Teori Psikologi Individual Menurut Alfred Adler

Teori Psikologi Individual Menurut Alfred Adler - Materi psikologi hari ini akan membahas mengenai psikologi individual. Alfred Adler adalah seorang psikolog dan fisikawan yang mengembangkan teori psikologi individual. Adler menyatakan ada satu daya motivasi yang memengaruhi semua bentuk perilaku dan pengalaman manusia. Daya motivasi tersebut disebut "dorongan ke arah kesempurnaan". Daya tersebut mendorong manusia memenuhi semua potensi dan keinginan yang ada di dalam dirinya, sehingga seorang manusia dapat semakin dekat dengan apa yang diidealkan. Gagasan Adler ini sebenarnya dipengaruhi oleh Nietzsche.

Kisah Alfred Adler (1870 – 1937)
Aku lahir pada tanggal 7 Februari 1870 di Rudolfsheim, Wina. Ibuku adalah ibu rumah tangga yang mengurus tujuh anaknya, sedangkan ayah adalah pedagang gandum kelas menengah di Hungaria. Semasa kecil, aku adalah anak yang lemah dan sakit-sakitan. Pada umur 5 tahun, aku hampir meninggal karena radang paru-paru, yang diakibatkan karena aku kedinginan setelah bermain seluncur es.

Kondisi kesehatanku yang buruk sangat berbeda dibandingkan dengan kesehatan kakak laki-lakiku. Hal ini menjadi awal mula persaingan yang tidak menyenangkan bagiku. Sigmund Adler adalah saingan masa kecil hingga masa dewasaku. Sigmund akhirnya berhasil dalam bisnis dan membantu keuanganku. Walaupun demikian, sejarah mencatat bahwa aku lebih terkenal darinya. Persaingan ini tetap ada hingga usia tengah baya. Aku pernah mengatakan kepada penulis biografiku, bahwa “Kakak laki-lakiku adalah seorang pengusaha…ia selalu berada di depanku, dan ia masih tetap di depanku”.

Sama seperti Freud, walaupun kami lahir dari keluarga Yahudi, namun kami tidak religius. Pada tahun 1904, aku beralih keyakinan menjadi Protestan, namun tidak memiliki pendirian religius yang dalam. Salah satu penulis biografiku mengenal aku sebagai seorang agnostik.

Pada umur 4 tahun, adik ku Rudolf meninggal. Aku merasa pengalaman ini sama dengan pengalamanku ketika hampir meninggal. Oleh karena itu, aku memutuskan bahwa tujuan hidupku adalah menaklukkan kematian dan memutuskan bahwa aku ingin menjadi dokter.

Perkenalanku dengan Freud, bermula dari undangan Freud terhadap aku dan tiga dokter Wina lainnya, untuk menghadiri pertemuan di rumah Freud. Pertemuan yang bernama Vienna Psychological Society ini mendiskusikan psikologi dan neuropatologi. Walau termasuk dalam anggota kelompok ini, aku tidak sepaham dengan Freud. Freud menekankan teorinya pada masalah seksualitas masa kanak-kanak sebagai dasar motivasi seseorang bertingkah laku.

Sedangkan aku menekankan pada dorongan superioritas sebagai dasar motivasi seseorang bertingkah laku. Kami menyadari perbedaan ini, sehingga aku memutuskan untuk keluar dari kelompok tersebut, dan keluar dari paradigma psikonalisis. Bukti keluarnya aku dari paradigma psikoanalisis adalah aku mendirikan kelompok dengan nama Society for Individual Psychology.

Rupanya asumsiku mengenai superioritas tidak hanya berawal dari rasa inferior dengan kakak laki-lakiku, tetapi juga kepada Freud. Aku menyatakan bahwa aku bukanlah murid Freud. Jika ada orang yang mengatakan bahwa aku murid Freud, maka aku akan marah sekali, walaupun aku bukanlah seorang pemarah. Jika ada yang mengatakan bahwa aku murid Freud, maka aku akan menunjukkan kartu undangan dari Freud yang berbunyi : ”dengan salam hangat dari rekan sejawat”. Hal ini jelas menunjukkan bahwa aku bukanlah murid Freud, tetapi sejajar dengannya.
Teori Psikologi Individual Menurut Alfred Adler
image source: www(dot)gbneeson(dot)ca
Baca juga: Proses Terbentuknya Kelompok

Pengantar Teori Adlerian

Teori Adler memiliki pengaruh besar terhadap pakar psikologi selanjutnya, seperti Harry Stuck Sullivan, Karen Horney, Jullian Rotter, Abraham Maslow, Carl Rogers, Albert Ellis, Rollo May, dan lain-lain. Namun, nama Adler kurang dikenal luas, dibandingkan Freud atau Jung. Hal ini disebabkan karena : (1) Adler tidak mendirikan organisasi yang dijalankan dengan kuat untuk mengabadikan teorinya ; (2) Adler bukan penulis yang berbakat dan sebagian besar bukunya dikumpulkan oleh beberapa editor menggunakan bahan pengajaran Adler yang tersebar dimana-mana ; (3) Banyak dari pandangan Adler yang tergabung dalam karya teoretikus selanjutnya, seperti Maslow, Rogers, dan Ellis, sehingga pandangan tersebut tidak lagi diasosiasikan dengan nama Adler.

Tulisan-tulisan Adler mengungkapkan pandangan mendalam terhadap kedalaman dan kompleksitas kepribadian manusia, namun, Adler menyusun teori yang sederhana. Adler menyatakan bahwa manusia lahir dengan kondisi tubuh yang lemah dan inferior. Kondisi ini menyebabkan perasaan inferior, dan ketergantungan kepada orang lain. Oleh karena itu, perasaan menyatu dengan orang lain sudah menjadi sifat manusia dan standar akhir untuk sehat secara psikologis.

Dalam teori Psikologi Individual Adler, ada beberapa prinsip yang melatarbelakangi teori ini, yaitu:

1. Striving for Success or Superiority

Prinsip ini menyatakan bahwa kekuatan dinamis di balik perilaku manusia adalah berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas. Adler mereduksi semua motivasi menjadi satu dorongan tunggal, yaitu berjuang meraih keberhasilan atau superioritas. Tentu kita masih ingat dengan kisah Adler di atas mengenai kondisi fisik yang lemah dan persaingan dengan kakak laki-lakinya. Oleh sebab itu, Psikologi Individual mengajarkan bahwa seseorang memulai hidupnya dengan kelemahan fisik yang mengakibatkan perasaan inferior. Perasaan inferior ini lah yang akhirnya mendorong seseorang untuk berjuang meraih superioritas atau keberhasilan. Individu yang tidak sehat secara psikologis akan berjuang meraih superioritas pribadi, sedangkan individu yang sehat secara psikologis akan berjuang meraih keberhasilan untuk semua manusia.

Pada awalnya, Adler meyakini bahwa AGRESI adalah kekuatan dinamis dari motivasi. Namun, ia tidak puas dengan istilah itu. Kemudian ia menggunakan istilah MASCULINE PROTEST, yang berarti keinginan menguasai atau mendominasi orang lain. Dan pada akhirnya, ia menggunakan istilah berjuang untuk meraih keberhasilan dan superioritas. Tanpa memperhatikan motivasi, Adler yakin bahwa setiap orang dikendalikan oleh tujuan akhir.

Adler yakin bahwa manusia berjuang demi sebuah tujuan akhir, baik superioritas pribadi ataupun keberhasilan untuk semua umat manusia. Tujuan akhir ini memiliki makna karena dapat mempersatukan kepribadian dan membuat semua perilaku dapat dipahami. Setiap orang mampu menciptakan tujuan sesuai pribadi, karena faktor keturunan atau lingkungan. Dalam perjuangan mencapai tujuan akhir, manusia menciptakan dan mengejar banyak tujuan awal. Ketika tujuan akhir diketahui, maka semua tindakan menjadi jelas dan memiliki makna yang penting.

Berjuang meraih superioritas pribadi itu muncul tanpa memperhatikan orang lain dan dimotivasi oleh perasaan inferior berlebihan (inferiority complex). Misalnya, pembunuh, pencuri, atau penipu. Sedangkan, berjuang meraih keberhasilan untuk semua umat manusia itu muncul karena minat sosial, menolong orang lain, dan mampu melihat orang lain bukan sebagai lawan, melainkan sebagai pihak yang dapat diajak bekerjasama untuk kepentingan sosial.

2. Subjective Perception

Prinsip ini menyatakan bahwa dalam mengatasi perasaan inferiornya, maka seseorang akan berjuang. Namun, sikap juang yang muncul tidak ditentukan oleh kenyataan, melainkan oleh persepsi subjektif akan kenyataan, yaitu oleh fiksi atau harapan masa depan. Fiksi adalah gagasan yang tidak berbentuk nyata. Misalnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk membuat pilihan-pilihan. Contoh ini menunjukkan bahwa setiap orang seolah-olah memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas pilihan mereka, walaupun tidak ada yang dapat membuktikan bahwa kehendak bebas itu nyata.

3. Self Consistent

Prinsip ini menyatakan bahwa kepribadian itu menyatu dan memiliki konsistesi diri. Sehingga pikiran, perasaan, dan tindakan mengarah kepada satu tujuan. Ada dua cara untuk mengenali kesatuan dan konsistensi diri manusia, yaitu : (a) Bahasa Organ. Gangguan terhadap satu bagian tubuh tidak dapat dilihat secara terpisah, karena hal ini mempengaruhi keseluruhan diri seseorang. 

Melalui bahasa organ, organ tubuh akan berbicara dengan ekspresif dan mengungkapkan pikiran seseorang dengan lebih jelas daripada yang diungkapkan dengan kata-kata. Misalnya, X adalah seorang anak yang patuh. Namun pada suatu waktu, ia tidak ingin patuh kepada orangtuanya. Ia mengompol di malam hari sebagai cara menyuarakan keinginannya untuk tidak patuh kepada orangtuanya ; (b) Kesadaran dan Ketidaksadaran. Kepribadian yang menyatu adalah keserasian antara tindakan dan pikiran sadar-tidak sadar.

4. Social Interest

Prinsip ini menyatakan bahwa nilai dari semua aktivitas manusia harus dilihat dari sudut pandang minat sosial. Minat sosial adalah perasaan menjadi satu dengan umat manusia. Seseorang dengan minat sosial yang berkembang dengan baik, tidak akan berjuang untuk superioritas pribadi, tetapi untuk kesempurnaan semua umat manusia. Minat sosial ini termanifestasi dalam bentuk kerjasama dengan orang lain untuk kemajuan sosial.

Minat sosial berasal dari potensi bawaan manusia, yang harus dikembangkan kemudian. Minat sosial merupakan ukuran tunggal Adler untuk mengukur kesehatan psikologis. Sebagai barometer kenormalan, maka minat sosial adalah standar yang digunakan untuk menentukan seberapa bermanfaatnya hidup seseorang. Orang yang memiliki minat sosial akan dianggap dewasa secara psikologis. Think! Apakah seorang dermawan yang suka menyumbangkan uangnya memiliki minat sosial?

5. Style of Life

Prinsip ini menyatakan bahwa struktur kepribadian yang konsisten dan menyatu akan berkembang menjadi gaya hidup seseorang. Gaya hidup menunjukkan selera hidup seseorang, yang mencakup tujuan, konsep diri, perasaan terhadap orang lain, dan sikap terhadap dunia. Gaya hidup merupakan interaksi antara faktor keturunan atau bawaan lahir, lingkungan, dan daya kreatif yang dimiliki seseorang. Gaya hidup seseorang terbentuk pada saat seseorang mencapai usia empat atau lima tahun. 

Setelah masa tersebut, semua tindakan manusia berputar di sekitar gaya hidup yang sudah terbentuk itu. Individu yang tidak sehat secara psikologis menjalani hidup dengan tidak fleksibel, yaitu tidak mampu memilih cara baru dalam bereaksi dengan lingkungan. Sedangkan, orang yang sehat secara psikologis, akan berperilaku dengan cara yang berbeda, fleksibel dalam gaya hidup yang kompleks, selalu berkembang, dan berubah. Manusia yang sehat melihat banyak cara dalam meraih keberhasilan, dan terus menerus mencari cara untuk menciptakan pilihan-pilihan baru dalam hidup mereka.

6. Creative Power

Prinsip ini menyatakan bahwa gaya hidup dibentuk oleh daya kreatif yang ada dalam diri manusia. Adler meyakini bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk menciptakan gaya hidupnya sendiri. Pada akhirnya, setiap orang akan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Daya kreatif yang manusia miliki akan membantu manusia mengendalikan kehidupan mereka, bertanggung jawab akan tujuan akhir, menentukan cara mereka pakai untuk meraih tujuan, dan berperan dalam membentuk minat sosial. Daya kreatif adalah konsep dinamis yang menggambarkan pergerakan, dan pergerakan ini adalah karakteristik hidup yang paling penting.

Kepribadian seseorang terbentuk karena faktor keturunan dan lingkungan. Manusia adalah makhluk kreatif yang tidak hanya bereaksi terhadap lingkungan, namun melakukan tindakan dan menyebabkan lingkungan bereaksi terhadap mereka. Dengan kata lain, manusia adalah arsitek bagi dirinya sendiri, yang dapat membangun gaya hidup yang berguna atau tidak berguna.

Perkembangan Abnormal

Setelah memahami karakteristik orang yang sehat secara psikis, kita juga akan memahami orang yang tidak sehat secara psikis atau abnormal. Salah satu karakteristik orang yang abnormal adalah orang yang tidak mampu menyesuaikan diri. Ketidakmampuan menyesuaikan diri disebabkan oleh minat sosial yang tidak berkembang, menetapkan tujuan yang terlalu tinggi, hidup dalam dunia sendiri, memiliki gaya hidup yang kaku dan dogmatis. Dengan kata lain, manusia akan gagal dalam hidup jika terlalu berfokus pada diri sendiri dan tidak memperhatikan orang lain.

Adler meyakini bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak mampu menyesuaikan diri, yaitu :

1. Kelemahan Fisik yang Berlebihan

Setiap orang lahir dengan kelemahan fisik, baik karena faktor keturunan, kecelakaan, atau penyakit. Kondisi ini tidak cukup untuk menyebabkan seseorang menjadi tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik. Hal ini harus didukung oleh perasaan inferior yang menonjol dan berlebihan. Mereka cenderung berusaha keras untuk melakukan kompensasi terhadap kelemahan mereka, cenderung menjadi tidak peduli pada diri sendiri, dan kurang memperhatikan keadaan orang lain. Perasaan inferior ini mengalahkan keinginan mereka untuk mencapai keberhasilan. Mereka yakin bahwa masalah utama dalam hidup hanya dapat diselesaikan hanya dengan sikap mementingkan diri sendiri.

2. Gaya Hidup Manja 

Gaya hidup manja banyak terdapat dalam diri orang yang neurotis. Orang yang manja memiliki minat sosial yang lemah. Mereka mengharapkan orang lain untuk merawat, melindungi, dan memuaskan kebutuhan mereka. Karakteristik menonjol dari orang yang manja adalah putus asa berlebihan, mudah bimbang, oversensitif, tidak sabar, atau cemas berlebihan. Orang manja selalu memandang dunia sekitarnya dengan sudut pandangnya sendiri.

Mereka yakin bahwa mereka berhak untuk selalu menjadi orang yang pertama dari segalanya. Orang yang manja memiliki orangtua yang menunjukkan kurangnya kasih sayang. Artinya, orangtua tersebut melakukan terlalu banyak untuk anaknya, dan menganggap anak tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri. Anak-anak dengan orangtua yang seperti ini menyebabkan anaknya merasa dimanja, dan membentuk perilaku dan gaya hidup yang manja.

3. Gaya Hidup Terabaikan

Orang dengan gaya hidup terabaikan adalah orang yang diabaikan, sehingga merasa tidak dicintai, tidak diinginkan, dan pada akhirnya membentuk gaya hidup yang terabaikan. Selain diabaikan, anak yang disiksa dan diperlakukan tidak adil, memiliki minat sosial yang rendah, dan cenderung menciptakan gaya hidup terabaikan. Orang-orang yang seperti ini akan merasa tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, tidak mampu bekerjasama, merasa terasing dari orang lain, dan mengalami rasa iri terhadap keberhasilan orang lain.

4. Kecenderungan untuk Melindungi

Adler yakin bahwa manusia menciptakan perilaku melindungi perasaan akan harga diri mereka terhadap rasa malu di muka umum. Alat perlindungan ini disebut KECENDERUNGAN UNTUK MELINDUNGI. Konsep ini sama dengan konsep Freud mengenai mekanisme pertahanan diri. Namun, ada perbedaan di antara kedua konsep tersebut. Konsep Adler mengenai perlindungan terhadap diri itu dilakukan secara sadar. Sedangkan konsep Freud mengenai mekanisme pertahanan diri itu dilakukan secara tidak sadar. Ada tiga bentuk kecenderungan untuk melindungi diri menurut Adler, yaitu :

MEMBUAT ALASAN

Membuat alasan adalah bentuk paling umum dari melindungi diri. Membuat alasan muncul dalam bentuk “Iya, tetapi…” Hal ini menunjukkan bahwa orang menyatakan sesuatu yang akan mereka lakukan, namun diikuti dengan alasan. Misalnya “Ya, saya akan kuliah lagi, tetapi anak saya membutuhkan saya”. Selain itu alasan dapat berbentuk “Jika saja…”. Misalnya, “Jika saja, anak-anak sudah besar, maka saya akan dapat kuliah kembali”.

AGRESI

Adler yakin bahwa orang menggunakan agresi untuk melindungi superioritas berlebihan dan harga diri yang rapuh. Perlindungan diri melalui agresi dapat berbentuk : (1) Depreciation, adalah kecenderungan untuk menilai rendah hasil pencapaian orang lain dan meninggikan penilaian terhadap diri sendiri. Misalnya, dia berhasil mendapat posisi itu karena ia sudah lebih lama bekerja dari saya, kalau tidak pasti saya yang akan dapat posisi itu ; (2) Accusation, yaitu kecenderungan untuk mendakwa atau menyalahkan orang lain untuk kegagalan seseorang dan untuk membalas dendam demi melindungi harga diri yang lemah. Misalnya, “Saya ingin belajar ilmu kedokteran, tetapi orangtua saya memaksa saya masuk psikologi. Akhirnya IPK saya sekarang jelek sekali” ; (3) Self Accusation, yaitu menyiksa diri sendiri dan memenuhi diri sendiri dengan perasaan bersalah. Misalnya, “Saya bodoh sekali karena tidak bersikap baik kepada nenek saya selama hidupnya. Sekarang semua sudah terlambat”.

MENARIK DIRI

Kepribadian seseorang akan berhenti berkembang jika ia lari dari kesulitan atau menarik diri atau membuat jarak. Ada empat cara dalam menarik diri, yaitu : (1) Moving Backward, yaitu kecenderungan bergerak mundur pada periode kehidupan yang lebih aman dan nyaman. Konsep ini sama dengan konsep regresi pada Freud ; (2) Standing Still, yaitu kecenderungan untuk tidak bergerak ke arah manapun dan menghindari semua tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dengan tidak melakukan apapun, orang akan melindungi harga diri dan melindungi diri dari kegagalan ; (3) Hasitating, yaitu kecenderungan ragu-ragu ketika dihadapkan pada masalah yang sulit ; (4) Constructing Obstacles, yaitu kecenderungan untuk membangun penghalang.

Penerapan Psikologi Individual

Penerapan praktis dari Psikologi Individual terbagi dalam empat area, yaitu :

1. Konstelasi Keluarga

Konstelasi keluarga mencakup urutan kelahiran, gender dari saudara kandung, dan rentang usia di antara mereka. Konstelasi keluarga menjadi hal yang sangat penting bagi Adler, karena ia membuat hipotesis mengenai urutan kelahiran. Menurut Adler, anak sulung memiliki perasaan berkuasa, superioritas yang kuat, kecemasan tinggi, dan kecenderungan overprotektif. Jika anak sulung berusia tiga tahun atau lebih ketika adiknya lahir, maka mereka akan menggabungkan peristiwa ini ke dalam gaya hidup sebelumnya yang telah terbentuk. 

Jika gaya hidupnya adalah berpusat pada diri, maka kemungkinan ia akan mengembangkan permusuhan dan kemarahan pada adiknya yang baru lahir. Namun, jika gaya hidupnya adalah kerjasama, maka ia akan menerima adiknya tersebut. Sebaliknya jika anak sulung mendapat adik ketika usia kurang dari tiga tahun, maka kemarahan dan sikap permusuhan terjadi secara tidak sadar. Sikap ini akan lebih sulit diubah di kehidupan selanjutnya. Anak kedua, memulai hidup dalam situasi yang lebih baik untuk membentuk kerjasama dan minat sosial. 

Sampai usia tertentu, kepribadian anak kedua akan dibentuk oleh persepsi mereka terhadap sikap anak sulung kepadanya. Jika sikap anak sulung bermusuhan, maka anak kedua akan cenderung menjadi kompetitif atau kecil hati. Anak bungsu, memiliki resiko menjadi anak bermasalah, perasaan inferior yang kuat, dan kurang mandiri. Namun mereka memiliki kelebihan, yaitu motivasi tinggi dibanding kakaknya dan ambisius. Anak tunggal, memiliki kecenderungan bersaing dengan orangtuanya, membentuk rasa superioritas yang tinggi, memiliki konsep diri yang besar, kurang memiliki sikap kerjasama, minat sosial, bersikap parasit, berharap orang lain untuk memanjakan dan melindungi mereka.

2. Ingatan Masa Kecil

Adler menyatakan bahwa ingatan masa kecil konsisten dengan gaya hidup saat ini. Misalnya, ingatan Adler tentang masa kecil mengenai kakaknya yang sehat, sedangkan ia sering sakit. Ingatan ini menunjukkan kepada kita bahwa Adler memandang dirinya sebagai orang yang lemah, namun mampu bersaing melawan musuh yang kuat. Musuh itu merujuk kepada penyakitnya. Di sisi lain, ingatan ini menunjukkan kepada kita bahwa Adler menerima pertolongan orang lain yang dapat membuatnya memiliki rasa percaya diri untuk melawan penyakitnya.

3. Mimpi

Mimpi memang tidak dapat meramalkan masa depan, namun dapat menjadi petunjuk untuk memahami dan mengatasi masalah di masa depan. Setiap interpretasi mimpi sebaiknya bersifat sementara dan dapat diinterpretasi ulang.

4. Psikoterapi

Teori Adler menyatakan bahwa psikopatologi berasal dari kurangnya keberanian, perasaan inferior berlebihan, dan minat sosial yang tidak berkembang. Sehingga tujuan utama psikoterapi Adlerian adalah menumbuhkan rasa berani, memperkecil perasaan inferior, dan menumbuhkan minat sosial. Dalam melakukan psikoterapi, Adler menetapkan dirinya sebagai teman kerja yang menyenangkan, menahan diri untuk memberi nasihat berlebihan, menjunjung nilai pada hubungan antar manusia.

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Teori Psikologi Individual Menurut Alfred Adler. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Teori Psikologi Individual Menurut Alfred Adler"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel