Teori Kepemimpinan dan Dimensi Kepemimpinan Menurut Para Ahli

Daftar Isi
Teori Kepemimpinan dan Dimensi Kepemimpinan Menurut Para Ahli - Artikel psikologi ini, Universitas Psikologi akan membahas mengenai Kepemimpinan, pengertian kepemimpinan, dan dimensi kepemimpinan; pemimpin dan manajer; dan teori kepemimpinan menurut ahli. Melalui artikel ini diharapkan anda mampu memahami konsep kepemimpinan, dapat membedakan pemimpin dan manajer, serta menguasai teori kepemimpinan. Silahkan simak pembahasan lengkapnya menurut ahli di bawah ini.

Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan mengacu pada proses-proses dimana seorang anggota kelompok (sang pemimpin) mempengaruhi anggota kelompok yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Pemimpin adalah orang yang paling mempengaruhi perilaku dan keyakinan kelompok. Dia adalah orang yang memulai aksi, memberi perintah, mengambil keputusan, berperan sebagai suri tauladan dan berada di garis depan kelompok.

Sebagian kelompok memiliki pemimpin formal dan sebagian lainnya informal. Organisasi besar seperti perusahaan bisnis atau sekolah memiliki organisasi formal yang menunjukkan garis resmi rantai komando dan pedoman tentang pola pengambilan keputusan dan pengawasan bahkan dalam kelompok yang lebih kecil seperti klub dan persaudaraan bisa jadi ada pimpinan terpilih dengan tanggungjawab spesifik.

Kelompok pertemanan mengilustrasikan pola kepemimpinan informal. Satu orang mungkin lebih menonjol dan berpengaruh daripada orang lain dalam diskusi kelompok dan karenanya lebih kuat pengaruhnya dalam pengambilan keputusan.
Teori Kepemimpinan dan Dimensi Kepemimpinan Menurut Para Ahli
image source: www(dot)linkedin(dot)com
Baca juga: Perbedaan Manajer dan Pemimpin Menurut Ahli

Dimensi Kepemimpinan

Per ilaku pemimpin diketahui bervariasi dalam dua dimensi besar yang ditunjukkan: 
  • Kepedulian (consideration), mengutamakan kepedulian terhadap pegawai dan hubungan yang baik dengan mereka. 
  • Memprakarsai struktur (initiating structure), mengutamakan produksi dan penyelesaian tugas.

Para pemimpin bisa memiliki kadar yang tinggi atau rendah dalam tiap-tiap dimensi tersebut. Selain itu, pemimpin juga bervariasi dalam dua dimensi penting lainnya yaitu: (Muczyk & Reimann, 1987; Peterson, 1997)
  • Otokratik-partisipatif: seberapa jauh pemimpin membuat seluruh keputusannya sendiri atau apakah ia memperbolehkan partisipasi dari anggota-anggota kelompok 
  • Permisif-terarah: seberapa jauh pemimpin berusaha menjalankan tugasnya dengan cara memberikan pengarahan langsung dalam aktivitas kelompok 

Semua pemimpin tentu saja tidak sama antara satu dan yang lainnya. Trait (sifat) mereka mungkin serupa dalam beberapa hal, namun mereka dapat sangat berbeda dalam gaya atau pendekatan kepemimpinan. Meskipun terdapat begitu banyak variasi gaya kepemimpinan mengingat begitu banyak pemimpin.

Pada awal studi mengenai kepemimpinan ditemukan dua dimensi, dimensi pertama disebut memprakarsai struktur (initiating structure) atau berorientasi pada produksi. Pemimpin yang memiliki kadar tinggi dalam dimensi ini sangat peduli pada upaya penyelesaian suatu tugas.

Mereka melakukan hal-hal seperti mengorganisasi pekerjaan, mendorong para bawahan untuk senantiasa mematuhi prosedur, menetapkan tujuan dan memperjelas posisi pemimpin dan bawahan secara eksplisit. Sebaliknya pemimpin yang memiliki kadar rendah dalam dimensi ini melakukan hal-hal tersebut dalam porsi yang minim.

Dimensi yang kedua adalah kepedulian (consideration) atau berorientasi pada manusia. Pemimpin yang memiliki kadar tinggi dalam dimensi ini memfokuskan diri pada usaha mempertahankan hubungan baik dengan para bawahannya, serta bagaimana membuat dirinya tetap disukai oleh bawahan. Ciri khas perilaku dalam dimensi ini adalah membantu bawahan, menjelaskan berbagai hal pada mereka, dan memperhatikan betul kesejahteraan bawahan. Sedangkan pemimpin yang memiliki kadar rendah dalam dimensi ini cenderung tidak terlalu memperdulikan seberapa baik hubungan mereka dengan para bawahan.

Apakah ada satu dimensi yang lebih baik dari yang lain? Tidak juga. Keduanya sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kepedulian yang tinggi dapat meningkatkan moral kelompok tapi karena pemimpin seperti ini cenderung tidak suka memberitahu bawahannya apa yang harus dilakukan atau memberi umpan balik negatif atas hasil kerja bawahannya, efisiensi sering kali berkurang, sebaliknya para pemimpin yang memiliki kadar tinggi dalam dimensi memprakarsai struktur bisa menghasilkan efisiensi kerja yang lebih tinggi meskipun para bawahannya menyimpulkan bahwa sang atasan tidak terlalu memperdulikan nasib mereka. Hasilnya komitmen kerja bawahan bisa berkurang.

Teori Kepemimpinan

1. Pemimpin transformasional (transformational leaders) (kharismatik) 

House dan Howell; Kohl, Steers & Terborg. Pemimpin yang memiliki dampak yang sangat kuat terhadap para pengikutnya, dan dengan dampak tersebut, ia mampu mengubah organisasi ataupun masayarakat.

Para pemimpin tersebut memiliki karakteristik (Bass, Judge & Bono):
  • Pengaruh sosok ideal, mereka berperan sebagai panutan yang kharismatik bagi para pengikutnya. Mereka memperlihatkan kharisma dalam diri mereka.
  • Stimulasi intelektual, mereka menstimulasi kreativitas di kalangan para pengikutnya dengan mempertanyakan berbagai asumsi dan status quo.
  • Motivasi inspirasional, mereka menyatakan visi yang jelas dan memberikan inspirasi kepada para pengikutnya.
  • Kepedulian individual, mereka menaruh perhatian dan mendukung kebutuhan individual para pengikutnya.

Para pemimpin transformasioal acap kali memiliki dampak yang sangat kuat pada pengikutnya dan pada organisasi atau masyarakat secara umum. Mereka bisa begitu karena memanfaatkan kemampuan mereka yang luar biasa untuk meningkatkan motivasi dan komitmen pengikut mereka dengan cara:
  • Menyatakan dengan jelas visi masa depan yang dapat dan harus dipenuhi oleh organisasi atau kelompok (Howell & Frost, 1989)
  • Menawarkan jalan untuk mencapai visi tersebut
  • Melakukan pembingkaian (framing) (Conger, 1991). Mereka mendefinisikan tujuan kelompok sedemikian rupa sehingga memberi makna dan maksud lebih pada tujuan dan tindakan yang diperlukan untuk mencapainya.

Perilaku lain yang ditunjukkan oleh pemimpin kharismatik adalah self-confidence yang tinggi, gaya komunikasi yang memukau serta kepribadian yang mempesona (House, Spangler & Woycke, 1991). Kebanyakan pemimpin kharismatik menguasai teknik manajemen kesan yang sempurna.

Ketika kemampuan ini dipadukan dengan trait-trait dan perilaku pemimpin, serta dikombinasikan dengan teknik penjabaran visi dan framing dari pemimpin kharismatik, maka kemampuan pemimpin-pemimpin tersebut untuk dapat mempengaruhi sedemikian banyak pengikut, bukan lagi sebuah misteri.

Pemimpin transformasional bisa memiliki dampak yang demikian kuat karena memiliki karakteristik yang secara bersama-sama, menawan para pengikutnya melalui gaya personal yang mempesona.

2. Pemimpin transaksional (transactional leaders)

Pemimpin yang mengarahkan kelompoknya dengan cara pemberian imbalan bagi perilaku yang diharapkan, memperbaiki kesalahan dan merubah peraturan yang ada. Pemimpin seperti ini umumnya berusaha memperkuat struktur dan strategi-strategi organisasi yang sudah ada.

Jika pemimpin transformasional (kharismatik) mengutamakan perhatian pada visi yang memberikan inspirasi, pemimpin transaksional bertindak lebih seperti seorang manajer tradisional. Pemimpin transaksional memberikan penghargaan atas perilaku-perilaku yang diharapkan, memperbaiki kesalahan-kesalahan atau merubah peraturan yang ada, serta memperkuat struktur dan strategi organisasi. Lewin dan kawan-kawan tertarik untuk membandingkan dampak dari tiga gaya kepemimpinan:

Otokratik

Pemimpin yang otokratik cenderung memberi banyak perintah dan membuat sendiri semua keputusannya. Pemimpin ini menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan oleh kelompok dan bagaimana aturannya serta memilihkan pasangan kerja bawahan tanpa memperhitungkan karakter personal masing-masing bawahan.

Laissez-faire

Pemimpin dengan gaya laissez-faire cenderung lepas tangan dalam arti membiarkan orang mengerjakan apapun yang mereka inginkan dan menghindari berpartisipasi dalam aktivitas kelompok dan tidak mengintervensi apapun. Peranannya sebatas memberikan masukan-masukan teknis tentang aktivitas yang sedang dilakukan bawahan.

Demokratik

Pemimpin demokratik membiarkan bawahan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan seringkali meminta masukan bawahan tentang berbagai hal. Pemimpin tipe ini jarang memberi perintah atau aturan, mengizinkan masing-masing bawahan untuk memillih sendiri rekan kerja dan membiarkan bawahan menentukan sendiri cara yang hendak bawahan gunakan untuk menyelesaikan pekerjannya.

Sekian artikel tentang Teori Kepemimpinan dan Dimensi Kepemimpinan Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.
  • Lunenburg, C. F. 2011. Leadership versus Management: A Key Distinction—At Least in Theory. INTERNATIONAL JOURNAL OF MANAGEMENT, BUSINESS, AND ADMINISTRATION VOLUME 14, NUMBER 1.
Universitas Psikologi
Universitas Psikologi Media belajar ilmu psikologi terlengkap yang berisi kumpulan artikel dan tips psikologi terbaru hanya di universitaspsikologi.com | Mari kita belajar psikologi dengan cara yang menyenangkan.

Posting Komentar