Teori Penerimaan Diri: Pengertian, Aspek, Faktor dan Pembentukan Self Esteem


Teori Penerimaan Diri: Pengertian, Aspek, Faktor dan Pembentukan Self Esteem - Setiap manusia punya cara dalam melihat dirinya agar dirinya sendiri dapat menerima apa yang ada pada dirinya. Penerimaan diri merupakan salah satu hal yang akan dipelajari dalam dunia psikologi karena terkait dengan objek psikologi itu sendiri. Pada tulisan ini universitaspsikologi.com akan membahas seperti apa itu penerimaan diri atau bisa juga disebut dengan self esteem. Untuk dapat mendalami pembelajaran kali ini langsung saja simak tulisan berikut ini:
Teori Penerimaan Diri: Pengertian, Aspek, Faktor dan Pembentukan Self Esteem
Penerimaan Diri-Self Esteem
Baca juga: Ex. Variabel-variabel (Penelitian) Psikologi

Pengertian Self Esteem

Self esteem adalah dimensi evaluatif global dari diri yang ditandai dengan ciri tidak mengungkapkan pendapatnya terutama ketika ditanya dan melakukan rasionalisasi untuk kegagalannya, mencela diri dan merendahkan diri sendiri secaraverbal, menghindari kontak fisik, terlalu membesar-besarkan prestasi dan penampilan fisik serta merendahkan orang lain dengan hal-hal negatif, (Herter dalam Purnamasari dan Damayanti, 2011). Coopersmith (dalam Jamil, 2014) menyatakan bahwa self esteem adalah penilaian yang dibuat seseorang, dan biasanya tetap, tentang dirinya, hal itu menyatakan sikap menyetujui atau tidak menyetujui, dan menunjukkan sejauhmana orang menganggap dirinya mampu, berarti, sukses dan berharga.

Mirels dan McPeek (dalam Ghufron dan Risnawati, 2010) berpendapat bahwa self esteem (harga diri) sebenarnya memiliki dua pengertian yaitu pengertian yang berhubungan dengan self esteem (harga diri) akademik dan non akademik. Contoh self esteem (harga diri) akademik adalah jika seseorang mempunyai self esteem yang tinggi karena kesuksesanya di bangku sekolah, tetapi pada saat yang sama ia tidak merasa berharga karena penampilan fisiknya kurang meyakinkan. Self esteem non akademik adalah jika seseorang mungkin memiliki self esteem (harga diri) yang tinggi karena cakep dan sempurna  dalam salah satu cabang olahraga. Tetapi, pada saat yang sama merasa kurang berharga karena kegagalannya di bidang pendidikan khususnya berkaitan dengan kecakapan verbal.

Self esteem (harga diri) suatu keyakinan nilai diri sendiri berdasarkan evaluasi diri secara keseluruhan. Perasaan – perasaan self esteem, pada kenyataanya terbentuk oleh keadaan kita dan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Self esteem diukur pernyataan positif maupun negatif. Pernyataan positif pada survey self esteem adalah “saya merasa bahwa saya adalah seseorang yang sangat berarti, seperti orang lainya.”sedangkan pernyataan -pernyataan yang negatif adalah”saya merasa bahwa saya tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan.”orang yang sepakat dengan pernyataan positif dan tidak sepakat dengan pernyataan negatif memiliki self esteem yang tinggi akan melihat dirinya berharga, mampu dan dapat diterima. Orang yang dengan self esteem rendah tidak merasa baik dengan dirinya, (Kreitner dan Kinicki dalam Engko, 2008). Lerner dan Spanier (dalam Ghufron dan Risnawita, 2010) berpendapat bahwa self esteem adalah tingkat penilain yang positif atau negatif yang dihubungkan dengan konsep diri seseorang. Self esteem  merupakan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri secara positif dan juga sebaliknya dapat menghargai secara negatif.

Berdasarkan defenisi yang diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa harga diri (self esteem) merupakan bentuk evaluasi dan kepercayaan seseorang terhadap dirinya yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, penerimaan, dan perlakuan orang lain yang diterima individu.

Aspek Self Esteem

Aspek–aspek harga diri (self esteem) yang dikemukakan oleh Coopersmith (dalam Jamil, 2014) beberapa aspek self esteem diantaranya:

Penerimaan diri

Yaitu bagaimana individu menerima dirinya tidak hanya baik kelebihan  maupun kekurangan pada dirinya. Memahami diri ditandai dengan perasaan tulus, nyata, dan jujur menilai dirinya. Kemampuan seseorang untuk dapat memahami dirinya tergantung pada kapasitas intelektual dan kesempatan menemukan dirinya.

Kepercayaan

Yaitu bagaimana individu tersebut akan kemampuan yang dimiliki oleh dirinya sehingga dia akan menghargai dirinya secara baik dan penilaian terhadap dirinya pun akan positif. Selanjutnya individu yang percaya diri tidak pemalu, kreatif dan aktif menyelasaikan masalah, mampu membangun pribadi serta tanggung jawab terhadap keputusan dan perbuatan. Sebaliknya  orang yang tidak percaya diri memiliki rasa tidak aman dan tidak bebas bertindak, cenderung ragu – ragu dan pemalu jika tampil dihadapan orang banyak.

Hubungan interpesonal

Yaitu hubungan antara individu dengan orang lain yang merupakan pertukaran informasi diantara dua orang langsung secara timbal balik. Secara luas hubungan interpersonal  diartikan interaksi antara mengandalkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaianya tidak pasti pada situasi yang penih resiko.

Kemampuan menghadapi lingkungan

Yaitu sejauh mana individu mampu beraksi secara harmonis dengan lingkungan sosialnya. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi individu untuk bersosialisasi. Kepuasan psikis misalnya kasih sayang yang diperoleh individu dalam keluarga sangat menentukan individu akan bereaksi terhadap lingkunganya.

Rasa  harga diri kita tidak hanya kelihatan sebagai keinginan untuk berharga, melainkan juga untuk kelihatan berharga (dalam pandangan orang lain). Seseorang yang gila hormat misalnya, ia bertindak karena dorongan penghargaan dari orang lain. Terpuasnya kebutuhan akan harga diri pada individu dapat menghasilkan rasa aman dan sikap percaya diri.

Faktor yang mempengaruhi self esteem
Menurut Coopersmith (dalam Hapsari, 2010) ada beberapa faktor yang mempengaruhi penghargaan seseorang terhadap dirinya sendiri, diantaranya:
  • Penerimaan dan penghargaan terhadap dirinya
  • Kepemimpinan
  • Keluarga dan orang tua
  • Asertivitas – kecemasan

Pembentukan Self Esteem

Menurut Coopersmith (dalam Ghufron dan Risnawita, 2010) bahwa pembentukan harga diri dipengaruhi oleh beberapa faktor di bawah ini:

Keberartian individu

Keberartian diri menyangkut seberapa beasar individu percaya nahwa dirinya mampu, berarti, dan berharga menurut standar dan nilai pribadi. Penghargaan inilah yang dimaksud dengan keberartian diri.

Keberhasilan seseorang

Keberhasilan yang berpengaruh terhadap pembentukan self esteem adalah keberhasilan yang berhubungan dengan kekuatan atau kemampuan individu dalam mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri maupun orang lain.

Kekuatan individu

Kekuatan individu terhadap aturan – aturan, norma, dan ketentuan – ketentuan yang ada dalam masyarakat. Semakin taat terhadap hal-hal yang sudah ditetapkan dalam masyarakat, maka semakin besar kemampuan individu untuk dapat dianggap sebagai panutan masyarakat.

Performansi individu yang sesuai dalam prestasi yang diharapkan

Apabila individu mengalami kegagalan, maka self esteem (harga diri) individu akan menjadi rendah. Sebaliknya, apabila performansi seseorang sesuai dengan tuntutan dan harapan, maka akan mendorong pembentukan self esteem yang tinggi.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Penerimaan Diri: Pengertian, Aspek, Faktor dan Pembentukan Self Esteem. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori Penerimaan Diri: Pengertian, Aspek, Faktor dan Pembentukan Self Esteem"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel