Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa

Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa - Perkembangan kognitif dan bahasa pada individu akan memengaruhi proses belajarnya. Dalam memahami berbagai tahapan perkembangan individu, baik kognitif, bahasa, ataupun psikososial, perlu dipahami beberapa prinsip dasar perkembangan manusia, sebagai berikut:
  • Proses perkembangan sebagai pola yang dapat diprediksi (predictable sequence). Tahapan perkembangan mengikuti pola-pola yang dialami individu pada umumnya. Misalnya, bayi berusia 2 bulan akan mulai dapat memiringkan badan dan menelungkupkan badan. Pola tahapan perkembangan ini juga dikenal dengan istilah developmental milestone. 
  • Setiap individu berkembang dengan kecepatan yang berbeda. 
  • Peningkatan kecepatan perkembangan dapat timbul selama masa perkembangan 
  • Perkembangan dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan 
  • Dalam masa perkembangan, setiap individu memiliki sensitive period, masa-masa kritis dalam perkembangan individu.
Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa
image source: www(dot)hju(dot)ac(dot)jp
Baca juga: Topik Pembahasan Psikologi Pendidikan

Definisi Perkembangan Kognitif

Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan . Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia atau satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.

Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss. Sejak kecil, ia tertarik pada alam dan senang mengamati burung-burung, ikan, dan binatang lainnya di alam bebas, sehingga akhirnya tertarik pada pelajaran biologi di sekolah. Sejak umur 10 tahun ia telah menerbitkan karangan pertamanya tentang burung “Pipit Albino” pada majalah ilmu pengetahuan alam. Pada umur 15 tahun ia menolak tawaran sebagai curator koleksi moluska di museum Ipa di Geneva, karena ingin menyelesaikan sekolah menengahnya.

Pada tahun 1916, Piaget menyelesaikan pendidikan sarjana bidang biologi di Universitas Neuchatel. Pada usia 21 tahun ia telah menyelesaikan disertasi tentang moluska dan memperoleh gelar doctor filsafat. Setelah menyelesaikan pendidikan formal, Piaget memutuskan untuk mendalami psikologi di Zurich. Pada tahun 1919, ia meninggalkan Zurich dan pergi ke Paris. Selama dua tahun, ia tinggal di Universitas Sorbonne, belajar psikologi klinis, logika, serta epistemology.

Pada tahun 1920, Piaget bekerja bersama Dr. Theophile Simon di laboratorium Binet di Paris dengan tugas mengembangkan tes penalaran yang kemudian diujikan. Dari hasil uji yang diperolehnya, ia menyimpulkan bahwa perbedaan jawaban yang ada disebabkan oleh perbedaan intelegensi peserta. Berdasarkan pengalaman membuat tes tersebut, Piaget mendapatkan tiga pemikiran penting yang mempengaruhi berpikirnya dikemudian hari.

Pertama, Piaget melihat bahwa anak yang berbeda umurnya menggunakan cara berpikir yang bebeda. Inilah yang mempengaruhi pandangan Piaget mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak. Kedua, metode klinik digunakannya untuk mengorek pemikiran anak secara lebih mendalam. Metode inilah yang dikembangkan Piaget dalam studinya tentang perkembangan kognitif anak.

Ketiga, Piaget berpikir bahwa pemikiran logika abstrak mungkin relevan untuk mememahami pemikiran anak. Menurutnya, operasi-operasi logika yang ada dalam pemikiran deduksi berkaitan dengan struktur mental tertentu dalam diri anak. Ia mencoba untuk menemukan bagaimana pemikiran sangat berkaitan dengan logika. Ciri pemikiran deduksi logis (abstrak dan hipotesis) ini menjadi salah satu ukuran tertinggi Piaget dalam menentukan tahap-tahap perkembangan kognitif anak.

Pada tahun 1921, Piaget diangkat sebagai direktur penelitian di Institut Jean-Jacques Rousseu di Geneva. Di situ ia memperole kesempatan untuk mempelajari pemikiran anak. Hasil penelitiannya banyak dipublikasikan pada tahun 1923-1931. Selama penelitian, Piaget meyakini akan adanya perbedaan antara proses pemikiran anak dengan orang dewasa. Ia yakin bahwa anak bukan merupakan suatu tiruan (replika) dari orang dewasa. Anak buka hanya berpikir kurang efisien dari orang dewasa, melainkan berpikir secara berbeda dengan orang dewasa. Itulah sebabnya mengapa Piaget yakin bahwa ada tahap perkembangan kognitif yang berbeda dari anak sampai menjadi dewasa.

Pada tahun 1920-1930, Piaget meneruskan penelitiannya dalam bidang perkembangan kognitif anak. Bersama dengan istrinya, ia meneliti ketiga anaknya sendiri yang lahir pada tahun 1925, 1927, dan 1931. Hasil pengamatan terhadap anak-anaknya ini dipublikasikan dalam The Original of Intelligence in Children dan the Consruction of Reality tentang tahap sensorimotor. Studinya tentang masa kanak-kanak meykinkan Piaget bahwa pengertian dibentuk dari tindakan anak dan bukan dari bahasa anak.

Pada tahun 1940-an, Piaget tertarik untuk meneliti persepsi psikologi Gestalt. Ia memperluas pengertian persepsi tidak hanya sebagai suatu proses tersendiri, tetapi juga berhubungan dengan inteligensi. Sejak tahun 1943, Piaget dengan teman-temannya menerbitkan banyak buku dan laporan tentang persepsi. Puncaknya adalah buku The Mechanism of Perception pada tahun 1961. Buku ini menjelaskan tentang struktur, proses, serta relasi antara pesepsi dengan inteligensi seseorang. Atas anjuran Einstein, pada tahun 1940 Piaget meneliti tentang pengertian anak tentang waktu, kecepatan, dan gerak. Sebagai hasil penelitian tersebut, ia mempublikasikan dua buku, The Child’s Conception of Time dan The Child’s of Movement and Speed.

Sesudah perang dunia kedua, penghargaan akan karya Piaget mulai tersebar ke seluruh dunia. Ia menerima gelar kehormatan dari banyak Universitas, seperti Universitas Harvard di Cambridge, Universitas Sorbonne di Paris, dan beberapa Universitas di Belgia dan Brasilia. Pada tahun 1950, Piaget banyak meneliti dan menulis tentang perkembangan inteligensi manusia. Ia juga mangaplikasikan hasil penemuan psikologis tersebut dalam persoalan epistemology.

Ditahun yang sama, ia mempublikasikan seri epistemology genetic. Buku ini merupakan sintesis pemikirannya akan beberapa aspek pengetahuan, termasuk matematika, fisika, psikologi, sosiologi, biologi, dan logika. Di antara tahun 1950-1960 , Piaget banyak mempublikasikan bukunya terutama berisi tentang perkembngan kognitif. Hingga pada tahun 1969, Piaget menerbitkan “The Psychology of the Child” yang diperuntukkan bagi kalangan umum yang ingin mengetahui pemikirannya. Ini adalah semacam ringkasan teori Piaget tentang perkembangan intelektual dan persepsi.

Pada tahun yang sama, ia juga menerbitkan “Mental Imaginary in the Child”. Buku ini menjelaskan perkembangan gambaran mental dan hubungannya dengan perkembangan inteligensi. Pada tahun 1967, ia mempublikasikan “Biology and Knowledge”, sebuah buku yang berkaitan dengan hubungan antara faktor biologi dengan proses kognitif. Piaget pensiun dari Institut Rousseau pada tahun 1971. meskipun demikian, ia tetap aktif menulis dan menerbitkan banyak buku.

Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. .

Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam mengembangkan pandangannya terhadap alam.

Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Aktivitas mental anak terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut ”skema” atau pola tingkah laku. Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu struktur, isi dan fungsi:

Struktur: Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.

Isi. merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.

Fungsi, adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organism kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi system-sistem yang teratur dan berhubungan.

Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi. Pengertian Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada.

Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan atau pergantian skemata melainkan perkembangan schemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang. Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan schemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada.

Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium).

Akibat ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur kognitif yang ada akan mengalami perubahan atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium - equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Asumsi Dasar Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Beberapa asumsi dasar dari teori perkembangan kognitif Piaget:
  • Anak bersifat aktif dan “motivational learner” 
  • Anak membangun pengetahuan dari pengalaman langsung 
  • Anak belajar melalui asimilasi dan akomodasi 

Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian. Untuk membuat dunia kita diterima oleh pikiran, kita melakukan pengorganisasian pengalaman-pengalaman yang telah terjadi. Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.
  • Interaksi penting melalui interaksi fisik dan lingkungan sosial 
  • Kompleksitas tingkatan kognitif melalui equilibrium, yaitu kondisi dimana individu dapat menjelaskan konsep-konsep baru yang dipahaminya. 
  • Perkembangan kognitif hanya dapat terjadi setelah masalah-masalah neurologis teratasi 

Tahapan Perkembangan Kognitif

Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa

1. Sensorimotor Stage

Skema yang terbentuk berdasarkan persepsi terhadap obyek nyata yang dilihat. Belum dapat melakukan skema mental. Melakukan eksperimen trial-error.

2. Preoperational Stage

Skema yang dimiliki sudah merepresentasikan objek yang dilihat, tetapi masih belum melakukan penalaran logis. Mulai dapat melakukan Symbolic thinking, walaupun masih dalam bentuk illogical. Misalnya, anak mengenal konsep bandut, dan mengenali badut walaupun dalam kostum badut yang berbeda. Preoperational egocentrism: kemampuan melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Egocentric speech: mengatakan sesuatu tanpa menyadari maknanya secara penuh.

3. Concrete Operational Stage

Mulai dapat berpikir logis seperti orang dewasa tetapi masih terbatas dalam pemahaman realitas nyata. Dapat melakukan klasifikasi. Dapat melakukan penalaran deduktif.

4. Formal Operational Stage

Proses penalaran logis terhadap objek abstrak mulai terbentuk sama baiknya dengan penalaran logis pada objek konkret. Mulai dapat membuat konsep abstrak, hipotesis, ataupun kesimpulan.

Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky

Asumsi Dasar

Proses mental yang kompleks diawali dengan aktivitas sosial, sejalan dengan perkembangan anak mereka akan menginternalisasikannya hingga menjadi mandiri. Kemampuan berpikir dan kemampuan bahasa berkembang terpisah satu sama lain, dan baru saling mempengaruhi setelah usia 2 th. Anak dapat menyelesaikan tugas yang semakin kompleks atau sulit melalui pendampingan individu yang kompeten. Tugas yang menantang meningkatkan kemampuan berpikir.
Teori perkembangan kognitif Vygostky meliputi beberapa konsep sebagai berikut:

1. Elementary Mental Function

Meliputi proses: atensi, sensasi, persepsi, memori.
Berkembang menjadi fungsi mental yang lebih tinggi
Seiring dengan perkembangannya, anak-anak menjadi tidak mudah terdistraksi
Anak-anak mempelajari apa yang menjadi perhatian /ketertarikannya dalam belajar

2. Learning Strategy

Rehearsal: meningkat di SD
Mulai dapat melakukan Organization atau Classification, Elaboration
Strategi belajar menjadi semakin efektif dan efisien

3. Knowledge Base

Jumlah pengetahuan terus bertambah sejalan usia dan perkembanga. Pengetahuan yang dimiliki mulai terintegrasi.

4. Metakognisi

Menyadari keterbatasan memori, mengembangkan berbagai strategi. Mengembangkan berbagai strategi belajar yang efektif dan efisien. Mengidentifikasi kemampuan-kemampuannya.
Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa

Perkembangan Bahasa Pada Anak

Beberapa tahapan perkembangan bahasa pada anak. Anak mulai mengenal kosakata di usia 1 th, meningkat menjadi gabungan kata mulai usia 2 tahun.
  • Penggunaan bahasa menggunakan. Bahasa reseptif (Receptive language): kemampuan memahami apa yang didengar dan dilihat. Bahasa Ekspresif (Expressive Language): kemampuan untuk mengkomunikasikannya melalui bicara dan menulis
  • Perkembangan kosakata yang meningkat seiring dengan perkembangan belajar 
  • Perkembangan Listening Comprehension, kemampuan memahami informasi yang didengar 
  • Perkembangan Oral Communication Skill, kemampuan berbicara 
  • Kemampuan metalinguistik yang semakin berkembang 
  • Mempelajari bahasa asing sebagai kemampuan tambahan 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Psikologi Pendidikan: Perkembangan Kognitif dan Bahasa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel