Kaidah Keputusan dan Proses Pengambil Keputusan Menurut Para Ahli

Kaidah Keputusan dan Proses Pengambil Keputusan Menurut Para Ahli - Dalam artikel psikologi kali ini adalah membahas tentang kaidah keputusan, selanjutnya akan dibahas bagaimana pengambilan keputusan itu terjadi, tidak hanya secara individu pengambilan keputusan akan dibahas juga dalam situasi berkelompok. Diharapkan anda dapat memahami dengan jelas seperti apa sebuah pengambilan keputusan itu terjadi pada pembahasan di bawah ini.

[Ilustrasi Kasus] Setelah berminggu-minggu mendengar kesaksian, para juri melakukan rapat untuk mendiskusikan kasus kontroversial dan menjatuhkan hukuman. Seorang wanita telah menikam suaminya hingga tewas. Jaksa penuntut mengatakan bahwa ini adalah kejadian pembunuhan berencana dan pelaku pantas untuk dihukum mati. Pembela mengatakan bahwa wanita itu sebelumnya merupakan korban dari dari kekerasan fisik dan psikologis selama bertahun-tahun dan tindakan menikam tersebut merupakan tindakan membela diri.

Decision Rules (Kaidah Keputusan) dan Proses Pengambilan Keputusan

Decision rules merupakan aturan tentang bagaimana suatu kelompok harus mencapai tujuan. Para psikolog telah mengidentifikasi seperangkat kaidah keputusan (decision rules) yang digunakan kelompok untuk mengambil keputusan (Miller, 1989). Di Amerika, mengharuskan keputusan menentukan salah atau benar untuk kasus pembunuhan berdasarkan dari hasil keputusan bulat, jika ada satu juri saja yang berbeda, maka ada kemungkinan pengadilan ulang.

Karena ada aturan kesepakatan bulat, maka kelompok harus harus mempertimbangkan betul pandangan minoritas yang berbeda pendapat. Sebaliknya, ketika presiden suatu perusahaan memikirkan kemungkinan relokasi bisnisnya kekota yang baru, dia mungkin akan mendiskusikannya dengan anak buahnya, namun pada akhirnya dialah yang akan mengambil keputusan.

Riset telah berusaha untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kaidah keputusan yang dipakai oleh kelompok. Tipe keputusan merupakan salah satu faktor penting. Misalnya dalam situasi dimana satu kelompok membahas opini terkait redaksi majalah –apakah berwarna merah atau biru-, maka dalam pembahasan kelompok itu tidak ada opini yang tepat secara obyektif.

Dalam kasus semacam itu, apabila topiknya serupa, alternatifnya terbatas, dan tidak ada jawaban yang benar atau salah, maka yang muncul adalah mayoritaslah yang menentukan. Dalam keputusan berdasarkan pendapat mayoritas, kelompok akan memutuskan sesuai dengan pandangan yang paling banyak didukung anggota kelompok.

Ketika kelompok membahas persoalan fakta, bukan opini, dimana ada solusi yang benar dan salah, maka kelompok itu cenderung akan menggunakan kaidah “kebenaranlah yang menang” (Laughin dan Adamopoulos). Sebagai hasil dari presentasi informasi dan argumen, anggota kelompok akan mendukung pandangan yang benar, meskipun hanya didukung oleh sedikit orang. 

Riset terhadap kaidah-kaidah keputusan ini menunjukkan bahwa dengan mengetahui opini awal anggota kelompok dan tipe isu yang dibahas, kita akan dapat memprediksi keputusan kelompok.
Kaidah Keputusan dan Proses Pengambil Keputusan Menurut Para Ahli
image source: www(dot)linkedin(dot)com
Baca juga: Psikologi tentang Suhu, Pencahayaan, dan Polusi dalam Dunia Kerja

Social Decision Schemes (Skema Keputusan Sosial)

Apakah keputusan kelompok dapat diprediksi dari pandangan dari anggota kelompok? Ya, keputusan keputusan akhir yang diambil oleh kelompok seringkali dapat terprediksi secara akurat oleh suatu peraturan sederhana yang dikenal sebagai skema keputusan sosial. Aturan ini berhubungan dengan distribusi awal dari anggota atau preferensi dari keputusan akhir kelompok. 

Contohnya, satu skema –peraturan mayoritas yang menang- menyatakan bahwa dalam banyak kasus, kelompok akan memilih posisi apapun yang didukung oleh kebanyakan anggotanya (misalnya Nemeth dkk dalam Baron dan Byrne, 2003).

Menurut peraturan tersebut, diskusi terutama berfungsi untuk mengkonfirmasikan atau menguatkan pandangan awal yang paling populer, yang biasanya diterima tidak peduli seberapa semangatnya anggota kelompok minoritas dalam memberikan pandangan lain. Skema keputusan kedua adalah peraturan yang benar yang menang.

Skema ini mengindikasikan bahwa solusi yang benar atau keputusan yang benar pada akhirnya akan diterima ketika kebenarannya disadari oleh lebih dan lebih banyak lagi anggota. Peraturan keputusan yang ketiga dikenal sebagai peraturan pendapat pertama. Kelompok cenderung untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan arah dari pendapat yang pertama kali diajukan oleh anggota manapun.

Pengaruh Sosial Normatif dan Pengaruh Sosial Informasional.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa secara umum kelompok akan mengambil keputusan secara konsensus. Kecenderungan tersebut dapat dijelaskan melalui penjelasan pengaruh sosial normatif. Pengaruh sosial normatif didasarkan pada keinginan kita untuk disukai atau diterima, dan kelompokm pastinya menggunakan taktik ini dalam mempengaruhi anngotanya yang tidak setuju untuk menjadi setuju. 

Sama halnya kelompok juga menggunakan pengaruh sosial informasional didasarkan pada keinginan kita untuk menjadi benar. Tiga isu penting dalam pengambilan keputusan kelompok (bahaya pengambilan keputusan dalam kelompok:

Penggunaan informasi secara bias

Ketika suatu kelompok membahas suatu isu, anggota-anggotanya seringkali memiliki informasi yang berbeda-beda dan sudut pandang yang berlainan. Salah satu alasan kenapa kelompok mungkin menghasilkan keputusan yang lebih baik daripada secara individual adalah karena kelompok dapat mengumpulkan informasi yang lebih banyak sebelum mengambil keputusan dalam kelompok.

Misalkan jurusan psikologi pada sebuah universitas hendak melakukan pemilihan calon dekan fakultas. Semua anggota fakultas akan mewawancarainya mengajukan banyak pertanyaan, latar belakangnya, pengalaman dan perhatian. Mendengar visi dan misi calon dekan, membaca resume dan rekomendasi dari pihak lain. Ketika anggota fakultas rapat untuk menentukan pilihan, mereka semua akan berbagi pengetahuan umum tentang calon dekan yang diseleksi.

Misalnya jika salah satu anggota fakultas mungkin tahu bahwa salah satu calon baru saja memenangkan penghargaan mengajar. Sedangkan anggota lainnya mengetahui bahwa si calon dekan pernah bekerja sambil kuliah agar bisa membiayai kuliah sampai lulus dan anggota lainnya mungkin tahu bahwa calon itu bisa berbahasa china dengan fasih dan berencana melakukan riset lintas kultural.

Untuk mendapatkan keputusan yang terbaik para anggota fakultas harus mempertimbangkan informasi umum dan informasi yang unik tersebut. Apakah kelompok dalam kenyataannya benar-benar menggunakan cara berbagi informasi secara sistematis seperti itu.

Untuk menjawab pertanyaan diatas para psikolog sosial meminta beberapa orang ikut dalam studi pengambilan kelompok. Dalam sebuah studi, kelompok mahasiswa yang terdiri dari tiga orang diminta memutuskan dosen mana yang akan docalonkan untuk mendapatkan penghargaan mengajar (Winquist dan Larson). Dalam studi lainnya, tim yang terdiri dari tiga dokter diminta untuk mendiagnosis kasus medis hipotesis (Larson). 

Dalam studi tersebut, semua anggota kelompok diberi informasi umum dan informsi tersendiri untuk setiap anggota. Semua informasi itu sangat penting untuk membuat keputusan yang tepat. Diskusi kelompok kemudian dicatat dan dinilai berapa lama waktu yang dihabiskan untuk membahas informasi yang unik tersebut.

Hasil-hasil studi diatas jelas, anggota kelompok menghabiskan lebih banyak waktu untuk membahas informasi yang sudah diketahui bersama daripada yang tidak diketahui secara bersama (unik) (Wittenbaum dan Park). Hal tersebut dinamakan sebagai Common knowledge effect (efek pengetahuan umum). 

Dengan mencurahkan pembahasan pada pengetahuan yang telah diketahui secara bersama, kelompok tidak memanfaatkan informasi unik yang mereka miliki yang mungkin dapat mengungkapkan sesuatu yang penting. Mengapa bias semacam ini terjadi?

Tampaknya interaksi kelompok lebih mudah dan lebih nyaman apabila informasi yang sudah diketahui bersama didiskusikan dan semua orang berpartisipasi. Anggota kelompok yang menyampaikan informasi umum akan dianggap lebih kompeten dan berpengetahuan daripada anggota yang memberikan informasi yang belum diketahui secara bersama.

Tendensi lain yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan kelompok adalah bias konfirmasi. Orang sering mencari dan memilih informasi yang mendukung keyakinan awal mereka. Karenanya dalam pengambilan keputusan kelompok, individu mungkin menggunakan diskusi kelompok untuk mengkonfirmasi ketimbang untuk menentang keputusan awal mereka (Scultz-Hard, Frey, Luthgens, dan Moscovici).

Dengan kata lain, anggota kelompok mungkin menggunakan diskusi kelompok untuk menjustifikasi keputusan awal mereka sendiri, bukan untuk mencari informasi baru yang mungkin bertentangan dengan preferensi mereka dan mengharuskan mereka untuk mengubah opini (Kelly dan Karau).

Polarisasi Kelompok

Apakah kelompok cenderung akan mengambil keputusan yang lebih konservatif ataukah lebih beresiko daripada secara individual? Pada tahun 1968 James Stoner melaporkan bahwa keputusan kelompok sering lebih beresiko daripada keputusan individu sebelum seorang anggota kelompok ikut diskusi kelompok.

Temuan tersebut dinamakan Risky Shift (pergeseran resiko). Risky Shift merupakan situasi dimana diskusi kelompok dapat menyebabkan individu mengambil keputusan yang lebih beresiko daripada jika mengambil keputusan secara individual atau sendiri.

Banyak studi yang dilakukan di Amerika, Kanada dan Eropa mereplikasi temuan dasar dari pergesaran ke arah resiko yang lebih besar lagi. Sebaliknya jika opini awalnya adalah konservatif, diskusi kelompok akan akan bergeser ke arah yang lebih konservatif lagi.

Temuan dasarnya adalah bahwa diskusi kelompok menyebabkan keputusan menyebabkan keputusan yang lebih ekstrem. Fenomena ini dinamakan polarisasi kelompok. Polarisasi kelompok adalah kecenderungan kelompok kerapkali membuat keputusan yang lebih ekstrim daripada keputusan secara individual.

Polarisasis Kelompok

Perspektif argumen persuasif menyatakan bahwa orang mendapatkan informasi baru sebagai hasil dari mendengarkan pro dan kontra dalam diskusi kelompok (Burnstein dan Vinokur). Semakin banyak dan semakin persuasif suatu argumen dalam mendukung suatu pandangan, semakin besar kemungkinan anggota kelompok itu mengadopsi pandangan tersebut.

Akan tetapi jika sebagian besar anggota pada mulanya mendukung satu pandangan dan mendiskusikan alasan dari opini mereka, orang akan lebih banyak mendengar alasan yang mendukung pendapat mereka. Selain itu diskusi kelompok mungkin mendorong anggota untuk memikirkan beragam argumen dan mengikuti posisi tertentu.

Informasi yang disajikan selama diskusi mungkin akan meyakinkan orang bahwa pendapat mereka benar dan karenanya menyebabkan opini yang lebih ekstrim. Lebih jauh sebagai bagian dari diskusi kelompok, individu mungkin berkali-kali mengekspresikan idenya, dan proses pernyataan ulang ini mungkin meningkatkan pergeseran ke arah pandangan yang lebih ekstrim (Brauer, Judd, dan Gliner).

Penjelasan kedua dari dari polarisasi kelompok lebih menekankan pada perbandingan sosial (social comparison) dan proses presentasi diri (Goethal dan Darley). Pendapat ini menyatakan bahwa anggota kelompok memperhatikan bagaimana opini mereka dibandingkan dengan opini anggota lain dalam kelompok.

Selama diskusi individu mungkin menyadari bahwa orang lain memiliki sikap yang sama dan beberapa orang lainnya mungkin menganut pandangan yang lebih kuat (lebih ekstrim). Pergeseran ini pada dasarnya adalah upaya untuk menonjolkan diri, yakni individu ingin tampil “di atas rata-rata”. Riset memberikan dukungan untuk argumen persuasif maupun proses untuk perbandingan sosial dan menunjukkan bahwa kedua hal itu terjadi secara bersamaan (Isenberg).

Penjelasan ketiga adalah adanya proses identitas sosial (Abrams, Wetherell, Cochrane, Hogg, dan Turner). Idenya adalah bahwa diskusi menyebabkan individu berfokus pada keanggotaan mereka dalam kelompokm dan pada upaya mengidentifikasi diri dengan kelompok. Identifikasi ini pada gilirannya menyebabkan individu merasakan adanya tekanan untuk menggeser pendapatnya menjadi lebih sesuai dengan norma kelompok.

Akan tetapi, anggota ini memandang norma kelompok sebagai norma stereotip atau lebih ekstrim bukan sebagai pendapat yang benar. Konsekuensinya, mereka menyesuaikan diri dengan apa yang mereka yakini merupakan pendapat kelompok, dengan cara menggeser sikap mereka ke arah yang lebih ekstrim. Apapun penyebabnya, polarisasi kelompok adalah aspek penting dari pembuatan keputusan kelompok.

Apakah diskusi kelompok selalu menimbulkan polarisasi? Jawabannya tidak. Ketika anggota suatu kelompok berbeda pandangan dalam suatu isu, diskusinya sering menimbulkan kompromi antar pandangan yang bertentengan, proses ini disebut sebagai Depolarisasi(Burnstein dan Vinokour).

Groupthink (Pikiran Kelompok)

Groupthink merupakan pengambilan keputusan yang buruk berdasarkan pertimbangan alternatif yang tidak memadai. Terkadang sebuah kelompok yang nampak rasional dan cerdas membuat keputusan yang menimbulkan bencana. Irvning Janis mengemukakan bahwa fenomena berasal dari proses yang dikenal sebagai groupthink (pikiran kelompok).

Anteseden: Pencetus Groupthink

1. Kelompok sangat kohesif

2. Kelompok menutup diri dari opini diluar kelompok

3. Kelompok punya pemimpin yang kuat

4. Kelompok tidak punya prosedur sistematis untuk mengevaluasi alternatif

5. Kelompok merasakan tekanan tinggi atau ancaman eksternal


Groupthink : Keinginan yang kuat mencapai konsensus kelompok

Karakteristik Groupthink

1. Kelompok merasa ta terkalahkan

2. Kelompok mengasumsikan pandangannya sebagai bermoral

3. Kelompok mengabaikan penentangan dan merasionalisasikan pendapatnya sendiri

4. Kelompok memandang lawannya secara stereotip

5. Anggota kelompok tidak mengekspresikan keraguan atau ketidaksetujuan

6. Orang yang tidak setuju dengan kelompok akan didesak untuk setuju

7. Kelompok menganggap diri mereka bersatu padu


Konsekuensi: Keputusan terburuk dari Groupthink

1. Kelompok memberi pertimbangan yang tidak memadai

2. Kelompok tidak menyukai alternatif secara memadai

3. Kelompok tidak sepenuhnya mengkaji resiko keputusan yang diambil

4. Kelompok tidak serius mencari informasi yang relevan

5. Kelompok mengevaluasi informasi secara bias

6. Kelompok tidak menyusun rencana darurat atau rencana kontingensi

Pikiran kelompok muncul dari kelompok yang merasa sangat optimis dan tak terkalahkan. Anggota-anggotanya melindungi diri mereka dari informasi diluar kelompok yang mungkin dapat melemahkan keputusan dalam kelompok. Terakhir, kelompok itu percaya bahwa keputusannya adalah bulat meski ada pendapat yang sangat bertentangan. Karena ketidaksepakatan didalam dan diluar kelompok dicegah, maka keputusannya kadang ngawur.

Janis mengatakan bahwa pikiran kelompok ikut mempengaruhi beberapa episode penting dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika. Janis menyebut kurangnya persiapan menghadapi serangan Jepang di Pearl Harbor pada 1941, kegagalan invasi teluk Babi di Kuba pada 1960, ekskalasi perang Vietnam, skandal Water Gate presiden Nixon pada awal 1970. Watergate adalah skandal politik yang paling terkenal dalam sejarah Amerika, dan Deep Throat adalah narasumber misterius paling terkenal dalam sejarah jurnalistik. 

Peristiwa yang tadinya tampak sebagai pencurian yang tidak berbahaya di bulan Juni 1972 akhirnya berujung pada tumbangnya Presiden Richard Nixon. Skandal itu juga mengungkapkan berbagai aktifitas pengintaian politik, sabotase dan penyuapan. Sebagian orang mengatakan, skandal itu mengubah budaya Amerika untuk selamanya, menjatuhkan sang presiden dari singgasananya serta membuat media massa lebih berani.

Dua wartawan surat kabar Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein memainkan peranan penting dalam memusatkan perhatian kepada skandal itu, dibantu oleh informasi penting dari informan misterius mereka. Insiden yang terjadi saat kampanye pemilihan sedang berlangsung di tahun tersebut, setelah diselidiki ternyata dilakukan oleh sejumlah anggota kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden.

Dua pencuri dan dua orang lain yang ikut serta divonis bersalah bulan Januari 1973, namun banyak orang, termasuk hakim yang memimpin sidang itu John Sirica, menduga ada sebuah konspirasi yang mencapai sejumlah pejabat tinggi di pemerintahan (BBCIndonesia.com).

Dalam setiap kasus, sekelompok kecil politisi yang amat berpengaruh, yang biasanya dipimpin oleh presiden, membuat keputusan tanpa mendengar opini yang berbeda atau tanpa mendengar informasi lain yang mungkin amat penting. Periset lainnya telah mengaplikasikan model pikiran kelompok pada keputusan buruk lainnya, seperti ledakan pesawat Ulang alik Chalenger.

Pada tanggal 28 Januari 1986, Chalenger diluncurkan dari Kennedy Space Center. Sekitar 72 detik kemudia, pesawat itu meledak, menewaskan semua orang yang ada dalam pesawat. Kejadian mengerikan itu disiarkan langsung oleh televisi. Para insinyur sebelumnya telah memperingatkna agar peluncuran ditunda, karena menurut mereka suhu terlalu dingin, tetapi pimpinan strategis mengabaikan nasihat dari para insinyur. Menurut salah satu analisis banyak elemen groupthink ada di dalam keputusan peluncuran pesawat luar angkasa itu (Moorhead, Ference, dan Neck).

Saran Untuk Mengatasi Pikiran Kelompok

Janis mengemukakan beberapa saran untuk mengatasi pikiran kelompok dan memperkuat efektivitas pembuatan keputusan kelompok:
  • Pemimpin harus mendorong setiap anggota kelompok untuk mengemukakan keberatannya dan meragukan usulan keputusan. Agar efektif, pemimpin harus siap menerima kritik. 
  • Pemimpin tidak boleh berpihak sejak awal diskusi, dan menyatakan preferensi dan harapannya hanya setelah anggota kelompok mengajukan gagasan-gagasannya. 
  • Kelompok harus dibagi menjadi sub sub komite untuk mendiskusikan isu secara independen dan kemudian berkumpul untuk memecahkan perbedaan. 
  • Sesekali pakar dari luar harus diundang untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok untuk menentang pandangan anggota kelompok. 
  • Pada setiap rapat, setidaknya ada satu orang yang diberi tugas berperan sebagai tukang penyanggah ide-ide kelompok. 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Kaidah Keputusan dan Proses Pengambil Keputusan Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh. 
  • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta. 
  • Skandal yang menumbangkan Presiden Nixon. .

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Kaidah Keputusan dan Proses Pengambil Keputusan Menurut Para Ahli"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel