Anak Berkebutuhan Khusus dan Gangguan Lainnya dalam Belajar

Anak Berkebutuhan Khusus dan Gangguan Lainnya dalam Belajar - Artikel ini Universitas Psikologi akan membahas tentang retardasi mental, ketidakmampuan Belajar, Attention deficit atau hiperactivity disorder (ADHD), gangguan perilaku dan emosi, gangguan komunikasi, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penempatan dan pelayanan, dan teaching strategis guru kelas untuk menangani anak penderita ketidakmampuan.

Melalui artikel ini dihaarapkan mampu memahami dan menjelaskan pelajar-pelajar yang luar biasa. Anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak dipandang sebagai anak yang cacat, melainkan dianggap sebagai pelajar-pelajar yang luar biasa (learners with exceptionalities), karakteristiknya serta program di dalam pembelajarannya.
Anak Berkebutuhan Khusus dan Gangguan Lainnya dalam Belajar
image source: ldatschool(dot)ca
Baca juga: Teori dan Isu-isu Psikologi Perkembangan 

Learners With Exceptionalities

Exceptional dapat digunakan untuk menggambarkan beberapa individu yang memiliki fisik, mental, atau perilaku yang menyimpang secara substansial dari aturan, baik tinggi atau rendah. Seseorang dengan karakteristik exceptional tidak selalu seorang yang handicap (penyandang cacat). Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan sebagai berikut:

Retardasi Mental (Mental Retardation)

The American Association on Mental Retardation (AAMR) memberikan definisi sebagai berikut:

Mental retardation is a disability characterized by significant limitation both in intellectual functioning and in adaptive behavior as expressed in conceptual, social, and practical adaptive skills. This ability originates before the age of 18. A complete and accurate under standing of mental retardation involves realizing that mental retardation refers to particular state of functioning that begins in childhood, has many dimensions, and is affected positively by individualized supports (AAMR Ad Hoc Commite on Terminology and Calassification, 2002).

Definisi dari AAMR menurut Turnbull et al (dalam Eggen & Kauchack, 2004) menekankan dua karakteristik: batasan di dalam fungsi intelektual dan batasan di dalam keterampilan penyesuaian diri, seperti komunikasi, perhatian diri, dan keterampilan sosial. Kedua fungsi ini dapat diperbaiki ketika pelajar dengan retardasi mental mendapatkan dukungan yang didisain sesuai dengan kebutuhan mereka.

Siswa dengan retardasai mental dimungkinkan memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
  • Kurang memahami lingkungan 
  • Kesulitan dengan ide yang abstrak 
  • Lemah di dalam keterampilan membaca dan bahasa 
  • Kurang baik di dalam perkembangan belajar dan strategi memorinya 
  • Sulit mentransfer ide ke dalam situasi baru 
  • Keterampilan motoriknya kurang berkembang 
  • Keterampilan interpersonalnya tidak matang (Beirne-Smith, Ittenbach, & Putton, dalam Eggen & Kauchack, 2004). 

Beberapa karakteristik ini mempengaruhi belajar secara langsung; efek bagi yang lainnya, seperti keterampilan interpersonal tidak matang, adalah kurang langsung tetapi juga sangat penting. Keadaan retardasi ini bukan disebabkan kecelakaan atau penyakit atau cedera. Melainkan faktor genetik dan kerusakan otak.

Tingkatan Retardasi Mental

Pendidik menggambarkan retardasi mental memiliki empat tingkatan yang berkaitan dengan dukungan yang dibutuhkan (Turnbull et al, dalaam Eggen & Kauchack):
  • Intermittent: Dukungan saat dibutuhkan 
  • Limited: Dukungan secara konsisten dibutuhkan dari waktu ke waktu 
  • Extensive: Dukungan dibutuhkan secara reguler (ex, setiap hari) 
  • Pervasive: Dukungan diberikan dengan intensitas yang tinggi, secara potensial menjadi dukungan seumur hidup. 

Program bagi Pelajar dengan Retardasi Mental

Program untuk pelajar yang memiliki retardasi mental intermitten (mild) fokusnya pada penciptaan sistem dukungan untuk menambah pengajaran. Pelajar seringkali ditempatkan di kelas reguler. Di mana guru menyesuaikan dengan kebutuhan khususnya, dan berusaha membantu anak baik secara sosial dan akademik secara tepat. Penelitian mengindikasikan bahwa pelajar ini seringkali gagal untuk menerima strategi dasar belajar ---ex, mempertahankan perhatian, menyusun mengorganisasikan materi yang baru dan belajar untuk test—yang secara konseptual merupakan perkembangan alami (Choate; Heward dalam Egegn & Kauchack, 2004).

Ketidakmampuan Belajar (Learning Disabilities)

Ketidakmampuan atau gangguan belajar (learning disabilities), kesulitan di dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan membaca, menulis, berfikir, mendengar atau kemampuan matematika (National Joint Comitte on Learning Disabilities, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Masalah di dalam konsentrasi, dan keterampilan sosial (Kauffman dalam Santrock, 2007).

Berdasarkan definisinya, pelajar yang menderita gangguan belajar: (1) punya kecerdasan normal atau di atas normal; (2) kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran atau biasanya beberapa mata pelajaran; dan (3) tidak memiliki problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu.

Menurut Boos & Vaughan (dalam Santrock, 2007) ketidakmampuan belajar sulit didiagnosis. Anak yang memiliki masalah ketidakmampuan belajar berbeda-beda. Ketidakmampuan belajar mungkin berhubungan dengan kondisi medis seperti fetal alcohol syndrom (American Psychiatric Association dalam Santrock, 2007). Kemudian permasalahan sikap emosi dan perilaku sering bercampur dalam ketidakmampuan belajar.

Pelajar yang demikian sering pula mengalami ketidakstabilan emosi, perilaku yang impulsif atau perilaku yang tidak baik lainnya. Anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan yang mengalami ketidakmampuan belajar (Glover dkk, 1999; Eggen & Kauchack, 2004; Santrock, 2007). Pada tahun 1984, sebanyak 4.4% dari semua murid laki-laki SD dan sekolah lanjutan didiagnosa mengalami ketidakmampuan belajar, dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya sebesar 1,8 % (Pusat Statistik untuk Pendidikan, 1985 dalam Glover dkk, 1999). Data ini diperjelas oleh Eggen & Kauchack (2004) bahwa rata-rata 51 % dari ketidakmampuan belajar dan sebanyak 4,5 % adalah anak usia sekolah dasar. (U.S. Departemen Pendidikan, 2002 dalam Eggen & Kauchack, 2007).

Karakteristik Pelajar-pelajar dengan Gangguan Belajar

Beberapa karakteristik masalah umum belajar atau ketidakmatangan. Tidak seperti keterlambatan perkembangan, bagaimanapun masalah diasosiasikan dengan gangguan belajar seringkali meningkat dari waktu ke waktu. Prestasi menurun, manajemen masalah meningkat, dan harga diri menurun. Prestasi dan harga diri yang menurun membuat lebih buruk yang lainnya dan hasil di dalam masalah belajar.

Identifikasi dan Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Belajar

Penggunaan Kelas sebagai Dasar Informasi di dalam Pengidentifikasian. Guru memainkan peranan penting di dalam mengidentifikasi dan bekerja dengan pelajar yang memiliki gangguan belajar (Mamlin & Harris, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Informasi diambil guru melalui tes dan guru langsung mengobservasi yang dikombinasi dengan standar skor tes sebagai sumber informasi. Seringkali, model ketidaksesuaian (discrepancy models) digunakan di dalam mendiagnosa masalah:
  • Model nampak berbeda antara 
  • Tes kemampuan di dalam intelegensi dan prestasi 
  • Skor tes intelegensi dan prestasi sekolah 
  • Beberapa tes intelegensi atau tes prestasi 

Model ini mendapat kritik bahwa ketidaksesuaian model (discrepancy models) suatu gangguan hanya setelah masalah muncul, kadang-kadang setelah beberapa tahun adanya kegagalan dan frustasi. Seharusnya dibutuhkan pengukuran awal yang mencegah terjadinya kegagalan sebelum gangguan belajar terjadi.

Penyesuaian Pengajaran. Pelajar dengan gangguan belajar membutuhkan modifikasi pengajaran dan guru yang mendukung. Karena gangguan belajar memiliki perbedaan sebab, strategi disesuaikan terhadap masing-masing kebutuhan pelajar. Satu penelitian dari mahasiswa dengan gangguan belajar mengilustrasikan latihan dari modifikasi dapat meningkatkan kesuksesan (Ruzic dalam Eggen & Kauchack, 2004). Pelajar-pelajar ini diatur sesuai dengan waktu, menggunakan pelajar sebagai sumber, dan melihat feedback pengajaran dari modifikasi strategi belajar.

Untuk mengimbangi kelemahan membaca, mereka membaca di dalam lingkungan yang bebas, dengan suara keras, dan sebelumnya dibelikan buku. Di dalam menulis, mereka menggunakan kamus, seringkali diganti dengan kata-kata yang lebih mudah jika mereka memiliki masalah di dalam pengucapan, dan bertanya kepada orang lain untuk mengoreksi. Mereka merekam dosen untuk mengimbangi rendahnya mencatat dan meminta waktu ekstra di dalam tes. Pelajar dengan gangguan belajar dapat survive, dan dapat maju dengan pesat, jika mereka menggunakan strategi yang efektif.

Membantu Pelajar dengan Gangguan Komunikasi

Tugas utama bagi guru bekerja dengan pelajar yang mengalami gangguan komunikasi meliputi identifikasi, menerima, dan melaksanakan pengajaran selama di kelas. Sebagaimaana exceptionalities, guru memegang peranan penting di dalam mengidentifikasi karena mereka di dalam posisi terbaik untuk menilai kemampuan komunikasi pelajar di dalam kelas. Modeling dan memberikan dukungan adalah krusial karena sindiran dan penolakan sosial dapat menyebabkan masalah emosional yang menetap. Ini tidak mudah bagi pelajar yang erbicara secara berbeda atau siapa yang tidak dapat berkomunikasi secara lancar. Berinteraksi dengan pelajar ini, seorang guru harus sabar di dalam menghadapi masalah. Juga, kooperative untuk mempraktekkan keterampilan bahasa di dalam lingkungan informal dan lingkungan yang sedikit mengancam.

Gangguan Penglihatan (Visual Disabilities)

Gangguan penglihatan suatu kelemahan di dalam penglihatan yang mengganggu belajar. Gangguan serius penglihatan hampir terjadi sejak lahir, dan kebanyakan anak diketahui memiliki masalah ketika akan masuk sekolah dasar. Beberapa masalah penglihatan nampak selama tahun-tahun sekolah sebagai hasil dari dorongan pertumbuhan, bagaimanapun, guru harus tetap waspada terhadap kemungkinan kerusakan pelajar yang tidak dapat diprediksi. Beberapa gejala masalah penglihatan sebagai berikut:
  • Posisi kepala janggal ketika membaca, atau cara meletakkan buku terlalu dekat atau terlalu jauh 
  • Mengedipkan mata dan seringkali menggosokkan mata 
  • Menghilang ketika informasi ada di papan tulis 
  • Secara terus menerus bertanya mengenai prosedur kelas, terutama ketika informasi di papan tulis 
  • Komplain mengenai sakit kepala, pusing, mual 
  • Mata merah, mengeras atau bengkak 
  • Kehilangan tempat di garis atau halaman dan pusing dengan hurup 
  • Menggunakan ruang yang sederhana di dalam menulis atau kesulitan di dalam menetap di garis. 

Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Penglihatan

Saran untuk bekerja dengan pelajar dengan gangguan penglihatan meliputi mereka duduk dekat dengan papan tulis dan di atas, mengungkapkan dengan kata-kata ketika menulis di papan tulis, dan memberikan duplikat handouts secara jelas. Mencetak buku-buku dan membesarkan tujuan yang dapat digunakan untuk menyesuaikan materi pengajaran. Tutoring teman sebaya yang dapat memberikan bantuan di dalam menerangkan dan menjelaskan tugas dan prosedur-prosedur. Rendahnya harga diri dan keadaan tidak berdaya di dalam belajar adalah dua kemunkinan efek yang terjadi dari gangguan penglihatan.

Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dapat menyulitkan belajar anak. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Gangguan pendengaran hasil dari rubella (cacar air German) selama dalam kehamilan, keturunan, komplikasi selama kelahiran atau kehamilan, meningitis (radang selaput), dan penyakit anak-anak lainnya. Kebanyakan 40% kasus kehilangan pendengaran, sebabnya tidak diketahui; hal ini menyebabkan pencegahan dan pertolongan lebih sulit.

Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Pendengaran

Kurangnya kecakapan di dalam bicara dan di dalam bahasa adalah masalah belajar akibat dari gangguan pendengaran. Masalah ini mempengaruhi belajar yang mengandalkan membaca, menulis, dan menulis---sumber utama dari informasi di dalam kelas. Guru harus mengingat bahwa kekurangan bahasa memiliki sedikit hubungan dengan intelligence; pelajar dapat sukses jika diberikan bantuan yang tepat.

Banyak anak yang memiliki masalah pendengaran mendapatkan pengajaran tambahan di luar kelas reguler. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori: pendekatan oral dan pendekatan manual. Pendekatan oral antara lain mengguankan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca), dan sejenisnya. Pendekatan manual adalah dengan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger spelling). Bahasa isyarat adalah sistem gerakan tangan yang melambangkan kata. Pengejaan jari adalah “mengeja” setiap kata dengan menandai setiap huruf dari satu kata. Pendekatan oral dan manual dipakai bersama untuk mengajar murid yang mengalami gangguan pendengaran (Hallan & Kauffman dalam Santrock, 2007).

Adapun adaptasi pengajaran untuk membantu pelajar dengan gangguan pendengaran meliputi:
  • Menambah presentasi yang berhubungan dengan pendengaran dengan informasi visual dan memberikan pengalaman 
  • Berbicara secara jelas dan melihat diri kamu sendiri sehingga pelajar dapat melihat wajah kamu. 
  • Meminimalisir gangguan kebisingan 
  • Seringkali mengecek pemahaman 

Hal lain yang juga membantu adalah tutoring teman sebaya dan bekerja di dalam kelompok kerjasama dengan pelajar yang memiliki gangguan pendengaran. Mengajarkan pelajar yang tidak mengalami gangguan dasar akan bahasa isyarat dan mengeja jari menyediakan dimensi tambahan di dalam pendidikan.

Indikator Gangguan Pendengaran

  • Lebih senang memiringkan kepala ke arah pembicara atau menutup tangan disamping telinga 
  • Salah faham atau tidak mengikuti aturan, dan membangun isyarat nonverbal (ex, mengerutkan dahi atau terlihat bingung) ketika diberikan pesan. 
  • Menjadi bingung atau nampak kehilangan arah suatu waktu 
  • Bertanya kepada orang untuk mengulang apa yang sudah mereka katakan 
  • Lemahnya artikulasi kata, khususnya konsonan 
  • Menyalakan recording, radio, atau televisi dengan suara yang keras 
  • Menunjukkan keengganan untuk mempraktekkan aktivitas lisan 
  • Sering sakit telinga atau komplain mengenai telinganya merasa tidak nyaman atau berdengung. 

Penempatan dan Pelayanan

Anak penderita keyidakmampuan dapat ditempatkan di berbagai setting, dan serangkaian pelayanan dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan mereka. Penempatan. Penempatan anak dengan ketidakmampuan di susun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif (Deno dalam Santrock, 2007):
  • Kelas reguler dengan dukungan pengajaran tambahan di kelas reguler 
  • Sebagian waktu dihabiskan di ruang sumber daya 
  • Penempatan full-time dalam kelas pendidikan khusus 
  • Sekolah khusus 
  • Instruksi rumah 
  • Instruksi di rumah sakit atau instansi lain 

Pelayanan. Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas reguler, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, profesional lain, atau tim interaktif. Selain itu ada hal lain yang perlu diperhatikan di dalam kesuksesan berlangsungnya pemberian pelayanan dan pendidikan, yaitu peran orang tua dan teknologi.

Dua tipe teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan anak penderita ketidakmampuan adalah teknologi pengajaran (instruksional) dan teknologi asistensi (bantuan) (Blackhurst, dalam Santrock 2007). Teaching Strategies Guru Kelas Reguler untuk Menangani Anak Penderita Ketidakmampuan:
  • Jalankan rencana pendidikan individual untuk setiap anak 
  • Dorong sekolah untuk memberikan tambahan dukungan dan training cara mengajar anak yang menderita gangguan 
  • Gunakan dukungan yang tersedia dan cari lain 
  • Pelajari dan pahami tipe-tipe anak dengan ketidakmampuan di kelas 
  • Berhati-hatilah dalam memberi label anak yang mengalami ketidakmampuan 
  • Ingat bahwa anak penderita ketidakmampuan mendapat banyak manfaat dari strategi pengajaran yang sama dengan yang diberikan pada anak tanpa ketidakmampuan. Strategi tersebut antara lain: (1) Penuh perhatian, menerima, dan sabar. (2) Memiliki eskpektasi positif terhadap pembelajaran. (3) Membantu anak mengembangkan keahlian komunikasi, sosial, dan juga keahlian akademiknya. (4) Rencanakan dan susun kelas secara efektif. (5) Bersemangat dan bantu anak agar termotivasi belajar. (6) Pantau pembelajaran anak dan beri umpan balik yang efektif. 
  • Bantu anak yang tidak menderita ketidakmampuan untuk memahami dan menerima anak yang menderita ketidakmampuan 
  • Selalu cari informasi terbaru tentang teknologi yang tersedia untuk mendidik anak yang menderita ketidakmampuan. 

Daftar Pustaka

  • Eggen, P & Kauchak, D.P. 2004. Educational Psychology; Windows on Classrooms. 6-th ed. USA: Pearson Merril Prentice Hall 
  • Golver, A. J. Roger, H. Bruning. 1999. Educational Psychology. Boston Toronto: Little Brown Company. 
  • Santrock. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Anak Berkebutuhan Khusus dan Gangguan Lainnya dalam Belajar. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Anak Berkebutuhan Khusus dan Gangguan Lainnya dalam Belajar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel