Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen

Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen - Materi belajar Universitas Psikologi kali ini mengenai validitas internal dan eksternal. Dalam penelitian eksperimen termasuk juga psikologi diharuskan mengenal validitas internal dan eksternal. Pengertian Validitas menyangkut 2 hal yaitu validitas alat ukur dan validitas penelitian.

Validitas alat ukur berkaitan dengan seberapa besar suatu alat ukur mampu mengukur apa yang ingin diukur. Validitas penelitian menunjukkan kemampuan menggambarkan hubungan sebab akibat yang dihasilkan. Validitas alat ukur berkaitan dengan perhitungan statistic sedangkan validitas penelitian berhubungan dengan cara mengontrol variable sekunder.
Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen
image source: nicktumminello(dot)com
Baca juga: Akibat Bencana dalam Psikologi pada Kelompok Rentan

Validitas Internal Penelitian

Validitas internal menunjukkan sejauh mana hubungan sebab akibat antara VB dan VT yang ditemukan dalam penelitian. Semakin kuat hubungan antara VB dan VT semakin kuat hubungan sebab akibat.

Kenapa Penelitian Eksperimen Tidak Menunjukkan Hubungan?

Sebuah penelitian eksperimen kemungkinan tidak menunjukkan hubungan sebab akibat yang kuat atau bahkan tidak ada hubungan kausalitas. Hal ini dipengaruhi beberapa hal berikut ini (Shadish, Cook, and Cambell; 2002):

1. Ambiguous Temporal Prescendence

Sebuah sebab A harus menghasilkan peristiwa B, apabila sebab tidak kuat atau ambigu menyebabkan hubungan kausalitas menjadi tidak kuat.

2. Selection

Seleksi berhubungan dengan proses mengambil sampel dari populasi, setiap individu memiliki karakteristik masing-masing, peneliti harus bisa membatasi karakteristik yang akan mengganggu tujuan dari eksperimen. Sampel yang dipilih memiliki pengetahuan mengenai proses apa yang akan dijalani dalam penelitian, ini akan mempengaruhi sikap individu misalnya faking good atau tidak menunjukkan kemampuan sesungguhnya. Kondisi ini bisa dikontrol dengan randomisasi (random assignment).

3. History

Peristiwa yang terjadi di luar pemberian treatment, tetapi berlangsung antara awal penelitian sampai denga sebelum diberikan posttest.

4. Maturation

Perubahan natural yang terjadi pada individu karena kematangan, betambahnya pengalaman sample, bertambahnya waktu dll. Misalnya : eksperimen yang dilakukan lebih dari 1 tahun, perubahan yang terjadi bisa dipengaruhi bertambah usia sample dan penguasaan keterampilan semakin bertambah.

5. Regression

Apabila sampel yang diambil mempunyai nilai pengukuran yang ekstrem misal terlalu rendah daripada yang lain, dia mungkin akan sering menunjukkan nilai rendah di variable yang lain, ini akan mempengaruhi keefektifan treatment yang diberikan. Kemungkinan efek dari treatment sedikit mempengaruhi sampel dengan nilai ekstrem ini.

6. Attrition

Berkurangnya responden yang mengikuti pelatihan (mortalitas) mempengaruhi keberlangsungan penelitian. Sebaiknya jumlah sampel dibuat lebihuntuk mengatasi kemungkinan mortalitas sampel.

7. Testing

Tes yang diberikan di awal penelitian dan akhir penelitian bisa jadi hasilnya dipengaruhi oleh pengalaman sampel. Sampel kemungkinan masih mengingat isi tes yang diberikan sehingga peningkatan hasil setelah pemberian treatment belum tentu karena treatment tetapi Karena subjek berusaha memperbaiki yang dia anggap salah atau menyamakan jawaban dengan tes awal.

Langkah meminimalkan dengan parallel tes, tes yang sama atau setara akan tetapi dipertimbangkan perubahan di beberapa hal. Bisa juga dengan pemberian tes yang tidak sama tetapi setara.

8. Instrumentation

Alat ukur yang digunakan harus memenuhi validitas dan reliabilitas statistic (lolos uji). Apabila tes belum ada validitas dan reliabiitas akan dipertanyakan kemampuan alat ukur m,engukur yang sebenarnya

9. Addictive and Interactive effect of threats internal validity

Pengaruh dari treatmen yang ditambahkan pada proses atau pengaruh level treatment yang berbeda-beda pada setiap individu.

Validitas Eksternal 

Validitas eksternal menurut Robinson, 1981 dan Cristensen, 2001 sebagai berikut:

Proactive history

Faktor perbedaan individu yang dibawa ke dalam penelitian, yang merupakan faktor bawaan atau yang sudah dipelajari sebelumnya. Misalnya: usia, jenis kelamin, kepribadian, sikap, inteligensi dsb.

Retroaktive history

Faktor retroaktif histori hanya ada pada penelitian yang menggunakan desain pretest-postest, dimana setiap subjek mengalami pengukuran VT sebanyak 2 kali. Selain itu ada jarak waktu pengukuran pertama dan kedua. Perubahan atau pengaruh yang dialami subjek diantara waktu pemberian pretes dan postes tersebut dapat mempengaruhi perubahan VT.

Retroaktif history merupakan variable sekunder yang perlu dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu tidak menggunakan subjek penelitian yang memiliki teman dengan permaslahan sama (dengan tema penelitian).

Maturation

Adalah perubahan biologis dan atau perubahan psikologis yang sistematis pada organism dalam suatu waktu tertentu. Faktor ini lebih mungkin terjadi pada penelitian jangka panjang baik yang menggunakan pretes-postes ataupun tidak. Faktor ini juga sering muncul pada subjek yang menggunakan anak-anak dan diintervensi dalam jangka lama.

Maturation dapat dikontrol atau diatasi dengan menggunakan kelompok kontrol, sebagai pembanding hasil.

Testing

Pretes dan postes dapat digunakan untuk melihat perbedaan sebelum dan seudah pemberian perlakuan. Seringkali tes yang diberikan pada 2 waktu tersebut adalah tes yang sama. Ada faktor ingatan yang kemungkinan akan mempengaruhi hasil posttest, karena jarak pengukuran dekat.

Untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan testing terdapat beberapa cara yaitu;
  • Bila tidak terlalu dibutuhkan jangan menggunakan pretest
  • Gunakan posttest yang tidak sama tapi setara, sama dalam hal : banyaknya soal, cara penyajian, cara respon yang diminta, batas waktu mengerjakan, tapi bentuk soal berbeda 
  • Sisipkan pertanyaan atau pernyataan pengecoh pada pretes sehingga tidak mengarahkan subjek menduga permasalahan penelitian 
  • Pilih desain penelitian yang tidak menggunakan pretes, tetapi ada kelompok kontrol. 
  • Statistical Regression
Dalam pengolahan statistic, pengukuran yang dilakukan berulang-ulang akan menyebabkan nilai ekstrem yaitu nilai tertinggi dan terendah, cenderung mendekati nilai rata-rata, meskipun tidak diberikan perlakuan apapun. Skor pada kelompok tinggi cenderung menjadi rendah, sedangkan skor pada kelompok rendah cenderung menjadi tinggi disbanding sebelumnya. Statistical regression dapat terjadi apabila alat ukur yang digunakan tidak reliable, sehingga menyebabkan ketidak konsistenan skor subjek pretes dan postes. Ketidakonsistenan ini menyebabkan pengukuran tidak akuratsehingga merendahkan validitas internal penelitian. Ini dapat dihindari apabila subjek diambil dari kelompok yang ekstreem rendah atau ekstrem tinggi.

Experimental Mortality

Berkurangnya subjek penelitian baik dikarenakan mengundurkan diri, tidak lengkap mengikuti manipulasi, sakit, atau meninggal. Cara mengatasi dengan mempersiapkan cadangan peserta, subjek yang tidak mengikuti lengkap dan tidak memiliki skor postes dikeluarkan dari perhitungan.

Interaction Effect

Dapat terjadi pada desain penelitian with in subjek, dimana subjek mendapat perlakuan lebih dari satu kali. Ada efek antara perlakuan berikutnya yang berpengaruh pada perlakuan selanjutnya. Untuk mengatasi dilakukan counterbalancing yaitu memberikan urutan variasi VB yang berbeda pada subjek penelitian, membedakan urutan perlakuan antara subjek satu dengan yang lain.

Intrumentation Effect

Alat ukur yang tidak akurat dapat menurunkan validitas internal penelitian. Alat ukur harus memenuhi syarat valid dan reliable yaitu dengan cara dilakukan uji coba.

Experimenter Effect

Interaksi antara eksperimenter dengan subjek penelitia turut mempengaruhi validitas internal penelitian. Kedua belah pihak saling memberikan harapan terkait perannya, sehingga pikiran dari keduanya mempengaruhi keakuratan penelitian.

Bias Experimenter

Perilaku atau karakteristik yang ada pada eksperimenter dapat menimbulkan bias, ada dua jenis bias yaitu Atribut eksperimenter dan Harapan eksperimenter. Atribut adalah karakteristik fisik dan psikologis dari eksperimenter yang mungkin berinteraksi dengan VB dalam mempengaruhi VT. Atribut sosial ( usia, jenis kelamin, agama, ras); atribut situasional (pengalaman kontak dengan subjek penelitian sebelumnya dan keahlian eksperimenter).

Harapan eksperimenter diakibatkan harapan dari proses eksperimen yang dilakukan sebelumnya. Harapan ini secara tidak sengaja dapat mempengaruhi peserta melakukan seperti penelitian sebelumnya. Ini dapat menimbulkan bias dalam mencatat data dan intepretasi data.

Efek Partisipant

Sebagai makhluk kognitif yang tinggi, subjek penelitian seringkali berusaha untuk mencari tahu apa yang akan mereka alami, apa yang akan mereka lakukan, dan respon apa yang akan diberikan sbelum berlangsungnya pemberian manipulasi.

Partisipant Sophistication

Pengetahuan dan familiaritas subjek penelitian terhadap topic penelitian atau metode eksperimental yang dilakukan. Karena itu, penelitian psikologi sering dilakukan pada mahasiswa tingkat awal atau orang awam.

Validitas Eksternal Penelitian

Validitas eksternal penelitian berkaitan dengan sejauh mana hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada subjek , situasi, dan waktu yang berbeda. Secara umum ada 3 validitas eksternal yaitu 1) Validitas populasi; 2) Validitas Ekologis; Validitas Temporal (Christensen, 2001).

A. Validitas Populasi

Kemampuan hasil suatu penelitian untuk digeralisasikan dari sampel penelitian kepada populasi yang lebih besar. Validitas populasi berkaitan dengan teknik pengambilan sampel, apakah dilakukan secara acak atau tidak. Validitas populasi akan semakin baik apabila sampel diambil melalui random sampling. Akan tetapi random sampling sulit dilakukan pada penelitian eksperimen karena seringkali jumlah populasi yang sebenarnya tidak diketahui.

Berkaitan dengan validitas populasi, maka perlu diperhatikan darimana populasi diambil yaitu populasi target dan populasasi yang dapat dijangkau. Populasi target adalah populasi lebih besar dimana hasil penelitian akan digeneralisasikan, sedangkan populasi yang dapat dijangkau adalah kelompok populasi yang tersedia untuk peneliti.

Validitas populasi dipengaruhi oleh bias seleksi, yaitu merupakan kesalahan dalam mengambil sampel yang tidak sesuai dengan karakteristik dari subjek penelitian.

B. Validitas Ekologis

Berkaitan dangan situasi dan kondisi lingkungan. Validitas ekologis tinggi apabila pengaruh dari manipulasi VB tidak terkait dengan setting lingkungan yang sudah ada sebelumnya sehingga hasil penelitian dapat diterapkan di lingkungan lain.

Adapun yang termasuk validitas ekologis sebagai berikut:
  • Multiple treatment interference yaitu kondisi dimana perlakuan sebelumnya masih berpengaruh pada perlakuan berikutnya pada subjek yang sama dan mengalami dua manipulasi yang berbeda ( mungkin menjadi subjek dalan 2 penelitian). 
  • Hawthorne Effect yaitu suatu kondisi dimana subjek menyadari sedang diteliti sehingga menampilkan tk laku tertentu. Kondisi ini dapat diatasi dg single blind procedure (membatasi pengetahuan subjek). 
  • Pretesting Effect yaitu suatu kondisi dimana subjek menunjukkan hasil tes yang bukan sebenarnya, bereaksi berbeda, defensif, dan memperkuat opini. 
  • Experimenter effect yaitu suatu kondisi dimana peneliti membatasi hasil generalisasi, ini terkait dengan atribut dan harapan peneliti.

C. Validitas Temporal

Berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian pada waktu yang berbeda. Peneliti perlu dipertimbangkan waktu pemberian treatmen, rentang pengukuran VT , jarak antar manipulasi VB dll.

1. Validitas Temporal meliputi:

  • Variasi Musiman: variasi ini berkaitan dengan kejadian secara umum atau biasa terjadi sepanjang waktu dalam populasi.
  • Fixed time variation : Varian ini terjadi apabila perubahan terjadi pada waktu tertentu atau waktu yang dapat diramalkan. (Kemacetan dapat diramalkan di Jakarta pada waktu pulang kantor atau kemacetan di puncak pada saat liburan). 
  • Variable time variation : Varian ini terjadi apabila perubahan terjadi pada waktu yang tidak sama atau tidak dapat diramalkan – tidak bisa diterapkan untuk individu lain.

2. Variasi siklus (cyclical variation)

Ini merupakan bentuk dari variasi musiman, namun terjadi di dalam diri manusia dan makhluk lainnya. Siklus pada diri manusia dan makhluk lainnya dapat mengubah pengaruh VB terhadap VT. Misalnya; kondisi fisik manusia pada siang hari tidak sama dengan pagi hari, jika penelitian diulang pada waktu yang berbeda kemungkinan hasil tidak sama.

3. Variasi personal (personological variation)

Variasi ini merupakan variasi dari karakteristik individu spanjang waktu. Walaupun secara umum karakter orang cenderung stabil, namum beberapa karakter cenderung berubah pada wktu tertentu. Misalnya; penelitian tentang minat belajar dilakukan pada saat musim ujian dan tidak hasilnya kemungkinan berbeda.

Hubungan Validitas Internal dan Eksternal

Penelitian eksperimen lebih mementingkan validitas internal disbanding validitas eksternal. Pada prakteknya seringkali validitas eksternal lebih rendah hal ini karena peneliti ingin mengetahui hubungan sebab akibat antara variable bebas dan variable terikat. Peneliti berusaha ketat untuk mengontrol variable sekunder, pengaruh dari variable luar VB terhadap variable terikat dihilangkan. Akibatnya, kondisi penelitian menjadi tidak alamiah karena situasi penelitiannya terkontrol, ini menyebabkan validitas eksternal tidak terpenuhi.

Penelitian eksperimental lebih mementingkan Randomisasi daripada random sampling, subjek penelitian yang digunakan tidak mewakili populasi, yang menyebabkan subjek penelitian yang digunakan menjadi homogen. Validitas populasi menjadi rendah.

Pemberian VB pada subjek penelitian untuk dilihat pengaruhnya terhadap VT dalam penelitian eksperimental lebih sering hanya dilakukan pada waktu tertentu. Oleh karena itu, kekuatan pengaruh VB terhadap VT lebih besar disbanding pemberian variable bebas pada beberapa waktu yang berbeda. Validitas temporal menjadi rendah.

Kesimpulan dari hubungan tersebut yaitu penelitian yang memiliki validitas internal tinggi akan menunjukkan validitas eksternal yang rendah, demikian juga sebaliknya.

Meningkatkan Validitas Internal

Peneliti hendaknya mencari upaya untuk meningkatkan validitas internel pada penelitian eksperimen, adapun cara yang dapat dilakukan yaitu:
  • Mengelompokkan unit eksperimen secara objektif. Teknik yang baik untuk mengelompokkan adalah randomisasi. Jika randomisasi tidak memungkinkan, pengelompokan dapat dilakukan dengan penyeragaman (matching) variable yang berpengaruh, pembatasan variable sehingga ada homogenitas antarkelompok. 
  • Menggunakan isntrumen pengukuran yang valid dan reliable, serta prosedur yang tepat. 
  • Menghindari terjadinya interaksi (proses pembelajaran)) suatu perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontrol selama kegiatan penelitian berlangsung. 
  • Membuat kondisi yang ajeg, khususnya di lingkungan eksperimen. 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel