Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri

Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri - Pengenalan diri adalah kumpulan persepsi (deskriptif) dan perasaan (evaluatif) individu terhadap dirinya. Berasal dari pengalaman dan interpretasi terhadap lingkungan, lalu membentuk konsep diri.Pengenalan diri merupakan prasayarat regulasi diri. Individu dapat mengembangkan dan mengarahkan dirinya bila ia mengenal potensinya.

Prestasi Belajar

Prestasi belajar dapat tercermin dalam tingkat kemampuan aktual siswa yang meliputi:
  • Penguasaan 
  • lmu pengetahuan 
  • Sikap : keterampilan, berupa hasil dari apa yang dipelajari siswa di sekolah 

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu:

1. Faktor eksternal: lingkungan belajar di rumah dan sekolah

2. Faktor internal

Inteligensi. Ada banyak penelitian mengenai inteligensi yang dilakukan, diantaranya dilakukan Roe dan MacKinnon (dalam Salim & Sukadji, 2006) bahwa laki-laki dan perempuan yang memiliki kemampuan intelektual sangat tinggi tidak berbeda dalam keberhasilan belajarnya. Sementara itu, MacKinnon (dalam Salim & Sukadji, 2006) menjelaskan bahwa IQ yang berkisar antara 115 – 125 tidak lagi memberikan sumbangan yang signifikan bagi prestasi akademik.
Baca juga: Perbedaan antara Classical dan Operant Conditioning
Motivasi berprestasi. Merupakan dorongan dan keinginan untuk berhasil dalam hal akademik. Motivasi dapat meningkatkan energi dan usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mencapai tujuannya (Ormrod, 2003). Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehimgga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya. Seorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih, tidak mau menyerah dan giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatianya tidak tertuju pada pelajaran, suka menggangu kelas dan sering meninggalkan pelajaran. Akibatnya mereka banyak mengalami kesulitan belajar.

Minat. Beard dan Senior (dalam Salim & Sukadji, 2006) menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan perstasi yang tinggi menampilkan karakteristik kerja keras apabila ia berminat. Akan tetapi, tidak demikian halnya jika ia tidak berminat. Tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkin tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhanya, tidak sesuai dengan kecakapan dan akan menimbulkan problema pada diri anak. Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara aak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan dan aktif tidaknya dalam proses pembelajaran.

Harga diri akademik. Merupakan penilaian individu tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sendiri mengenai kemampuannya pada beragam pelajaran di sekolah. Hal ini mengacu pada perasaan bahwa dirinya cukup berharga dalam hal akademik.

Keyakinan diri – keyakinan akan kemampuan diri. Hal ini berkaitan dengan konsep self efficacy, yaitu perasaan mampu untuk dapat menampilkan performance ataupun berhasil dalam aktivitas yang dilakukannya (Ormrod, 2003).

Kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar yang rutin tentunya dapat membantu siswa untuk lebih memahami bahan ajar dan pada akhirnya meningkatkan prestasi akademik.

Fisik dan mental. Kondisi fisik dan psikologis yang dialami akan mempengaruhi proses belajar. Mudzakir dan Sutrisno (1997) menyebutnya sebagai faktor fisiologi (yang bersifat fisik) yang meliputi:

Kondisi Kesehatan. Seorang yang sakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah. Akibatnya ransangan yang diterima melalui inderanya lama, sarafnya akan bertambah lemah, sehingga ia tidak dapat masuk sekolah untuk beberapa hari, yang mengakibatkan ia tertinggal dalam pelajarannya.

Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, dan pikirannya terganggu. Karena hal-hal tersebut penerimaan dan respon terhadap pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal dalam memproses, mengelola,menginterprestasi dan mengorganisasi materi pelajaran melalui inderanya sehingga ia tidak dapat memahami makna materi yang dipelajarinya.

Cacat tubuh, dapat berupa cacat tubuh ringan (kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor). Ataupun cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu dan sebagainya. Bagi seseorang yang memiliki cacat tubuh ringan masih dapat mengikuti pendidikan umum, dengan syarat guru memperhatikan dan memperlakukan siswa dengan wajar. Sedangkan bagi orang yang memiliki cacat tubuh serius harus mengikuti pendidikan di tempat khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB).
Tingkat kematangan adalah cara individu untuk memperoleh pengetahuan. Beberapa individu dating dari berbagai sekolah yang bervariasi dalam memeroleh pengetahuannya semasa sekolah di tingkat sebelumnya. Ada yang memperoleh pengetahuan melalui buku-buku dan ada yang melalui catatan di kelas. Namun jarang ada sekolah yang melatih siswanya untuk berpikir kritis. Miller dan Parlett (dalam Salim & Sukadji, 2006) membedakan kematangan mahasiswa antara yang cue-seekers, cue-conscious dan cue-deaf.
  • Tingkat kematangan cue-seekers. Mereka sadar dan mampu untuk memberikan respons terhadap permasalahan yang mereka hadapi, tidak banyak bicara yang merupakan persyaratan penting setiap belajar. 
  • Tingkat kematangan cue-conscious. Individu dengan tingkat kematangan ini sadar akan adanya kurikulum lain (hidden curriculum), meskipun tidak secara aktif dilakukan oleh pengajar. 
  • Tingkat kematangan cue-deaf. Individu yang berada pada tingkat kematangan ini tidak menyadari akan adanya kurikulum lain selain pembelajaran bahan pelajaran itu sendiri. Berhasil atau tidaknya dalam mengikuti pelajaran tergantung pada bagaimana kerasnya mereka bekerja dan bagaimana cermatnya mereka mempelajari apa yang tercantum pada silabus.

Dimensi Konsep Diri

  • Konsep diri akademik: persepsi individu mengenai kemampuannya dalam belajar. 
  • Konsep diri sosial: persepsi individu terhadap penerimaan dirinya di dalam lingkungan sosial dan kemampuannya untuk menjalin interaksi dengan orang lain. Konsep diri emosional: persepsi individu mengenai keadaan-keadaan perasaannya yang akan memengaruhi pola reaksinya menghadapi situasi. 
  • Konsep diri fisik: persepsi seseorang terhadap keadaan fisik dirinya dan penampilannya. 

Pentingnya konsep diri akademik yang positif

Ketidakmampuan mencapai konsep diri yang positif menyebabkan tingkat bunuh diri tinggi, napza, alkoholik, prestasi rendah (Simmermacher, dalam Singgih-Salim, 2006). Banyak penelitian membuktikan bahwa rendahnya prestasi anak-anak di sekolah disebabkan karena anak belum mengenal potensi dirinya sehingga konsep dirinya yang sehat belum terbentuk.

Individu dengan konsep diri akademis yang positif akan dapat lebih menggunakan potensinya secara optimal. Mereka tidak terbebani oleh perasaan-perasaan negatif sehingga seluruh energinya dapat diarahkan pada upaya pencapaian prestasi akademis setinggi kemampuannya. Bagitu juga, prestasi akademis yang baik akan menumbuhkan konsep diri akademis. Berikut bagan hubungan timbal baliknya.
Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri
Konsep diri dan prestasi dalam akademik
Ciri-ciri Individu dengan konsep diri akademis yang positif (singgih-salim, 2006):
  • Menyadari baik kekuatan maupun kelemahannya sehingga memiliki orientasi yang realistik. Kesadaran diri yang tepat membantunya menyusun strategi dalam menghadapi tugas sekolah 
  • Menerima diri apa adanya, tidak merasa perlu berpura-pura sempurna namun merasa bertanggungjawab untuk meningkatkan diri. 
  • Memiliki rencana pengembangan diri dan melaksanakan serta memonitor pelaksanaan tindakan tadi dengan bertanggung jawab. 
  • Memiliki pandangan yang positif mengenai kehidupan akademis dan bidang-bidang ilmu yang ditempuhnya. 

Manfaat Mengenal Diri

  • Sadar akan kelebihan dan kekurangan diri sehingga dapat: 
  • Meningkatkan motivasi 
  • Menentukan tujuan 
  • Mengatur waktu 
  • Menentukan strategi 
  • Memanfaatkan sumber daya 
  • Meningkatkan prestasi 
  • Mengembangkan kekurangan

Teknik Pengenalan Diri

Konsep diri tidak dibawa sejak lahir. Pengenalan diri terbentuk sepanjang hidup seiring kematangan fisik, kognisi, emosi, maupun sosial. Agar individu tidak terlalu rendah hati maupun terlalu tinggi menilai diri, terkadang individu butuh persepsi orang lain sebagai cermin. Oleh karena itu pengenalan diri dapat dilakukan melalui: (1) instrospeksi, (2) umpan balik dari lingkungannya.

Joseph Luft dan Harry Ingham (JoHarry) tahun 1955 membuat Jendela Johari yang terdiri dari 4 jendela.
Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri
Konsep Jendela Johari

Arti Setiap Jendela

  • Terbuka: hal-hal yang diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. 
  • Buta: hal yang tampak oleh orang lain, namun tak disadari oleh diri sendiri. 
  • Pribadi: sesuatu mengenai diri kita yang tidak kita tampilkan pada orang lain. 
  • Misteri: sisi-sisi dalam diri individu yang tidak disadari, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain. 

Umpan balik akan bermanfaat untuk memperluas jendela terbuka dan mempersempit jendela buta.
Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri
Kelanjutan Konsepnya
Kiat bagi penerima agar umpan balik bisa bermanfaat besar bagi dirinya:
  • Bersikap positif: jangan terlalu cepat bereaksi, tidak difensif, dengarkan dan cerna baik-baik. 
  • Gunakan parafrase: mengulang kembali yang kita dengar dengan kata-kata kita sendiri untuk memastikan apa yang kita tangkap sesuai dengan maksud si pemberi umpan balik. 
  • Memberikan respons terhadap aspek non-verbal atau isyarat untuk memastikan ketepatan persepsi kita. “dahi anda berkerut, adakah yang anda tidak setujui dari uraian saya tadi?” 

Bila yang kita terima sudah sesuai dengan yang dimaksud, tiba saatnya kita gunakan pertimbangan apakah yang disampaikan itu betul atau tidak. Bila kita anggap tidak tepat, maka kita punya kesempatan dan hak untuk menjelaskan yang sebenarnya pada si pemberi umpan balik. Ini disebut sebagai membuka diri (self disclosure). Hal ini penting agar tidak terjadi salah pengertian dalam interaksi, dan membuka diri itu memperluas daerah terbuka dengan memperkecil daerah pribadi.

Setelah kita yakin bahwa yang kita terima itu tepat, keputusan tetap ada ditangan kita apakah mau mengubahnya atau menggapnya tidak esensial sehingga tidak perlu diubah. Misalnya: kita cenderung belajar sendiri sehingga tidak aktif dalam diskusi kelompok, mungkin dengan mengubah kebiasaan belajar dengan diskusi untuk persiapan ujian yang sudah dekat justru akan besar resikonya.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Faktor-faktor Prestasi Belajar dan Konsep Mengenal Diri "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel