Pandangan Para Ahli Psikologi Tentang Ego

Pandangan Para Ahli Psikologi Tentang Ego - Freud mulai memperhatikan bahwa tidak semua fenomena bawah sadar dapat dikaitkan dengan id, tampak seolah-olah ego memiliki aspek sadar juga. Hal ini menimbulkan masalah yang signifikan untuk teori topografi, yang ia diselesaikan dalam monografi The Ego dan Id (1923).

Dalam apa yang kemudian disebut teori struktural, ego itu sekarang menjadi komponen formal sistem tiga-cara yang juga termasuk id dan superego. Ego masih diselenggarakan di sekitar kapasitas persepsi sadar, namun sekarang memiliki fitur sadar bertanggung jawab atas represi dan operasi defensif lainnya. Ego Freud pada tahap ini relatif pasif dan lemah,. Ia menggambarkannya sebagai pembalap tak berdaya di atas kuda id, lebih atau kurang wajib untuk pergi ke mana id ingin pergi.
Pandangan Para Ahli Psikologi Tentang Ego
Ilustrasi Sigmund Freud
Baca juga: Kriteria Teori Psikologi
Dalam Freud 1926 monografi, Inhibitions, Gejala, dan Kecemasan, ia merevisi teorinya tentang kecemasan serta digambarkan ego lebih kuat. Freud berpendapat bahwa insting drive (id), moral dan nilai penilaian (superego), dan persyaratan realitas eksternal semua membuat tuntutan pada individu. Hal tersebut memberikan tekanan yang saling bertentangan dan menciptakan kompromi terbaik. Alih-alih menjadi pasif dan reaktif terhadap id, ego menjadi penyeimbang tangguh, bertanggung jawab untuk mengatur impuls id, serta mengintegrasikan fungsi individu menjadi satu kesatuan yang koheren.

Modifikasi yang dilakukan oleh Freud di Inhibitions, Gejala, dan Kecemasan membentuk dasar psikologi psikoanalisis tertarik pada sifat dan fungsi ego. Ini menandai transisi dari psikoanalisis dari yang terutama seorang psikologi id, difokuskan pada perubahan-perubahan drive libidinal dan agresif sebagai penentu berfungsi normal maupun psikopatologis, dengan jangka waktu di mana ego itu diberikan sama pentingnya dan dianggap sebagai perdana pembentuk dan modulator perilaku.

Perkembangan yang paling mencolok dalam teori psikoanalitik sejak kematian freud ialah munculnya teori mengenai ego yang biasa disebut psikologi ego. Meskipun freud menganggap ego sebagai eksekutif dari keseluruhan kepribadian, sekurang-kurangnya pada orang orang yang sehat, namun ia tidak pernah memberinya suatu posisi otonom; ego tetap mengabdi pada kemauan-kemauan id. Freud berpendapat bahwa bagian tertua (id) apparatus mental ini tetap merupakan yang terpenting sepanjang hidup. Id dan insting-instingnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan sang organisme individual.

Dasar psikologi ego berputar di sekitar titik bahwa ego yang sehat adalah independen terhadap perbedaan mental dan sudah termasuk fungsi-fungsi ego otonom seperti realitas-pengujian dan memori, itu harus berfungsi tanpa gangguan dari benturan emosional.

Psikologi Ego juga bertujuan untuk meningkatkan lingkaran konflik-bebas dari fungsi ego. Ini akan membawa sebuah adaptasi yang lebih baik dan juga merupakan peraturan yang efektif lingkungan dan ego.

Para Tokoh Ahli Psikologi Ego

Anna Freud (Ego Sebagai Partner)

Anna Freud (3 Desember 1895 - 9 Oktober 1982) adalah anak keenam dan terakhir dari Sigmund Freud dan Martha. Lahir di Wina, ia mengikuti jalan ayahnya dan memberikan kontribusi untuk bidang yang baru lahir dari psikoanalisis. Di samping Melanie Klein, dia mungkin dianggap sebagai pendiri psikologi anak psikoanalitik. Dibandingkan dengan ayahnya, pekerjaannya menekankan pentingnya ego dan kemampuannya untuk dilatih sosial. Karyanya memberikan jembatan antara teori struktural Freud dan psikologi ego.

Anna Freud pendekatannya pada pemahaman perkembangan anak ego - focus ego, mekanisme pertahanan diri, Lebih tertarik dalam dinamika jiwa daripada di struktur, dan terutama terpesona oleh tempat ego dalam semua ini. Sehingga ia memusatkan perhatiannya pada sadar, operasi defensif ego dan memperkenalkan banyak pertimbangan teoritis dan klinis yang penting.

Diantara kontribusi penting dari Anna Freud pada psikologi ego adalah usahanya yang mengintegrasikan penemuan baru dan teori dalam psikologi anak pada terapi psikoanalisis anak. Dia mempelajari anak-anak sekolah perawat dan juga anak-anak yang sedang dalam terapi psikoanalisis pada Klinik Hamstead miliknya. Tulisan-tulisan Anna Freud memberikan pengaruh yang kuat pada terapi psikoanalisis anak, pada pendidikan anak, dan pada teknik memandirikan anak (child rearing). Dua kontribusi penting pada teori kepribadian Anna Freud: pendekatannya pada pemahaman perkembangan anak dan perluasannya dari mekanisme pertahanan diri.

Anna Freud yakin bahwa perkembangan anak akan menjadi bahan pertimbangan dalam konteks yang lebih luas dan bahwa penyelidikannya tidak terbatas pada gejala sebagaimana aspek seksual dan perilaku agresif. Anna Freud telah memberikan kontribusi pada deskripsi mekanisme pertahanan diri yang dikembangkan Sigmund Freud sebagai konseptor aslinya. Berbeda dengan Sigmund Freud, Anna Freud (1946) menyusun 10 mekanisme pertahanan diri: regresi, represi, formasi reaksi, isolasi, undoing/ kehancuran, proyeksi, introyeksi, turning against the self (melawan diri sendiri), reversal (pemutarbalikan fakta), dan sublimasi atau pengalihan (displacement). Anna Freud juga telah memberikan kontribusi yang signifikan pada teori tentang bagaimana perkembangan pertahanan diri itu

Anna Freud mulai mengadakan perubahan dalam usahanya melakukan psikoanalisis kepada anak. Secara bertahap dia mengubah dari ego, dari ego sebagai joki yang takberdaya dan id sebagai kudanya sebagaimana dikemukakan oleh Freud, menjadi joki intelektual yang mampu memilih jalan terbaik untuk dilawati. Teorinya dapat diringkas dalam tiga konsep pokok, sebagai berikut:
Terapi Gabungan: Kekaguman dan kepercayaanTeknik psikoanalisis seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, dan analisis transferensi tidak dapat dikenakan begitusaja kepada anak-anak.

Melampaui Konflik Struktural: bahaya perkambangan, Kelenturan anak dan perkembangan menuju keasakan yang berkelanjutan, memaksa anak menfokuskan diri bukan pada siptom neurotik yang tampak sekarang, tetapi lebh kepada tujuan agar berfungsi sehat pada masa yang akan datang. Menurutnya, kristalisasi sindron neurotik hanya bagian kecil dari masalah anak-anak.
Asesmen metapsikologi: Anna Freud memakai profil metapsikologi, semacam penuntun yang mengorganisasi informasi dalam kategirisasi yang komperhensif

Ego

Konsep Ego-plasticity dalam development vulnerability : ego bersifat focus masa depan (tujuan untuk membuat anak sehat), bukan membahas gejala-gejala yang tampak pada saat ini. Berbeda dengan konsep freud yang menekankan membebaskan pasien dari cengkeraman ketidak berdayaan pengalaman masa lalu.

Anna Freud telah memberikan kontribusi pada deskripsi mekanisme pertahanan diri yang dikembangkan Sigmund Freud sebagai konseptor aslinya. Berbeda dengan Sigmund Freud, Anna Freud (1946) menyusun 10 mekanisme pertahanan diri: regresi, represi, formasi reaksi, isolasi, undoing/ kehancuran, proyeksi, introyeksi, turning against the self (melawan diri sendiri), reversal (pemutarbalikan fakta), dan sublimasi atau pengalihan (displacement). Anna Freud juga telah memberikan kontribusi yang signifikan pada teori tentang bagaimana perkembangan pertahanan diri itu. Secara bertahap, anna merubah teori ego freud (yang awalnya sejajar joki dan id adalah kudanya) menjadi joki yang intelektual yang mampu memilih jalan terbaik untuk dilewati. Dan freud hanya memiliki tujuh defence mechanism yakni identifikasi, displacement, represi, proyeksi, reaksi formasi, fiksasi dan regresi, rasionalisasi.

Menurut anna freud, jarang ada anak yang memakai hanya satu defence mechanism untuk melindungi diri dari kecemasan. Umumnya setiap anak memakai beberapa defence mechanism, baik secara bersama-sama atau secara bergantian sesuai dengan bentuk ancaman.

Mekanisme pertahanan yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan yang timbul dari tiga skenario yang berbeda:
  • Danger super ego dissatisfaction - moral anxiety (neurotic dewasa) 
  • Danger the outside world - reality enxiety (belum menyusun super ego) 
  • Danger the strength of unconscious impulses - neurotic anxiety (pengalaman masa lalu- otoritas orang tua). 

Konsep biologis "id" impuls berasal dari model struktural Sigmund Freud. Impuls id didasarkan pada "prinsip kesenangan": kepuasan instan dari keinginan dan kebutuhannya sendiri. Freud percaya bahwa id merupakan dorongan naluriah dalam diri kita sendiri, yaitu agresi, dan seksual. Dorongan seks adalah upaya kami untuk hidup, berkembang, dan tumbuh. Agresi drive kita drive untuk keamanan dan perlindungan dari kehidupan kita. Menurut Freud, kedua drive impulsif adalah apa yang memotivasi tindakan kita.

Dalam ego ada dua proses. Pertama, ada proses primer sadar di mana pikiran tidak terorganisir dalam cara yang koheren, perasaan bisa bergeser, kontradiksi tidak bertentangan atau tidak dirasakan seperti itu, dan kondensasi muncul. Tidak ada logika. Bertentangan dengan ini, ada proses sekunder sadar, di mana batas-batas yang kuat ditetapkan, dan di mana pikiran harus diorganisir dengan cara yang koheren. Kognisi umumnya muncul di sini.

Bagi individu untuk berfungsi dalam masyarakat, impuls dari id tidak dapat difokuskan pada kepuasan, mereka harus menghormati realitas dunia dan superego. Superego mewakili belajar (dalam proses tumbuh) dan diinternalisasi seperangkat nilai-nilai dan etika, yang memberikan individu rasa apa yang benar dan apa yang salah untuk berpikir, merasakan, dan melakukan. Jadi, misalnya, ketika impuls id (misalnya keinginan untuk berhubungan seks dengan orang asing) konflik dengan superego (misalnya kepercayaan dalam konvensi sosial dari tidak berhubungan seks dengan orang yang tidak dikenal), maka perasaan cemas muncul ke permukaan, sering disertai dengan perasaan bersalah, malu, dan rasa malu. Ketika kecemasan menjadi terlalu besar itu maka tempat ego untuk menggunakan mekanisme pertahanan untuk melindungi individu. 

Menurutnya, ego bereaksi (bahaya) ketika munculnya id memakai dua cara:
  • Membentengi impuls sehingga tidak dapat muncul menjadi tingkah laku sadar. 
  • Membelokkan ilmpus itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau dirubah.
Kesamaan defence mechanism dengan freud:
  • Mekanisme pertahanan beroperasi pada tingkat alam bawah sadar. 
  • Mekanisme pertahanan selalu mendistorsi kenyataan.Mekanisme pertahanan mengubah persepsi nyata seseorang, sehingga kecemasan menjadi kurang mengancam. 

Pendekatan pada pemahaman perkembangan anak

Perhatian khusus diberikan di dalamnya untuk masa kanak-kanak kemudian dan perkembangan remaja - menekankan bagaimana' meningkat kepentingan intelektual, ilmiah, dan filosofis periode ini merupakan upaya menguasai drive . Anak lebih tergantung dan lebih mudah dipengaruhi oleh realitas eksternal dibandingkan dengan orang dewasa. Gangguan neurotic orang dewasa umumnya bersifat internal dan bersumber pada masa lalu atau konflik yang belum terselesaikan, sedangkan, pada anak bias disebabkan oleh peristiwa yang baru saja terjadi.

Anna Freud yakin bahwa perkembangan anak akan menjadi bahan pertimbangan dalam konteks yang lebih luas dan bahwa penyelidikannya tidak terbatas pada gejala sebagaimana aspek seksual dan perilaku agresif. Anna Freud membentuk kelompok terkemuka analis perkembangan anak (yang termasuk Erik Erikson, Edith Jacobson dan Margaret Mahler) yang melihat bahwa gejala anak-anak yang akhirnya analog dengan gangguan kepribadian antara orang dewasa dan dengan demikian sering berhubungan untuk tahap perkembangan.

Dalam bukunya, Patologi in Childhood (1965) = penggunaan garis perkembangan mencatat pertumbuhan normal teoritis "dari ketergantungan emosional dan kemandirian"Secara khusus, kepercayaan Anna Freud bahwa 'Dalam analisis anak-anak, transferensi memainkan peran yang berbeda dan analis tidak hanya "merupakan ibu" tapi masih merupakan ibu kedua asli dalam kehidupan anak menjadi sesuatu sebuah ortodoksi atas sebagian besar dunia psikoanalitik

Anna freud mengemukakan enam garis perkembangan, dimana dimulai dari dominasi id menuju realitas ego:

a). Dari ketergantungan menjadi percaya diri:

  • Ketergantungan biolologis kepada ibu 
  • Tahap objek tetap, gambaran ibu tetap ada, walaupun dia tidak hadir. 
  • Pre-odipus, tahap memeluk, ditandai dengan mendominasi objek yang dicintai. 
  • Fase Oedipus falis, ditandai dengan drive memiliki orang tua lain jenis. 
  • Fase laten dengan menurunnya drive, lebih kepada teman, kelompok, dan figure otoritas. 
  • Fase pra-remaja, kembalinya kebutuhan hubungan yang memuaskan dengan objek yang dicintai. 
  • Fase remaja, berjuang untuk mandiri, memutuskan cinta dengan orang tua, kebutuhan kepuasan seksual. 

b). Dari mengisap, menjadi makanan keras:

  • Minum susu secara teratur sesuai jadwal atau kalau membutuhkan. 
  • Disapi dari botol/ susu ibu, mengalami kesulitan makan makanan baru. 
  • Peralihan dari disuapi menjadi makan sendiri, makan masih identik dengan ibu. 
  • Makan sendiri, berbeda pendapat dengan ibu mengenai banyaknya makanan. 
  • Seksual infantile, membentuk sikap terhadap makanan; fantasi takut gemuk. 
  • Senang makan, memiliki kebiasaan makan yang ditentukan sendiri. 

c). Dari mengompol, menjadi dapat mengontrol urinasi/defekasi:

  • Bebas membuang kotoran tubuh. 
  • Fase anal, menolak control orang lain dalam hal pembuangan kotoran (toilet training). 
  • Identifikasi dengan orang tua, mengontrol sendiri pembuangan kotoran. 

d). Dari yang tidak bertanggung jawab, menjadi bertanggung jawab:

  • Perubahan agresi, dari yang hanya peduli kepada diri sendiri, menjadi lebih peduli kepada dunia luar. 
  • Ego semakin memahami prinsip sebab akibat, meredam keinginan yang berbahaya, mengenali bahay yang eksternal seperti api, ketinggian, dll. 
  • Menerima aturan kesehatan, menolak makanan yang tidak sehat, kebersihan tubuh, melatih kebugaran tubuh. 

e). Dari egosentrik menjadi kerjasama

  • Mementingkan diri sendiri. 
  • Mainan diperlakukan kasar tanpa tanggung jawab. 
  • Anak kecil didekatnya, dianggap sebagai teman. 
  • Teman dipandang sebagai partner sederajat, dibutuhkannya sahabat sejati. 

f). Dari tubuh menjadi mainan, dan dari mainan menjadi bekerja:

  • Permaianan bayi adalah perasaan tubuh, kepekaan jari, kulit, dan mulut. 
  • Sensasi tubuh ibu pindah ke objek yang lebih lembut seperti boneka. 
  • Memeluk objek yang lembut, menyenangi mainan yang lembut. 
  • Puas menyelesaikan suatu kegiatan, dan puas mencapai prestasi.Permainan sekolah untuk bekerja melalui hobi, lamunan, permainan, dan olah raga. Anak dapat menahan impuls dirinya. 

Heinz Hartmann

Menurut Heinz Hartmann mengemukakan ego memiliki energy dan motif dalam dirinya sendiri, ia dikenal sebagai bapak psychology.Psikologi ego hartmann mencakup perkembangan prinsip kenyataan (reality principle) dalam masa kanak-kanak, fungsi ego yang integrative, konsep-otonomi ego, proses-proses tambahan pada ego berupa mempersepsikan, mengingat, berfikir, dan bertindak, serta pertahanan-pertahanan ego.

Ego tidak muncul sebagai bagian dari id yang bersifat bawaan, tetapi masing-masing system bersumber pada predisposisi-predisposisi tertentu yang bersifat alami dan masing-masing memiliki arah perkembangannya sendiri yang mandiri.

Ego tidak hanya dimotivasi oleh tujuan instingtif (seksual dan agresif;konsep freud), tetapilebih responsive pada realitas atau dunia luar dan difungsikan secara independen dari id.

Ada proses-proses tertentu dari ego tidak bisa bertentangan satu sama lain sehingga individu harus memutuskan manakah dari diantara beberapa cara yang terbaik untuk memecahkan masalah atau mengadakan adaptasi. Ego beroperasi sering dalam suasana “bebas konflik” yang mengikuti setiap proses sebagai kegiatan merasa, mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah dalam penyesuaian dirinya pada situasi atau lainnya.

Pertahanan-pertahan ego tidak harus bersiat negative atau patologis. Ego dapat melayani tujuan sehat dalam pembentukan kepribadian, yakni pilihan untuk mencari suatu pendidikan membaktikan diri pada seni atau kemanusiaan, bukan mengacu pada defensive dari sublimasi yang dikemukakan oleh freud.

Menurut hartmann, realitas luar juga menjadi factor penentu dalam fungsi ego. Ego bersifat otonom (ego memiliki energy dan motif-motif dalam dirinya sendiri) dan mencari aktifitas untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitarnya. Ego juga bersifat adaptif, yaitu melakukan adaptasi yang efektif terhadap dunia, memiliki konsep kognitif, berupa mempersepsikan, mengingat dan berpikir.

1. Fungsi ego di ranah bebas konflik (conflict free sphere)

Menurut Hartmann, istilah ranah bebas konflik diadaptasi dari psikoanalisis untuk merancang kegiatan ego yang terjadi diluar ranah konflik mental. Menurutnya, fungsi ego tergantung kepada tujuan yang akan diselesaikan - ada tujuan yang menyelesaika konflik ada tujuan yang tidak berlatar belakang konflik.

2. Otonomi Primer dan Otonomi Sekunder Ego

Adaptasi ada dua jenis otonomi ego: otonomi primer mengacu ke sumber biologokal, kemasaka fungsi presepsi, belajar, ingatan dan geraka membuat ego mampu berfungsi otonom. Otonomi sekunder mirip dengan otonomi fungsional dari Allport. Antaralain tampak dari konsep Hartmann bahwa ego dapat menetralisir dorongan sek dan agresi untuk berfungsi yang bukan mendapat kenukmatan dan merusak, untuk mengejar selain peredaran dorongan. Adaptasi merupakan hasil dari otonomi ego primar dan sekunder, yakni, hasil dari usaha ego untuk mempertahankan keseimbangan di dalam kepribadiannya, dan keseimbangan antara dirinya dengan lingkungan.

3. Fungsi Ego dan Prinsip Realita

Ego relatif independen dari id, sejak awal dan perkembanganya, beroperasi untuk membantu diri bertahan, bahkan ketika hal itu menyakitkan dan menunda kepuasanya. Ego memekai prinsip realita dalam arti yang luas yakni; kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan aksi pada masa yang akan datang, yang tujuan utamanya terus mene rus menyesuaika diri dengan lingkungan yang diharapkan, disamping mungkin memberi kepuasan id.

Jenis-jenis otonomi ego:

  • Otonomi primer yaitu mengacu ke sumber biologis, kematangan fungsi persepsi, belajar, mengingat, dan gerakan membuat ego mampu berfungsi otonom. Fungsi-fungsi ini berasal dari keturunan dan berperan sebagai adaptasi dengan lingkungan. 
  • Otonomi sekunder yaitu merupakan kemampuan ego untuk mengubah fungsi-fungsi yang dikembangkan dalam konflik dengan id menjadi sarana yang juga membantu adaptasi yang sehat dengan kehidupan. 

Menurut Hartmann, ada 12 fungsi ego yang harus diperhatikan agar fungsi social dan kognitif dapat berjalan dengan baik, yakni:
  • Mengatur gerakan atau spontanitas. 
  • Mengorganisir persepsi di dalam dan diluar realita. 
  • Membuat batas yang melindungi dari stimulasi internal dan eksternal yang berlebihan. 
  • Uji realita 
  • Berpikir dan inteligensi 
  • Menerjemahkan pikiran menjadi perbuatan 
  • Impulse control: kemampuan untuk mengelola agresivitas dan dorongan libido untuk tidak segera dilepaskan melalui perilaku. Menghambat atau menunda pengurangan ketegangan 
  • Defensive functioning: pertahanan ketidaksadaran mencoba melindungi individu dari beberapa identitas kuat-perasaan yang mengancam. Mengenali bahaya, member tanda kecemasan dan pertahanan. 
  • Judgment: kapasitas untuk menilai. 
  • Persepsi waktu 
  • Pembentukan karakter. 
  • Kemampuan sintetik: synthesys adalah kapasitas ego untuk menyusun dan menyatukan fungsi-fungsi yang lainnya dalam kepribadian. Memungkinkan individu dapat berpikir, merasakan dan bertindak dalam kebiasaan yang melekat. 

Robert W. White

Kebutuhan Ego Untuk Kompetensi

Robert. W. White awalnya seorang sejarawan (ia menerima gelar master dalam sejarah Amerika di Harvard pada tahun 1926), Pada tahun 1937, juga di Harvard, ia menerima gelar Ph.D. dalam psikologi.

White berpusat pada penelitiannya mengenai kepribadian orang normal maupun abnormal. Pada tahun 1948, ia menerbitkan "The Abnormal Psychology," buku teks standar pada subjek selama beberapa dekade. Dalam "Lives in Progress: Sebuah Studi Pertumbuhan Alam Kepribadian" (1952), White menjelaskan secara rinci kehidupan tiga orang, melihat cara biologi, psikologi, dan budaya telah membentuk kepribadian mereka.

White adalah direktur Klinik Psikologi di Harvard 1946-1950, dan ketua Departemen Hubungan Sosial 1957-1962.Setelah menerima gelar sejarah dari Harvard, White mengajarkan sejarah dan pemerintahan di University of Maine selama beberapa tahun sebelum memutuskan untuk belajar psikologi. Kembali di Harvard ia belajar di bawah Henry A. Murray, dengan menerbitkan "Explorations in Personality" pada tahun 1938.menolak gagasan bahwa satu-satunya motivasi berperilaku adalah dorongan untuk menurunkan dan pencapaian kepuasan biologis. Menurut White (1959) otot dan otak, mata, dan organ sensori lainnya haruslah diaktifkan untuk dapat tumbuh dan sehat, dengan demikian kehidupan manusia mencari stimulus; mereka tidak pasif bahkan berjuang keras untuk bisa mengurangi dorongan-dorongan.

Ketika ada usaha-usaha berhasil, individu akan merasa kompeten. Kompetensi merupakan salah satu konsep yang penting dalam teori White (1959) adalah suatu kecakapan (ability) dari individu untuk melakukan perjanjian dengan lingkungan, baik yang hidup maupun yang tidak, dengan cara yang sukses, membantu individu untuk tumbuh, matang dan survive dalam hidup.

1. Tema Kopetensi Dakam Tahap Psikoseksual

Teori white merupakan rekonseptualisasi dari tahap-tahap perkembangan pesikoseksual, memekai tema belajar tuntas. Pada setiap fasr perkembangan psikososial Freud, ada elemen penting yang kut berkembang. Elemen itu harus dipelajari nemun terkait dengan kepuasan instingtif.

2. Effectance Motivation

Konsep pokok dari white adalah effectance motifation. Manusia mampunyai dorongan instingtif untuk belajar, memahami lingkungan, kompeten mempengaruhi lingkungan untuk kepentingan kesejahteraas dirinya. Fenomena motif belajar dapat dilihat pada aktivitas uji realitas, pemisahan diri dan non diri serta penyimpangan perkembangan ego.

3. Uji Realita: Kopetensi Melalui Kegita

Menurut White, kemampuan mengantisipasi dan menunda keruasan itu merupakan hasil dari aktivitas bayi dilingkunganya.

4. Memisahkan Diri Dengan Non Diri

Salah satu kemampuan yang dikembangkan ego sejak awal perkembangan adalah memisahkan mana yang bagian dari diri dan mana yang bukaan diri.

5. Penyimpangan Perkembangan Ego

Konsep asli dari teori Freud menyatakan bahwa patologi adalah kegagalan ego berkembang normal. Mengikuti konsep ini banyak akhli psikoanalisis yang meneliti apa yang dimaksud dengan kegagalan ego, apa yang menyebabkan ego gagal mengembangkan tanggungjawab sosial secara normal, dan apa yang menyebabkan uji realitasnya tidak berkurang. White dengan kopetensi dengan motivasi efektanya, mengubah fokus perhatian, dari apa yang menyebabkan kapasitas ego gagal menangani energi id, menjadi apa yang salah dari perkembangan perasaan efikasinya.

Kontribusi lain:

Motif dan dorongan-dorongan tidak semata-mata kebutuhan biologis yang meliputi setiap tahapan, tetapi faktor-faktor lain juga mempengaruhi perkembangan kepribadian. Ia memperkenalkan ‘effectance motivation’individu mempunyai dorongan instingtif untuk belajar, mehamami lingkungan, kompeten mempngaruhi lingkungan untuk kepentingan kesejahtraan dirinya. Ada tiga penyebab kerusakan effectance motivation, yakni:
  • Insting lapar dan insting bebas, pengasuhan yang kurang baik sehingga merasa sakit terus. 
  • Ibu tidak terpengaruh oleh aktifitas bayi, tidak mampu menerjemahkan bahasa tubuh dan tangis membuat bayi berhenti memanipulasi dunianya, effectance motivation tidak berkembang. 
  • Gangguan atau hambatan langsung terhadap aktifitas bermain---hambatan kompetensi diri. 

Ego-reality testing: kompetensi melalui kegiatanmenempatkan ego dalam posisi sentral yang menghubungkan kebutuhan objektif dengan realita. Bayi semakin banyak berpaling ke realita untuk memuaskan kebutuhannya, tetapi cara memperloeh kebutuhan itu hanya dengan menangis, mengharapkan bantuan dari pengasuhnya. Kepuasan tidak selalu dapat diperoleh, sehingga bayi kemudian mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan, dan penundaan biasanya dilakukan kalau dia mampu mengantisipasi realita yang akan datang.

Ego tidak hanya memiliki energy intrinsiknya sendiri, tetapi juga terdapat kepuasaan-kepuasaan intrinsic ego yang tak tergantung pada pemuasan-pemuasan id atau insting. Kepuasan-kepuasan ego yang otonom ini meliputi hal-hal seperti eksplorasi, manipulasi, dan kemampuan yang efektif dalam melaksanakan tugas-tugas.

Ego memiliki fungsi untuk pemisahan diri dan non-diri. Hubungan bayi dengan realita tidak pasif, yang timbul sebagai akibat ada dorongan uang harus dipuaskan dengan realita. Gambaran realita itu dibangun oleh bayi sendiri maupun belajar bertahap yang mungkin mereka kerjakan dan tidak mungkin dipenuhi. Bayi belajar memahami apa yang biasa diperoleh ketika mereka melihat dunia luar yang ternyata tidak sesuai dengan kemauannya.

Memperkenalkan kembali konsep patologis. Dengan mengubah focus dari penyebab kapasitas ego gagal menangani energy id menjadi apa yang salah dari perkembangan perasaan kompetensinya. Sedangkan freud menyatakan bahwa patologi adalah kegagalan ego berkembang normal, dimana ego gagal mengembangkan tanggung jawab social secara moral, dan kapasitas uji realitanya tidak berkembang.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pandangan Para Ahli Psikologi Tentang Ego. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pandangan Para Ahli Psikologi Tentang Ego"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel