara para siswa dapat mempengaruhi sistem belajar-mengajar. Banyaknya perbedaan budaya dalam kelas akan memperkaya suasana belajar-mengajar (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001). Di sini, budaya diartikan sebagai pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan tradisi yang mengarahkan perilaku kelompok untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi (Woolfolk, 1993). Budaya juga mempengaruhi cara kita hidup, merasa, dan berpikir (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001). Untuk itu, sangat penting bagi pengajar untuk dapat memahami berbagai perbedaan budaya yang ada di kelas.

Ada dua teori untuk memahami perbedaan budaya, yaitu teori asimilasi dan amalgamasi, dan kemajemukan budaya. Menurut teori asimilasi, semua siswa harus mengikuti peraturan suatu kebudayaan tertentu, tanpa memperhatikan budaya yang dimiliki oleh keluarga atau kelompoknya. Sedangkan, teori amalgamasi menyebutkan bahwa elemen-elemen dari budaya individu digabungkan jadi satu, sehingga membentuk sebuah kebudayaan baru (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001).

Di sisi lain, teori kemajemukan budaya mengarahkan agar pendidik melakukan pendekatan untuk memahami berbagai perbedaan antara kebudayaan nasional secara meluas dan kebudayaan keluarga atau kelompok. Melalui pendekatan ini, pengajar diharapkan dapat menyusun dan mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang bersifat multi-kultur (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001).
Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Teori Kemajemukan Budaya
image source: www(dot)123rf(dot)com
Baca juga: Menciptakan Manajemen Kelas dan Interaksi Antar Siswa

Etnis dan Ras

Banyak orang yang menyalahartikan etnis dan ras. Sebenarnya, ras lebih mengklasifikasikan individu berdasarkan karakteristik fisiologis yang spesifik, seperti bentuk wajah, warna rambut, dan warna kulit. Sedangkan, etnis dibagi atas pola karakteristik bersama, seperti tradisi budaya, kewarganegaraan, agama, dan bahasa (Santrock, 2001). Dari penjelasan ini, dapat dikatakan bahwa etnis merupakan bagian dari ras karena satu ras tertentu dapat tinggal di sebuah kawasan yang luas yang di dalamnya terdapat beberapa negara atau daerah. Misalnya, etnis Jawa dan Sumatera. Di dalam etnis pun bisa terdapat beberapa bagian yang lebih kecil dan seterusnya, seperti etnis Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Beberapa studi, terutama di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa siswa dari beberapa etnis tertentu memiliki prestasi yang lebih rendah dari rata-rata siswa lainnya pada umumnya. Para peneliti mengindikasikan bahwa perbedaan ini merupakan hasil dari diskriminasi yang terjadi di masa silam, terutama yang terjadi pada warga kulit hitam (Woolfolk, 1993). Perbedaan etnis juga dapat memunculkan masalah dalam pendidikan ketika elemen-elemennya, baik siswa maupun pengajar, memiliki pandangan yang salah bahwa etnis tertentu lebih baik dari pada etnis yang lain. Untuk itu, sekolah perlu menekankan untuk mendukung dan mengajarkan sejarah dan kontribusi dari semua etnis (Armstrong, dalam Woolfolk, 1993).

Gender

Ada sebuah fakta menarik mengenai perbedaan gender dalam pendidikan yang menyatakan bahwa anak laki-laki yang terpelajar berjumlah 85 juta lebih banyak dari pada anak perempuan dari seluruh dunia (Briscoe, dalam Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001). Kenyataan ini setidaknya menjelaskan betapa perbedaan gender memiliki pengaruh yang kuat di dalam pendidikan. Secara umum, perbedaan ini dapat dipandang dari sisi budaya (Woolfolk,1993). Setiap budaya memiliki harapan mengenai perilaku siswa berdasarkan gender. Di hampir setiap budaya, diasumsikan bahwa laki-laki dan wanita harus berbeda dalam bertindak dan mempelajari beberapa hal (Gage & Berliner, 1992).

Selain itu, alasan adanya perbedaan antara gender dalam hal akademis adalah sosialisasi, atau bagaimana orang tua memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan, di rumah, lalu di sekolah (Woolfolk, 1993; Briscoe, dalam Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001). Pandangan ini disebut sebagai teori skema gender. Walaupun para psikolog menemukan bahwa perilaku bayi laki-laki dan bayi perempuan tidak jauh berbeda, tetapi cara orang tua berinterksi dengan mereka dan bagaimana orang tua membesarkan mereka sangat berbeda (Jewett, dalam Henson & Eller, 1999). 

Perlakuan yang beda, serta pembentukan perilaku berdasarkan jenis kelamin berkembang di masa kanak-kanak awal (Woolfolk, 1993; Henson & Eller, 1999). Perbedaan perlakuan juga terjadi di sekolah. Dari sejumlah penelitian, didapatkan bahwa pengajar lebih memberi perhatian dan umpan balik yang positif kepada anak laki-laki (Gage & Berliner, 1992; Henson & Eller, 2001). Selain itu, untuk berbagai tugas yang berhubungan dengan fisik, anak lak-laki lebih diutamakan, sedangkan anak perempuan lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat keindahan (Woolfolk, 1993).

Hal ini kemudian berlanjut kepada pencapaian prestasi anak di sekolah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam berbagai hal, yaitu kemampuan matematika dan ilmu alam, kemampuan verbal, kemampuan spasial, dan motivasi (Woolfolk, 1993; Henson & Eller, 1999; Gage & Berliner, 1992; Elliot, Kratochwill, Cook, & Travers, 2001; Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001).

Kemampuan Matematika dan Ilmu Alam

Dalam hal matematika dan ilmu alam, laki-laki lebih unggul daripada wanita. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya adalah karena anak laki-laki di-reinforce dalam hal-hal yang bersangkutan dengan intelektual (Elliot, Kratochwill, Cook, & Travers, 2001). Perlakuan yang beda dari pengajar dalam kelas matematika juga turut berpengaruh. Contohnya, beberapa pengajar SD meluangkan waktu akademisnya dengan anak laki-laki dalam pelajaran matematika dan dalam pelajaran membaca dengan anak perempuan (Woolfolk, 1993). Selain itu, harapan budaya yang menekankan laki-laki untuk mengambil pelajaran matematika lebih banyak juga mempengaruhi kemampuan ini (Gage & Berliner, 1992).

Kemampuan Verbal

Untuk kemampuan ini, anak perempuan lebih unggul daripada anak laki-laki. Orang tua dan pengajar cenderung me-reinforce kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan memlihara, sosialisasi, hubungan interpersonal, dan perilaku membantu (Eisenberg, Martin, & Fabes, dalam Woolfolk, 1993; Jewett, dalam Henson & Eller, 1999). Kemampuan ini kemungkinan berawal dari masa balita di mana ibu lebih sering berbicara kepada balita perempuan (Dembo, dalam Henson & Eller, 1999). Streitmatter (dalam Henson & Eller, 1999) juga menekankan bahwa dalam periode ini, anak perempuan lebih baik dalam membaca, berbicara, dan berhitung.

Kemampuan Spasial

Selain kemampuan matematika dan ilmu alam, anak laki-laki juga lebih unggul dalam kemampuan spasial. Keunggulan ini bisa jadi disebabkan oleh perlakuan pengasuh ketika anak masih balita di mana anak laki-laki dibiarkan, bahkan didorong untuk menjelajah lingkungan di sekitarnya. Sedangkan, anak perempuan tidak boleh bermain jauh-jauh dari pengasuhnya (Dembo, dalam Henson & Eller, 1999).

Motivasi

Motivasi anak laki-laki boleh dibilang lebih tinggi karena mereka didorong untuk melakukan berbagai hal yang bersifat kompetitif dan pencapaian prestasi (Jewett, dalam Henson & Eller, 1999). Selain itu, pengajar sering menghubungkan kegagalan pada anak laki-laki dengan kurangnya motivasi. Sedangkan pada anak perempuan, kegagalan lebih dihubungkan kepada kurangnya kemampuan (Elliot, Kratochwill, Cook, & Travers, 2001).

Pada beberapa penemuan baru, ternyata perbedaan ini tidak selamanya ditemui. untuk berbagai kasus tertentu, anak perempuan lebih unggul dalam kemampuan matematika. Begitu juga pada anak laki-laki dalam kemampuan verbal untuk beberapa kasus tertentu (Gage & Berliner, 1992). Namun, pengajar diharapkan untuk memperhatikan pernmasalahan ini, terutama mengenai bias gender. Edge et al. (dalam Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001) menyarankan beberapa hal untuk menhindari munculnya bias gender di dalam kelas, yaitu:
  • Hindari penggunaan bahasa yang bersifat stereotip 
  • Berikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan 
  • Kurangi kegiatan kelas yang berdasarkan stereotip jenis kelamin 

Selain itu, kurikulum pendidikan yang digunakan juga perlu diperhatikan. Banyaknya buku bacaan yang memunculkan bias gender dapat mempengaruhi skema gender anak. Oleh karena itu, penampilan karakter pria dan wanita harus seimbang, dan penceritaanya tidak menjurus kepada penilaian bahwa satu jenis kelamin lebih baik daripada yang lain (Woolfolk, 1993).

Bahasa

Komunikasi merupakan hal terpenting dalam pengajaran. Faktor budaya sangat mempengaruhi penggunaan bahasa sebagai media komunikasi. Perkembangan kognitif anak berbeda sebagai fungsi dari budaya di mana ia dibesarkan (Ormrod, 2001). Bruner (dalam Elliot, Kratochwill, Cook, & Travers, 2001) menyatakan bahwa budaya membentuk perkembangan kognitif dengan menekankan sistem simbolis, seperti bahasa, dalam pikiran anak yang sedang berkembang. Ia juga menegaskan bahwa anak-anak membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk mengembangkan bahasanya.

Bahasa yang digunakan siswa dapat dibedakan menjadi dua: bahasa dialek dan bahasa standard. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh etnis atau kelompok tertentu (Woolfolk, 1993; Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001). Sedangkan, bahasa standard adalah bahasa pasar yang digunakan oleh sebuah kebudayaan nasional yang luas (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001).

Dalam kaitannya dengan pengajaran di kelas, bahasa merupakan salah satu produk dari kebudayaan dan ketika sebuah kelas memiliki siswa-siswa yang multi-kultural, maka kemungkinan terjadinya masalah mengenai bahasa akan menjadi besar. Penggunaan bahasa yang berbeda dapat menimbulkan kesulitan dalam mengkomunikasikan ide-ide siswa dan juga untuk mengerti orang lain. Siswa juga cenderung untuk mencapai berbagai konvensi sosial ketika berbincang dengan orang lain yang berasal dari satu keluarga atau budaya yang sama (Ormrod, 2001).

Untuk itu, pengajar perlu mengajarkan bahasa yang baik dan benar kepada para siswanya. Ada dua metode pendekatan untuk memahami bahasa, yaitu pendekatan immersion dan pendekatan transisional. Pendekatan immersion adalah model pengajaran untuk memahami perbedaan bahasa dengan menempatkan siswa di kelas di mana perintah dan sosialisasi verbal menggunakan bahasa yang telah dipelajari.

Sedangkan, pendekatan transisional adalah model pengajaran untuk memahami perbedaan bahasa yang awalnya dengan membiarkan siswa belajar dan bersosialisasi dengan menggunakan bahasa budayanya, kemudian secara bertahap menggerakkan siswa menuju penggunaan bahasa standard. Walaupun penggunaan pendekatan immersing dapat mengacaukan siswa secara intelektual, perkembangan, dan sosial, tetapi pendekatan ini dinilai sebagai cara terbaik untuk menggerakkan anak menggunakan bahasa standard (Parsons, Hinson, & Sardo-Brown, 2001).

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Teori Kemajemukan Budaya. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Teori Kemajemukan Budaya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel