Tips Mengolah Suara Saat Tampil Berbicara di Muka Orang Banyak

Tips Mengolah Suara Saat Tampil Berbicara di Muka Orang Banyak - Seorang yang akan melakukan public speaking atau berbicara pada orang banyak harus mampu berbahasa yang baik dan benar seperti berikut:
  • Pertama, harus melafalkan atau mengucapkan setiap bunyi bahasa dengan tepat dan jelas. Untuk itu, diharapkan mampu mengolah suaranya dengan teknik bernafas yang tepat (bernafas dari perut bukan dari dada), sehingga lahirlah vokal yang bersih dan bulat. 
  • Kedua, intonasi dan nada harus tepat agar tidak kaku atau monoton. Temponya pun harus tepat. Artinya, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Perlu diingat bahwa public speaker tidak sama intonasinya dengan penyiar, pembaca puisi dan pembaca saritilawah.
Untuk tips psikologinya anda harus bisa melakukan latihan seperti dibawah ini agar memudahkan anda berbicara dengan banyak orang.

Melatih Kemampuan Suara

Sebelum menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum hendaknya seorang pembicara terlebih dahulu melakukan latihan membaca naskah, agar pada waktunya nanti dapat melakukan pidato dengan lancar. Dengan melakukan latihan, seorang pembicara diharapkan dapat membiasakan diri dan menemukan cara dan gaya yang tepat.
Tips Mengolah Suara Saat Tampil Berbicara di Muka Orang Banyak
image source: entrepreneur(dot)com
Baca juga: Pengertian Statistika dan Fungsi Serta Kaitannya dengan Psikologi
Suara kita tak berbeda dengan wajah kita. Ada pengaruhnya pada perilaku kita. Faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan suara kita adalah usia, jenis kelamin, etnis dan kepribadian. Ekspresi suara merupakan pengekspresian diri dalam berkomunikasi melalui suara yang jelas, indah, tepat dan berjiwa dengan penggunaan pernafasan yang benar sehingga komunikasi menjadi efektif. Ekspresi suara Itu penting dikarenakan pribadi yang matang dan mandiri terpantul diantaranya melalui suara.

Perlunya ekspresi suara dalam suatu penampilan di muka umum adalah: 

  • Suara memancarkan energi, kegairahan dan antusiasme 
  • Suara berpengaruh 38% dari komunikasi kita 
  • Orang yang menarik dan percaya diri tercermin dari suaranya 
  • Ekspresi suara mempengaruhi peningkatan kepercayaan orang lain 
  • Suara yang baik dapat menciptakan hubungan baik 
  • Suara yang meyakinkan dapat menimbulkan kesan profesional 
  • Suara yang baik dapat meningkatkan kepercayaan bisnis 

Ekspresi suara yang baik bila:

  • Terdengar (volume suara baik) 
  • Jelas (artikulasi pengucapan baik) 
  • Hukum pengucapan benar (tata bahasa & lafal) 
  • Sesuai dengan maksud (penjiwaan benar)

Mengukur Suara; suara paling tidak menyuarakan kecemasan. Dan kecemasan itu menggema kembali ke telinga pembicara yang kemudian menambah getaran kecemasan pada suara berikutnya. Kebanyakan orang tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya mereka memiliki potensi untuk menghasilkan suara yang cukup mempesona, seperti halnya para artis dan pemain opera.

Musuh yang selalu dihadapi adalah rasa kurang percaya diri, ketegangan dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak menguntungkan. Suasana batin yang tidak santai dapat merampas rasa percaya diri yang dimiliki. Dalam pertemuan, rapat besar maupun kedl, hindarilah sikap ragu yang mencoba mengganggu pikiran dan perasaan. Yakinlah pada diri Anda! Sebenarnya Anda memiliki kemampuan untuk berbicara dengan baik. Tidak perlu membaca dan mempelajari, karena sebenarnya Anda sudah memilikinya.

Unsur-unsur variasi suara atau penjiwaan dalam ekspresi suara: 

  • Volume: nyaring atau pelannya kekuatan suara 
  • Tekanan dinamika: keras atau lemahnya tekanan pengucapan 
  • Nada atau Pitch atau Infleksi: tinggi atau rendahnya lagu pengucapan 
  • Tempo: cepat atau lambatnya pengucapan 
  • Warna suara atau kualitas suara: ciri khas suara 

Cara Menghasilkan Suara Maksimal atau Volume: 

  • Melatih kelenturan otot wajah, mulut, rongga mulut, otot leher, otot dada, otot diafragma 

Cara Mengatur Nada

  • Perubahan Nada Suara (vocal inflection): perubahan nada suara untuk menunjukkan keterlibatan emosi pada saat bertutur 
  • Langkah (pacing): ketukan yang konstan dalam berbicara 
  • Perubahan Kunci Nada (key change) :  Apa? Api? Tidak (rendah) Tidak mungkin (tinggi)

Seperti halnya Anda mempunyai kemampuan untuk mengatur napas pada saat tidur dengan nyenyak. Sejak lahir orang cenderung untuk belajar meragukan kemampuannya sendiri, takut akan hadirin, merasa tegang, khawatir dan sebagainya. Karakter-karakter macam inilah sebenarnya merusak cara Anda berbicara yang natural. Di dalam satu ruangan terdapat sebanyak 50 orang, Cara mengukur suara dengan Anda berdiri di salah satu sudut ruangan.

Salah seorang dari jumlah itu berada di sudut yang berlawanan. Dapatkah orang itu mendengarkan suara Anda? Jika dapat, pandanglah dia dan berbicara padanya. Suara Anda akan berhasil sampai pada telinganya dan masingmasing individu dalam ruangan tersebut dapat mendengarkan suara Anda juga. Setelah merasakan bagaimana suara Anda terbawa sampai ke sudut ruangan, Anda dapat merubah posisi, pandanglah orang lain di ruangan itu, maka Anda berhasil meneruskan resonansi suara yang Anda dapatkan.

Namun, perlu diingat agar Anda jangan berteriak. Anda akan cepat lelah, demikian juga pendengar. Nada-nada yang rendah pun, apabila bebas keluar, mempunyai kekuatan yang besar Pergunakanlah nada menengah yang biasa Anda gunakan seharihari. Apakah Anda menganggap suaranya kurang enak di dengar? Jangan hal itu menghalangi Anda berbicara. Sedikit sekali pembicara yang mempunyai suara sempurna. Suara Anda mempunyai kelebihan, karena suara tersebut mencerminkan kepribadian dan mengekspresikan diri Anda.

Kualitas Kata atau Voice Quality: 

  • Kualitas biasa menyenangkan, bergema 
  • Kualitas sengau 
  • Kualitas mendesah 
  • Kualitas keras dan kasar 
  • Kualitas parau 

Karakter suara yang baik:

  • Menyenangkan untuk didengar. 
  • Dinamis, memberikan impresi. penuh tenaga dan kekuatan 
  • Ekpresif, kaya akan nuansa. 
  • Jelas, segar, dan memiliki power kuat untuk didengar. 
  • Mengalir wajar dan tidak dibuat-buat. 

Bagaimana mengetahui mutu suara sendiri menurut ukuran telinga orang lain? Diperlukan sebuah "tape-recorder" (alat perekam) dan seorang ternan. Banyak orang terkejut ketika mendengar suaranya sendiri dari tape-recorder. Mereka merasa suaranya "lain" dan biasa. Memang benar suara yang direkam akan terdengar lebih tipis dan lebih tinggi nadanya dibandingkan dengan suara yang sesungguhnya. Ingat bahwa suara adalah suatu vibrasi. Tentukan sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan dengan ternan.

Rekamlah sewaktu berbicara dengan teman. Kemudian matikan tape tersebut. Apakah ternan tersebut memberikan respons ketika kita sedang berbicara kepadanya? Respons tertarik, sinis atau bosan, apa dia memahami dan penuh konsentrasi apa yang sedang dibicarakan? Apabila mengetahui semua reaksi berarti terjadi proses komunikasi. Sekarang putar kembali hasil rekaman. Apa suaranya jelas didengar kembali, bagaimana dengan napasnya pada point-point tertentu, apakah suaranya naik turun? Apakah variasi nada dan volume suara, enak didengar? Apabila suara tersebut kedengarannya bagus dan kualitas yang dapat dijadikan standar, seandainya Anda berbicara nanti di depan publik.

Sampailah kita pada kesimpulan, suara kita antusias, berwibawa, objektif, penuh dedikasi atau penuh humor. Apakah hasilnya jelek? Apakah alasannya? Apakah pada saat berbicara sering menelan ludah di tengah-tengah pengucapan suatu kata sehingga suara terdengar seperti tercekik. Mungkin ternan-ternan mengatakan bahwa mereka kurang memahami apa yang dibicarakan. Apakah Anda melihat ekpresi wajah mereka yang bosan? Apakah Anda menggumam atau berteriak. Mungkin Anda kurang mampu mengungkapkan secara terperinci, sehingga ada kesan memaksakan tenaga, dalam usaha untuk membuat ternan memahami apa yang sebenarnya diinginkan.

Kecenderungan inilah dikhawatirkan menjadi penyebab suara kita berubah menjadi melengking. Apakah suara kita terdengar monoton? Sengau? Lemah? Atau kasar? Apakah kita sering terjebak dalam suatu kalimat panjang, sehingga ada kesan terengah-engah kehabisan napas atau menelan udara secara tidak sengaja. Ungkapan atau penjelasan kelemahan dari bersuara adalah merupakan cacat suara dalam berbicara. Kelemahan-kelemahan tersebut bisa menjadi sempurna melalui pelatihan-pelatihan.

Adakah niat Anda akan memperbaiki? Apakah ada gaya atau cara bicara yang perlu Anda perhatikan? Upayakan gaya atau cara bicara yang tidak baik, supaya dihindari atau Anda perlu hatihati mengevaluasi diri setelah selesai berbicara. Misal: apakah saat berbicara Anda mengucapkan kata "pakai" atau pake; pergi atau pegi; malas atau males. Apakah Anda juga mengucapkan kata "tidak ada" atau ndak ada. Usahakan memberikan "stressing atau tekanan" pada kata-kata secara tepat pada setiap kata atau kalimat.
  • Berbicara terlalu cepat: adakalanya melupakan makna katakata yang diucapkan. Akibatnya khalayak tidak tahu apa yang Anda ucapkan atau tidak terjadi komunikasi.
  • Bernapas dengan baik; Napas adalah basisnya berbicara. Pada waktu tidur sistem pernapasan berlangsung secara otomatis dan sangat panjang, menyerupai sistem pernapasan para orator dan penyanyi terbaik.
Pada waktu terjaga (bangun), bernapas dalam dua cara berbeda. Tidak bersuara. Menghirup dengan teratur, dengan cara sedikit dan menghembuskannya kembali keluar hidung. Proses menghirup udara ini seeara otomatis tanpa direneanakan terlebih dahulu. Berlawanan sekali. Untuk memutuskan sesuatu, mengungkapkan suatu perasaan, misal sedih atau gembira. Tindakan ini direneanakan, menghirup dan menghembuskannya kembali.

Sewaktu bemapas, dirasakan gerakan tulang rusuk dan diafragma yang terletak di bawah paru-paru. Saat menghirup, tulang-tulang rusuk naik dan diafragma yang turun. Namun, bila menghembusnya tulang-tulang rusuk turun, dan sebaliknya diafragma naik. Dengan demikian, udara dapat terdorong keluar dari paru-paru. Inilah cara bemapas alami, tanpa ketegangan. Banyak orang mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. Ini suatu kekeliruan yang besar, karena hanya menimbulkan ketegangan bagi organ-organ penghasil suara. Ketegangan telah mempersempit rongga dada, padahal rongga tersebut tempat diproyeksikannya suara.

Apa sebaiknya dilakukan? Bersikap tegak, tapi jangan kaku atau tegang. Tahan perut, saat berbieara. Tindakan ini 90 persen benar. Supaya sempurna, sebaiknya mengambil napas pada selang-selang kalimat yang memungkinkan berbuat untuk itu. Dengan menahan perut sejenak dan tetap mempertahankan posisi tegak yang tidak tenang, maka diafragma, tulang-tulang rusuk dan paru-paru mempunyai waktu yang cukup buat menyiapkan diri, melakukan tugasnya secara tepat waktu tanpa harus ada reneana terlebih dahulu. Semua gerakan mulut terjadi dalam waktu bersamaan. Pertama: bernapas; kemudian bersuara; selanjutnya beresonansi; lalu artikulasi.

Berbicara di depan Mikrofon

Penggunaan sarana alat bantu perlu diperhatikan:

Mikrofon yang sudah ada standarnya jangan dipegang-pegang. Selain menimbulkan bunyi mendegung, juga mengesankan pendengar tidak tenang. Kalau hanya untuk mengatur posisi atau untuk menyakinkan apakah mikrofon sudah on, mikrofon boleh disentuh. Tindakan ini dilakukan sebelum berbicara, mikrofon tidak perlu disentuh lagi.

Mikrofon yang tidak ada standarnya. Cara memegannya wajar saja, kabelnya jangan dimaikan dan jangan dipakai bergaya seperti penyanyi di panggung. Hal ini mengesangkan pembicara tidak tenang. Bahkan bisa dianggap bahwa pembicara tidak sopan karena berpidato dengan main-main.
Jarak antara mikrofon dan mulut jangan terlalu dekat dan jangan pula terlalu jauh. Jarak idealnya 20 cm. Jarak yang terlalu dekat mengakibatkan suara tidak terlalu jernih dan pembicara akan terpengaruh untuk berbisik dengan pembicaraan lain.

Pola Titinada dan Resonansi

Pola Titinada

Pita suara dari alat musik biola adalah tali-tali senarnya. Sedangkan pita suara manusia adalah tali-tali senar menghasilkan "suara". Pita suara adalah bagian dari pangkal tenggorokan yang disebut larynx atau kotak suara. Bagi pria, "jakun" adalah kotak suaranya. Manusia mempunyai dua pita suara, yang menyerupai pita pipih dengan panjang kira-kira satu indo Pada waktu tidak berbicara, pita suara tersebut saling berjauhan satu sama lain. Namun, pada waktu berbicara, pita suara tersebut saling mendekat, bersatu, merintangi udara yang masuk ke paru-paru.

Akibatnya pita suara bergetar dan getaran inilah yang menimbulkan "suara". Pola titinada adalah tinggi rendahnya suara dihasilkan. Berbicara dengan suara rendah, lebih banyak untungnya daripada dengan suara tinggi.Namun, kalau ada pembicara dengan pola titinada yang tidak berubah, tinggi terus atau rendah terus, ada kesan pembicara sedang bosan berbicara atau membuat orang lain menjadi bosan Kalau pembicara dengan suara rendah karena dilanda stres, suaranya tidak akan mudah berubah melengking. Pola titinada suara yang terlalu tinggi, pita suara bekerja lebih keras dari semestinya, dan akan cenderung menghasilkan suara yang parau dan terengah-engah kelelahan.

Namun, kita harus berhati-hati pada nada serendah yang juga berbahaya. Kemungkinan suara tidak sampai, akibatnya orang tidak memahami apa yang sedang dibicarakan. Nada suara tinggi juga menimbulkan masalah. Bagi wanita bisa dianggap "kekanak-kanakan", sedangkan bagi pria malah dianggap "banci" Untuk mengetahui pola titinada, sebaiknya sering latihan membaca, dan selanjutnya direkam. Dengan latihan khusus pola titinada, kita dapat mengetahui dan mengatur standar bicara kita. Titik berat yang harus diingat ialah berbicara harus dengan nada bicara yang wajar.

Resonansi

Para ahli ilmu faal mengatakan, pita suara hanya 5% (lima persen) dari keseluruhan volume suara yang dihasilkan, sedang 95 % (sembilan puluh lima persen) lainnya hasil kerja sarna dengan organ-organ tubuh lain. Badan manusia mempunyai banyak ruang kosong, misal pada rongga dada, kerongkongan, dan sinus adalah ruang yang menghubungkan rongga hidung dengan batok kepala dan mulut. Kesemuanya ini merupakan resonator.

Kita memiliki seluruh peralatan khusus dan lengkap untuk mendapatkan resonansi yang bagus atas suara yang dihasilkan pita-pita suara. Namun, mengapa mulut perlu dibuka? Bagaimana resonansi dihasilkan? Bagaimana caranya memperoleh resonansi? Apabila kita mendengar suara terbawa jauh melewati jarak yang cukup panjang, tetapi tetap berhasil mempertahankan kualitasnya, suara itu dikatakan beresonansi. Suara yang tinggi, memekikkan telinga juga terdengar dari jarak jauh, tetapi tidak dapat dikatakan beresonansi.

Resonansi adalah ruang-ruang di tubuh kita yang turut bergetar, memberi kekuatan pada volume suara. Getaran yang dihasilkan oleh pita suara dipantulkan ke ruang-ruang resonansi, yakni:
  • Resonan Atas, nasal cavity, terdiri atas: rongga hidung, rongga kepala (pelipis). 
  • Resonan Tengah, terdiri atas: rongga mulut dan pharynx (leher) 
  • Resonan Bawah, yaitu dada. 
Resonan Atas jika dimanfaatkan secara maksimalakan menghasilkan suara yang jernih, cemerlang dan ringan. Suara itulah yang ideal diperlukan untuk berbicara di depan umum. Pada Resonan Tengah, pembukaan mulut serta peletakan alat bicara yang benar akan menghasilkan kekuatan yang besar. Resonan Bawah akan akan bergetar keras pada saat menyampaikan suara-suara rendah. Hindari berbicara dengan meredam mulut dan pharynx (leher) karena produksi suara akan tidak maksimal dan bisa menyebabkan terganggunya pita suara. Indikasi suara yang dihasilkan akan parau dan kasar.

Resonansi harus bernilai kuat dan penuh. Dengan membunyikan suatu alat musik akan timbul vibrasi. Vibrasi tersebut menghasilkan suara. Apabila suara dikeraskan vibrasinya pun semakin kuat. Setiap vibrasi mempunyai ukuran resonator tertentu agar suara yang dihasilkan akan terdengar dengan kekuatan maksimum. Suara manusia dapat dianggap sebagai benda yang bervibrasi. Kita mempunyai tali suara, dengan pernapasan, tali suara itu dapat divibrasikan. Dengan vibrasi tali suara, timbul suara yang lemah, yang dapat diperkuat dengan pertolongan resonator.

Tidak ada resonator sebaik milik manusia. Resonator manusia dapat berubah-ubah disesuaikan dengan setiap ketinggian nada suara yang dihasilkan. Untuk mengembangkan suara sehingga mempunyai kualitas sebaik mungkin, janganlah memikirkan tali suara. Curahkan perhatian kepada resonator yang dimiliki. Salah satu resonator yang dapat diatur sekehendak hati adalah "rongga mulut" Suara yang tidak sempurna resonansinya dapat disebabkan suatu hambatan pada pergerakan lidah, otot-otot kerongkongan yang kaku, ataupun karena suatu penyakit pada rongga nasal. 

Untuk mengatasi kekurangan itu dapat ditempuh dengan caranya sebagai berikut:
  • Ambillah sebuah cermin kecil, diusahakan cahaya jatuh pada cermin tersebut. 
  • Bukalah mulut lebar-lebar dan dengan pertolongan cahayc yang direfleksikan cermin, dan lihat apakah bagian mulut yang tenggorokannya di sebelah belakang membentuk lengkungan yang sempurna. 
  • Apabila sisi lain atau lubang pembukaan kurang lebar maka perlu melatih diri untuk memperkuat apa yang dinamakan pilar, yaitu otot-otot yang menyangga “soft palate”. 
  • Latihan tidak banyak menyita waktu, tetapi harus dilakukan secara konsisten 
  • Latihan pertama, lakukanlah di depan cermin, sehingga kita tahu yang terjadi di bagian tenggorokan. 
  • Buka mulut lebar-lebar, bernapaslah dengan terengah-engah. 
  • Tataplah cermin, uvula yaitu bagian dari kulit tergantung di tengah-tengah soft palate, akan bergerak ke kanan dan ke kiri. 
  • Latihan ini akan memperkuat otot-otot dinding dan membentuk soft palate sedemikian rupa sehingga mencapai bentuk yang serasi. 

Latihan Untuk Suara "NG" dan "N"

Selama latihan semua otot rahang dan tenggorokan tidak boleh berada dalam keadaan tegang. Lebarkan lubang hidung, agar bibir atas tidak berada dalam keadaan tegang. Sekarang berlatihlah mengucapkan kata-kata yang berakhiran “NG", misalnya: yang, abang, sayang, sang dan lain-lain. Sambil mengucapkan kata-kata itu, coba rasakan vibrasi di bagian belakang hidung dan di bagian belakang gigi depan.

Pergunakan nada suara yang sarna selama latihan, sehingga akan diperoleh perasaan yang tepat yang harus menyertai pengeluaran suara. Lakukan metode yang sarna untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang banyak mengandung huruf "NG".Latihan dengan menggunakan kata-kata dengan huruf "N" merupakan faktor utama, misalnya: nama, anak, kanan, demikian dan sebagainya. Di samping itu berusaha berbicara dengan resonansi. Tanpa disadari, pada percakapan setiap hari banyak kita menggunakan kata-kata dengan huruf NG dan N. Teruslah berlatih, akan dirasakan hasilnya kemudian.

Pemakaian suara pada waktu berbicara sarna dengan cara sewaktu bemyanyi. Si penyanyi harus menguasai pemikiran pada nada-nada seperti menguasai pemikiran pada ide atau gagasan sewaktu berbicara. Penyanyi memikirkan nada, sedangkan pembicara memikirkan ide. Suara pembawa acara secara otomatis mengeluarkan nada-nada yang sesuai dengan ide yang dikandungnya. Nada itu akan dikeluarkan dengan suara yang beresonansi dan enak didengar, apabila suara itu dikeluarkan dengan gerakan yang bebas. Semakin jelas idenya, semakin jelas pula gambaran vokalnya. Pergunakanlah kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan yang menghalangi perkembangan kualitas resonansi suara. Suara vokal merupakan tindakan mental daripada fisik. Pada waktu berbicara, konsentrasikan pikiran pada ide, yang akan diungkapkan. Hindarilah memerhatikan mekanisme vokalnya. Dengan kata lain, janganlah memikirkan suara pada waktu berbicara, tetapi pikirkanlah idenya.

Aplikasi Latihan Olah Suara

  • Lion Face: melemaskan otot wajah 
  • Urut rahang 
  • Lipat lidah-atas bawah: untuk melenturkan lidah 
  • Putar lidah: untuk melenturkan lidah 
  • Katup gigi 
  • Motor boat: melenturkan lidah sekaligus melatih pernafasan 
  • Putar leher: melemaskan otot rahang 
  • Urut leher: melemaskan otot rahang 
  • Putar bahu 
  • Nafas panjang 
  • Reaching for the star 

Cara Mengatur Kecepatan

  • Sebuah riset menunjukkan kecepatan ideal berbicara dalam bahasa Indonesia adalah 104 - 144 kata per menit 
  • Riset psikologi menunjukkan tingkat kebosanan manusia mendengar suara yang monoton adalah 7,7 detik 
  • Kecepatan ini diibaratkan not-not pada lagu 
  • Kecepatan mempengaruhi emosi 

Tekanan Kata atau Aksentuasi

  • Ibarat sebuah bahasa tulis aksentuasi sama dengan cetak tebal 
  • Tujuannya agar lebih dimengerti, memberi kesan lebih kuat, meluruskan maksud, mempercepat impact 

Latihan Volume Suara

  • Ucapkan ; “Siapa yang tertawa sendiri disana” 5X dengan suara yang semakin keras tetapi dengan nada tetap 
  • Ucapkan ; “Kamu betul-betul hebat” 5X dengan suara yang semakin pelan tetapi dengan nada tetap 

Latihan Artikulasi

  • Ucapkan 10 kali ; “Kepala diurut kelapa diparut” 
  • Ucapkan ; “Saya naik sedan ke Surabaya” dan “Saya tersedu sedan mendengar berita itu” 

Latihan Ekspresi

  • GEMBIRA : Horee…saya dapat hadiah seratus juta 
  • SEDIH : Uang seratus juta yang kudapat dari hadiah itu dirampok orang 
  • MARAH : Uang ini milikku!, Bukan milikmu! 
  • TAKUT : Jangan! Jangan bunuh aku! Ambil saja semua uang yang ada di tas ini 

Latihan Aksentuasi

  • Saya dari rumah sakit jiwa 
  • Siapa dari rumah sakit jiwa? 
  • Saya dari rumah sakit jiwa 
  • Anda dari rumah sakit mana? 

Latihan Nada

  • Ucapkan kalimat ; “Es teh manis” yang maksudnya rasa teh itu manis 
  • Ucapkan kalimat ; “Es teh manis” yang maksudnya si lawan bicara berwajah manis 

Latihan Warna Suara

  • Ucapkan kalimat; “Sehari serasa setahun” dengan warna suara Asli, Lebih besar, Lebih kecil, Parau, Sengau, Nenek-nenek, dll. 

Latihan Pernafasan Diafragma

Ucapkan dengan satu tarikan nafas:

  • Indonesia tanah tempat aku dilahirkan, tempat aku dibesarkan, tempat aku berbakti, tempat mengenyam suka dan duka, tempat aku merasa aman dan bahagia, tempat aku memuja namanya dan tanah tempatku selama-lamanya 

Sekian artikel tentang Tips Mengolah Suara Saat Tampil Berbicara di Muka Orang Banyak. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Arsjad, Maidar G. dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 
  • De Vito, Joseph A. (1994), The Public Speaking Guide. New York: Harper College. 
  • Hadinegoro, Luqman. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Tips Mengolah Suara Saat Tampil Berbicara di Muka Orang Banyak"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel