Pengertian dan Hakikat Psikologi Industri Organisasi (PIO) Lengkap

Penjelasan Lengkap Psikologi Industri Organisasi (PIO) Hakikat dan Pengertian - Sejarah psikologi sebagai ilmu mulai diperkenalkan di Indonesia sebelum Perang Dunia II melalui lembaga-lembaga pendidikan. Psikologi diajarkan di sekolah-sekolah pendidikan guru. Prinsip-prinsip psikologi ketika itu terutama diterapkan pada bidang pendidikan. Baru pada tahun 1953, dengan didirikannya Lembaga Pendidikan Asisten Psikologi, psikologi bukan saja merupakan ilmu yang diterapkan di bidang pendidikan, tetapi mulai menjadi ilmu yang dikembangkan di Indonesia dan diterapkan ke berbagai bidang kehidupan, dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan kehidupan masyarakat pada umumnya.

Perkembangan psikologi di Indonesia, khususnya perkembangan psikologi industri dan organisasi, masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan psikologi di negara-negara barat, terutama Amerika Serikat. Banyak buku dan majalah psikologi dari negara-negara Barat(terutama yang berbahasa Inggris) merupakan buku pegangan dan buku acuan dalam perkembangan dan penerapan psikologi di Indonesia. Hal ini pula yang menjadi dasar pemikiran untuk membahas secara jelas dan lengkap bagaimana perkembangan psikologi industri dan organisasi di negara-negara barat agar dapat lebih mudah mengenali dan memahami psikologi industri dan organisasi di Indonesia.
Penjelasan Lengkap Psikologi Industri Organisasi (PIO) Hakikat dan Pengertian
image source: bcuni(dot)be
Baca juga: Validitas Internal dan Eksternal dalam Penelitian Psikologi Eksperimen
Sebagaimana juga berlaku pada ilmu-ilmu sosial lainnya, terdapat aturan-aturan dan temuan-temuan yang berlaku umum, untuk semua orang di dunia. Misalnya proses persepsi, proses belajar berlangsung sama pada semua orang di dunia. Di samping itu juga terdapat aturan-aturan dan temuan-temuan yang dijumpai dan berlaku pada kelompok manusia, bangsa tertentu saja.Disamping psikologi’universal’ berkembang pula psikologi indigenous.

Pengertian Psikologi Industri dan Organisasi

Istilah Psikologi Industri dan Organisasi merupakan terjemahan dari Industrial and Organizational Psychology. Perlu ditambahkan bahwa industri tidak hanya terjemahan dari industry tetapi mencakup juga pengertian business (perusahaan). Psikologi industri dan organisasi merupakan hasil perkembangan psikologi umum, psikologi eksperimen dan psikologi khusus.

Dewasa ini perilaku manusia dalam kaitannya dengan kegiatan industri dan organisasi dipelajari guna pengembangan teori, aturan dan prinsip psikologi baru yang berlaku umum dalam lingkup industri dan organisasi. Misalnya teori motivasi dari Herzberg, teori hygienemotivator, merupakan teori yang dikembangkan dan berlaku dalam lingkup industri dan organisasi. Teori kepemimpinan dari Vroom dan Jago, teori kepemimpinan lain dari Hersey dan Blanchard, merupakan teori kepemimpinan yang berkaitan dengan manajemen dan organisasi perusahaan.

Di samping itu alat-alat untuk mengukur perbedaan antarmanusia juga masih tetap dikembangkan guna meningkatkan kecermatan dalam melaksanakan pemeriksaan psikologis dengan tujuan seleksi, penempatan, pengenalan diri, penyuluhan kejuruan, pengembangan karier.

Psikologi umum meskipun kemungkinan pengunaannya untuk industri telah diketahui pada permulaan abad ke-20 ini, penerapanya secara luas baru berlangsung sekitar tahun 1930-an. Psikologi diferensial dengan psikometrinya lebih cepat diterapkan dan dikembangkan di industri, khususnya untuk seleksi tenaga kerja.

Sampai Perang Dunia II psikologi industri dan organisasi merupakan cabang psikologi yang menerapkan psikologi. Psikolog industri dan organisasi melaksanakan penelitian ilmiah dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tentang manusia dalam organisasi (dan juga tentang organisasi itu sendiri). Psikologi Industri dan Organisasi mengembangkan teori-teori dan menguji kebenaranya, di samping itu juga menerapkan apa yang telah ditemukan.

Segi penerapan dari psikologi industri dan organisasi dapat menimbulkan berbagai macam tafsiran antara lain bahwa psikologi bermanfaat bagi manajemen, bagi pimpinan dan pemilik perusahaan dan merugikan para tenaga kerja dan konsumen.

Psikologi industri dan organisasi merupakan satu keseluruhan pengetahuan (a body of knowledge) yang berisi fakta, aturan dan prinsip-prinsip tentang perilaku manusia pada pekerjaan. Pengetahuan ini dapat disalahgunakan sehingga dapat membahayakan dan merugikan pihak-pihak lain yang terlibat. Penggunaan pengetahuan psikologi industri dan organisasi harus ditujukan untuk kepentingan dan kemanfaatan pihak-pihak yang terlibat (baik perusahaan sebagai organisasi, maupun para karyawannya).

Perlu ditambahkan bahwa persepsi dan sikap terhadap penerapan psikologi industri dan organisasi menentukan arti dan manfaatnya bagi yang bersangkutan. Misalnya seorang pelamar pekerjaan yang ditolak lamaranya dalam seleksi tenaga kerja. Ia merasa dirugikan oleh pemeriksaan psikologis dalam seleksi. Persepsi dan sikap terhadap pemeriksaan psikologis negatif. Ia tidak akan mampu melihat atau percaya bahwa pemeriksaan psikologis merupakan salah satu usaha untuk mempertemukannya dengan pekerjaan yang sesuai bagi dirinya. Misal yang lain. Para tenaga kerja merasa tenaga mereka di-’peras’ agar mereka memberikan prestasi yang tinggi, melalui cara kerja yang lebih efisien dan motivasi yang di-’pancing’ dengan insentif. Jika mereka berpersepsi dan bersikap positif akan dapat merasakan bahwa cara kerja yang efisien menguntungkan, karena dengan tenaga yang sama prestasi kerja mereka lebih tinggi. Lagi pula insentif yang mereka terima dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh keluarga.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa psikologi industri dan organisasi perlu diupayakan penggunaannya untuk kepentingan dan kemanfaatan semua pihak yang bersangkutan, dan harus disadari akan tetap adanya kemungkinan penafsiran yang negatif terhadap penerapan ilmu agar dapat dihindari timbulnya atau ditanggulangi bila timbul penafsiran yang keliru.

Uraian di atas mengantar pada batasan (definisi) dari psikologi industri dan organisasi sebagai berikut:

Psikologi Industri dan Organisasi Adalah Ilmu yang Mempelajari Perilaku Manusia

Dalam perannya sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen baik secara perorangan maupun secara kelompok, dengan maksud agar temuanya dapat diterapkan dalam industri dan organisasi untuk kepentingan dan kemanfaatan manusianya dan organisasinya.

Di atas telah diuraikan bahwa sejak Perang Dunia II, psikologi industri dan organisasi mulai berkembang menjadi ilmu mandiri, mengembangkan teorinya sendiri yang berlaku umum untuk situasi industri dan organisasi.

Psikologi industri dan organisasi di Indonesia belum sejauh itu perkembangannya. Dewasa ini psikologi industri dan organisasi di Indonesia masih terutama menerapkan temuan-temuan dari psikologi pada umumnya, psikologi industri dan organisasi pada khususnya, ke dalam industri dan komunikasi

Psikologi Industri dan Organisasi Mempelajari Perilaku Manusia

Perilaku manusia dimaksudkan sebagai segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang secara langsung dapat diamati, seperti berjalan,melompat, menulis, duduk, berbicara dan sebagainya, maupun yang tidak diamati secara langsung, seperti berfikir, perasaan motivasi, dan sebagainya.

Ilmu hanya menangani fakta-fakta yang dapat diamati, yang dapat dilihat, didengar, diraba, diukur dan dilaporkan. Karena itu psikolog memusatkan perhatiannya pada perilaku ‘terbuka’, yang dapat secara langsung diamati, untuk memahami dan menganalisis orang yang dikaji. Bagaimana dengan perilaku yang ‘tertutup’, yang tidak dapat secara langsung diamati? bagaimana psikolog dapat mengetahui sesuatu tentang itu? perilaku yang tertutup ini dapat kita simpulkan melalui ungkapannya kedalam perilaku yang terbuka. Seseorang yang merasa bahagia mengungkapkan dirinya melalui ekspresi wajahnya, gerakan-gerakanya, perilakunya, ungkapan verbalnya.

Tenaga kerja yang senang dengan pekerjaannya akan memperlihatkan berbagai macam perilaku yang mencerminkan kesenangannya (setiap kali sibuk menjalankan tugasnya dengan wajib cerah, dalam jam istirahat pun berbicara tentang pekerjaannya dengan rekannya, tidak ‘menuggu’ jam pulang kerja, kalau ditanya tentang pekerjaannya ia menjawab dengan gairah semua pertannyaan, dan sebagainnya). Melalui observasi dari perilakunya yang terbuka kita menafsirkan tentang perilakunya yang tertutup.Kesalahan-kesalahan dalam penafsiran ini mungkin saja terjadi. Tergantung kemahiran psikolog dalam menggunakan metode-metode obserbvasi dan metode pengukuran lainnya yang telah dikembangkan dalam psikologi, apakah ia dapat atau kurang tepat menafsirkan perilaku tertutup dari orang yang dia kaji.

Perilaku Manusia Dipelajari dalam Perannya Sebagai Tenaga Kerja dan Sebagai Konsumen

Perilaku manusia dipelajari di dalam lingkungan kerja, di dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Manusia dipelajari dalam interaksinya (hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi) dengan pekerjaannya, dengan lingkungan kerja fisiknya, dengan lingkungan sosialnya di pekerjaan.Sejauh mana tenaga kerja sesuai dengan pekerjaannya, sesuai bekerja dalam perusahaan sekarang? sejauh mana pengetahuannya tentang pekerjaannya, kemampuan atau keterampilannya dan kesediaannya untuk melakukan pekerjaannya? sejauh mana ia mampu dan bersedia melibatkan diri dengan pekerjaannya? sejauh mana ia merasa puas dan memuaskan perusahaannya? pertannyaan-pertannyaan ini merupakan contoh pertannyaan yang ingin dicari jawabannya.

Jika sebagai tenaga kerja manusia menjadi anggota organisasi industrinnya, maka sebagai konsumen manusia sebagai pengguna (user) dari produk atau jasa dari organisasi perusahaan. Produk dan jasa mana yang bermanfaat bagi konsumen?bagaimana konsumen mengetahui akan adanya produk dan jasa yang ditawarkan? Bagaimana menyadarkan konsumen akan kemanfaatan produk atau jasa yang ada? perilaku konsumen dipelajari dalam kaitan kebiasaan membeli dan dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli.

Perilaku Manusia Mempelajari Secara Perorangan dan Secara Kelompok

Dalam suatu organisasi industri kita jumpai adanya berbagai unit yang besar (misalnya divisi) yang terdiri dari unit-unit kerja yang lebih kecil (bagian-bagian) yang masing-masing terdiri dari unit-unit kerja yang lebih kecil lagi, dan seterusnya.

Dalam hubungan ini dipelajari sejauh mana dampak satu kelompok atau unit kerja terhadap perilaku seseorang tenaga kerja dan sebaliknya. Juga dipelajari sejauh mana srtruktur, pola dan jenis organisasi yang berpengaruh terhadap para tenaga kerjanya, terhadap sekelompok tenaga kerja, dan terhadap seorang tenaga kerja.

Dalam hal konsumen, masalah yang dipelajari dapat mengambil bentuk: sejauh mana ada reaksi yang sama dari kelompok konsumen denagan ciri-ciri tertentu terhadap iklan suatu produk.

Setelah mempelajari perilaku tenaga kerja dan konsumen baik secara perorangan maupun secara kelompok maka berdasarkan temuan-temuannya dapat dikembangkan teori, aturan-aturan atau hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan kembali kedalam kegiatan-kegiatan indrustri dan organisasi untuk kepentingan tenaga kerja, konsumen dan organisasinya, dan untuk menguji ketepatannya. Misalnya dengan mempelajari perilaku para manajer dari tingkat (eselon) tertentu diperoleh data mengenai berbagai peran yang harus mereka laksanakan dalam jabatan mereka dan data tentang macam dan frekuensi masalah yang rata-rata mereka hadapi dalam satu hari.Dari kajian juga terkumpul data bahwa tidak setiap manajer berhasil dalam pelaksanaan tugas pekerjaannya.

Diperoleh data pula bahwa beda utama antara manajer yang berhasil dengan manajer yang kurang berhasil terletak pada kecepatan dan ketepatan manajer memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Temuan ini dijadikan dasar untuk mengembangkan tes-tes simulasi, tes yang mencermin kan situasi kerja manajer dalam kenyataan (disusun aturan-aturan, prinsip-prinsip), untuk kemudiandigunakan sebagai bahan pelatihan bagi para manajer dari eselon yang lebih rendah, atau digunakan sebagai tes untuk seleksi para calon manajer.

Wawasan Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi industri dan organisasi berhubungan dengan industri dan organisasi. Semula ilmu ini dinamakan psikologi industri yang fungsi utamannya menerapkan psikologi di industri. Dengan berkembangnya psikologi industri menjadi ilmu yang mandiri maka terjadi pula perubahan pada namannya yaitu psikologi industri dan (psikologi) organisasi.

Yang dimaksudkan disini adalah organisasi ialah organisasi formal yang mencakup organisasi yang mencari keuntungan, yang memproduksi barang atau jasa (industri, perdagangan, biro akuntan, biro perjalanan, perbankan, dan sebagainnya) dan organisasi yang tujuan utamannya bukan mencari keuntungan (lembaga pendidikan, rumah sakit, badan-badan pemerintah, lembaga pemasyarakatan, dan sebagainya).

Organisasi (Industri) Dipandang sebagai Suatu Sistem yang Terbuka.

Kast & Rosenzweig (1974) mengartikan sistem sebagai ”suatu kesatuan keseluruhan yang terorganisasi, yang terdiri dari dua atau lebih bagian, komponen atau subsistem, yang saling tergantung, yang dipisahkan dari suprasistem sebagai lingkungannya oleh batas-batas yang dapat ditemukenali.”

Sistem berinteraksi dengan sistem lainnya dan membentuk suatu suprasistem.Sebaliknya sistem terdiri dari dua atau lebih subsistem yang saling berinteraksi, dan masing-masing subsistem terdiri dari sistem yang lebih kecil lagi yang saling berinteraksi, dan seterusnya.

Organisasi (industri) sebagai suatu sistem terdiri dari subsistem, yaitu satuan kerja yang besar seperti divisi atau urusan. Satuan kerja yang besar ini terdiri dari satuan-satuan kerja yang lebih kecil (subsistem), seperti bagian. Setiap bagian terdiri dari satuan kerja yang lebih kecil lagi, misalnya seksi. demikian seterusnya sampai kesatuan kerja yang kita tetapkan sebagai yang terkecil, yaitu tenaga kerja.

Organisasi industri berinteraksi dengan sistem lain (organisasi industri lainnya, departemen, lembaga pendidikan, dan sebagainya) membentuk suatu sistem yang lebih besar (suprasistem).

Setiap komponen, setiap subsistem, setiap sistem berinteraksi dengan komponen, subsistem, sistem lainnya secara terus menerus. Itu berarti bahwa terjadi proses saling mempengaruhi serta adanya hubungan ketergantungan antarkomponen, antarsubsistem, antarsistem. Tidak dapat satu komponen, subsistem, sistem menonjol tanpa memberikan dampaknya pada lingkungannya (komponen, subsistem, sistem lainnya).

Sebagaimana halnya dengan setiap sistem, maka organisasi industri sebagai sistem berada dalam proses pertukaran yang sambung-menyambung dengan lingkungannya (dengan sistem lainnya atau dengan suprasistemnya). Ia merupakan sistem terbuka, artinya menerima sesuatu dari dan melepas sesuatu dengan sistem yang lain.

Organisasi industri menerima dari sistem lainnya masukan tertentu, seperti bahan baku, informasi, peralatan, mesin, tenaga kerja. Sebaliknya ia menghasilkan produk (dalam bentuk barang dan jasa) yang dilepas, disalurkan dan diterima oleh sistem lain. Proses tukar menukar ini akan berlangsung terus-menerus tanpa ada hentinya jika organisasi industri dapat seterusnya berhasil mendapatkan masukan yang diperlukan dari sistem lain, dan memberikan keluaran yang dapat diserap oleh sistem lain. Jika gagal memperoleh masukan yang diperlukan dari sistem lain dan/atau jika keluarannya tidak diserap atau ditolak oleh sistem lain, maka sistem lama kelamaan akan berhenti eksistensinya. Dalam hal suatu organisasi industri ia akan bangkrut.

Pada batasan dari Berrien diatas dikatakan bahwa sistem dilingkupi oleh suatu batas (boundary). Batas di sini selain berarti batas fisik juga berarti batas nonfisik. Batas sistem mempunyai fungsi seleksi dan pengendalian terhadap macam dan banyaknya arus dari masukan dan keluaran. Batas melakukan seleksi dan kendali (control) terhadap bahan mentah, informasi, mesin, peralatan, tenaga kerja, dan lain-lain hal yang masuk kedalam sistem industri. Batas juga melakukan seleksi dan kendali terhadap produk (barang atau jasa) yang dihasilkan oleh perusahaan dengan antara lain melakukan kegiatan pengendalian mutu, penelitian pasar, penelitian konsumen, pemasaran, dan lain-lain agar produknya diterima atau diserap oleh sistem lainnya.

Objek yang dipelajari oleh psikologi industri dan organisasi adalah perilaku manusia sebai tenaga kerja dan sebagai konsumen (yang merupakan komponen dari sistem) dalam interaksinya dengan organisasinya (sistemnya).

Dengan kata lain perilaku manusia dipelajari dalam kaitan:
  • Fungsi batas sistem, dan 
  • Proses produksi dalam sistem. 

Dalam kaitan fungsi batas sistem, perilaku manusia yang dikaji, secara perorangan atau secara kelompok, adalah sebagai:
  • Pelamar/calon tenaga kerja (masukan untuk sistem), 
  • Tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengadaan dan seleksi tenaga kerja (yang memiliki peran batas (boundary role) dari masukan ke sistem) 
  • Tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengendalian mutu, pemasaran dan penjualan (yang memiliki peran batas dari keluaran dari sistem), 
  • Konsumen, perorangan maupun perusahaan (yang akan menerima keluaran dari sistem). 

Dalam kaitan dengan proses produksi dalam sistem, perilaku manusia dikaji, secara perorangan atau secara kelompok, sebagai:
  • Tenaga kerja pelaksana, yang dikelola, 
  • Tenaga kerja pengelola (manajer). 

Dari seleksi dan penempatan tenaga kerja diharapkan di peroleh tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan ciri-ciri kepribadian lain sesuai dengan yang dipersyaratkan/dituntut oleh pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi industri yang memerlukan tenaga-tenaga kerja tersebut.

Agar tenaga kerja baru dapat ikut serta dalam proses pengolahan bahan mentah dan/atau informasi, maka ia/mereka memerlukan pelatihan orientasi dan pelatihan keterampilan. Pelatihan dan pengembangan perlu diberikan kepada para tenaga kerja agar mereka memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan lain dalam rangka pengembangan karier mereka selanjutnya.

Kondisi kerja dan Psikologi Kerekayasaan berusaha untuk menyesuaikan lingkungan kerja fisik, mesin-mesin dan peralatan dengan keterbatasan kemampuan para tenaga kerjannya, agar mereka dapat bekerja dengan efisien.

Agar pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja para tenaga kerja dapat disalurkan dengan baik, dan agar mereka memiliki motivasi kerja yang tinggi maka unuk setiap kelompok kerja dalam organisasi diperlukan seorang pemimpin yang dapat mengkoordinasikan dan mengarahkan tenaga kerja, anggota kelompok kerjanya, untuk mencapai tujuan kelompok kerjanya secara khusus, tujuan organisasinya secara umum. Perilaku tenaga kerja, khususnya motivasi dan sikap kerjanya, juga dipengaruhi oleh kelompok kerjanya.

Hubungan antar tenaga kerja dalam perusahaan dapat saja menimbulkan berbagai macam masalah dan konflik yang memerlukan penyelesaian.Pengambangan organisasi dengan berbagai teknik intervensinya dapat mengatasi berbagai masalah tersebut, sehingga organisasi meningkat efisiensinya, efektifitasnya dan ’kesehatannya’.teknik intervensi dalam rangka pengembangan organisasi menyangkut perubahan nilai-nilai organisasi tersebut dan dapat mempengaruhi Budaya Perusahaan. Budaya Perusahaan yang tepat da;pat menunjang produktivitas perusahaan.

Jika proses pengolahan bahan mentah dan informasi menghasilkan produk berupa barang atau jasa, maka tenaga kerja yang mengolah menunjukkan hasil dalam bentuk unjuk kerja atau pencapaian kerja, tingkat motivasi dan kekuasan kerja tertentu, yang akan dibawa serta kedalam proses pengolahan produk berikutnya. Selain tingkat prestasi yang tinngi diharapkan tingkat motivasi dan kepuasan kerja yang tinggi pula.

Disamping hasil yang sdiharapkan ini perlu di perhatikan timbulnya hasil yang tidak di harapkan, yaitu dialaminya stres dalam pekerjaan yang menimbulkan akibat-akibat yang merugikan (sakit fisik atau sakit mental).perlu juga diperhatikan keselamatan kerja para tenaga kerja, jangan sampai timbul berbagai macam kecelakaan yang merugikan.

Organisasi industri sebagai suatu sistem berada dalam proses pertukaran secara sambung-menyambung dengan sistem lainnya. Sealain memperhatikan masukan yang diperlukan, perlu ia pastikan bahwa produk yang dihasilkan dapat diterima oleh sistem lain, dapat laku di jual. Untuk itu organisasi industri perlu mengenal selera dan kebutuhan dari konsumen, sehingga perlu mengadakan penelitian dari konsumen dan mengetahui serta memahami perilaku konsumen dalam kebiasaan membeli barang dan dalam proses keputusannya untuk membeli barang.

Kaitan Psikologi Industri dan Organisasi dengan Ilmu-ilmu lain

Dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial tampak bahwa masing-masing ilmu saling mempengaruhi dalam perkembangannya, ada beberapa ilmu sosial, seperti perilaku konsumen sebagai kajian ilmu pemasaran dan psikologi indrustri dan organisasi, kepemimpinan sebagai bidang kajian sosiologi, psikologi sosial, budaya organisasi sebagai bidang kajian dari antropologi, sosiologi, psikologi industri dan organisasi.

Disamping itu psikologi industri dan organisasi menberikan kontribusinya pada perilaku keorganisasian dan manajemen sumber daya manusia:

a. Kaitan dengan Perilaku Keorganisasian (Organizational Behavior)

Kaitan psikologi industri dan organisasi dengan perilaku keorganisasian sangat dekat. Terdapat bidang-bidang kajian yang sama. Psikologi industri dan organisasi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia:
  • Dalam perannya sebagai tenaga kerja dan sebagai konsumen
  • Baik secara perorangan maupun secara kelompok
Dengan maksud agar temuannya dapat diterapkan dalam industri dan organisasi untuk kepentingan dan kemanfaatan manusiannya dan organisasinya.

Sebagai tenaga kerja perilakunya dipelajari untuk dapat mengenali kepribadiannya, kecakapan-kecakapannya, keterampilan-keterampilannya, sikapnya dan ciri-ciri kepribadian lainnya:
  • Dengan tujuan-tujuan khusus, untuk seleksi dan penempatan, untuk pelatihan dan pengembangan 
  • Dalam interaksinnya dengan lingkungan fisiknya (peralatan, mesin-mesin, ruang kerjanya) 
  • Dalam interaksinya dengan lingkungan sosialnya (interaksi antar anggota kelompok, antarpemimpin dan bawahannya, antar organisasi dengan dirinya)
Perilaku Keorganisasian (PO) lebih berfokus pada butit ke-3, interaksi individu dengan lingkungan sosislnya, sebagaimana dapat disimpulkan dari definisi tentan PO yang dinyatakan oleh Robbins (1998):
  • Organizational behavior is a field of study that investigates the impact that individuals, groups, and structure have a behavior within organizations for the purpose of applying such knowledge toward improving an organization’s effectiveness
Selanjutnya dapat disimpilkan pula, bahwa sumbangan yang akan diberikan psikologi sosial kepada PO adalah sikitar 50%. Sosiologi, antropologi dan ilmu politik memberikan sumbangan kepada PO,dengan demikian dapatlah dipahami bahwa banyak yang berpendapat bahwa psikologi indstri dan organisasi (Psikologi Industri dan Organisasi) sama dengan perilaku keporganisasian (PO).

b. Kaitannya dengan Manajemen Sumber Daya Manusia

Di Indonesia banyak pula merasa sulit untuk membedakan psikologi industri dan organisasi dengan manajemen sumber daya manusia (MSDM). Objek studinya sama, yaitu manusia sebagai tenaga kerja. Perbedaa utama terletak pada kondisi di mana manusia sebagai tenaga kerja dipelajari dalam kaitannya dengan manajemen. Bagaimana manusia sebagai tenaga kerja dapat dimanajemeni secara efektif, merupakan pertannyaan dasar. Banyak topik-topik sama yang dibahas oleh psikologi industri dan organisasi dan manajemen sumber daya manusia, seperti seleksi tenaga kerja, pelatihan, motivasi, kepemimpinan. Manajemen sumber daya manusia membahas seleksi dalam proses keseluruhan penerimaan tenaga kerja. Seluruh proses harus berlangsung seefisien dan seefektif mungkin. 

Dalam proses ini manajer sumber daya manusia dibantu oleh psikolog yang memastikan bahwa seleksi menghasilkan tenaga kerja yang memiliki kecakapan, keterampilan, sikap dan cirri-ciri kepribadian lain yang diperlukan oleh pekerjaan. Manajemen sumber daya manusia memanajemeni manusia sebagai tenaga kerja, di mana prisip efisiensi (biaya yang diperlukan rendah, waktu yang diperlukan singkat) dan efektivitas (sasaran paling tepat dengan mutu paling baik) perlu diperhatikan. Pada psikologi industri dan organisasi penemukenalan manusia sebagai tenaga kerja lebih dipusatkan pada cara yang abash untuk memperoleh tenaga kerja yang memiliki cirri-ciri yang dipersyaratkan untuk pekerjaan tertentu. Pada psikologi industri dan organisasi perilaku tenaga kerja dipelajari untuk dapat menemukenali kepribadiannya dalam rangka: (a) proses seleksi dan penempatan, proses pelatihan dan pengembangan; (b) interaksi tenaga kerja dengan lingkungan fisik dan social.

Penguasaan dibidang psikologi industri dan organisasi akan sangat membantu seorang sarjana psikologi yang bekerja sebagai manajer sumber daya manusia. Tidaklah mengherankan kalau perusahaan mencari seorang manajer sumber manusia akan menyebut dalam iklannya sebagai salah satu syarat bahwa calon haruslah seorang sarjana psikologi. Dalam tugas-tugas seorang manajer sumber daya manusia banyak bagian dari tugas yang memerlukan pengetahuan psikologis, khususnya psikologi industri dan organisasi.

Semua orang berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan suatu organisasi setiap hari karena organisasi tersebut menghasilkan barang-barang dan pelayanan yang kita butuhkan. Organisasi-organisasi tersebut tentunya memperkerjakan banyak orang sehingga akan mengalami kesulitan untuk mengatur orang-orang tersebut. Banyak ahli yang diperkerjakan untuk membantu organisasi dalam pengaturan tersebut supaya organisasi dapat berjalan lancar. Biasanya Psikolog bidang Psikologi Industri dan Organisasi (Psikologi Industri dan Organisasi ) yang dicari untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan karyawan.

Dalam sejarahnya, psikolog Psikologi Industri dan Organisasi telah berkontribusi membantu:
  • Tentara Amerika menggunakan tes psikologi dalam perekrutan dan penempatan dalam pembagian pekerjaan 
  • Pusat Penilaian Pengembangan AT&T dalam pemilihan orang-orang terbaik untuk menempati posisi manager. 
  • Sistem Pengembangan General Electric (GE) dalam penyediaan umpan balik prestasi kerja kepada karyawannya. 
  • The U.S. Postal Service mengembangkan prosedur untuk mengurangi keluhan dari karyawan, dll. 
Psikolog Psikologi Industri dan Organisasi mempunyai bidang pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan, prestasi kerja, motivasi, keselamatan, seleksi dan pelatihan. Mereka juga dilibatkan dalam penyusunan rancangan berbagai peralatan tes dan tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaan.

Terdapat 2 aspek yang penting dalam Psikologi Industri dan Organisasi yaitu:
  • Studi tentang bagian yang berkaitan dengan individu-individu dalam suatu organisasi. 
  • Psikologi Industri dan Organisasi meliputi aplikasi prinsip-prinsip dan penemuan-penemuan dalam penelitian. 
Hampir semua psikolog Psikologi Industri dan Organisasi terlibat dalam praktek pelaksanaan dalam organisasi baik sebagai konsultan maupun sebagai karyawan dalam organisasi tersebut. Psikologi Industri dan Organisasi adalah bidang eklektik yang meminjam konsep, ide dan teknik serta teori dari berbagai disiplin ilmu.

c. Psikologi eksperimental memberikan dasar sejarah pada Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi dapat dibagi ke dalam beberapa spesifikasi ilmu,yang berkaitan secara mendasar dengan psikologi sains (eksperimental) dan berberapa berkaitan dengan aplikasi ilmu-ilmu sains lainnya.

Psikologi Industri dan Organisasi adalah bidang psikologi terapan yang berhubungan dengan pengembangan dan aplikasi dari prinsip yang berlaku di tempat kerja. Psikologi Industri dan Organisasi tidak berhubungan langsung dengan emosi karyawan dan masalah-masalah pribadi karyawan, yang merupakan masalah psikologi klinis, yang diajukan ke Psikologi Industri dan Organisasi untuk diatasi Contohnya: masalah stres pada pekerjaan.

Sesuai namannya Psikologi Industri dan Organisasi , maka tercakup di dalamnya divisi yang berhubungan dengan industrial (berkaitan dengan personal) dan yang berhubugnan dengan organisasi itu sendiri.
Psikologi indutri yang merupakan nama Psikologi Industri dan Organisasi pada mulanya, adalah cabang ilmu yang lebih tua dan cenderung berperan dalam perspektif managemen untuk efisiensi dari oraganisasi bersangkutan dengan menempatkan SDM yang tepat pada posisi yang sesuai.

Sedangkan Psikologi Organisasi berkembang dari hubungan antar individu dalam organisasi yang berfokus pada karyawan, sebagai individu dalam organisasi, dengan memperhatikan prilaku dan ‘well being’ sebagai karyawan di tempat kerjanya. Hal ini mencakup sikap karyawan, prilaku karyawan, tingkat stress terhadap pekerjaan dan perlakuan supervisi yang ada dalam perusahaaan.

Bagaimana pun sulit membedakan karakter dari psikologi industri dan psikologi organisasi secara jelas. Contoh: Motivasi ; relevan dengan psikologi industri bila dilihat dari sisi efisiensi dan prestasi kerja. Namun relevan dengan psikologi organisasi, jika dilihar dari sisi kebahagiaan dan ‘well-being’ karyawan.

d. Aktivitas dan setting dari psikolog Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi Industri dan Organisasi mencakup banyak pekerjaan yang berbeda-beda dengan setting yang bervariasi. Setting Psikologi Industri dan Organisasi dapat dibagi dalam 2 bentuk, sebagai praktisi (dalam organisasi) dan penelitian; keduanya sama penting peranannya dalam Psikologi Industri dan Organisasi . Salah satu objek Psikologi Industri dan Organisasi adalah membantu organisasi untuk berfungsi lebih efektif. Untuk itu, bidang Psikologi Industri dan Organisasi harus mempunyai penemuan-penemuan melalui penelitian yang menjadi dasar menjadi praktisi.

e. Prinsip-prinsip yang diaplikasi ke organisasi berasal dari penelitian Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi Industri dan Organisasi juga mempunyai objek dan bertujuan untuk mengerti perilaku dan sikap dalam bekerja. Dalam hal ini, penelitian diadakan untuk mengetahui dan mempelajari kenapa karyawan melakukan suatu hal tertentu dalam pelaksanaan pekerjaannya. Walaupun terbagi 2 (praktisi dan peneliti), kemungkinan terjadi ‘overlap’ bisa terjadi. Banyak peneliti yang terlibat sebagai praktisi dan sebaliknya. Setting banyak terjadi di perguruan tinggi dan juga di luar lingkungan pendidikan , namun tetap dengan dosen/pengajar sebagai psikolog Psikologi Industri dan Organisasi.

Setting bagi praktisi banyak terdapat di biro konsultasi, kamtor pemerintah, lembaga militer dan perusahaan negeri maupun swasta. Biro konsultasi menyediakan pelayanan Psikologi Industri dan Organisasi dalam perusahaan yang memakai jasa mereka. Perusahaan konsultasi yang besar memiliki banyak karyawan yang memberikan pelayanannya ke seluruh dunia. Psikolog dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi sering bekerja untuk pemerintahan (kota, daerah maupun nasional), militer dan dalam organisasi swasta.

Banyak psikolog bidang Psikologi Industri dan Organisasi adalah pengajar di lembaga pendidikan.Mereka juga melakukan penelitian dan pengajaran, serta menjadi konsultan di perusahaan, bahkan memiliki biro konsultasi sendiri. Kegiatan mereka antara lain: Mengajar, melakukan penelitian, menulis laporan penelitian dan mempresentasikan di rapat, menyediakan pelayanan konsultasi untuk organisasi, menulis buku diktat, supervisi kepada mahasiswa, menyediakan informasi untuk public, mengembangkan pelajaran, dan meneruskan pengembangan bidang mereka.

Psikolog Psikologi Industri dan Organisasi yang melakukan praktek di organisasi-organisasi adalah seorang praktisi, sama seperti psikolog yang bergerak di bidang akademik, yang mengadakan penelitian-penelitian dan mengajar. Fokus utama dari pekerjaannya sebagai praktisi adalah menerapkan berbagai penemuan dan prinsip dari lapangan.
Berikut adalah daftar aktivitas yang menunjukkan peranan psikolog dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi sebagai seorang praktisi:
  • Menganalisis pekerjaan 
  • Mengadakan analisis untuk menentukan solusi terhadap masalah organisasi 
  • Mengadakan survey untuk mengetahui perasaan dan opini karyawan 
  • Merancang system penghargaan atas prestasi karyawan 
  • Merancang system seleksi karyawan 
  • Merancang program pelatihan 
  • Mengembangkan tes psikologi 
  • Mengevaluasi efektivitas dari suatu aktivitas seperti program pelatihan 
  • Menerapkan erbagai perubahan dalam organisasi, seperti system pemberian reward bagi karyawan yang berprestasi. 
Banyak usaha dari psikolog bidang Psikologi Industri dan Organisasi yang ditujukan untuk kemajuan, efektivitas dan fungsi organisasi dengan memfokuskan pada beberapa aspek seperti menyeleksi orang yang dapat melakukan perjaan dengan lebih baik, melatih karyawan untuk dapt bekerja dengan lebih baik, merancang pekerjaan agar dapat dilakukan dengan lebih baik, merancang pekerjaan agar dapat dilakukan dengan lebih baik atau merancang organisasi supaya dapat berfungsi dengan baik. Psikolog bidang Psikologi Industri dan Organisasi bahkan bermaksud mengubah organisasi sebagai tempat belajar yang lebih baik, bahkan walaupun efektivitas dari organisasi tidak mengalami peningkatan.

Sejarah Perkembangan Psikologi Industri dan Organisasi

  • WILHELM WUNDT (1879) – Laboratory, Leipzig, Jerman. 
  • WALTER DILL SCOTT (1911) – “Increasing Human Efficiency in Business” psikologi dalam periklanan, buku The Theory of Advertising membahas psikologi dalam dunia kerja 
  • FRANK & LILLIAN GILBRETH – Time & MotionSstudies. (Prosedur dimana tugas kerja dipecah menjadi komponen-komponen sederhana berdasarkan pembagian waktu sehingga terbangun metode yang lebih efisien untuk mengerjakan tugas) 
  • Frederick Taylor (American Engineer)
  • - Principles of Scientific Management (1911)
  • - Mencari cara efisien untuk melakukan pekerjaan dengan membuat alat-alat mekanik yang disesuaikan dengan struktur anggota badan, misalnya pesawat telepon dengan tombol tekan lebih baik daripada putar - ERGONOMI 
  • HUGO M√úNSTERBERG (1913) - “Psychology & Industrial Efficiency” 
  • Perang Dunia I (1914-1918) – Army Alpha project – Tentara menggunakan psikolog untuk proses rekrutmen . Journal of Applied Psychology (1917) – Jurnal I/O pertama – dokumentasi proyek Army Alpha & Beta 
  • HAWTHORNE EXPERIMENTS
  • - Elton Mayo dan kelompoknya mengadakan penelitian di Pabrik Hawthorne di Western Electric Co. (1924-1932)
  • - Mereka ingin meneliti hubungan antara faktor fisik dan produksi. (faktor penerangan dengan produksi), namun mereka malah menemukan hubungan antara faktor manusia dan sosial dengan produksi. 
  • - Studi ini merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah Perilaku Organisasi. 
Pendirian laboratorium psikologi pertama pada tahun 1875 di Leipzig, Jerman, oleh Wilhelm Wundt, merupakan titik awal dari perkembangan psikologi sebagai suatu ilmu. Sesudah laboratorium psikologi pertama dari wundt, didirikanlah laboratorium psikologi lainnya, antara lain di Wuerzburg, Goettigen, dan Tubingen.Eksperimen-eksperimen (percobaan-percobaan) yang dilakukan dalam laboratorium psikologi menggunakan metode-metode ilmiah yang sesuai dengan yang digunakan juga dalam ilmu lainya, seperti fisika.

Ilmu berusaha memberi penjelasan tentang kejadian kejadian alam, lepas dari bagaimana keterangan ini akan digunakan. Metode ilmiah bertujuan untuk memaksimalkan obyektivitas dari temuan yang dilaporkan.Penjelasan ilmiah lebih merupakan fakta empirik daripada spekulasi, lebih merupakan data obyektif daripada pandangan.Ilmu berhubungan dengan fakta-fakta yang dapat diobservasi, yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, diukur dan dilaporkan.

Lembaga-lembaga psikologi di atas mempelajari gejala gejala psikis pada manusia, seperti proses pengenalan, pengamatan, ingatan, pikiran dan sebagainya. Untuk ini dibuat berbagai macam rancangan (design) eksperimen untuk mendapatkan hasil-hasil yang absah dan andal.

Teori, aturan-aturan dan prinsip-prinsip dari psikologi umum, yang berlaku untuk setiap manusia, tetap berkembang dan diterapkan.Penerapanya di berbagai bidang psikologi seperti di bidang pendidikan dan industri. Kemungkinan penerapan psikologi umum di industri sudah mulai dilihat pada permulaan Abad ke-20.Tahun 1901, Walter Dill Scott berbicara tentang kemungkinan pengunaan psikologi dalam periklanan. Tahun 1903 ia menerbitkan bukunya The Theory of Advertising, yang dipandang sebagai buku pertama yang membahas tentang psikologi dengan suatu aspek dari dunia kerja(Schultz, dalam Munandar, 2001). Tahun 1913 terbit buku lain dengan judul The Psychology of Industrial Efficiency yang ditulis oleh Hugo Munsterberg, psikolog Jerman yang mengajar di universitas Harvard. Buku ini membahas secara lebih luas bidang dari psikologi industri. Meskipun sudah pada permulaan Abad ke-20 dikenali kemungkinan penerapan psikologi umum dalam perusahaan, penerapan dan perkembanganya yang pesat baru mulai dalam dekade 1920.

Frederick Winslow Taylor, seorang serjana teknik, pelopor gerakan scientific management, mencari cara-cara yang paling efisien untuk melakukan suatu pekerjaan, dan menciptakan berbagai macam alat mekanik yang disesuaikan dengan struktur faal badan dan anggota badan kita. Pada masa itu mulailah para sarjana psikologi eksperimen bersama sama dengan para serjana teknik industri menggarap obyek studi yang baru, yaitu kesesuaian dan penyesuaian dari lingkungan kerja fisik, peralatan kerja dan proses kerja dengan keterbatasan kemampuan fisik dan psikik dari manusia sebagai tenaga kerja. Baru pada Perang Dunia ke II sewaktu mesin - mesin yang dibuat dan peralatan kerja (kapal terbang dan senjata) makin menjadi majemuk dan cangih, para psikolog memainkan peranan yang penting dalam merancang berbagai macam mesin dan peralatan. Melalui eksperimen ditemukan hukum-hukum dan prinsip-prinsip umum yang diterapkan dalam menyusun suatu proses kerja yang efisien, merancang dan membuat alat-alat yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis manusia.

Dengan bekerjasama dengan para serjana teknik, para sarjana psikologi memberi keterangan tentang kepastian dan keterbatasan manusia dalam menggunakan peratan canggih seperti kapal terbang dengan kecepatan tinggi, kapal selam, dan tank, sehingga dengan demikian memengaruhi rancangan peralatan tersebut. Para sarjana psikologi juga membantu para perancang teknik dalam tata letak panel alat, baik yang ada dalam mobil maupun yang ada di kokpit kapal terbang, sehingga kenop dan kendali mudah untuk digunakan dan paparan visual (visual display) seperti speedometer, mudah dilihat dan dibaca. Pesawat telepon ’pijit kenop’ adalah hasil penelitian yang dilakukan sarjana psikologi industri yang menemukan bahwa memijit kenop lebih mudah, cepat dan cermat dibandingkan dengan memutar nomor/angka (Schultz, 1982). Ilmu yang berkembang dari kegiatan diatas dikenal dengan nama ergonomi, atau perekayasaan manusia (human engineering) atau psikologi (engineering psychology).

Tahun 1924 dimulai suatu seri penelitian di Hawthorne, Illinois, di pabrik Western Electric Company.Penelitian ini mulai dengan mempelajari akibat dari aspek-aspek fisik dari lingkungan kerja terhadap efisiensi pekerja. Para peneliti mencari jawaban terhadap pertayaan-pertanyaan seperti: apa akibat terhadap produksi jika intensitas lampu penerangan ditingkatkan? Apakah suhu panas udara dan kelembapan memengaruhi produksi?Apa yang terjadi jika diadakan jam-jam istirahat? Hasil dari kajian Hawthorne sangat menakjubkan para peneliti dan para manajer pabrik Hawthorne.Ditemukan bahwa kondisi sosial dan psikologik dari lingkungan kerja secara potensial mempunyai arti yang lebih penting daripada kondisi-kondisi kerja fisik. Misalnya: mengubah intensitas lampu penerangan dari sangat terang sampai hampir gelap tidak mengurangi taraf efisiensi dari kelompok pekerjanya. Ada faktor-faktor subtil yang bekerja sehingga menyebabkan para pekerja dapat mempertahankan taraf produksinya yang asli dalam kondisi kerja yang hampir gelap.Dalam kasus yang lain intensitas lampu penerangan dinaikkan dan tingkat produksi naik. Perubahan-Perubahan lain diadakan, yaitu ada jam-jam istirahat, makan siang bebas, jam kerja lebih pendek. Hasilnya, untuk setiap perubahan, produksinya naik. Hasil yang paling menakjubkan trjadi ketika semua perubahan ditiadakan, yaitu produksi tetap naik!

Hasil kajian tersebut membuka lapangan baru untuk dieksplorasi. Hal-hal yang diteliti, yang berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun, mencakup mutu dan corak penyeliaan (supervision), kelompok-kelompok informal antara pekerja, sikap para tenag kerja terhadap pekerjaannya, komunikasi dan hal-hal lainya yang sekarang diakui sebagai hal-hal yang mampu memengaruhi,bahkan mampu menentukan, efisiensi, motivasi dan kepuasan kerjapara pekerja. Sejak itu psikologi eksperimen mempelajari masalah-masalah hubungan antarmanusia, semangat kerja dan motivasisecara lebih mendalam dan luas.

Bidang kegiatan lain di industri dimana teori, aturan dan prinsip psikologi umum diterapkan adalah bidang pelatihan dan pengembangan. Bidang pelatihan dan pengembangan menjadi penting artinya sewaktu Perang Dunia ke II berlangsung. Kekurangan akan tenaga trampil menyebabkan perusahan mengalakkan pelatihan dalam industri. Penerapan dari prinsip-prinsip belajar sangat memengaruhi efektivitas program-program pelatihan.

Pada tahun 1960-an mulai penerapan psikologi di bidang penjualan berkembang dengan pesat. Perilaku manusia sebagai konsumen diteliti. Kebiasaan membeli dan proses pengambilan keputusan untuk membeli dikaji dan dicarikan aturan-aturan umum. Industri melalui kegiatan promosinya dengan menggunakan berbagai ragam media massa seperti media cetak(harian, majalah), media pendengaran(radio), media penglihatan(TV, film), berusaha untuk mengambil hati konsumen. Penerapan teori, aturan dan prinsip-prinsip psikologi besar pengaruhnya dalam perancangan kegiatan promosi tersebut.Akhirnya pada waktu bersamaan para sarjana psikologi sebagai kelanjutan mendalami hubungan antarmanusia dalam industri mulai mempelajari organisasi sebagai suatu keseluruhan. Mereka mempelajari struktur, iklim dan budaya dari berbagai macam organisasi, pola dan gaya dari komunikasinya, struktur sosial formal dan informal yang ditimbulkan, untuk menentukan pengaruh dan akibatnya terhadap perilaku tenaga kerja.

Psikologi Differensial

Di samping psikologi umum yang perkembanganya didasari temuan-temuan eksperimen dan penelitian, berkembanglah psikologi diferinsial atau psikologi khusus.William Stern, seorang sarjana Jerman, memberikan dasar yang kuat pada psikologi diferensial ini. Dalam bukunya Die Differentielle Psychologie yang terbit tahun 1900, ia mengulas secara sistematik bidang-bidang dan metode dari psikologis khusus. Melalui psikologi khusus ini berkembanglah psychotechniek yang kemudian dikenal dengan namapsikometri, yaitu cabang psikologi yang berupaya mempelajari dan mengukur gejala-gejala psikis yang khas dari seseorang. Cabang psikologi ini menekankan keunikan seseorang, menekankan adanya perbedaan antarmanusia.

Perbedaan antarmanusia diupayakan untuk dapat di ukur dengan menggunakan alat-alat ukur yang kemudian dikenal sebai tes psikologik. Mula-mula tes psikologik yang dikembangkan pada permulaan abad ke-20 ini mengukur inteligensi dan kemampuan mental lainya.Tes inteligensi yang pertama dikembangkan oleh Binet danSimon di Prancis, sebagai pelaksanaan dari tugas pemerintah Prancis untuk mengembangkan alat ukur yang membedakan anak-anak yang normal dari yang lemah ingatan.Tes inteligensi ini kemudian diadaptasi dan dikembangkan di negara-negara lain, juga di Amerika Serikat.Di sini tes inteligensi dari Binet dan Simon dikembangkan oleh Terman dan Merrill sehingga tes itu dikenal sebagai Terman-Merrill Intelligence Test.

Pada Perang Dunia I (1914) para sarjana psikologi di Amerika Serikat mendapat tugas untuk mengembngkan tes inteligensi yang digunakan untuk menyeleksi anggota tentaranya. Tes yang dikembangkan dikenal dengan nama Army Alpha Test (untuk yang dapat membaca) dan Army Beta Test (untuk mereka yang buta aksara). Setelah Perang Dunia I ini psikometri berkembang dengan sangat pesat.Tes-tes psikologik mulai digunakan dalam seleksi tenaga kerja oleh perusahaan. Selain tes inteligensi dan tes kemampuan dikembangkan juga tes lain yang mengukur kepribadian da minat seseorang. Dewasa ini tes-tes psikologik selain digunakan untuk seleksi tenaga kerja juga untuk digunakan untuk penyuluhan dan bimbingan kejuruan dalam rangka rehabilitasi(jika tenaga kerja mengalami cacat dalam pekerjaan dan harus pindah kerja) dan pengembangan karier tenaga kerja (mutasi dan promosi).

Penekanan perbedaan antarmanusia ini mendapat perhatian pula dalam menyusun dan menetapkan intensif bagi para tenaga kerja agar mereka mempertahankan atau meningkatkan motivasi kerja mereka.

Prof Slamet Iman Santoso, 3 Maret 1953, didirikan Lembaga Pendidikan Asisten Psykologi dan Balai Psycotechnik di Departemen Pendidikan berkembang menjadi Jurusan Psykologi Fakultas Kedokteran U.I. kemudian tahun 1960 menjadi Fakultas Psikologi U.I. Fakultas Psikologi Unpad tahun 1963. Fakultas Psikologi UGM 8 Januari 1965.

Howell & Dipboye (1982) : Sejak PD II, Psikologi berkembang menjadi ilmu mandiri dalam upaya menjawab pertanyaan manusia dalam organisasi. Psikologi Differensial lebih berkembang di industri khususnya untuk seleksi pegawai. Penggunaan pengetahuan psikologi industri dan organisasi harus ditujukan untuk kepentingan dan kemanfaatan pihak-pihak yang terlibat.

Sejarah Psikologi Industri dan Organisasi di Indonesia

Psikologi sebagai ilmu baru dikenal dan dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1950-an. Ketika kemerdekaan Indonesia diakui secara resmi oleh Belanda akhir tahun 1949, terdapat kegiatan-kegiatan psikologis dengan mengunakan tes-tes psikologik yang dilakukan oleh:
  • Balai psychotechniek dari kementrian Pendidikan, Pengajaran & Kebudayaan RI, yang mengadakan seleksi siswa untuk masuk kesekolah menengah kejuruan teknik, serta pengukuran psikometris untuk keperluan penjurusan sekolah, 
  • Pusat Psikologi Angkatan Darat di Bandung, yang menyelengarakan seleksi dan penjurusan bagi para anggotanya, berdasarkan pengukuran psokometris. 
Pada tanggal 3 maret 1953, dibawah pimpinan Prof. Dr. Slamet Iman Santoso, didirikan Lembaga Pendidikan Asisten Psychologi, dan Balai Psychotechniek dari Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan RI dilebur ke dalamnya menjadi bagian Psikologi Kejuruan dan Perusahaan. Lembaga Pendidikan Psychologi berkembang menjadi Jurusan Psychologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan tahun 1960 an menjadi fakultas psikologi Universitas Indonesia. Bagian Psikologi Kejuruan dan dan Perusahan sekarang menjadi Bagian Psikologi Industri dan Organisasi.Psikolog industri yang merupakan cabang dari psikolog yang ketika itu hanya menerapkan penggunaan tes dalam rangka seleksi dan penjurusan sekolah sejak itu berubah menjadi ilmu yang dapat dikembangkan teorinya melalului penelitian-penelitian.

Pengembangan psikologi industri dan organisasi juga dipelopori oleh Bagian Psikolog Industri dan Organisasi dari dua Fakultas Psikologi lainya, yaitu Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (yaitu berdiri pada bulan september 1961) dan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (berdiri 8 januari 1965). Pada tahun 2000 terdapat empat Fakultas Psikologi pada universitas negeri (Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Erlangga), satu program studi Psikologi sebagai bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan kurang lebih tiga puluh Fakultas (atau masih berstatus program studi) Psikologi swasta yang masing-masing memiliki Bagian Psikologi Industri dan Organisasi.

Perkembangan psikologi industri dan organisasi yang telah maju di negara-negara Barat memberikan bahan pengetahuan yang sangat banyak kepada Indonesia. Hasil penelitian, teori yang berkembang, metodologi dan perangkat peralatanya yang canggih tersedia bagi Indonesia untuk digunakan.Di satu pihak Indonesia beruntung Karena tidak perlu lagi bersusah payah untuk mendapatkan temuan-temuan guna menunjang berkembangnya teori, karena ada teori, aturan dan prinsip psikologi yang berlaku secara universal.Metodologi yang canggih dapat pula kita gunakan. Di lain pihak Indonesia harus tetap cermat mengenali teori, aturan dan prinsip psikologi mana yang lebih ditentukan oleh masyarakat dan kebudayaan indonesia. Hal ini terutama berlaku bagi alat-alat penelitian dan pengukuran.Tes-tes penelitian dan pengukuran. Tes-tes psikolog selain ditrjemahkan perlu pula diadaptasi dengan kondisi Indonesia’

Masalah lain yang dihadapi ialah peluang yang terbatas untuk mengembangkan psikologi industri dan organisasi. Suatu ilmu dapat berkembang jika diadakan penelitian-penelitian dasar dan terapan, serta jika ada peluang untuk menerapkan teori yang telah ada. Peluang, baik untuk penelitian maupun untuk penerapan ilmu, masih kurang besar selama ini, sehingga perkembangan psikologi industri dan organisasi sebagi ilmu belumlah dapat dikatakan berarti. Faktor-faktor utama yang membatasi peluang adalah masalah pendanaan (dana penelitian sulit diperoleh dan sedikit), tenaga peneliti dan penerap yang kurang (kesediaan dan kesiapan sarjana psikologi untuk mengadakan penelitian kurang; kesiapannya untuk bekerja menerapkan psikologi di bidang organisasi masih sedikit jumlahnya), dan kesediaan dan kemampuan perusahaan untuk menggunakan jasa-jasa psikologis masih terbatas. Secara umum dapat dikatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan psikologi dan industri di indonesia sebagai ilmu telah dikenal dan dipahami tetapi pelaksanaanya Belem dapat dilakukan sepenuhnya.

Psikologi dan industri di Indonesia dewasa ini masih merupakan ilmu terapan dengan kegiatan utamanya pada pelaksanaan pemeriksaan psikologis (yang secara populer dikenal dengan istilah ‘psikotes’) dengan tujuan seleksi dan penempatan, penyuluhan dan bimbingan kejuruan, dan pengembangan karier.

Bidang terapan yang lain adalah bidang pelatihan. Sudah cukup banyak sarjana psikologi terlibat dalam menyusun dan melaksanakan program-program pelatihan di preusan. Bidang terapan lain yang masih kurang dilakukan ialah bidang konsultasi organisasi/perusahaan. Ada beberapa sarjana psikologi yang bekerja sebagai konsultan dalam perusahaan, ada beberapa sarjana psikologi lainnya yang bekerja pada lembaga manajemen negeri/swasta sebagai konsultan. Kegiatan para sarjana psikologi di bidang organisasi, psikologi Kekayasaan, dan penelitian perilaku konsumen, pada permulaan tahun 2001 ini, belum dapat dikatakan banyak.

Domain Psikologi Industri dan Organisasi

Penjelasan Psikologi Industri Organisasi (PIO) Lengkap Hakikat dan Pengertian

Tantangan dan Masa Depan Psikologi Industri dan Organisasi

4 kunci baru di duna kerja untuk sekarang dan masa depan Psikologi Industri dan Organisasi:

1. Perubahan pada hakikat kerja

Organisasi sekarang lebih terbagi dalam subunit yang lebih kecil, lebih menekankan pada kerja tim. Level hierarki lebih sederhana, jaringan kerja yang kuat, tempat kerja lebih fleksibel dan di mana saja. Pekerjaan lebih kompleks karena adanya kemajuan teknologi yang pesat.
Terdapat banyak pengurangan tenaga kerja sebagai strategi efisiensi dan persaingan. Penurunan level loyalitas dan komitmen pekerja thd organisasi.

Peran Psikologi Industri dan Organisasi:
  • Membantu pekerja menghadapi perubahan pada perubahan teknologi dan struktural. 
  • Membantu organisasi dalam merancang kerja yang lebih efisien, menciptakan struktur dan tim kerja yang baru dan lebih fleksibel 
  • Membantu coping stress pekerja terkait perubahan.

2. Meluaskan Fokus pada SDM

Dimulai dari studi Mayo dan the Human relations movement, Organisasi lebih berfokus dan responsif terhadap kebutuhan pekerja.

Peran Psikologi Industri dan Organisasi:
  • Melihat pekerja sebagai ‘pribadi utuh’ sebaliknya daripada sekedar pekerja. 
  • Memperhatikan perkembangan individual, coping stress, adaptasi perubahan, pemahaman akan peran emosi di tempat kerja. 
  • Memahami pengaruh antara kehidupan pribadi dengan kehidupan kerja individu pekerja.

3. Meningkatnya Keberagaman di Tempat Kerja

Terdapatnya kondisi individu yang semakin berbeda ke dunia kerja, menambah keragaman di tempat kerja (Gender, Sexual orientation, Age, Ethnic, Culture, Disability, SES, Religion). Hal ini merupakan tantangan, kekuatan, dan peluang yang baru.

Peran Psikologi Industri dan Organisasi :
  • Membantu Organisasi berhadapan dengan tantangan dan perubahan terkait keberagaman demografik dan budaya.

4. Meningkatkan Globalisasi Bisnis

Bisnis dan industri dunia lebih berfokus pada pangsa pasar global. Penempatan sub-perusahaan di luar negeri.

Peran Psikologi Industri dan Organisasi :
  • Membantu organisasi menyiapkan pekerja yang siap di tempatkan di negara lain, mengelola perusahaan secara global, beradaptasi dengan budaya lain, dan mampu bekerja dengan pekerja dengan latar belakang yang berbeda.

Sekian artikel Universitas Indonesia tentang Penjelasan Lengkap Psikologi Industri Organisasi (PIO) Hakikat dan Pengertian. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian dan Hakikat Psikologi Industri Organisasi (PIO) Lengkap"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel