Teori Kemandirian Menurut Para Ahli

Teori Kemandirian Menurut Para Ahli - Setiap manusia pasti akan berkembang dan tidak lagi menjadi ketergantungan dalam contoh anak-anak kecil ketika sudah besar akan berkembang sebagai individu yang mandiri. Kemandirian adalah suatu kepribadian yang diperlukan ketika setiap manusia tumbuh dan berkembang. Saat ini universitaspsikologi.com akan membagikan ulasan mengenai apa itu kemandirian dengan teori-teori dari para ahli di bawah ini.

Pengertian Kemandirian

Istilah “kemandirian” berasal dari kata dasar “diri” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Kemandirian berasal dari kata dasar “diri”, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari pembahasan tentang perkembangan diri itu sendiri, yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah self, karena diri itu merupakan inti dari kemandirian. Konsep yang sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian adalah autonomy (Desmita, 2017).

Menurut Monks, dkk (dalam Astuti, 2013) mengatakan bahwa  orang yang mandiri akan memperlihatkan perilaku yang eksploratif, mampu mengambil keputusan, percaya diri dan kreatif. Selain itu juga mampu bertindak kritis, tidak takut berbuat sesuatu, mempunyai kepuasan dalam melakukan aktifitasnya, mampu menerima realita serta dapat memanipulasi lingkungan, berinteraksi dengan teman sebaya, terarah pada tujuan dan mampu mengendalikan diri.

Selanjutnya kemandirian menurut Steinberg (dalam Purbasari, 2016) dapat diartikan sebagai kemampuan remaja dalam berpikir, merasakan dan membuat keputusan secara pribadi berdasarkan diri sendiri dibandingkan mengikuti apa yang orang lain percayai.
Teori Kemandirian
Baca juga: Pengertian Parent Attachment Menurut Para Ahli
Kemandirian dalam arti psikologis dan mentalis mengandung pengertian keadaan seseorang dalam kehidupannya yang  mampu memutuskan/mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemampuan demikian hanya mungkin dimiliki jika seseorang berkemampuan memikirkan dengan seksama tentang sesuatu yang dikerjakannya/diputuskannya, baik dalam segi manfaat atau keuntungannya maupun segi-segi negatif dan kerugian yang akan dialaminya menurut Basri (dalam Sa’diyah, 2017).

Menurut Chaplin (dalam Desmita, 2017), otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bias memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri. Sedangkan Seifert dan Hoffinung (dalam Desmita, 2017), mendefinisikan otonomi atau kemandirian sebagai “The ability to govern and regulate one’s own thoughts, feelings, and actions freely and responsibly while overcoming feeling of shame and doubt.”

Erikson (dalam Desmita, 2017), menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego, yaitu merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inspiratif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Kemandirian merupakan suatu sikap otonomi dimana peserta didik secara relatife bebas dari pengaruh penilaian, pendapat dan keyakinan orang lain. Dengan otonomi tersebut, peserta didik diharapkan akan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian mengandung pengertian:
  1. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri.
  2. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
  3. Memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas-tugasnya.
  4. Bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Dari definisi yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah suatu keadaan pada seseorang untuk mengontrol tindakan diri sendiri, mampu mengambil keputusan sendiri tanpa harus adanya bimbingan orangn tua atau orang dewasa lainnya dan mampu melakukan suatu hal untuk dirinya sendiri, memiliki harsat bersaing untuk maju demi kebaikkan dirinya, mempunyai inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, merasa puas dengan hasil usahanya, dan mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

Aspek-aspek Kemandirian

Steinberg (dalam Desmita, 2017), membedakan karakteristik kemandirian atas tiga bentuk, yaitu:

a. Kemandirian emosional (emotional autonomy), yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional peserta didik dengan guru atau dengan orangtuanya.

b. Kemandirian tingkah laku (behavioural autonomy), yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab.

c. Kemandirian nilai (value autonomy), yakni kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting.

Dari uraian di atas aspek-aspek kemandirian adalah kemandirian emosional, kemandirian tingkah laku dan kemandirian nilai.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Kemandirian bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Menurut Ali dan Asrori (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian adalah:

a. Gen atau keturunan orang tua

Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor keturununan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sikap kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.

b. Pola asuh orang tua

Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan” kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga, orang tua yang cenderung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.

c. Sistem pendidikan di sekolah

Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya pernghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian remaja.

d. Sistem kehidupan di masyarakat

Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlaku hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian remaja.

Dari uraian di atas faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian adalah gen atau keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem Pendidikan di sekolah dan sistem kehidupan di masyarakat.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Kemandirian Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori Kemandirian Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel