Bentuk, Metode, Kendala dan Perhatian dalam Diskusi

Bentuk, Metode, Kendala dan Perhatian dalam Diskusi - Berbagai kritik yang muncul mengenai metode pengajaran telah membuat para pendidik berpikir mengenai beragam kemungkinan dan keuntungan dari small-group teaching. Telah ditemukan sebuah pendekatan atau metode yang dapat membuat para siswa dapat saling berinteraksi secara langsung, yaitu metode diskusi (Gage & Berliner, 1998). Menurut Suryosubroto (1997), metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.

Suryosubroto (1997) juga menambahkan bahwa dalam kelompok diskusi hendaknya dipilih seorang pemimpin diskusi, yaitu siswa yang lebih memahami atau menguasai masalah yang akan didiskusikan, berwibawa dan disenangi oleh teman-temannya, berbahasa baik dan lancar serta dapat bertindak tegas, adil dan demokratis. Adapun tugas pimpinan diskusi sendiri adalah sebagai pengatur dan pengarah jalannya diskusi, pengatur lalu lintas percakapan serta sebagai penengah dan penyimpul berbagai pendapat.

Metode diskusi ini lebih efektif dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional yang diberikan oleh guru dalam hal meningkatkan pemahaman konsep dan mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah (transfer of learning). Di sisi lain, metode pengajaran konvensional yang diberikan guru lebih efektif untuk menunjang pemerolehan berbagai informasi. Hal ini dikarenakan pemerolehan informasi atau penyebaran informasi dalam metode diskusi berjalan lebih lambat.
Bentuk, Metode, Kendala dan Perhatian dalam Diskusi
image source: marketingtochina(dot)com
Baca juga: Membuat Kelas Kecil yang Nyaman
Diskusi sendiri dapat dilakukan dalam bermacam-macam bentuk (tipe) dan dengan bermacam-macam tujuan. Adapun beberapa bentuk diskusi menurut Suryosubroto (1997) adalah:

1. The social problem meeting

Para siswa berbincang untuk memecahkan permasalahan sosial di kelas atau di sekolah mereka dengan harapan setiap siswa akan merasa “terpanggil” untuk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku, misalnya dalam cara berkomunikasi dengan guru atau personel sekolah lainnya, menyikapi peraturan-peraturan di kelas atau di sekolah, mengamalkan hak-hak dan kewajiban siswa dan sebagainya.

2. The open-ended meeting

Para siswa berbincang mengenai masalah apapun yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Baik yang berhubungan dengan sekolah, rumah, atau lingkungan sekitar.

3. The educational-diagnosis meeting

Para siswa berbincang mengenai pelajaran di kelas untuk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yang telah diterimanya. Tujuannya agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik atau benar.

Para siswa terkadang menolak metode diskusi ini karena mereka menganggap bahwa guru merekalah yang lebih ahli, profesional, dan berpengalaman. Mereka cenderung menganggap siswa lainnya sama tidak mengertinya dengan mereka dan bahkan lebih bodoh dari diri mereka sendiri.

Metode dalam Diskusi

High-Consensus versus Low-Consensus Fields

Dalam high-consensus fields dimana materi berkaitan dengan ilmu pasti, misalnya matematika, teknik dan lain-lain, tujuan utama metode diskusi adalah untuk menyampaikan pengetahuan. Sedangkan pada low-consensus fields dimana materi berkaitan dengan ilmu sosial, misalnya psikologi, sejarah, ekonomi, dan sebagainya, para siswa juga membutuhkan pengetahuan tetapi mereka membutuhkan pengertian yang luas. Mereka perlu memahami kontroversi yang ada, mengembangkan, dan mempertahankan pandangan mereka mengenai kontroversi tersebut.

Komunikasi satu arah, baik melalui buku-buku atau ceramah guru, baik diterapkan pada high-consensus fields. Metode diskusi sendiri dipandang lebih sesuai untuk low-consensus fields.

Controversiality and Attitudes

Metode diskusi dapat menjadi sarana yang baik untuk mengubah sikap dan tingkah laku para siswa, karena dalam metode diskusi para siswa terlibat secara aktif dan dituntut untuk menentukan sikap dan keputusannya sendiri. hal tersebut tidak dapat ditemui dalam metode pengajaran pada umumnya, dimana komunikasi berjalan satu arah.

Kepribadian dan Tindakan Guru

Keberhasilan dari metode diskusi ini juga dipengaruhi oleh kepribadian dari guru. Seorang guru yang menuntut keteraturan atau strukur, tidak sesuai menggunakan metode diskusi, karena dalam metode diskusi fleksibilitas dan kedinamisan kelas menjadi hal yang sangat penting. Seorang guru juga harus dapat memfokuskan para siswanya pada materi yang sedang didiskusikan.

Hal ini penting untuk mencegah timbulnya ide-ide yang tidak relevan dengan materi diskusi. Seorang guru hendaknya dapat menurukan tingkat kekuasaannya di dalam kelas dengan cara memberikan kebebasan pada siswa untuk mengemukakan ide atau pendapat mereka.

Adapun tindakan yang perlu dilakukan guru sebelum mengadakan metode diskusi adalah:

1. Menentukan Topik Diskusi

Topik yang dapat digunakan adalah topik kontroversial atau non-kontroversial. Topik yang non-kontroversial adalah topik dimana terdapat kecenderungan dari siswa untuk mempunyai sikap yang sama terhadap isu tersebut. Sedangkan topik kontroversial adalah topik yang belum memiliki sebuah kebenaran atau ketepatan yang universal, dengan kata lain, topik yang masih dalam perdebatan. Topik kontroversial lebih tepat digunakan dalam metode diskusi.

Harus diperhatikan bahwa nilai dari diskusi tentang topik yang kontroversial tidak terletak pada dihasilkannya satu jawaban yang tepat, melainkan dari: motivasi para siswa meningkat. Timbul dari rasa ingin tahu dan konflik dari ide-ide sehingga memberikan kekuatan pada para siswa untuk menemukan informasi baru, mengorganisasikan pemikiran mereka, dan menyelesaikan konflik tersebut.

Para siswa belajar mempertahakan pendapat karena adanya kebutuhan untuk bertahan dari tekanan logika dan informasi orang lain. Hal ini juga membuat para siswa dapat memahami dengan baik pandangan orang lain. Pemahaman para siswa mengenai logika, informasi, dan posisi mereka sendiri akan lebih tajam. Hal ini diperoleh para siswa melalui interaksi mereka dengan orang lain.

Walaupun topik yang kontroversial cocok digunakan dalam metode diskusi, para guru seringkali menghindar dari topik ini. Diskusi mengenai aborsi, peran gender dan politik, misalnya, biasanya dihindari oleh guru. Hal ini dapat menghambat para siswa untuk mengembangkan kemampuan argumentasi, menyampaikan nilai-nilai dan berhipotesis, karena mereka hanya disuguhi masalah-masalah ringan.

2. Menetapkan Dasar Umum

Setelah menentukan topik, maka para siswa dan guru harus memiliki dasar umum agar dapat memahami topik yang telah ditentukan. Dasar umum tersebut dapat muncul dari penetapan bahan bacaan atau hal lainnya yang dapat menunjang pemerolehan informasi, pemahaman dari topik tersebut, seperti film, program televisi, museum, dan laboratorium. Guru diharapkan dapat memfokuskan para siswa pada materi khusus yang akan didiskusikan.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Metode Diskusi Berlangsung

a. Peran Guru

Menurut Suryosubroto, 1997, dalam diskusi, peran guru adalah sebagai berikut:

1. Guru sebagai ahli
Dalam diskusi yang bertujuan untuk memecahkan masalah, maka guru dapat berperan sebagai seorang ahli yang mempunyai lebih banyak informasi daripada siswanya. Di sini guru dapat memberi tahu, menjawab pertanyaan atau mengkaji segala sesuatu yang sedang didiskusikan oleh para siswa. Hal ini sangat penting bila terjadi konflik atau penyimpangan informasi. Sesuai dengan tugas utamanya, di sini guru berperan sebagai agent of instruction.

2. Guru sebagai pengawas
Agar diskusi dalam masing-masing kelompok kecil berjalan lancar, benar dan mencapai tujuan, maka guru, selain bertindak sebagai sumber informasi, juga harus bertindak sebagai pengawas dan penilai di dalam proses belajar mengajar lewat format diskusi ini. Guru juga sebaiknya membuat catatan, mengikuti jalannya diskusi, menganalisa, dan mengevaluasi diskusi—apakah relevan, sesuai dengan logika dan kenyataan atau tidak.

3. Guru sebagai penghubung kemasyarakatan
Walaupun topik sudah dibatasi, masalah yang dibahas dalam diskusi seringkali masih berhubungan dengan aspek yang luas dari kehidupan bermasyarakat. Dalam hal ini guru dapat memperjelasnya dan menunjukkan jalan-jalan pemecahannya sesuai dengan kriteria yang ada di masyarakat. Peranan guru di sini adalah sebagai socializing agent.

4. Guru sebagai pendorong (fasilitator)
Terutama bagi siswa-siswa yang belum mampu mencerna pengetahuan dan pendapat orang lain, merumuskan serta mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan baik, maka guru perlu membantu dan mendorong setiap siswa untuk menciptakan dan mengembangkan kreativitas agar diskusi dapat berjalan dengan baik. Berbicara, diam, atau memberikan komentar adalah pilihan dari seorang guru karena hal tersebut merupakan kekuasaan dari guru. Semakin sering guru berbicara, maka akan semakin sedikit kesempatan siswa untuk berpartisipasi. Hal ini akan mengurangi keuntungan yang didapat siswa dari diskusi. Oleh karena itu, akan lebih baik jika seorang guru meminimalkan partisipasinya dalam diskusi.

Partisipasi guru yang terlalu banyak dalam proses diskusi dapat mengurangi efektivitas small-group discussion, peran guru yang terlalu sedikit pun akan mengurangi manfaat diskusi. Apabila campur tangan guru pada jalannya diskusi terlalu sering, maka para siswa akan kehilangan kesempatan untuk belajar memecahkan permasalahan secara independen. Di sisi lain, jika campur tangan guru datang terlambat, maka akan muncul rasa frustrasi diantara para siswa. Terdapat beberapa saran yang dapat digunakan guru untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk ikut campur tangan dalam jalannya diskusi:
  • Apakah penyimpangan berlangsung dalam waktu yang terlalu lama? 
  • Apakah jeda antara pendapat satu dengan yang lain terlalu lama? 
  • Apakah kesalahan justru diterima? 
  • Jika kesalahan tersebut memberi dampak yang serius pada validitas dari diskusi, maka guru harus dapat memperbaikinya. 
  • Apakah kesalahan berpikir yang serius tidak terdeteksi? 
  • Kesalahan berpikir adalah hal yang sulit untuk dideteksi dan dapat merusak validitas dari diskusi. Maka dari itu, diperlukan peran guru untuk mengintervensinya. 

Jika terdapat siswa yang memberikan pertanyaan kepada gurunya mengenai topik yang sedang didiskusikan, maka kemungkinan yang muncul adalah guru tidak menjawab pertanyaan tersebut. Jika guru memberikan jawaban, maka untuk selanjutnya siswa akan selalu bertanya atau mengecek kebenaran mengenai pemikiran mereka kepada orang yang telah ahli di bidangnya, yaitu guru mereka sendiri. Hal ini akan membuat tujuan yang diinginkan, yaitu munculnya pemikiran para siswa, menjadi terhambat.

Cara yang dapat dilakukan guru saat para siswa mulai bertanya kepadanya saat diskusi berlangsung adalah merencanakan suatu teknik agar siswa dapat saling membantu satu sama lain. Untuk melihat seberapa baik siswa dapat saling berinteraksi satu sama lain, cara yang dapat digunakan adalah mengobservasi pola kontak mata mereka. Apabila mata mereka selalu mengarah pada guru setelah mereka mengemukakan pendapat atau bahkan saat mereka tidak mengatakan apapun, maka dapat dikatakan bahwa guru tersebut memiliki kontrol dalam proses kelompok meskipun guru tersebut tidak banyak berbicara.

b. Peran Siswa

Para siswa harus mendapatkan pemahaman yang eksplisit mengenai peran mereka. Dalam diskusi, para siswa harus mampu menyatakan pendapat pribadi mereka tentang suatu permasalahan, kemudian mengelaborasinya dengan arahan dari guru dan siswa lain. Komentar dari siswa sebaiknya juga dievaluasi oleh siswa lainnya dan setiap siswa harus berpartisipasi dalam mengevaluasi pendapat siswa lainnya.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Diskusi Berlangsung
Guru harus membuat catatan dan evaluasi mengenai kejadian yang tidak dapat diantisipasi yang muncul selama diskusi berlangsung. Guru juga harus mencatat hal-hal penting, definisi, masalah, dan kesalahan berpikir yang menimbulkan kesulitan selama diskusi. Memberitahukan hal tersebut pada para siswa di kesempatan diskusi berikutnya dapat membuat mereka lebih sadar mengenai proses diskusi (Gage & Berliner, 1998).

1. Intellectual Pitfalls

Intellectual pitfalls merujuk pada kesalahan-kesalahan selama diskusi yang sumbernya berhubungan dengan intelektualitas. Contohnya adalah adanya bias dalam diskusi, dimana terdapat pemberian tanda atau kata kunci dari siswa yang dapat menumbangkan objektivitas mereka. Terdapat pula kecenderungan di antara siswa untuk menyetujui pandangan kelompok meskipun sebenarnya siswa tersebut menyadari bahwa pendapat kelompok tidak tepat.

2. Social-Emotional Pitfalls

Permasalahan sosial dan emosional dapat muncul dari para siswa, orang lain, dan guru. Permasalahan ini dapat mengurangi nilai dari metode diskusi. Permasalahan yang termasuk di dalamnya adalah nonparticipation dan uneven participation.

a. Nonparticipation

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru apabila para siswa tidak memberikan respon terhadap pertanyaan yang diajukan:
  • Wait the silence outSituasi diam merupakan hal yang tidak menyenangkan dan juga memalukan bagi para siswa. Menunggu sekitar 30 detik atau lebih dapat dijadikan solusi, karena mungkin saja para siswa membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir mengenai apakah yang akan mereka katakan dapat diterima atau tidak. 
  • Ask what the silence meansGuru menanyakan apakah sikap diam mereka merupakan wujud dari rasa kebingungan atau karena mereka membutuhkan waktu untuk berpikir. 
  • Guess out loud what the silence meansGuru dapat menanyakan kepada para siswanya apakah sangat beresiko untuk menjadi orang yang pertama kali berbicara? 
  • Break the group into smaller groupsKelompok kecil dapat meningkatkan kemungkinan para siswa untuk berpartisipasi dan menurunkan tingkat kecemasan mereka untuk berbicara. 
  • "Go around the table"Mewajibkan kepada semua siswa untuk berbicara. Menanyakan ide-ide dan reaksi mereka. 

b. Uneven Participation

Hal ini dapat muncul di setiap kelompok diskusi, yaitu saat seorang siswa berbicara lebih banyak dibandingkan dengan siswa lainnya. Uneven participation tidak selalu menjadi hal yang buruk, karena setiap siswa dapat berbeda dalam hal pengetahuan, rasa ketertarikan dan lain sebagainya sehingga hal ini dapat mempengaruhi partisipasi mereka dalam diskusi. Akan tetapi jika seorang siswa selalu berpartisipasi aktif dalam berbagai topik diskusi sedangkan siswa lainnya selalu saja pasif, maka guru harus mencurigai adanya faktor emosional dan sosial yang tidak rasional yang mempengaruhi jalannya diskusi.

Status seperti pria-wanita, tua-muda, mayoritas-minoritas dapat mempengaruhi partisipasi siswa dalam berdiskusi. Anggota kelompok yang memiliki status tinggi seringkali mengontrol jalannya diskusi, setidaknya pada saat permulaan diskusi. Status dari anggota kelompok tidak hanya muncul karena kompetensi aktual mereka tetapi juga karena persepsi anggota kelompok lain mengenai kompetensi mereka. Guru dapat meningkatkan partisipasi dan pengaruh dari siswa yang memiliki status yang rendah, yaitu dengan:
  • Assign rolesDapat mengarahkan pada pengharapan yang positif mengenai kompetensi siswa yang memiliki status yang rendah dengan cara memberikan peran pada tiap siswa. 
  • Introduce a referent actorReferent actor adalah seseorang yang berasal dari luar kelompok, yang memiliki status rendah, tetapi memiliki kompetensi yang tinggi terhadap tugas. 
  • Act as a high-status evaluatorGuru dapat meningkatkan pengharapan dari kedua anggota kelompok, baik mayoritas maupun minoritas dengan cara memuji kompetensi, penampilan, dan kontribusi siswa dari kelompok yang minoritas. 
  • Create equal-status expectations for the groupMemberitahukan bahwa setiap orang harus saling mendengarkan dan juga memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara. 
  • Multiple- ability tasksGuru dapat memberikan tugas-tugas yang melibatkan berbagai kemampuan, diantaranya kemampuan menalar, kreativitas, pemecahan masalah, dan sebagainya. 

Manfaat dari Penggunaan Metode Diskusi

McCaslin dan Good (dalam Gage & Berliner, 1998) telah mengemukakan berbagai pengaruh dari diskusi dan small-group method, yaitu:
  • Dapat membuat tugas sekolah menyerupai tugas dalam kehidupan nyata yang melibatkan lebih dari satu orang. 
  • Menyebarkan pengetahuan dari mereka yang berpengetahuan lebih kepada mereka yang memiliki pengetahuan lebih sedikit. 
  • Membantu perkembangan sikap positif melalui kerjasama. 
  • Membiarkan para siswa mendapatkan model dari siswa lain. 
  • Memberikan latihan untuk para siswa untuk belajar dari orang lain. 
  • Membantu para siswa dalam berinteraksi, 
  • Membantu siswa mengembangkan pemahaman mendasar, bukan hanya memperoleh jawaban yang tepat dari suatu masalah. 
  • Memungkinkan para siswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai diri mereka sendiri dan juga orang lain. 

Menurut Suryosubroto (1997), keuntungan dari metode diskusi adalah:
  • Metode diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam proses belajar. 
  • Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing. 
  • Metode diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah. 
  • Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan kemampuan diri sendiri. 
  • Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa. 

Kendala dan Kelemahan Metode Diskusi

Adapun menurut Suryosubroto (1997), kelemahan-kelemahan metode diskusi adalah:
  • Suatu diskusi tak dapat diramalkan bagaimana hasilnya sebab tergantung kepada kepemimpinan siswa dan partisipasi anggotanya. 
  • Suatu diskusi memerlukan keterampilan- keterampilan tertentu yang belum pernah dipelajari sebelumnya. 
  • Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang menonjol. 
  • Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan. 
  • Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu. Siswa tidak boleh merasa dikejar-kejar waktu. Perasaan dibatasi waktu menimbulkan kedangkalan dalam diskusi sehingga hasilnya tidak bermanfaat. 
  • Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan buah pikiran mereka, maka biasanya sulit untuk membatasi pokok masalahnya. 
  • Dalam diskusi, siswa sering kurang berani mengemukakan pendapatnya. 
  • Jumlah siswa di dalam kelas yang terlalu besar akan mempengaruhi kesempatan setiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya.

Mengatasi Kendala dan Kelemahan Metode Diskusi

Untuk mengatasi beberapa kelemahan tersebut, Drs.Yusuf Djajasastra dalam Suryobroto (1997) mengemukakan saran mengenai usaha-usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah:
  • Siswa-siswa dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil. Kelompok kecil ini harus terdiri dari siswa yang pandai dan kurang pandai, yang pandai bicara dan kurang pandai bicara, siswa laki-laki dan siswa perempuan. Di samping itu, harus pula diperhatikan agar siswa-siswa yang sekelompok itu benar-benar dapat bekerja sama. Dalam setiap kelompok ditetapkan ketuanya. Agar tidak timbul rasa kelompok-isme, ada baiknya bila untuk setiap diskusi dengan topik atau problema baru selalu dibentuk lagi kelompok-kelompok baru dengan cara melakukan pertukaran anggota-anggota kelompok. Dengan demikian semua siswa akan pernah mengalami suasana bekerja bersama-sama dalam satu kelompok dan juga pernah mengalami bekerja sama dengan senua teman sekelasnya. 
  • Topik-topik atau problema yang akan dijadikan pokok-pokok diskusi dapat diambil dari buku-buku pelajaran siswa, dari surat-surat kabar, dari kejadian sehari-hari di sekitar sekolah, dan kegiatan masyarakat yang sedang menjadi pusat perhatian penduduk setempat. 
  • Mengusahakan penyesuaian waktu dengan berat topik yang dijadikan pokok diskusi. Membagi-bagi diskusi di dalam beberapa hari atau minggu berdasarkan pembagian topik ke dalam topik-topik yang lebih kecil lagi. Keleluasaan berdiskusi dapat pula dilakukan dengan menyelenggarakan suatu pekan diskusi dimana seluruh pekan itu dipergunakan untuk mendiskusikan problema-problema yang telah dipersiapkan sebelumnya. 
  • Menyiapkan dan melengkapi semua sumber data yang diperlukan, baik yang tersedia di sekolah maupun yang terdapat di luar sekolah. 

Metode diskusi cocok untuk guru-guru yang berjiwa demokratis. Guru membimbing dan mendidik siswanya untuk hidup dalam suatu suasana yang penuh tanggung jawab. Setiap orang yang mengemukakan pendapat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan. Menghormati pendapat orang lain, menerima pendapat yang benar dan menolak pendapat yang salah adalah suatu ciri betapa metode ini dapat digunakan untuk mendidik siswa-siswa menjadi berjiwa demokratis.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Bentuk, Metode, Kendala dan Perhatian dalam Diskusi. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Bentuk, Metode, Kendala dan Perhatian dalam Diskusi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel