Perspektif Agama dalam Mempersiapkan Masa Menghadapi Kematian

Perspektif Agama dalam Mempersiapkan Masa Menghadapi Kematian - Artikel kali ini Universitas Psikologi akan membahas bagaimana perspektif agama dalam menghadapi masa persiapan kematian. Dalam psikologi agama juga menjadi salah satu pembahasan yang cukup menarik dan banyak para ilmuan melakukan penelitian tentang psikologi agama. Kematian merupakan sesuatu yang penuh misteri sehingga banyak tinjauan tentang kematian itu dari berbagai sisi. Ada yang meninjau dari segi mistik, dan segi agama (religius). Tinjauan secara mistik dikaitkan dengan masalah-masalah takhayul, sedangkan tinjauan dari segi agama ada yang mengaitkan dengan masalah gaib.

Lain pula tinjauan dari sisi ilmiah, kematian dijelaskan dengan penalaran ilmiah berdasarkan pengalaman manusia. Salah satu tinjauan ilmiah adalah tinjauan dari sisi psikologis. Sebagai suatu ilmu pengetahuan empiris, psikologi terikat pada pengalaman dunia. Psikologi tidak melihat kehidupan manusia setelah mati, melainkan mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadap masalah kematian, bagaimana jiwa manusia di saat-saat menjelang kematian.

Kepercayaan manusia terhadap kematian merupakan salah satu penggerak manusia beragama. Bahkan, Durant mengatakan bahwa maut (kematian) adalah asal-usul semua agama. Boleh jadi apabila tidak ada maut, Tuhan tak akan terwujud dalam benak manusia. Dua tokoh psikologi Freud dan Jung menyatakan bahwa ada hubungan erat antara kematian dan perilaku religius. Kematian yang tak terelakkan itu menginsafkan manusia dengan paling tajam akan ketidakberdayaan. Maut merupakan luka paling parah untuk narsisisme insani. Untuk menghadapi frustrasi terbesar ini, manusia bertindak religius.
Perspektif Agama dalam Mempersiapkan Masa Menghadapi Kematian
image source: heavenforreal(dot)com
Baca juga: Perkembangan Psikososial Masa Dewasa Akhir
Psikologi sebagai sebuah ilmu yang mengkaji pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang melihat kematian sebagai suatu peristiwa dahsyat yang sesungguhnya sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka. Namun ada pandangan yang sebaliknya bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan ada kehidupan lain yang lebih mulia kelak, yaitu kehidupan di akhirat. Pandangan tersebut melahirkan dua mazhab psikologi kematian. Pertama, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah mati. Kedua, mazhab religius yaitu yang memandang bahwa keabadian setelah mati itu ada. Kehidupan di dunia perlu dinikmati, tetapi bukan tujuan akhir dari kehidupan. Apa saja yang dilakukan di dunia dimaksudkan untuk investasi kejayaan di akhirat.

Kematian sebagai Satu Titik Akhir dari Kehidupan

Kematian adalah satu perkara yang lazim dan nyata pada manusia. Setiap manusia akan menghadapinya. Namun, corak kematian manusia adalah dalam kondisi atau situasi yang berbeda-beda. Terjadinya kematian adalah dengan berbagai sebab, antara lain:
  • Kematian penyakit, adalah kematian yang disebabkan oleh sesuatu penyakit seperti kanker, sakit jantung, dan lain-lain. 
  • Kematian tak diduga, adalah kematian yang terjadi akibat kecelakaan, bencana, dan lain-lain. 
  • Kematian perkembangan umur atau usia, adalah kematian perkembangan hidupnya atau kematian yang bakal dihadapi oleh orang lanjut usia.

Kematian dalam Perspektif Agama

1. Kematian dari perspektif agama Islam

Islam memberikan perspektif yang positif tentang kematian. Kehidupan dan kematian adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Kehidupan dan kematian adalah ujian bagi manusia, agar manusia dapat mengambil pelajaran dari keduanya, dan berbuat baik di atas bumi. Kematian hanya merupakan salah satu tahap dari perjalanan manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah. Setelah manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk mulai dari masa konsepsi, Allah kemudian mematikannya. Namun sesudah itu, manusia akan dibangkitkan kembali di hari kiamat.

Menurut perspektif Islam, kamatian dianggap sebagai peralihan kehidupan, dari kehidupan dunia menuju kehidupan di alam lain. Menurut islam, setelah meninggal dan dikuburkan, manusia akan dihidupkan kembali. Kematian di alam kubur seperti tidur untuk menghadapi hari kebangkitan. Mereka yang berpisah karena kematian di dunia, dapat bertemu kembali dalam kehidupan setelah mati, manusia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup di dunia. Kehidupan setelah mati merupakan hal yang sulit untuk dibuktikan secara empirik.

Mereka telah mengalami kematian tidak dapat kembali ke dunia untuk memberi tahu apa yang terjadi setelah mati. Penelitian empirik hanya dapat dilakukan pada orang-orang yang pernah mengalami mati suri, dan setalah beberapa lama, kemudian bangun kembali dari mati sementaranya tersebut. Penelitian terhadap mereka menunjukan adanya kesamaan pola pengalaman mati suri. Hal ini memperlihatkan adanya kemungkinan besar tentang kehidupan setelah mati.

2. Kematian menurut pespektif agama Kristian

Kematian ialah permulaan dan permulaan sesuatu yang indah jika anda menjalani hidup menurut jalan Tuhan. Semua menyadari bahwa ada kehidupan selepas kematian dan ada balasan. Kitab Bible bukan sangat jelas mengenai bila masa seseorang akan menemui takdir muktamadnya. Kitab Injil memberitahu bahwa selepas masa mati, seseorang diangkat ke surga atau di antar ke neraka. Bagi orang yang percaya kepada Jesus, selepas kematian dia akan meninggalkan fisiknya dan berada bersama dengan Jesus. Untuk mereka yang tidak percaya, selepas kematian mereka akan mengalami hukuman abadi di dalam neraka. Nampaknya, hingga kebangkitan terakhir selepas mati roh manusia akan berada di satu surga atau neraka sementara.

3. Kematian menurut perspektif agama Buddha

Salah satu alasan mengapa orang-orang cenderung menjadi takut terhadap kematian ialah mereka tidak tahu apa yang akan mereka alami. Di dalam tradisi Buddhis Tibet ada keterangan yang jelas dan terperinci mengenai proses kematian, yang meliputi delapan tahap. Delapan tahap itu berhubungan dengan pencerai-beraian berbagai faktor secara berangsur-angsur, seperti empat elemen: tanah, air, api, dan udara. Jika mereka melewati delapan tahap itu, akan muncul berbagai tanda internal dan eksternal. Empat elemen tercerai-berai pada empat tahap yang pertama.

Pada tahap pertama, elemen tanah mulai terpisah, dan kelihatan dari tanda luar yaitu tubuh seseorang menjadi lebih kurus dan lebih lemah dan secara internal orang itu melihat berbagai ilusi. Pada tahap kedua, unsur air mulai terpisah dengan tanda eksternal, tubuh mengering, dan secara internal orang tersebut melihat asap. Elemen api mulai terpisah pada tahap ketiga, dengan tanda eksternal, pendengaran dan kemampuan mencerna mengalami penurunan dan secara internal orang tersebut memiliki suatu penglihatan terhadap tanda-tanda. Pada tahap keempat, angin atau udara terpisah, dengan tanda eksternalnya nafas berhenti, dan secara internal orang itu melihat sebuah bara api yang hampir menyala.

Ini adalah saat dimana seseorang dinyatakan mati. Elemen-elemen fisik yang besar telah tercerai-berai secara keseluruhan, nafas telah berhenti, dan sudah tidak ada lagi gerakan di dalam otak atau sistem sirkulasi. Bagaimanapun juga, menurut Buddhisme, kematian belum terjadi karena pikiran atau kesadaran masih ada di dalam jasad.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Perspektif Agama dalam Mempersiapkan Masa Menghadapi Kematian. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Perspektif Agama dalam Mempersiapkan Masa Menghadapi Kematian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel