Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan dalam Psikologi

Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan dalam Psikologi - Suatu masyarakat pasti memiliki kesamaan, karena kesamaan itu maka masyarakat menemui masalah yang sama pula. Minimal dikarenakan letak tempat tinggal mereka yang sama. Didasari kesamaan tersebut maka diperlukan dan dibuatlah suatu mekanisme penyelesaian masalah bersama.

Dalam hal ini pendidikan dalam suatu masyarakat akan menjadi tanggung jawab bersama karena keadaan mereka yang sama. Hal ini, misalnya, yang memicu terciptanya satu kurikulum untuk satu negara, dan orientasi pendidikan yang sama pula karena didasari akan masalah pendidikan yang sama untuk masyarakat suatu negara.

Masyarakat = society = community , dalam Hasbullah (1999) didefinisikan sebagai:

"Suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir dan bertindak yang (relatif) sama yang membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai satu kesatuan (kelompok)"

Mengenai community, Myers (1995) mengatakan:

"A community refers to a group of people who have something in common. That something is usually a common culture, including a common language and set of values and beliefs…A community works together towards achieving a set of shared goals."

Karena itu untuk dapat disebut masyarakat, dalam kumpulan manusia tersebut harus ada unsur yang sama yang melambangkan kesatuan mereka di samping berbagai keragaman. Bahkan sekumpulan orang yang berbeda latar belakang sosial-ekonomi, suku, serta ras tetap disebut masyarakat apabila mereka tinggal bersama di satu daerah. Dengan kesamaan itulah masyarakat berupaya mencapai tujuan bersama dan menyelesaikan masalah bersama.

Myers (1995) juga menambahkan suatu hubungan yang logis mengenai pengaruh kesamaan dalam masyarakat dengan pendidikan:

"When people live in the same village or neighbourhood, they are bound to face many of the same problems in their daily living.. These problems provide an opening for constructing a sense of community and for joint, participatory action among groups that might not otherwise agree or organize."
Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan dalam Psikologi
image source: www(dot)123rf(dot)com
Baca juga: Pendekatan dalam Sistem Pendidikan dan Kemajemukan Budaya

Masyarakat sebagai Agen Sosialisasi

Hal menonjol dan sering dibicarakan mengenai peran masyarakat dalam pendidikan adalah perannya sebagai agen sosialisasi. Dalam Berns (1997), diungkapkan bahwa:

“The community is a socializing agent because it is where the children learn the role expectations for adults as well as for themselves. It is in the community that children get to observe, model and become apprentices to adults; it is in the community that children get to ‘try themselves out’.”

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah suatu agen sosialisasi yang berfungsi sebagai lingkungan pendidikan nonformal, karena memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada anggotanya, meskipun tidak secara sistematis.

Pendidikan yang diberikan masyarakat kepada anak-anak sekolah umumnya mencakup ilmu-ilmu yang tidak diajarkan di sekolah (disebut juga tacit knowledge), seperti bagaimana menerapkan toleransi kepada orang yang berbeda agama serta suku atau juga apa yang harus mereka lakukan ketika nanti dewasa (biasanya hal ini menyangkut peran-peran dalam keluarga, seperti bagaimana bersikap terhadap saudara, atau bagaimana bila menikah nanti).

Dengan bantuan agen sosialisasi ini pulalah anak dapat akhirnya mencari tahu ingin jadi apa ia bila dewasa nanti dengan mengetahui peran-peran yang ada di masyarakat. Menurut Berns (1997), masyarakat dapat mempengaruhi sosialisasi dengan melalui:

Faktor fisik, terdiri dari:
  • Kepadatan (populasi) di daerah tempat masyarakat itu berada 
  • Kebisingan daerah tersebut 
  • Pengaturan dan jenis rumah di daerah tersebut 
  • Setting permainan yang mungkin bagi anak-anak yang tinggal di daerah tersebut 
  • Karakteristik populasi 
  • Faktor ekonomis 
  • Faktor sosial dan personal 
  • Pengaturan lingkungan (neighbourhood) 
  • Pola interaksi masyarakat 

Semua faktor tersebut mempengaruhi perkembangan individu-individu yang tinggal dalam masyarakat tersebut, tanpa terkecuali anak-anak usia sekolah. Hal inilah yang kemudian mereka bawa ke dalam lingkungan pendidikan dan mempengaruhi “akan jadi apa” dan “bagaimana” mereka bertumbuh nantinya di masa depan.

Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan

Masyarakat sebagai suatu totalitas memiliki physical environment (lingkungan fisik, alamiah, benda-benda, iklim, kekayaan material) dan social environment (manusia, kebudayaan dan nilai-nilai agama), sumber daya alam, sumber daya manusia, dan budaya. Karena didasari oleh adanya keberagaman dalam masyarakat maka jika kita membicarakan masyarakat dalam konteks pendidikan akan menyentuh topik bahwa dalam suatu masyarakat terdapat banyak orang dengan berbagai latar belakang pendidikan, dari yang rendah sampai yang tinggi.

Sedikit banyak latar belakang pendidikan individu yang beragam dalam suatu masyarakat berpengaruh terhadap kemajuan daerah tempat masyarakat itu berada. Masyarakat dengan pendidikan memiliki kaitan yang sangat erat sifatnya. Bahkan dalam Hasbullah (1999), salah satu tokoh pendidikan dari IKIP Malang, Sanafiah Faisal, berhasil merumuskan kedekatan hubungan tersebut sebagai berikut:
  • Sekolah sebagai partner masyarakat dalam melaksanakan fungsi pendidikan, terdiri dari 2 bagian : 
  • Fungsi pendidikan di sekolah, sedikit banyak dipengaruhi juga oleh corak pengalaman seseorang di masyarakat. 
  • Fungsi pendidikan di sekolah, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh sedikit banyaknya serta fungsional tidaknya pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat 
  • Sekolah sebagai prosedur yang melayani pesan-pesan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Berdasarkan hal ini sekolah dengan masyarakat memiliki hubungan rasional berdasarkan kepentingan kedua belah pihak, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 
  • Sekolah menyediakan pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat, sehingga sekolah dengan masyarakat mampu menciptakan mekanisme informasi timbal balik yang rasional, obyektif dan realistis. 
  • Akurasi sasaran pendidikan yang ditangani oleh lembaga pendidikan itu sendiri akan ditentukan oleh kejelasan isi kontrak antara sekolah dengan masyarakat. 

Penunaian fungsi sekolah sebagai pihak yang dikontrak untuk melayani pesanan-pesanan pendidikan oleh masyarakatnya, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh ikatan-ikatan obyektif antara masyarakat dengan sekolah. Ikatan obyektif yang dimaksud di sini adalah perhatian, penghargaan dan topangan/ bantuan teknis seperti dana, fasilitas dan jaminan obyektif lainnya.

Masyarakat dengan pendidikan berhubungan secara timbal-balik, banyak yang bilang seperti hubungan telur dengan ayam. Hal ini disebabkan di satu sisi pendidikan tidak akan berhasil tanpa dukungan dari masyarakat secara moril maupun materiil dan di sisi lain produk pendidikan, yaitu anak didik baik dari jalur dalam maupun luar sekolah, akan menjadi generasi yang akan meneruskan kehidupan di masyarakat kelak.

Penting untuk ditambahkan berkaitan dengan hal yang terakhir dibahas, bahwa untuk mencetak generasi penerus masyarakat yang “tepat guna” perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian antara kegiatan pendidikan itu sendiri dengan keadaan dan tuntutan masyarakat dimana dia berada. Hal tersebut menjadi tanggung jawab sekolah dan masyarakat.

Secara khusus, pengaruh faktor masyarakat terhadap pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:
  • Masyarakat berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah 
  • Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat 
  • Masyarakatlah yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung museum, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, kebun binatang dan sebagainya 

Masyarakatlah sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar karena keanekaragaman yang ada di masyarakat menjadi sumber pelajaran yang alami untuk anak didik, dengan adanya beragam profesi dengan keahlian khusus dan bidang-bidang kehidupan yang bisa ditemui (Hasbullah, 1999)

Dalam Berns (1997), Brenner tahun 1971 mengungkapkan sebuah penelitian yang menarik dilakukan di negara bagian Philadelphia, Amerika Serikat untuk “membuktikan” kemungkinan masyarakat sebagai tempat belajar dan menimba ilmu. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas 9 sampai 12 (kira-kira sama dengan usia SMU di Indonesia) yang dipilih secara acak dari delapan distrik sekolah di negara bagian tersebut tanpa memperhatikan latar belakang ekonomi maupun akademis.

Di setiap distrik di delapan distrik tersebut disediakan markas tempat kantor tata usaha sekolah dan loker siswa berada. Tidak ada bangunan sekolah, akan tetapi proses belajar-mengajar tetap berjalan di tempat-tempat umum yang ada di distrik tersebut. Misalnya saja belajar biologi di kebun binatang, belajar seni di museum kota, dan sebagainya. Hasilnya mengejutkan : persentase jumlah siswa yang berhasil masuk perguruan tinggi lebih tinggi dari rata-rata biasanya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi tempat belajar layaknya sekolah dan merupakan sumber belajar yang potensial bagi anak didik. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat dapat pula mengajarkan lebih dari sekedar tacit knowledge kepada anak didik. Karena alasan itu banyak sekolah menggunakan perpaduan antara belajar di gedung sekolah secara harafiah dengan belajar di masyarakat, misalnya dengan adanya kunjungan ke daerah-daerah yang menjadi objek pembelajaran, mengundang pembicara/ pengajar tamu, dan keterlibatan anak sekolah dalam program kemasyarakatan seperti penanaman pohon, pengumpulan dana, dan sebagainya.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan dalam Psikologi. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Hubungan Masyarakat dengan Pendidikan dalam Psikologi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel