Tahap Penyajian dan Pelaksanaan pada Tes Rorschach

Tahap Penyajian dan Pelaksanaan pada Tes Rorschach (Bagian Kedua) - Pengajaran selanjutnya ini Universitas Psikologi akan membahas mengenai, tahapan dalam penyajian tes Rorschach kemudian mengetahui bagaimana pelaksaanan tes pada tes Rorschach yang perlu dilakukan. Diharapkan anda sudah membaca artikel bagian pertama pembelajaran mengenai tes Rorschach ini, sehingga dapat memudahkan anda memahami tes Rorschach dengan baik.

Tahap-tahap Penyajian Tes Rorschach

Sebelum melaksanakan tahap-tahap penyajian tes Rorschach, terlebih dahulu tester harus memberikan instruksi. Instruksi dalam tes Rorschach ini memang tidak ada formulasi yang baku seperti pada tes obyekyif, misalnya tes ingtelegensi dan tes bakat. Hal ini sangat tergantung pada kondisi dari testi , misalnya latar belakang pendidikan, sosial budaya, usia, dan keadaan khusus lainnya. Meskipun demikian ada kriteria yang harus dipenuhi untuk memberikan instruksi, yaitu yang utama adalah menggunakan kata-kata netral dan tidak sugestif, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

  • Penjelasan cara membuat bercak tinta, dan menanyakan apakah testi sudah tahu tentang bercak tinta.
  • Memberitahukan pada testi bahwa nanti akan ditunjukkan 10 kartu bercak tinta seperti tersebut diatas.
  • Memberi tahukan bahwa tugas testi adalah mengatakan apa yang dilihat pada kartu tersebut.
  • Motivasi diberikan dengan mengatakan bahwa semua jawaban adalah benar, tidak ada jawaban yang jorok, tabu, atau memalukan; jawaban setiap orang tidak sama; apapun dapat ter lihat di kartu tersebut.
  • Memberitahukan bahwa jawaban testi akan dicatat dan waktunya akan dihitung, tetapi testi tidak perlu merasa terganggu. Oleh karena itu sebaiknya testi memberi tahukan apabila testi telah selesai memberikan jawaban pada setiap waktu.

Seperti disebutkan di atas, bahwa instruksi dapat diberikan dengan formulasi dari tester sendiri, tetapi yang perlu diingat adalah tester tidak boleh memberikan pernyataan-pernyataan maupun pertanyaan yang sugestif. Misalnya dengan mengatakan: “Anda bolehmelihat setiap kartu sesuka anda dan mengatakan kepada saya semua apa yang anda lihat”.

Setelah selesai memberikan instruksi, tester perlu mengecek apakah testi sudah betul-betul memahami apa yang harus dilakukan. Misalnya dengan menanyakan: “Apakah anda sudah tahu apa yang harus anda lakukan?”. Testi diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Ada kalanya testi meminta penjelasan sekali lagi, tetapi ada juga testi yang ingin tahu tentang tujuan dari tes ini. Jika tidak diberi tahukan kemungkinan testi akan menunjukkan sikap yang tidak kooperitis. Akan cukup riskan juka tester secara eksplisit mengatakan bahwa tes ini adalah tes kepribadian, terutama pada tes yang belum dikenal. Oleh karena jawaban yang paling aman adalah mengatakan bahwa tes ini ada hubungannya dengan imajinasi dan fantasi.

Sebaliknya ada testi yang sangat antusias dan berusaha sebabikmungkin karena sedang melakukan tes kepribadian, jadi dalam hal ini tester yag harus peka dan mengetahui apa kebutuhan subjek atau testi dalam memberi penjelasan.

Tahap Penyajian dan Pelaksanaan pada Tes Rorschach (Bagian Kedua)
Bercak Tinta Tes Rorschach
Baca juga: Sejarah, Pengertian, dan Persiapan Melakukan Tes Rorschach (Bagian Pertama)

Pelaksanaan atau Pengujian Tes Rorschach

Penguji tes Rorschach dibagi dalam empat tahapan, yaitu:

  1. Performance Proper (PP)
  2. Inquiry
  3. Analogy
  4. Testing the Limits

Tahapan-tahapan tersebut bukan merupakan suatu rangkaian yang harus dilaksanakan semua secara berurutan. Untuk tahap pertama dan kedua memang diberikan pada semua testi, tetapi tahap ketiga dan keempat dilaksanakan dalam situasi-situasi tertentu.

Performance Proper (PP)

Pada tahap ini tester menyajikan atau menunjukkan 10 kartu bercak tinta kepada testi secara berurutan satu persatu. Kartu-kartu tersebut ditunjukkan pada testi dalam posisi tegak. Testi diberi kesempatan untuk merespon atau menjawab secara spontan tanpa bimbingan atau tekanan, tester sebaiknya tidak memberikan intervesi terhadap jawaban yang diberikan testi. Pada tahap PP ini testi diberi kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya untuk emberi jawaban.

Tugas terter dalah mamcatat jawaban yang diucapkan testi. Cara mencatat sudah ditentukann dengan aturan-aturan tertentu untuk memudahkan komunikasi antar pengguna tes Rorschach. Hal-hal yang perlu dicatat adalah sebagai berikut:

Respon atau Jawaban Testi 

Seluruh respon testi harus dicatat selengkapnya kata demi persis seperti yag diucapkan. Pencatatan ini dapat dilakukan pada lembar jawaban yang telah disediakan ataupun pada kertas lain. Respon yang diberikan subjek ini perlu diberi nomor dengan menggunakan angka. Nomor kartu dituis dengan angka romawi.

Waktu: Ada tiga jenis waktu yang dicatat:

  • Waktu resksi, yaitu waktu antara pertama kali kartu ditunjukkan pada testi sampai testi memberikan jawaban yang pertama untuk setiap kartu.
  • Waktu respon setiap kartu, yaitu: waktu yang digunakan testi untuk memberikan semua respon pada setiap kartu. Termasuk disini adalah waktu reaksi. Tetapi jika tester ingin mendapatkan catatan yang lebih teliti, maka waktu respon setiap kartu yang itu ditunjukkan dalam stop watch dikurangi dengan waktu reaksi.
  • Waktu respon total, yaitu waktu yang digunakan testi unruk memberikan respon pada 10 kartu dalam tahap PP. Waktu respon ini akan dihitung pada waktu skoring dengan menjumlahkan seluruh waktu respon setiap kartu, jadi jika termasuk waktu pergantian antara kartu satu ke kartu yang lain atau kalau ada time out.

Posisi Kartu

Posisi yang dicatat disini adalah posisi kartu yang dipegang testi pada saat memberikan respon. Simbol yang digunakan adalah metode yang disarankan olehLoosli-Usteri. Ujung panah menunjukkan bagian atas dari kartu. Kalau kartu diputar secara penuh, baik sekali maupun beberapa kali tanda yang digunakan adalah lingkaran dan disertai dengan tanda panah pada posisi terakhir yang digunakan. Pencatatan posisi ini berguna untuk pelaksanaan tahap inquiry yaitu untuk mengingatkan pada testi dalam posisi mana dia melihat konsepnya pada waktu tahap PP tadi.

Selain mecatat hal-hal tersebut diatas, tester juga perlu mencatat tingkah laku dan ekspresi wajah testi ketika sedang memberikan jawaban. Misalnya mengerutkan dahi, tertawa, menggoyang-goyangkan kaki atau tangan, gemetar atau membuat tingkah laku yang aneh. Termasuk juga reaksi tertentu yang muncul ketika melihat kartu tertentu. Misalnya, ada subjek yang menunjukkan ekspresi takut ketika melihat kartu IV, atau tampak malu-malu ketika pertama mellihat kartu VI.

Ada kemungkinan pada tahap performance proper ini testi masih banyak bertanya, apakah kartu boleh dipegang, apakah kartu boleh diputar-putar. Maka tester sebaiknya menjawab secara netral bahwa hal itu terserah kepada testi. Juga perlu dikatakan lagi bahwa setiap orang memerlukan kartu itu secara berbeda-beda, maka tetsti dipersilakan memperlakukan sesuai keinginannya.

Pada tahap PP ini ada kemungkinan seorang testi tidak dapat memberikan jawaban pada satu kartu. Kasus seperti ini sering disebut sebagai kasus “kartu kosong”. Bila hal ini terjadi, tester tidak perlu khawatir, karena masalah ini akan diungkap kembali pada tahap inquiry.

Inquiry

Tahap kedua ini dilakukan sesudah performance proper, dirancang untuk mengungkap bagaimana testi sampai pada respon yang diberikan, sehingga dapat diberikan skor dengan tepat. Disini terter memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat klasifikasi, tetapi tidak boleh mempengaruhi jawaban testi. Semua pertanyaan yang diajukan kepada testi harus bersifat netral.

Tujuan utama dari inquiry adalah untuk menjelaskan jawaban agar dapat diberikan skor dengan tepat, yang dapat dilakukan dengan:

  • Memperoleh berbagai keterangan dari testi tentang bagaimana cara melihat bercak, sehingga sampai pada konsep jawabannya. Tester harus memperoleh penjelasan mengenai berbagai aspek dari jawaban testi, yaitu yang menyangkut; lokasi dari bercak yang digunakan berbagai landasan memberikan jawaban, determinan yang digunakan, isi atau content jawaban tersebut. Informasi-informasi ini sanngat penting sebagai landasan untuk memberikan skor.
  • Memberikan kesempatan kepada testi untuk melengkapi jawabanya maupun menampah respon-respon baru. Terutama bagi testi yang tidak memberikan jawaban pada satu kartu (kartu kosong atau sing out). Atau jika pada suatu kartu testi hanya memberikan satu jawaban saja, maka pada tahap ini diberi kesempatan untuk memberikan jawaban atau menambahkannya dengan jalan menyajikan kartu itu sekali lagi dan meminta testi melihatnya. Tetapi tester tidak boleh secara jelas menyuruh testi memberikan jawaban, melainkan hanya memberikan kesempatan saja.

Inquiry untuk Lokasi

Inquiry pertama yang dilakukan adalah untuk lokasi, yaitu bagian bercak yang dijadikan sebagai landasan bagi testi untuk memberikan konsep jawabanya. Untuk menanyakan lokasi tester dapat mengajukan pertanyaan sebagai berikut;”Tunjukkan pada saya,bagian mana dari bercak yang anda sebut sebagai kelelawar?”,misalnya subjek menjawab kelelawar. Atau “pada bagian mana dari bercak ini yang anda lihat sebagai dua orang wanita?”, misalnya jawaban subjek dua orang wanita).

Berbagai cara dapat dilakukan untuk meminta testi menunjukkan lokasi dari jawaban yang dimaksud, antara lain:

  • Testi diminta untuk menunjukkan atau melingkari lokasi yang digunakan dengan jari tangannya pada kartu. Ini adalah cara yang paling banyak digunakan.
  • Testi diminta melingkari lokasi yang dimaksud pada location chart (lembar lokasi) dengan pensil.
  • Testi diminta untuk menjiplak gambar yang dilihat pada kartu itu di atas kertas tembus.
  • Testi diminta untuk menjabarkan jawabannya secara bebas dengan berdasarkan pada kertas lain.

Inquiry untuk Determinan

Yang akan diungkapkan dengan inquiry untuk determinan adalah bagaimana cara testi melihat bercak, sehingga testi sampai pada konsepnya. Apakah dia menggunakan bentuk bercak saja, atau mungkin juga menggunakan bentuk bercak saja, atau mungkin juga menggunakan warna dan shading atau mungkin dia melihat bercak itu sebagai sesuatu yang bergerak. Jadi yang tercakup didalam aspek determinan adalah penggunaan bentuk (form), gerakkan (Movement),perbedaan gelap dan terang dari bercak (shading), dan warna (color).

Dibanding dengan lokasi, inquiry untuk determinan lebih kompleks karena tester tidak diperkenankan untuk mengajukan pertanyaan secara langsung tentang apa yang ingin ditanyakan tester, supaya testi tidak terpengaruh, jadi testi tetap diharapkan menjawab dengan spontan sesuai idenya sendiri. Misalnya tester tidak diperkenankan untuk mempergunakan kata “warna”, atau “gerakan” sebelum testi sendiri mengatakannya. Kalau pada waktu PP tester belum mengetahui determinan apa yang digunakan oleh testi, maka sebaiknya pertanyaan yang diajukan bersifat umum. Misalnya; “apa yang membuat anda berkesan bercak ini sebagai kelelawar?”.

Seandainya testi sudah memberikan isyarat bahwa dia menggunakan suatu determinan, maka tester sebaiknya menggunakan tanda itu untuk melakukan inquiry. Misalnya pada kari III testi mengatakan; “ini adalah kupu-kupu yang indah”, maka tester dapat bertanya; “apa yang membuat anda berkesan bercak ini sebagai kupu-kupu?” kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan;”apa yang anda maksud dengan indah?”.

Dalam melaksanakan inquiry untuk determinan ini tidak dipisah-pisahkan apakah terter akan mengungkap penggunaan bentuk, penggunaan warna, shading atau pun gerakkan. Pada umumnya dengan memberikan pertanyaan secara umum saja testi sudah terstimulasi untuk menceritakan penggunaan beberapa aspek dari determinan sekaigus. Meskipun demikian tester perlu mengetahui bagaimana cara mengungkap masing-masing determinan tersebut.

Inquiery untuk Isi (Content)

Inquiry untuk content biasanya tidak diperlukan lagi karena pada umumnya konsep apa yang dilihat oleh testi itu sudah cukup jelas. Hanya kalau tster masih ragu-ragu, hal ini boleh ditanyakan. Misalnya, pada kartu IV testi menjawab: “Apa yang anda maksud dengan makhluk?”.Pertanyaan ini sebenarnya ingin menggunakan makhluk tersebut sebangsa bintang atau manusia.

Hal-hal yang Perlu Dicatat dalam Inquiry

Dalam tahap inquiry ini yang tester perlu perlu mengetahui apa saja yang dicatat pada protokol. Secara umum, semua jawaban testi harus dicatat secara teliti. Pertanyaan umum yang diajukan untuk mengungkap lokasi dan determinan tidak pernah ditulis. Misalnya pada kartu I testi memberikan jawaban pata tahap performance proper: “ini seekor kelelawar”. Kemudian pda tahap tester bertanya: “Apa yang mengesankan ini seperti kelelawar?”. Pertanyaan seperti ini tidak perlu dicatat pada protokol. Tetapi kalau tester mengajukan pertanyaan diluar pertanyaan yang umum atau biasa, maka pertanyaan itu perlu dicatat. Misalnya, pada kartu VII testi menjawab: “Ini adalah sesuatu yang halus“ maka tester menanyakan: “Apakah yang anda maksud dengan sesuatu itu?”. Pertanyaan yang meminta kejelasan tentang isi jawaban semacam ini perlu dicatat pada protokol. Demikian juga untuk pengguanaan determinan. Misalnya, testi menjawab pada kartu VIII: “Dua ekor beruang kutub yang berwarna jambon sedang berjalan diatas es”. Pada waktu inquiry tester menanyakan: “Apa yang mengesankan seperti beruang kutub”. Pertanyaan tersebut tidak perlu dicatat. Demikian juga permintaan tester untuk meminta penjelasan lebih lanjut, seperti: “Coba jelaskan lebih lanjut”. Tetapi kalau tester menanyakan tentang konsep warna, misalnya: “Anda berpikir beruang ini merah jambon?”. Pertanyaan ini perlu dicatat dalam protokol.

Selain mencatat jawaban testi atau pertanyaan yang diajukan, tester juga perlu mencatat atau menggambar lokasi yang digunakan testi untuk membuat jawaban. Jika jawaban testi lebih dari satu sebaiknya digunakan spidol yang warnanya berbeda-beda untuk setiap jawaban-jawaban. Ini untuk memudahkan tester dalam memberikan scoring lokasi.

Dalam tahap inquiry dimungkinkan testi menambah jawaban baru, yang disebut sebagai jawaban tambahan (additional). Jawaban ini harus diberi tanda yang berbeda dengan jawaban yang muncul pada tahap PP. misalnya kalau jawaban yang muncul pada waktu PP diberi nomor dengan angka, maka jawaban yang munvul pad tahap inquiry diberi nomor dengan huruf.

Hal-hal lain yang Mungkin Muncul dalam Inquiry

Sering juga terjadi jawaban yang muncul pada waktu PP dikolerasi pada waktu inquiry. Jika hal ini terjadi, maka yang digunakan adalah jawaban yang telah dikoreksi. Jika jawaban yang muncul pada tahap umumnya ternyata tidak disetujui atau ditolak oleh testi sendiri setelah ia melihat kartu lagi, maka jawaban tersebut perlu dibri tanda dengan anak panah.

Jika pada waktu PP dijumpai kasus “kartu kosong”, maka pada waktu nquiry kartu tersebut tetap diberikan lagi pada testi. Selanjutnya tester boleh memberikan instruksi supaya testi melihat kartu dan memberikan jawaban jika dia dapat melihat sesuatu dari kartu tersebut. Jika setelah melihat kartu kembali seorang testi data memberikan memberikan jawaban, maka jawaban tersebut masuk dalam kategori jawaban tambahan (assitional). Tetapi jika testi tidak data memberikan tanggung jawab, maka tester harus melakukan tahap berikutnya, yaitu tahap analogy.

Artikel pembahasan bagian kedua silahkan kunjungi link di bawah ini:

Sekian artikel Universitas Indonesia tentang Tahap Penyajian dan Pelaksanaan pada Tes Rorschach (Bagian Kedua). Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Tahap Penyajian dan Pelaksanaan pada Tes Rorschach"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel