Pengertian Kemandirian dan Aspek-aspek Self Reliance Menurut Para Ahli

Pengertian Kemandirian dan Aspek-aspek Self Reliance Menurut Para Ahli - Seiring waktu manusia akan terus tumbuh tidak hanya bentuk fisiknya tapi psikologisnya pun akan ikut tumbuh. Salah satu variabel psikologis yang tumbuh ialah sebuah kemandirian atau bisa juga disebut self reliance. Maka dari itu universitaspsikologi.com pada postingan kali ini akan membahas pentingnya kemandirian bagi setiap individu. Kemandirian merupakan prinsip yang harus dimiliki seseorang untuk berkembang. Banyak sekali aktivitas-aktivitas dalam hidup manusia yang menuntuk harus adanya kemandirian. Untuk itu silahkan disimak ulasan topik kemandirian yang ada di bawah ini.

Pengertian Kemandirian dan Aspek-aspek Self Reliance Menurut Para Ahli
Self Reliance atau Kemandirian
Baca juga: Humor dalam Ilmu Psikologi

Pengertian Kemandirian

Istilah “kemandirian” berasal dari kata dasar “diri” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, kemudian membentuk satu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar “diri”, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak bisa lepas dari pembahasan tentang perkembangan diri itu sendiri, yang ada dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah self, karena diri itu merupakan inti dari kemandirian. Konsep yang sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian adalah autonomy, (Desmita, 2016).

Menurut Steinberg dan Lerner (dalam Desmita, 2016) kemandirin merupakan kemampuan individu untuk bertingkah laku secara seorang diri dan merupakan bagian dari pencapaian kemandirian pada remaja. Kemandirian remaja ditunjukkan dengan bertingkah laku sesuai keinginannya, mengambil keputusan sendiri, dan mampu mempertanggung jawabkan tingkah lakunya sendiri.

McDougal (dalam Ali dan Asrori, 2015) mengatakan bahwa kemandirian merupakan konformitas khusus, yang berarti suatu konformitas terhadap kelompok yang terinternalisasi. Lebih lanjut ditegaskan bahwa setiap individu selalu berkonformitas, dan yang membedakan konformitas antara idividu satu dengan lainnya adalah variabel kelompok rujukan yang disukainya.

Mohammad (dalam Maulani, 2013) kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.

Menurut Masrun dkk (dalam Patriana, 2007) kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atau dorongan diri sendiri untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan, serta berkeinginan, untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diriterhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari usahanya. Dengan demikian, seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang dengan lebih mantap

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian merupakan suatu keadaan pada seseorang untuk mengontrol tindakan diri sendiri, mampu mengambil keputusan sendiri tanpa bimbingan orang tua atau orang dewasa lainnya.dan mampu melakukan suatu hal untuk dirinya sendiri, memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebikan dirinya, mempunyai inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, merasa puas dengan hasil usahanya, dan mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

Aspek-aspek Kemandirian

Aspek kemandirian dari Steinberg dan Lerner (dalam Desmita, 2016) yaitu:

a. Kemandirian Emosional (Emotional Autonomy)

Kemandirian emosional, yakni aspek kemandirian yang menyatakan perubahan kedekatan hubungan emosional antar individu, seperti hubungan emosional peserta didik dengan guru atau dengan orangtuanya.

b. Kemandirian Tingkah Laku (Behavioral Autonomy)

Kemandirian tingkah laku, yakni suatu kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan tanpa tergantung pada orang lain dan melakukannya secara bertanggung jawab.

c. Kemandirian Nilai (Value Autonomy)

Kemandirian nilai, yakni kemampuan memaknai seperangkat prinsip tentang benar dan salah, tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Kemandirian bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya. Menurut Ali dan Asrori (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian adalah:

a. Gen atau keturunan orang tua

Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sikap kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.

b. Pola asuh orang tua

Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya. Orang tua yang terlalu banyak melarang atua mengeluarkan kata “jangan” kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga, orang tua yang cendrung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.

c. System pendidikan di sekolah

Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan cendrung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberi sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetisi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian remaja.

d. System kehidupan di masyarakat

System kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirin remaja.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian Kemandirian dan Aspek-aspek Self Reliance Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Ali & Asrori. 2015. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Desmita. 2016. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Patriana, P. (2007). Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Kemandirian dan Aspek-aspek Self Reliance Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel