Bentuk-bentuk Transfer dalam Belajar dalam Psikologi

Bentuk-bentuk Transfer dalam Belajar dalam Psikologi - Transfer belajar merupakan suatu proses di mana pelajar menggunakan informasi sebelumnya dalam konteks yang baru. Transfer belajar sangat penting karena terkait dengan pembelajaran selanjutnya dalam konteks yang baru.

Berbagai macam transfer belajar akan dipahami agar dapat memahami kondisi pelajar ketika diantara mereka ada yang dapat menerima materi baru ataupun sebaliknya. Kemudian perlu difahami factor yang memudahkan di dalam transfer belajar. Kemudian teori daya dan transfer akan menjelaskan pentingnya melatih daya-daya, seperti daya ingatan, berfikir, merasakan sebagainya di sekolah, sehingga daya-daya yang sudah terlatih itu akan dapat digunakan dalam mata­-mata pelajaran yang lain dan juga bagi pekerjaan-pekerjaan lain di luar sekolah.
Bentuk-bentuk Transfer dalam Belajar dalam Psikologi
image source: www(dot)bimbisaniebelli(dot)it
Baca juga: Strategi Belajar dan Pemecahan Masalah

Transfer dalam Belajar

Transfer menurut Gage dan Berlinner (1984) adalah suatu proses yang memungkinkan menggunakan pelajaran sebelumnya di dalam situasi yang baru. Sedangkan menurut Gentile, dkk (dalam Santrock, 2007) transfer adalah seseorang mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya untuk mempelajari atau memecahkan masalah (problem solving) dalam situasi baru

Transfer sangat penting di dalam belajar karena transfer menyebabkan pelajar mempergunakan informasinya di dalam konteks yang baru:

Sekolah tidak mampu mengajarkan pelajar segala sesuatu yang mereka ingin ketahui, tetapi seharusnya melengkapi pelajar dengan kemampuan untuk mentransfer---menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk mengatasi permasalahan baru secara sukses atau untuk belajar secara cepat di dalam situasi baru (Mayer & Wittrock dalam Eggen & Kauchack, 2004).
Mengingat kembali suatu informasi bukan suatu transfer. Transfer terjadi ketika pelajar dapat mengatasi permasalahan yang mereka tidak temukan sebelumnya, dan transfer terjadi di dalam strategi belajar. Contohnya di dalam membuat beberapa pertanyaan mengenai apa yang sudah dipelajari.

Transfer dalam belajar ada yang bersifat positif dan ada yang negatif. Transfer belajar disebut positif jika pengalaman-­pengalaman atau kecakapan-kecakapan yang telah dipelajari dapat diterapkan untuk mempelajari situasi yang baru. Atau dengan kata lain, respons yang lama dapat memudahkan untuk menerima stimulus yang baru. Contohnya, seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari statistika. Contoh lain adalah kepandaian mengendarai sepeda membuat orang mudah belajar naik sepeda motor.

Adapun disebut transfer negatif jika pengalaman atau kecakapan yang lama menghambat untuk menerima pelajaran/kecakapan yang baru. Contoh berikut kiranya dapat mempenjelas pengertian kita. Seseorang yang telah biasa mengetik dengan dua jari, jika ia akan belajar mengetik dengan sepuluh jari tanpa melihat, akan lebih banyak mengalami kesukaran daripada seseorang yang baru belajar mengetik. Seorang guru yang berusaha memperbaiki/meng­ajar membaca anak-anak yang telah gagal diajar oleh guru lain dengan suatu metode, akan banyak mengalami kesukaran dan memakan waktu yang lebih lama, daripada mengajari anak­- anak yang baru saja belajar membaca

Macam-macam Transfer Belajar

Menurut Gagne (baca: Gaenye) seorang education psycholo­gist (pakar psikologi pendidikan) yang masyhur, transfer dalam belajar dapat digolongkan ke dalam empat kategori:
  • Transfer positif, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. 
  • Transfer negatif, yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya; 
  • Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi. 
  • Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan be­lajar pengetahuan atau keterampilan yang sederajat.

Penjelasan lebih lanjut mengenai aneka ragam transfer adalah sebagai berikut:

a. Transfer Positif

Transfer positif dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila guru membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa tersebut belajar dalam situasi-situasi lainnya. Dalam hal ini, transfer positif menurut Barlow (dalam Syah, 2006) adalah learning in one situation helpful in other situa­tions, yakni belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar dalam situasi-situasi lain.

b. Transfer Negatif

Transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi-situasi lainnya. Pengertian ini diambil dari Educational Psychology: The Teaching-Learning Process oleh Daniel Lenox Barlow (1985) yang menyatakan bahwa transfer negatif itu berarti, learning in one situation has a damaging effect in other situations.

c. Transfer Vertikal

Transfer vertikal (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya, seorang siswa SD yang telah menguasai prinsip penjumlahan dan pengurangan pada waktu menduduki kelas II akan mudah mempelajari perkalian pada waktu dia menduduki kelas III. Sehubungan dengan hal ini, penguasaan materi pelajaran kelas II merupakan prerequisite (prasyarat) untuk mempelajari materi pelajaran kelas III.

Agar memperoleh transfer vertikal, guru sangat dianjurkan untuk menjelaskan kepada para siswa secara eksplisit mengenai faidah materi yang sedang diajarkannya bagi kegiatan belajar materi lainnya yang lebih kompleks. Upaya ini penting sebab kalau siswa tidak memiliki alasan yang benar mengapa ia harus mempelajari materi yang sedang diajarkan gurunya itu (antara lain untuk transfer vertikal), mungkin ia tak akan mampu memanfaatkan materi tadi untuk mempelajari materi lainnya yang lebih rumit. Padahal, learning in one situation allows mastery of more complex skills in other situations (Barlow, dalam Syah 2006) yang berarti bahwa belajar dalam suatu situasi memungkinkan siswa menguasai keterampilan-keterampilan yang lebih rumit dalam situasi yang lain.

d. Transfer lateral

Transfer lateral (ke arah samping) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Dalam hal ini, perubahan waktu dan tempat tidak mengurangi mutu hasil belajar siswa tersebut. Contoh: seorang lulusan SIM yang telah menguasai teknologi ‘X’ dari sekolahnya dapat menjalankan mesin tersebut di tempat kerjanya.

Di samping itu, ia juga mampu mengikuti pelatihan menggunakan teknologi mesin-mesin lainnya yang mengandung elemen dan kerumitan yang kurang lebih sama dengan mesin “X’ tadi. Hasilnya, transfer lateral itu dapat dikatakan sebagai gejala wajar yang memang sangat diharapkan baik oleh pihak pengajar maupun pihak pelajar. Namun, idealnya hasil belajar siswa tidak hanya dapat digunakan dalam konteks kehidupan yang sama rumitnya dengan belajar, tetapi juga dapat digunakan dalam konteks kehidupan yang lebih kompleks dan penuh persaingan.

Faktor yang Mempengaruhi Transfer dalam Belajar

Menurut Eggen & Kauchack (2004) sedikitnya terdapat enam factor yang dapat mempengaruhi kemampuan pelajar untuk transfer, sebagai berikut:
  • Kesamaan di dalam situasi belajar 
  • Pemahaman mendalam atas apa yang telah dipelajari 
  • Kualitas dari pengalaman belajar 
  • Situasi untuk pengalaman pelajar 
  • Variasi dari situasi dan pengalaman 
  • Penekanan metacognition

Kesamaan di dalam Situasi Belajar

Transfer belajar terjadi apabila seseorang dapat menerapkan sebagian atau semua kecakapan-kecakapan yang telah dipelajarinya ke dalam situasi lain yang tertentu. Seseorang yang telah dapat mengendarai sepeda motor lebih mudah jika ia belajar mengendarai mobil. Pe­ngetahuan dan kecakapannya mengendarai sepeda motor diterapkan atau ditransferkan kepada kecakapan mengen­darai mobil.

Demikianlah kita dapat mengatakan transfer belajar, apabila yang telah kita pelajari dapat dipergunakan untuk mempelajari yang lain. Biasanya transfer ini terjadi karena adanya persamaan sifat antara yang lama dengan yang baru, meskipun tidak benar-benar sama. Anak yang pandai ber­hitung soalan lebih mampu jika disuruh berbelanja ke pasar. Anak yang pandai dan menguasai bahasa lebih mudah mem­pelajari ilmu bumi daripada anak yang lain.

Pemahaman mendalam atas apa yang telah dipelajari

Transfer membutuhkan pemahaman tingkat tinggi. Hal ini jelas, tetapi di dalam penelitian (dalam Eggen & Kauchack, 2004) ditemukan bahwa siswa seringkali gagal untuk transfer karena mereka tidak memahami topik yang pertama.

Semakin banyak siswa praktik dan feedback terhadap topik yang mereka pelajari, mereka akan semakin memiliki pemahaman yang lebih mendalam, dan dimungkinkan transfer pada akhirnya terjadi.

Ketika membuat rencana kurikulum, “Sekolah harus memiliki konsep dan ketrampilan yang penting untuk ditekankan, sehingga mereka dapat konsentrasi pada kualitas pemahaman daripada kualitas informasi yang diberikan”.

Sebagaimana pandangan konstruktivisme dari belajar menyatakan secara tidak langsung, interaksi sosial juga merupakan fasilitas transfer karena memperkaya pemahaman dasar. Sebagaimana siswa share idea (bertukar pemikiran) dan identifikasi kaitan topik yang mereka pelajari, akan memberikan keuntungan wawasan ke dalam setting yang berbeda.

Jika pemahaman dasarnya dangkal atau kurang, guru harus mencoba untuk mempersiapkan pelajar dengan berbagai kualitas yang lebih tinggi dari contoh yang diberikan di dalam satu situasi, hanya untuk mereka siswa yang memiliki latar belakang pengetahuan yang kurang.

Kualitas dari Pengalaman Belajar

Kualitas berkaitan dengan keluasan contoh-contoh atau representasi isi yang meliputi seluruh informasi yang siswa butuhkan untuk memahami topik. Dan kata pengalaman belajar memberi kesan suatu pengalaman di mana penalaran-penalaran dari jawaban adalah suatu hal yang penting sebagai suatu jawaban dari mereka sendiri.

Contohnya. Ketika Santi bertanya, “Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa itu harus dikurangi?” “Bagaimana (keluasan masukan)? dan “Bagaimana kita dapat menjadi pemikir yang kritis….Dapat kah seseorang menjelaskan 12 kali 3?” Dia menekankan penalaran dari jawaban. Penekanan di sini memastikan kualitas pengalaman.

Konteks atau situasi untuk pengalaman pelajar

Kontektualisasi berkaitan dengan penggunaan lingkungan yang real. Situasi dapat mempengaruhi transfer di dalam belajar. Hal ini mengarahkan kita kepada berbagai variasi di dalam pengalaman belajar. Situasi belajar agak sedikit kontroversial. Pendapat yang ekstrem menyatakan bahwa transfer sebenarnya tidak mungkin karena seluruh pengetahuan tidak terlepas dari situasi.

Tetapi bukti transfer ada. Contoh, keterampilan seseorang di dalam mengendarai di kota yang luas jarang memiliki masalah mengendarai di area pedesaan, dan seseorang yang memiliki keterampilan membaca teks buku dapat juga membaca koran dan majalah dengan mudah.

Variasi dari Situasi dan Pengalaman Belajar

Pengetahuan dan keterampilan belajar di dalam situasi dapat diaplikasikan ke dalam situasi yang lain, guru harus memberikan konsep dan masalah di dalam berbagai varisasi situasi. Variasi diharapkan memiliki faktor yang sangat penting yang mempengaruhi pemahaman transfer.

Variasi dipastikan juga memberikan makna meng-cover suatu topik dalam berbagai cara, di mana kadang-kadang dikatakan menyediakan “representasi berbagai pengetahuan”. Sebagai pelajar membangun pemahaman berarti mempersiapkan diri untuk transfer, tiap-tiap kasus atau contoh menambah pertalian dan perspektif di mana orang lain tertinggal. Juga, variasi yang lebih besar akan memberikan kesamaan contoh-contoh dan konteks di dalam latar belakang pengetahuan yang menarik bagi siswa. Kesamaan, merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi transfer.

Penerapan yang sama terhadap suatu pemecahan masalah dan strategi belajar--- variasi yang lebih besar dari aplikasi, lebih besar dimungkinkan bahwa pemahaman siswa akan ditransfer. Feedback informatif mengenai tepat dan tidak tepat jawaban dan prosedur adalah essensial jika belajar dan transfer terjadi.

Penekanan Metacognition

Metacogniton adalah kesadaran dari control yang diperoleh berdasarkan proses kognitif individu. Sebagai contoh pelajaran “X”, Randy mengatakan. “saya lebih baik mencatat, karena saya tidak pernah mengingatnya.” Dia telah menunjukkan suatu kesadaran dari kemampuan mengingatnya, dan dia telah melatih pengendalian mengingat melalui mencatat; Randy telah melakukan metacognitive.

Penekanan pada metacognition---mendorong siswa untuk mengendalikan, refleks, dan memperbaiaki strategi belajar dan penyelesaian masalah---juga meningkatkan transfer.

Menariknya, beberapa bukti mengindikasikan bahwa transfer umum dapat terjadi untuk pendirian atau sikap dan penempatan. Contoh, kecenderungan terbukanya pemikiran, untuk sikap yang hati-hati di dalam mengambil keputusan, untuk mencari kenyataan yang mendukung kesimpulan, dan untuk mengambil tanggung jawab personal untuk belajar adalah penempatan yang umum.

Wilayah spesifik pengetahuan adalah harus memahami kesimpulan dan fakta yang relevan, tetapi penempatan adalah orientasi umum. Guru dapat meningkatkan transfer penempatan melalui modeling menggunakan disiplin dari hari kehari dan terus menerus setiap hari pesan di mana belajar adalah suatu aktivitas bermakna yang difasilitasi oleh metacognition.

Teori Daya dan Transfer

Ada suatu teori yang erat hubungannya dengan transfer belajar, yaitu teori daya. Teori ini bertitik tolak dari pan­dangan ilmu jiwa, bahwa jiwa itu terdiri atas gejala-gejala/daya-daya jiwa, seperti: daya mengamati, daya ingatan, daya berpikir, daya perasaan. daya kemauan, dan sebagainya.

Menurut teori daya (biasa disebut juga “formal dicipline”), daya-daya jiwa yang ada pada manusia itu dapat dilatih. Dan setelah terlatih dengan baik, daya-daya itu dapat di­gunakan pula untuk pekerjaan lain yang menggunakan daya tersebut. Dengan demikian terjadilah transfer belajar. Ber­ikut ini beberapa contoh sebagai penjelasan. Misalkan seorang anak yang semenjak kecil melatih diri cara-cara melempar dengan tepat. Mula-mula ia berlatih melempar-lempar dengan batu, kemudian di sekolah ia sering bermain kasti, sehingga terlatih pula melempar dengan bola.

Menurut teori daya, anak yang telah terlatih daya melemparnya dengan baik, nantinya jika ia telah dewasa dan menjadi tentara, dapat menjadi pelempar granat yang baik. Contoh lain murid-murid dilatih belajar sejarah. Dengan mempelajari pelajaran sejarah tidak boleh tidak daya ingatannya sering diperguna­kan untuk mengingat-ingat bermacam-macam penistiwa, dan sebagainya. Ingatan anak itu makin terlatih dan makin baik terhadap pelajaran itu. Maka menurut pendapat Teori daya, daya ingatan yang telah terlatih baik bagi pelajaran itu dapat digunakan pula (ditransferkan) kepada pekerjaan lain.

Demikianlah, menurut teori daya pada tiap mata pelajaran di sekolah pendidik perlu melatih daya-daya itu (daya ingatan, berpikir, merasakan, dan sebagainya), sehingga daya-daya yang sudah terlatih itu akan dapat digunakan dalam mata­-mata pelajaran yang lain dan juga bagi pekerjaan-pekerjaan lain di luar sekolah. Sekolah yang menganut teori daya ini, sudah tentu lebih mengutamakan terlatihnya semua daya­-daya jiwa anak-anak, daripada nilai atau kegunaan mata pelajaran. Berguna atau tidaknya materi/isi mata pelajaran itu dalam praktek di kemudian hari, tidaklah menjadi soal. Yang penting, apapun yang diajarkan asalkan dapat melatih daya-daya jiwa adalah baik. Penganut teori daya beranggap­an bahwa anak-anak yang pandai di sekolah sudah tentu akan pandai pula dalam masyarakat

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Bentuk-bentuk Transfer dalam Belajar dalam Psikologi. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Bentuk-bentuk Transfer dalam Belajar dalam Psikologi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel