Kelas Kecil: Pengertian dan Syarat-syaratnya

Kelas Kecil: Pengertian dan Syarat-syaratnya - Kelas kecil didefiniskan sebagai kelas yang berisi dibawah 20 orang siswa. Kelas kecil adalah hasil reduksi sebuah kelas (class size). Ukuran kelas dapat mempengaruhi performa siswa apabila besarnya berubah. Dengan kata lain, kelas kecil dapat mempengaruhi performa siswa (Pete-Bain, 1992). Di Amerika Serikat, kelas kecil merupakan komponen integral dari program subsidi pemerintah, The Department of Education Appropriations Act di tahun 1999 yang bertujuan menyediakan kelas khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar atau hidup dalam kemiskinan (Slavin, et al., 1999).

Berdasarkan penelitian klasik Meta-analysis of research on the relationship of class size and achievement (Glass & Smith, 1978), didapatkan dua kesimpulan, yaitu : Ukuran kelas yang lebih kecil dari ukuran biasa, dapat meningkatkan prestasi akademik siswa. Keuntungan dari kelas ukuran kecil dapat didapat secara optimal bila siswa dalam kelas berjumlah kurang dari 20 orang.
Kelas Kecil: Pengertian dan Syarat-syaratnya
image source: imgarcade(dot)com
Baca juga: Pendidikan dan Masyarakat dalam Psikologi
Selain itu, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh universitas di Tennessee (Konstantopoulos, 2000), didapatkan hasil bahwa:
  • Siswa yang berada di kelas kecil berprestasi lebih baik daripada siswa di kelas reguler. 
  • Efek kelas kecil lebih terlihat pada tes matematik daripada tes sosial. 
  • Siswa-siswa pada kelas kecil lebih berinisiatif di dalam kelas, berusaha lebih keras, dan lebih sedikit menampilkan tingkah laku yang mengganggu (disruptive behavior), dibanding siswa di kelas reguler. 

Meskipun banyak penelitian menyatakan bahwa kelas kecil menghasilkan banyak keuntungan, namun efek dari kelas kecil masih bervariasi dan tergantung pada tingkat kelas siswa, karakteristik siswa, area subyek, metode pengajaran, dan faktor-faktor belajar lainnya.

Studi yang Berkaitan dengan Kelas Kecil

Tennessee’s Project STAR (Students-Teacher Achievement Ratio). Studi ini dilakukan untuk mengetahui efek jangka panjang dan jangka pendek dari penggunaan kelas kecil pada performa siswa. Dilakukan melalui 3 (tiga) fase, yaitu:

1. Fase pertama (tahun 1985 – 1989)

Kelas berisi 13 – 17 siswa dibandingkan dengan kelas berisi 22 – 26 siswa. Hasil dari studi yang dilakukan adalah: Siswa di kelas kecil menampilkan performa yang lebih baik dibanding siswa yang ada di kelas besar, baik pada tes terstandardisasi maupun tes berbasis kurikulum. Hasil ini berlaku bagi anak kulit putih maupun hitam, dan bagi mereka yang tinggal di dalam kota, pinggir kota, atau desa.  Pada kelas yang lebih kecil, fenomena tinggal kelas rendah. Lebih jauh lagi, anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat diidentifikasi lebih mudah pada kelas kecil.

2. Fase kedua: keuntungan jangka panjang (1989)

Studi ini merupakan lanjutan dari studi sebelumnya. Tujuannya untuk mengetahui efek pendidikan jangka panjang dari kelas kecil setelah siswa yang bersangkutan dipindahkan ke kelas besar. Hasilnya adalah bahwa di kelas empat, siswa dari kelas kecil masih melampaui siswa dari kelas besar dalam semua mata pelajaran. Siswa dari kelas kecil pun lebih sopan di dalam kelas.

3. Fase ketiga: project challenge

Dalam studi ini, Tennessee mulai menerapkan sistem kelas kecil untuk SD kelas 1 – 3 di daerah-daerah miskin. Hasilnya adalah sebagai berikut: peringkat sekolah yang semula berada hampir di jajaran terbawah dapat meningkat ke jajaran tengah dalam area membaca dan matematika untuk kelas dua, dan level tinggal kelas berkurang.

Update

Pada tahun 1999, peneliti melaporkan bahwa efek kelas kecil yang diberikan pada kelas 1 – 3 SD menetap hingga SMU. Hasil yang didapat dari studi ini antara lain:
  • Anak SMU yang berasal dari kelas kecil cenderung lulus tepat waktu dan tidak drop out. 
  • Mereka cenderung mengikuti kelas unggulan dan lulus sebagai 10% terbaik di kelas 
  • Mereka cenderung mengambil tes SAT dan ACT, yang mengindikasikan mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Lebih jauh lagi, perbedaan antara prestasi kulit putih dan kulit hitam berkurang hingga 56% pada anak kulit hitam yang berada di kelas kecil pada studi fase pertama. 

Student Achievement Guarantee in Education (SAGE) Program

SAGE dimulai di Winconsin, AS, pada tahun 1996. Studi ini melibatkan sekolah-sekolah yang berada di distrik miskin negara bagian itu. Program ini bertujuan meningkatkan prestasi akademik dari anak-anak yang tinggal di lingkungan miskin dengan cara mengurangi rasio guru-siswa pada Taman Kanak-kanak hingga kelas 3 Sekolah Dasar.

Sekolah yang berpartisipasi dalam program SAGE dituntut untuk mengimplementasikan kurikulum akademis secara teliti dan detail, menyediakan aktvitas sebelum dan sesudah jam sekolah untuk siswa serta masyarakat sekitar. Selain itu, sekolah tersebut juga harus menerapkan program pengembangan yang profesional dan rencana akuntabilitas. Yang dilakukan pada studi ini hampir sama dengan yang dilakukan pada studi STAR. Rasio perbandingan guru siswa dalam studi ini adalah 15:1. Adapun hasil dari program ini:
  • Siswa dalam program SAGE yang duduk di kelas 1, 2, dan 3 SD memperlihatkan performa yang lebih baik daripada siswa pembanding pada mata pelajaran matematka, membaca, dan seni bahasa pada Comprehensive Test of Basic Skills. 
  • Siswa Afrika-Amerika dalam program SAGE yang duduk di kelas 1 dan 3 SD mengalami kemajuan yang lebih pesat dibanding siswa SAGE berkulit putih, sehingga menutup jarak prestasi yang ada antar kedua ras tersebut. Di sisi lain, jarak prestasi antar anak Afrika-Amerika dan anak kulit putih lebih besar antara siswa non-SAGE. 
  • Guru merasa lebih mendapatkan kebebasan dalam memberikan instruksi, lebih mengerti anak-anak didiknya, dan lebih antusias dalam mengajar. 

Wenglinsky Study

Peneliti Educational Testing Service (ETS) Harold Wenglinsky membandingkan nilai tes matematika NAEP siswa kelas 4 dan 8 di tahun 1992 dalam hal besar kelas, dan peraturan inisiatif lainnya. Untuk tujuan analisis, Wenglinsky mengartikan kelas kecil sebagai berisi kurang dari 20 siswa. Adapun hasil dari studinya adalah sebagai berikut:
  • Siswa kelas 4 dan 8 yang berada di kelas kecil nilainya lebih baik dibanding mereka yang ada di kelas besar, walaupun saat faktor demografis, sarana yang dimiliki, dan biaya hidup diperhitungkan. 
  • 1 dari 3 siswa kelas 4 yang ada di kelas kecil mendapat nilai yang lebih tinggi dari kelompok pembanding. Di sisi lain, hanya ada 1 dari 8 siswa kelas 8 yang ada di kelas kecil yang mendapat nilai lebih tinggi dari kelompok pembanding. 
  • Hasil paling memuaskan didapat dari sekolah yang ada di dalam kota. Pada sekolah-sekolah tersebut, 3 dari 4 siswa kelas 4 mendapat nilai yang lebih baik dari kelompok pembanding. 

Syarat-syarat Kelas Kecil

Jumlah orang yang ada didalam suatu ruangan dapat mempengaruhi iklim pendidikan dan perilaku dari orang yang ada didalamnya. Sebagai contoh, riset dalam perilaku kelompok mendukung pemikiran bahwa dibawah kondisi padat dan ramai, orang cenderung bereaksi negatif terhadap orang lain (Griffit & Vitch, 1971). Implikasi pada pendidikan yang paling dekat dengan penjelasan tersebut adalah ukuran kelas, atau banyaknya siswa yang menempati ruang kelas.

Kelas yang ukurannya lebih kecil akan lebih diuntungkan dibanding kelas besar karena memungkinkan adanya umpan balik yang cepat dari guru, partisipasi di dalam kelas maksimal, dan guru mampu memonitor kelas secara maksimal (Parsons, 2001). Kelas kecil juga memicu kohesivitas sosial yang besar dan mengoptimalkan komunikasi antara siswa dan guru (Rutter, 1983).

Mengesampingkan banyaknya keuntungan dari penerapan kelas kecil di sekolah, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum kelas kecil dapat direalisasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini perlu diperhatikan sebab membuat kelas kecil bagi sekolah bukanlah hal yang mudah.

Dengan mereduksi jumlah siswa dalam satu kelas, biaya yang dikeluarkan oleh pihak sekolah akan membesar. Akan semakin banyak ruangan, guru, serta perangkat belajar mengajar lain yang dibutuhkan. Maka dari itu, perlu diperhatikan syarat-syarat pembentukan kelas kecil, agar kelas kecil tersebut dapat efektif. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain (Henson, 1999):
  • Kelas-kelas yang akan memakai sistem ini adalah kelas di tahun-tahun awal sekolah (early school grades). 
  • Siswa-siswa berprestasi rendah (low achievers), mempunyai kecacatan tertentu (handicapped students), dari kelompok minoritas, dan yang perlu program remedial lebih diutamakan dalam kelas kecil. 

Sementara itu, Ivor (1999) menyatakan pendapat lain bahwa syarat kelas kecil adalah:
  • Fasilitas yang dimiliki sekolah mendukung program yang akan dilaksanakan. 
  • Usia siswa yang akan diikutsertakan dalam program ini sebaiknya tidak diatas 8 tahun atau lebih dari kelas 3 Sekolah Dasar. 
  • Merencakan dengan matang besar kelas yang akan direduksi. Pertimbangkan rasio siswa-guru. 
  • Ketahui dengan detail data dan karakteristik siswa (ras, gender, dan lain sebagainya). 
  • Ada anecdotal information dari guru. Artinya, ada catatan dari guru mengenai sikap, perilaku spesifik siswa di kelas. 
  • Ada data mengenai sekolah (ukuran, jasa yang diberikan, akreditasi, sistem administrasi, dan lain sebagainya). 
  • Rencanakan sebuah informasi tambahan, seperti tingkat drop-out, dan kurikulum yang digunakan di kelas-kelas akhir. 
  • Baik untuk guru yang terbiasa mengajar kelas besar maupun guru yang baru direkrut untuk mengajar kelas kecil, harus dibekali dengan training dan dukungan profesional untuk mengoptimalkan kemampuan mereka mengajar kelas kecil. 
  • Guru dan sekolah menaikkan standar bagi siswa-siswinya. Memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah. 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Kelas Kecil: Pengertian dan Syarat-syaratnya. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Kelas Kecil: Pengertian dan Syarat-syaratnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel