Perkembangan Psikososial yang Terjadi pada Remaja

Perkembangan Psikososial yang Terjadi pada Remaja - Erikson menekankan teori pada pengaruh sosial terhadap perkembangan individu. Beliau menekankan pada konflik-konflik yang dihadapi individu, yang berada dalam 2 titik (positif dan negatif), yang menimbulkan krisis. Terselesainya suatu krisis akan berpengaruh baik dalam perkembangan individu, jika krisis tidak terselesaikan maka yang terjadi adalah sebaliknya (Hurlock, 2003).

Menurut Erikson, tugas utama masa remaja adalah memecahkan “krisis” identitas versus kebingungan indentitas. Tahap ini merupakan tahap pertama perkembangan psikososial Erikson, dimana remaja berusaha mengembangkan perasaan akan eksistensi diri yang koheren, termasuk peran yang dimainkannya dalam masyarakat. Tahap ini kemudian dikenal juga dengan identitas versus kebingungan peran (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).

Selama tahap ini, remaja harus berhadapan dengan keputusan siapa diri mereka, apa diri mereka, dan kemana mereka akan melangkah dalam hidup (Santrock, 2009). Remaja tidak membentuk identitas mereka dengan meniru orang lain. Untuk membentuk identitas, seorang remaja harus memastikan dan mengorganisir kemampuan, kebutuhan, ketertarikan, dan hasrat mereka sehingga dapat diekspresikan dalam konteks sosial (Papalia et al., 2009).

Menurut Santrock (2009) identitas merupakan foto diri yang terbentuk dari berbagai potongan, termasuk di dalamnya vocational/career identity, political identity, religious identity, relationship identity, intelectual identity, sexual identity, cultural/ ethnic identity, minat, kepribadian, dan identitas fisik. Identitas terbentuk ketika remaja berhasil memecahkan tiga masalah utama.

Pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakini dan dijalani, dan perkembangan identitas seksual yang memuaskan. Ketika para remaja berada dalam kesulitan mengukuhkan identitas pekerjaan atau ketika peluang mereka sengaja dibatasi, mereka berisiko melakukan perilaku berkonsekuensi negatif, seperti aktivitas kriminal atau kehamilan di usia dini (Santrock, 2009).
Perkembangan Psikososial yang Terjadi pada Remaja
image source: www(dot)utmbhealth(dot)com
Baca juga: Perkembangan Fisik dan Kognitif Remaja
Erikson menggambarkan hasil negatif demikian dari tahap ini sebagai kebingungan identitas (Berk, 2005) atau peran yang dapat memperlambat pencapaian kedewasaan psikologis (Papalia et al., 2009). Beberapa remaja tampak dangkal dan tanpa arah karena penyelesaian konflik sebelumnya yang buruk atau karena masyarakat membatasi pilihan terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka.

Sebagai hasilnya, mereka menjadi tidak siap dalam menghadapi tantangan di masa dewasa (Berk, 2005).Santrock (2009) kemudian mengungkapkan bahwa pencarian identitas selama masa remaja dikenal sebagai psychosocial moratorium yang diistilahkan oleh Erikson sebagai celah di antara rasa aman ketika kanak-kanak dan kemandirian saat dewasa. Selama periode ini, masyarakat secara relatif membiarkan remaja bebas dari rasa tanggungjawab dan bebas untuk mencoba identitas yang berbeda-beda. Pada masa ini, anak muda juga mencari komitmen yang dapat mereka jadikan pegangan.

Komitmen usia muda ini dapat membentuk kehidupan seseorang beberapa tahun kemudian. Peningkatan pemikiran abstrak dan idealis pada masa remaja menjadi dasar untuk mencari identitas diri sendiri. Banyak aspek dari perkembangan sosial emosional seperti hubungan dengan orang tua, interaksi dnegan teman sebaya dan persahabatan, serta nilai-nilai budaya dan etnis yang berkontribusi terhadap perkembangan identitas remaja. Teori Erikson membahas bagaimana remaja mencari identitas mereka(Santrock, 2009).

Perkembangan Psikososial Kelompok Remaja

Sebagian besar remaja dan anak-anak menikmati kebersamaan bersama teman-teman sebayanya yang bukan sahabat dekat. Seiring berlalunya waktu, mereka membentuk kelompok sosial yang lebih besar, dan rutin berkumpul. Pada awalnya, kelompok-kelompok tersebut umumnya berasal dari jenis kelamin yang sama. Namun pada kaum remaja, kelompok-kelompok tersebut seringkali mencakup laki-laki dan perempuan. Saat mulai bergabung ke dalam sebuah kelompok, remaja atau anak-anak lebih menyukai kedekatan dengan anggota kelompok tersebut dibandingkan dengan individu-individu yang bukan anggota kelompok, dan mereka membentuk perasaan “setia” terhadap individu-individu dalam kelompok (Ormrod, 2008).

Perkembangan Psikososial Remaja di Sekolah

Sekolah adalah lingkungan pendidikan sekunder. Bagi anak yang sudah bersekolah, lingkungan yang setiap hari dimasukinya selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Anak remaja yang sudah duduk di bangku SLTP atau SLTA umumnya menghabiskan waktu sekitar tujuh jam sehari di sekolahnya. Ini berarti bahwa hampir sepertiga dari waktunya setiap hari dilewatkan remaja di sekolah. Tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar (Sarwono, 2008).

Pengaruh sekolah itu tentunya diharapkan positif terhadap perkembangan jiwa remaja, karena sekolah adalah lembaga pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, sebagaimana halnya dengan keluarga, sekolah juga mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Di samping itu, sekolah mengajarkan berbagai keterampilan dan kepandaian kepada para siswanya. Akan tetapi, seperti halnya juga dengan keluarga, fungsi sekolah sebagai pembentuk nilai dalam diri anak sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Khususnya, karena sekolah berikut segala kelengkapannya tidak lagi merupakan satu-satunya lingkungan setelah lingkungan keluarga, sebagaimana yang pernah berlaku di masa lalu (Sarwono, 2008).

Terutama di kota-kota besar, sekarang ini sangat terasa adanya banyak lingkungan lain yang dipilih remaja selain sekolahnya. Pasar swalayan, pusat perbelanjaan, taman hiburan, atau bahkan sekedar warung di tepi jalan di seberang sekolah, atau rumah salah seorang teman yang kebetulan sedang tidak ditunggui orang tuanya, mungkin saja merupakan alternatif yang lebih menarik daripada sekolah itu sendiri. Apalagi, seringkali motivasi belajar siswa memang menurun akibat dari adanya berbagai hal di sekolah (Sarwono, 2008).

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Memahami Perkembangan Psikososial Pada Remaja. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Perkembangan Psikososial yang Terjadi pada Remaja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel