Pengertian, Jenis, dan Proses Terbentuknya Kelompok

Pengertian, Jenis, dan Proses Terbentuknya Kelompok - Selamat malam sahabat psikologi. Kembali lagi kita akan membahasa artikel psikologi yang menarik lagi kali ini yaitu pembahasan seputar kelompok dalam dunia psikologi. Pembahasan kali ini diharapkan anda dapat memahami pengertian kelompok itu sendiri, jenis-jenis kelompok, dan bagaimana proses terbentuknya kelompok.

Sebagai manusia, keberadaan manusia tidak bisa dilepaskan dari kelompok. Misalnya sebagai anak, anggota kelompok keluarga, sebagai mahasiswa, adalah anggota kelompok mahasiswa suatu perguruan tinggi tertentu, sebagai karyawan, adalah anggota kelompok suatu perusahaan, sebagai rakyat, adalah anggota kelompok suatu Negara.

Kelompok merupakan pokok bahasan yang penting dalam Psikologi Sosial karena sebagai makhluk sosial manusia tidak pernah terlepas dari kelompok. Keberadaan manusia, baik ketika sendiri maupun ketika bersama orang lain, seringkali dipengaruhi oleh orang lain.
Pengertian, Jenis, dan Proses Terbentuknya Kelompok
image source: www(dot)personal(dot)psu(dot)edu
Baca juga: Pandangan Para Ahli Tentang Psikologi Sosial
Menurut Allport, kelompok adalah sesuatu yang tidak nyata, kelompok hanya ada dalam pikiran individu, kelompok merupakan sekumpulan individu yang memiliki nilai, ide, pikiran atau kebiasaan yang sama. Namun Durkheim menyatakan sebaliknya kelompok adalah hal yang nyata, kelompok bukan hanya sekedar sekumpulan orang-orang yang memiliki ide-ide yang sama, melainkan ia memiliki keunikan sendiri yang berbeda dengan individu-individu yang membentuknya.

Untuk memberikan batasan kelompok perlu memperhatikan beberapa criteria seperti:
  • Adanya interaksi antar anggota baik secara langsung maupun tidak langsung 
  • Hubungan anggota yang relatif stabil yaitu adanya periode waktu yang cukup lama (minggu, bulan atau tahunan) 
  • Adanya saling ketergantungan dimana tingkah laku seseorang anggota dapat berdampak pada anggota yang lainnya 
  • Kelompok memiliki tujuan yang ingin dicapai 
  • Ada struktur yang mengatur interaksi antar anggota 
  • Adanya perasaan sebagai anggota kelompok. 
Masing-masing criteria diatas dapat bervariasi dalam intensitasnya. Misalnya kelompok formal seperti perusahaan, memiliki intensitas yang kuat pada unsur saling ketergantungan, adanya tujuan yang ingin dicapai, adanya struktur kelompok dan perasaan sebagai anggota kelompok perusahaan.

Berbeda dengan kelompok non-formal seperti kelompok penggemar mobil tua, mereka dapat lebih kuat intensitasnya pada unsur interaksi antar anggotanya dan perasaan sebagai anggota kelompok penggemar mobil tua. Tidak setiap kumpulan orang dapat dipertimbangkan sebagai kelompok.

Pengertian Kelompok dengan Agregat 

Agregat, menunjuk pada kumpulan individu yang tidak berinteraksi satu sama lain. Namun bagaimanapun juga dapat terjadi bahwa suatu agregat dapat berubah menjadi sebuah kelompok
Kelompok adalah suatu kumpulan dua atau lebih orang-orang yang mengalami interaksi dinamis satu sama lain (McGrath dalam Sarwono & Mainarno, 2009).

Definisi ini mencakup berbagai jenis kelompok, misalnya sebuah keluarga kecil, sebuah kelompok kerja yang besar, suatu kelompok eksperimen yang hanya bertemu pada satu kesempatan, suatu unit miliiter yang bertugas bersama-sama dalam hitungan bulan atau tahun.

Perbedaan Kelompok dengan Agregat 

  • Agregat tidak memiliki struktur tertentu, sedangkan kelompok memiliki bentuk organisasi yang definitive dan anggotanya berhubungan satu sama lain. 
  • Kelompok bersifat dinamis, sedangkan agragat relatif pasif. Anggota-anggota kelompok saling menyadari keberadaan satu sama lin, sedangkan orang-orang di dalam agregat seringkali melupakan orang-orang disekitarnya. 
Tetapi hal penting yang membedakan sekumpulan orang sebagai kelompok atau sekedar agregat adalah perasaan sebagai anggota kelompok.

Kelompok tidak muncul secara tiba-tiba melainkan sebagai suatu proses integrasi sosial yang berkesinambungan. Individu-individu ayng akan membentuk kelompok mengembangkan perasaan-perasaan, keyakinan-keyakinan dan tingkah laku yang sama sehingga memperkuat ikatan-ikatan di antara mereka.

Terbentuknya kelompok dapat terlibat secara jelas dan disengaja, namun juga dapat tidak terlihat secara jelas adan tidak disengaja. Pendirian seuatu partai, merupakan pembentukan kelompok yang disengaja, sedangkan sekumpulan orang yang sama-sama menjadi korban penyanderaan, mereka selanjutnya membentuk kelompok yang berusaha bersama untuk mencari jalan keluar agar dapat bebas, ini merupakan contoh terbentuknya kelompo yang tidak disengaja.

Jenis-jenis Kelompok dan Contohnya

Jenis (tipe) tipe kelompok sangat beragam sehingga sulit dibuat satu penggolongan yang baku. Penggolongan jenis kelompok jadinya sangat tergantung pada tujuan penggolongan itu sendiri antara lain sebagai berikut ( Cota dalam Sarwono, 2002):
  • Kelompok formal: organisasi militer, perusahaan, kantor kecamatan 
  • Kelompok non formal: arisan, geng, kelompok belajar, teman-teman bermain golf 
  • Kelompok kecil: dua sahabat, keluarga, kelas 
  • Kelompok besar: divisi tentara, suku bangsa, bangsa 
  • Kelompok jangka pendek: panitia, penumpang kendaraan umum, orang-orang yang membantu memadamkan kebakaran atau menolong korban kecelakaan lalu lintas 
  • Kelompok jangka panjang: bangsa, keluarga, tentara, sekolah 
  • Kelompok kohesif (hubungan erat antaranggota): keluarga, panitia, rombongan umroh, geng, sahabat
  • Kelompok tidak kohesif : penonton bioskop, pembaca majalah, pengunjung pusat pertokoan.

Alasan Seseorang untuk Bergabung dalam Kelompok

Alasan-alasan untuk membentuk atau bergabung dalam suatu kelompok dapat berbeda-beda. Hal ini tergantung pada kebutuhan seseorang atau tujuan yang ingin diperolehnya. Misalnya seorang pelajar yang mereka tidak aman , takut dikucilkan atau takut dijadikan objek pemerasaan oleh suatu geng di sekolahnya, maka ia ikut bergabung menjadi anggota kelompok geng tersebut sehingga dirinya menjadi selamat.

Baron (dalam Sarwono & Mainarno, 2009) mengemukakan beberapa alasan kenapa orang bergabung dalam kelompok, yaitu :
  • Untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial 
  • Membantu pencapaian tujuan yang tidak mungkin dapat diraihnya seorang diri 
  • Untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang tidak dapat ia peroleh dari tempat lain 
  • Memenuhi kebutuhan akan rasa aman 
  • Untuk mendapatkna identitas sosial 
Melihat adanya beberapa macam alasan seseorang untuk bergabung dalam kelompok, maka seseorang dapat masuk ke berbagai kelompok / kursus untuk memenuhi beragam kebutuhannya.

Proses Terbentuknya Sebuah Kelompok

Hoog dalam Sarwono (2002) mengemukakan bahwa ada dua macam psikolog sosial. Jenis yang pertama adalah yang berorientasi psikologi, sedangkan jenis kedua adalah yang berorientasi sosiologi Psikolog sosial yang berorientasi psikologi lebih mementingkan individu. Proses di dalam kelompok merupakan kelanjutan dari proses individu.

Tipe psikolog ini dinamakan juga psikolog tipe reduksi karena mereka mempelajari perilaku individu sampai ke elemen yang sekecil-kecilnya (elemen kesadaran, proses fisiologik dan lain lain) dan beranggapan bahwa perilaku kelompok dapat diterangkan dari elemen-elemen kecil tersebut. 

Dikatakan bahwa elemen-elemen perilaku yang terkecil itu mendasari perilaku hubungan antarindividu yang selanjutnya mendasari perilaku dalam kelompok dan antar kelompok (Allport dalam Sarwono, 2002)

Psikolog sosial yang berorientasi sosiologi menyatakan bahwa perilaku sosial harus dibedakan dan dipelajari terpisah dari perilaku individu. Perilaku kelompok tidak identic dan juga bukan merupakan kelanjutan atau kelangsungan dari perilaku individual. Perilaku hubungan antarindividu tidak identic dengan perilaku antar kelompok (Tajfel dalam Sarwono, 2002)

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pengertian, Jenis, dan Proses Terbentuknya Kelompok. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian, Jenis, dan Proses Terbentuknya Kelompok"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel