Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi

Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi - Pemecahan masalah ada yang diselesaikan dengan baik dan ada pula yang buruk. Pemecahan masalah yang diselesaikan densgan baik akan diberikan rumusan tersendiri. Setelah itu diberikan beberapa model pemecahan. Dan terakhir pembahasan akan ditutup dengan strategi belajar. Melalui artikel ini diharapkan mampus memahami dan menjelaskan pemecahan masalah dan strategi belajar.

Problem Solving dan Strategi Belajar

Problem Solving

Pemecahan masalah menurut Santrock (2007) adalah mencari cara yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya, membuat makalah.
Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi
image source: www(dot)educational-psychologist(dot)co(dot)uk
Baca juga: Macam Gangguan dan Anak Berkebutuhan Khusus

Masalah Dirumuskan dengan Baik dan Dirumuskan dengan Buruk

Para ahli di dalam menemukan pemecahan masalah mereka membedakan antara masalah yang dirumuskan dengan baik dan dirumuskan dengan buruk (Eysenck & Keane; Simon, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Masalah dirumuskan dengan baik hanya memiliki satu solusi perbaikan dengan menggunakan metode tertentu untuk menemukannya, sedangkan masalah yang dirumuskan dengan buruk jika memiliki lebih dari satu solusi, dan tujuan yang ambigue (tidak jelas), dan strateginya secara umum tidak disepakati untuk memberikan solusi.

Sebagaimana kita ketahui pada siswa, mereka tidak memiliki pemecahan masalah yang bagus, dan membantu mereka untuk menjadi seorang pemecah masalah yang lebih baik adalah satu tantangan terbesar dari sisi guru. Dalam upaya untuk memecahkan masalah, maka kita dapat membantu siswa memahami suatu model pemecahan masalah yang dapat di terapkan di dalam berbagai domain

Model Pemecahan Malasah

Para ahli menyatakan bahwa di dalam domain spesifik (seperti geometri, English, atau sejarah) pendekatan umum untuk memecahkan masalah dapat memperbaiki kemampuan memecahkan masalah.
Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi
Gambar-1. Model Umum Pemecahan Masalah

Identifikasi Masalah

Pertanyaan: Terdapat 26 domba dan 10 kambing di dalam kapal. Berapa usia kapten? Suatu hal yang luar biasa di dalam suatu penelitian, terdapat 75% pada peringkat kedua yang menjawab pertanyaan 36. Hal ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak memahami masalah.

Pertama kali nampak sekilas bahwa identifikasi masalah ada pada yang namak, tetapi kenyataannya, ini merupakan satu dari banyak aspek kesulitan di dalam pemecahan masalah. Pemecahan masalah membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk menghindari mencari solusi terlalu cepat. Rintangan untuk mengidentifikasi masalah secara efektif meliputi:
  • Kurang pengetahuan domain-spesifik. Sebagaimana di dalam seluruh area belajar, latar belakang pengetahuan merupakan suatu hal yang essensial untuk memecahkan masalah 
  • Kurang pengalaman di dalam mendefinisikan masalah. 
  • Kecendrungan untuk cepat-cepat mendapatkan suatu solusi sebelum masalah didefinisikan secara jelas 
  • Kecendrungan untuk berfikir secara konvergent 

Menggambarkan Masalah. Suatu masalah dapat digambarkan sedikitnya dengan tiga cara. Masalah dapat di (a) dikemukakan dengan kata-kata yang berbeda yang lebih bermakna, (b) dihubungkan dengan masalah sebelumnya, dan (c) dihadirkan di dalam bentuk visual (contoh, dalam bentuk diagram). Jika masalah tidak dapat dikemukakan kembali atau dihubungkan ke masalah yang sama, secara visual menggambarkan masalah bisa akan lebih efektif.

Hal ini tentunya akan menempatkan masalah dalam konteks yang lebih besar dan menghubungkan masalah ke latar belakang pengetahuan siswa. Peneliti menyatakan bahwa seorang pemecah masalah akan sukses dengan menggunakan gambaran visual sebagai penyangga (scaffolds) terutama sekali ketika menghadapi masalah sulit. Beberapa masalah cukup kompleks untuk working memory (short memory), dan meletakkan masalah di kertas dapat mengurangi beban.

Menyeleksi Strategi

Setelah masalah diidentifikasi dan direpresentasikan, suatu strategi untuk memecahkan masalah harus diseleksi dengan cara:

Algoritma adalah strategi yang menjamin solusi atas suatu persoalan. Ketika siswa menyelesaikan masalah perkalian dengan menentukan suatu prosedur, mereka menggunakan algoritma. Saat mereka mengikuti petunjuk untuk membuat diagram kalimat, mereka menggunakan algoritma. Algoritma perlu diketahui karena hidup lebih mudah saat masalah bisa dipecahkan dengan algoritma. Tetapi karena masalah dunia nyata tidak sederhana, maka dibutuhkan strategi yang lebih longgar.

Heuristik adalah kaidah praktis yang dapat menunjukkan suatu solusi masalah tapi tidak bisa dipastikan keberhasilannya. Heuristik membantu kita mempersempit solusi untuk mencari solusi mana yang bisa dilakukan. Contoh, Anda menaiki gunung tapi kemudian tersesat. Heuristik umum untuk mencari jalan pulang adalah cukup turun gunung, cari sungai kecil lalu ikuti aliran. Sungai kecil biasanya bermuara disungai besar, dan di sungai besar biasanya banyak orang. Jadi, heuristik ini biasanya berhasil, meskipun boleh jadi sungai itu malah membawa Anda ke sebuah pantai terpencil.

Analisis cara-tujuan adalah sebuah heuristik di mana seseorang mengidentifikasi tujuan dari suatu masalah, menilai situasi yang ada sekarang, dan mengevaluasi apa-apa yang dibutuhkan (cara) untuk mengurangi perbedaan antara dua kondisi tersebut. Nama lain dari analisis cara-tujuan adalah reduksi perbedaan. Analisis cara-tujuan bisa dipakai untuk memecahkan masalah. Contohnya, ada siswa yang ingin melakukan proyek pameran sains (tujuan) tapi belum punya topik.

Dengan menggunakan analisis cara-tujuan, dia dapat menilai situasinya sekarang, di mana dia baru saja mulai memikirkan tentang proyek tersebut. Kemudian dia memetakan suatu rencana untuk mereduksi perbedaan antara situasinya sekarang dengan tujuan. “Cara” yang dilakukannya bisa berupa berbicara dengan beberapa ilmuwan di komunitas untuk mencapai proyek yang potensial, mengunjungi perpustakaan untuk mempelajari topik yang akan dipilih, dan mengeksplorasi internet untuk mencari proyek potensial dan cara menjalankannya.

Menarik analogi, suatu strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah yang tidak familiar dengan membandingkan masalah-masalah dengan masalah yang sudah dipecahkan, ini merupakan pemecahan masalah heuristik ketiga. Bagaimanapun menggambar analogi dapat menjadi sulit untuk diimplementasikan. Siswa seringkali tidak dapat menemukan masalah di dalam memori mereka akan analogi untuk satu masalah yang ingin dipecahkan, atau mereka mungkin menggunakan hubungan yang tidak sesuai antara dua masalah. Akhirnya, pengalaman dan latar belakang pengetahuan adalah essensial untuk suksesnya menyeleksi strategi, di mana heuristik tidak dapat menggantikannya. 

Implementasi Strategi

Definisi secara jelas, menggambarkan masalah dan seleksi suatu algoritma yang tepat atau heuristik merupakan kunci untuk mengimplementasikan suatu strategi secara sukes. Jika proses ini telah efektif, pengimplementasian dapat dilakukan dengan rutin. Jika siswa tidak dapat mengimplementasikan suatu strategi, mereka harus berfikir ulang masalah yang asli atau strategi yang mereka telah seleksi. Contohnya, siswa yang memiliki pemahaman yang tidak menentu akan area dan batasan permasalahan, dan mereka kurang memiliki pengalaman di dalam mendefinisikan masalah, maka akan menjadi sulit di dalam membuat strategi yang efektif. Kesulitan mereka terjadi baik sebelum mereka mengimplementasikan strateginya.

Evaluasi Hasil

Evaluasi hasil adalah tahap akhir di dalam pemecahan masalah, dan evaluasi hasil seringkali merupakan suatu tantangan bagi siswa. Sesekali siswa mendapatkan suatu jawaban, yang membuat mereka puas, tanpa memperhatikan apakah jawaban tersebut masuk akal atau tidak. Atau bisa juga terjadi bahwa siswa puas dengan jawaban yang tidak sesuai.

Beberapa ahli meyakini bahwa guru dapat membantu memecahkan masalah yang gagal untuk mengevaluasi hasil mereka dengan menekankan keterlibatan berfikir di dalam pemecahan masalah sebagai pengganti dari fokus jawaban.

Strategi Belajar

Apakah kamu sudah memikirkan cara kamu belajar di kelas? Apakah kamu bertanya pada dirimu sendiri jika usaha kamu sudah efektif? Apakah kamu dapat beradaptasi terhadap kondisi-kondisi yang berbeda, seperti melakukan tinjauan isi atau kesimpulan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam?

Metacognition: Fondasi di dalam Strategi Belajar

Metacognition adalah kesadaran dari pengendalian yang dilakukan dari proses kognitif seseorang. Perbandingan terhadap siswa yang berprestasi rendah dengan siswa yang berprestasi tinggi adalah pada kesadaran lebih dari cara mereka di dalam belajar dan mempelajari, dan mereka mengambil langkah lebih di dalam memperbaiki keduanya (belajar dan mempelajari). Dengan pengertian lain, metacognisi mereka lebih di dalam belajar.

Metacognition adalah mekanisme yang digunakan untuk menyesuaikan strategi terhadap suatu tujuan (C. Weinstein, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Dalam modul sebelumnya sudah disinggung bahwa metacognition merupakan strategi-strategi yang merupakan suatu rencana untuk menyelesaikan/menyempurnakan tujuan-tujuan belajar. Ketika siswa membuat catatan, contohnya, mereka menggunakan suatu strategi. Meningkatan pemahaman merupakan tujuan mereka, dan membuat catatan adalah suatu rencana yang mereka gunakan untuk mencapai belajar. Ketika siswa yang ahli (expert learners) menggunakan strategi ini, mereka memiliki beberapa pertanyaan seperti:
  • Apakah saya sudah membuat catatan yang cukup, atau apakah saya membuat catatan terlalu sedikit? 
  • Apakah saya menulis pemikiran-pemikiran penting ke dalam catatan saya, atau apakah mereka membuat detail-detail catatan yang sepele? 
  • Apakah saya hanya membaca catatan saya ketika belajar, atau apakah saya berusaha untuk menguraikannya dengan contoh-contoh? 

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan metacognition, di mana secara continue melibatkan beberapa pertanyaan mengenai efktivitas atau strategi-strategi di dalam belajar.

Banyak sekali penelitian yang terfokus pada membaca (Burning dalam Eggen & Kauchack, 2004; Santrock, 2007), penelitian lain pada strategi yang digunakan di dalam problem solving pada matematika, science, menulis, dan keterampilan belajar (Rosenshine, dalam Eggen & Kauchack, 2004; Santrock, 2007). Penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan strategi di dalam belajar tidak terlepas dari menjadikan metacognition mengenai belajar mereka memiliki dua karakteristik, yaitu: (a) latar belakang pengetahuan yang luas dan (b) daftar strategi-strategi.

Latar Belakang Pengetahuan

Kita telah melihat pentingnya latar belakang pengetahuan bagi belajar kognitif secara umum, dan tidak kalah pentingnya untuk strategi yang digunakan. Mencoba untuk mengkode informasi dan merepresentasikannya (latar belakang pengetahuan) di dalam memori tanpa pengetahuan yang kuat, secara ekstrem menjadi sulit di dalam membuat strategi dasar di dalam belajar (Alexander, Graham, & Haris dalam Egegen & Kauchack, 2004).

Di dalam belajar di mana strategi resiprokal pengajaran (suatu strategi untuk meningkatkan pemahaman) digunakan dengan pengetahuan siswa, peneliti-peneliti (Anderson & Roth) menemukan bahwa pada sisiwa yang memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup, mereka menggunakan strategi hanya untuk “memprediksi hal-hal spele, membuat detail kesimpulan, dan untuk memperjelas kata-kata besar (kata-kata penting).” Sebaliknya, siswa dengan latar belakang pengetahuan yang luas mereka lebih mampu menggunakan proses strategi belajar lebih mendalam untuk menggeneralisir pertanyaan, menciptakan imaginasi, dan menggunakan analogi berfikir (Chin).

Daftar Strategi-strategi

Para ahli pemecah masalah menggambarkan kekayaan dari pengalaman, strategi efektif yang mereka gunakan yang bervariasi yang mereka pilih. Contohnya, mereka dapat membuat catatan, menyaring, menggunakan outline, diagram umum dan gambar-gambar, memanfaatkan bold dan itlicized, dan hurup kapital di dalam contoh. Mereka dapat juga menyelidiki sendiri, seperti menganalisa maksud dari makna akhir, memecahkan masalah-masalah didefinisikan ke dalam bagian-bagian yang dapat dikendalikan. Tanpa suatu daftar dari strategi-strategi, pelajar tidak dapat menyesuaikan strategi-strategi ke dalam tujuan yang berbeda.

Strategi belajar membutuhkan waktu dan usaha. Peneliti mengindikasikan bahwa, walaupun siswa menggunakan kesadaran mereka di dalam strategi belajar, banyak siswa menggunakan latihan sederhana, pada materi yang sulit. Sayangnya, siswa jarang menerima strategi pengajaran sebelum sekolah tinggi.

Strategi-strategi Belajar

Strategi-strategi belajar adalah rencana-rencana yang spesifik untuk meningkatkan pemahaman akan isi penulisan dan presentasi guru. Dalam sisi lain, kita menguji keterampilan dasar belajar dan berbagai strategi monitoring-pemahaman.

Keterampilan Dasar Belajar

Keterampilan dasar belajar adalah sederhana, secara umum menggunakan strategi-strategi, seperti menyoroti dan membuat catatan. Kembali ke metacognition adalah kunci dari kesuksesan mereka; keefektifan tergantung pada keputusan mengenai apakah cukup penting untuk disoroti, termasuk di catat, atau digunakan di dalam mengatur ide-ide.

Membuat metacognition adalah tidak mudah, dan siswa seringkali mengalami kesulitan di dalam mengidentifikasi pentingnya informasi. Contohnya, beberapa siswa menghindari keputusan untuk menyoroti seluruh pelajaran, kenyataannya, mereka melakukan lebih sedikit membaca dan secara fisik penilaian terhadap teks. Siswa ini secara metacognitif “lamban”; mereka belajar secara pasif. Siswa lainnya lebih aktif, tetapi pemikiran mereka kurang bernilai di dalam paragraf karena mereka hanya terfokus pada kalimat pertama. Atau secara instrinsik tertarik.

Membuat catatan sama juga dengan menyoroti; keefektifannya tergantung pada keputusan siswa apakah cukup penting untuk menulis kembali. Sebagaimana penyorotan, beberapa siswa membuat catatan secara pasif---meskipun mereka mencatat secara mati-matian---dengan usaha untuk menulis kembali segala sesuatu yang guru katakan, terlebih menghindari keputusan mengenai apakah penting atau bagaimana ide-ide saling berhubungan.

Monitoring Pemahaman.

Monitoring pemahaman adalah proses di dalam mengecek untuk melihat pemahaman dari isi yang kamu baca dan dengar. Ini merupakan strategi belajar yang lebih tinggi yang membutuhkan pengembangan metacognition dengan baik. Siswa yang memiliki prestasi yang rendah dan yang lain yang tidak metacognitif jarang mengecek pemahaman mereka, sehingga mereka tidak mampu mengadaptasi perbandingan dari apa yang mereka baca atau dengar. Tiga strategi monitoring pemahman adalah kesimpulan, uraian pertanyaan, dan PQ4R.

Kesimpulan. Kesimpulan adalah proses mempersiapkan suatu gambaran ringkas dari halaman-halaman penulisan atau verbal. Siswa untuk menyimpulkan membutuhkan waktu dan latihan, tetapi siswa di atas sekolah dasar dan lebih tinggi dapat melakukan keterampilan ini. Pelatihan seringkali dengan menggunakan halaman-halaman dan membantu mereka mengidentifikasi informasi yang tidak penting, membangun gambaran umum dari daftar item-item, dan menggeralisir kalimat topik untuk paragraf-paragraf. Meskipun membutuhkan waktu, pelatihan akan membuahkan hasil berupa peningkatan pemahaman.

Uraian Pertanyaan. Uraian pertanyaan secara efektif sebagai berikut:
  • Apakah contoh lain dari pemikiran-pemikiran ini? 
  • Bagaimana topik ini sama terhadap/atau berbeda dari pelajaran sebelumnya? 
  • Bagaimana pemikiran ini berhubungan dengan pemikiran besar lainnya yang telah saya pelajari? 

Uraian pertanyaan ini menciptakan hubungan antara informasi baru dan pengetahuan di dalam long-term memory, yang akan membuat informasi baru lebih bermakna dan dapat meningkatkan belajar.

PQ4R. PQ4R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-langkah untuk memahami bacaan. Adapun langkah-langkah tersebut sebagai berikut:
  • Preview: survei seluruh teks untuk memahami bagaimana materi di susun 
  • Question: menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks 
  • Read: membaca materi, dan mencoba untuk menjawab uraian pertanyaan hasil dari bacaan kamu. 
  • Reflect; membuat dan mencoba untuk menjawab uraian pertanyaan tambahan setelah kamu selesai membaca. 
  • Recite: menyimpulkan apa yang kamu baca, dan termasuk hubungan antara bagian yang di baca dan bagian sebelumnya. Syah (2005) menjelaskan recite maksudnya menghapal setiap jawaban yang telah ditemukan 
  • Review: mengkaji ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga. 

PQ4R merupakan kombinasi dari ciri-ciri kesimpulan dan uraian pertanyaan ke dalam satu strategi, dan ini sudah memberikan kesuksesan di dalam memperbaiki penggunaan strategi belajar siswa. Sebenarnya beberapa strategi akan sukses atau tudak, tergantung pada bagaimana digunakan. Usaha akan menjadi suatu kunci. jika siswa metacognitif dan menggunakan suatu strategi secara aktif, maka hal ini akan bekerja; jika tidak, mereka tidak akan sukses.

Mengembangkan Strategi Belajar Siswa: Strategi Pengajaran

Guru dapat membantu siswa memperbaiki strategi yang digunakan dengan menggunakan scaffolding (penyangga) pengajaran yang efektif ketika mengajarkan strategi, siswa mempraktekkannya, dan menyediakan feedback melalui proses. Berikut ini prinsip-prinsip yang dapat guru bimbing di dalam usaha mereka:
  • Menggambarkan strategi dan menjelaskan kenapa menggunakannya 
  • Secara eksplisit mengajarkan strategi dengan menggunakan modeling 
  • Model metacognition dengan menggambarkan berfikir kamu sebagai hasil dari kerja kamu melalui strategi 
  • Menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk mempraktekkan strategi di dalam berbagai konteks 
  • Menyediakan feedback sebagai hasil praktek siswa

Contohnya. Usaha guru untuk membantu strategi belajar siswa-siswa. Pertama, dia menggambarkan keterampilan dan menggunakan dengan mengatakan, “satu cara untuk membaca lebih efektif adalah menyimpulkan informasi yang kita baca di dalam beberapa pernyataan-pernyataan pendek yang ditangkap dari maknanya. Ini digunakan karena membuat informasi lebih mudah untuk diingat.”

Kedua, guru kemudian menjadi model dalam hal keterampilan, meliputi metacognition, ketika dia mengatakan, “setelah saya membaca, saya bertanya pada diri saya sendiri apa yang membuat iklim garis lintang rendah apakah mereka…..Inilah hasil dari bagaimana berfikir saya”

Kemudian, membuat siswa praktek dengan membaca halaman (bagian) dan mempersiapkan kesimpulan. Dia membuat siswa untuk menunjukkan kesimpulannya, sehingga proses memberi dan menerima feedback seluruhnya jelas. Dan dia melanjutkan proses disepanjang tahun sekolah.

Catatan juga bahwa meskipun guru secara eksplisit terfokus pada kesimpulan, dia juga model sel-questioning ketika dia mengatakan, “ saya bertanya pada diri saya sendiri apa yang membuat iklim garis lintang rendah.” Membantu siswa mengkombinasikan strategi-strategi di dalam membuat strategi pengajaran tetap lebih efektif.

Daftar Pustaka
  • Eggen, P & Kauchak, D.P. 2004. Educational Psychology; Windows on Classrooms. 6-th ed. USA: Pearson Merril Prentice Hall 
  • Gage/Berliner. 1984. Educational Psychology. Third Edition. U.S.A: Houghton Mifflin Company. 
  • Golver, A. J. Roger, H. Bruning. 1990. Educational Psychology. Boston Toronto: Little Brown Company. 
  • Santrock. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group 
  • Syah, M. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda Karya 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Cara Problem Solving dan Strategi Belajar dalam Psikologi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel