Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana

Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana - Halo sahabat psikologi! Kali ini Universitas Psikologi akan membahas artikel tentang Disaster Risk Reduction (DRR), langkah-langkah preventif, preparation dan training sebelum bencana (psychological preparedness) dan tentu saja masih terkait ke dalam psikologi tanggap bencana.
Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana
image source: jeffreysterlingmd(dot)com
Baca juga: Psychology First Aid

Disaster Risk Reduction (DRR)

Pengertian dan Perkembangan Disaster Risk Reduction (DRR)

Disaster risk reduction (DRR) adalah menghindar resiko-resiko (preventif) yang mungkin terjadi atau membatasi resiko (persiapan), dengan memfokuskan pada kapasitas dan kerentanan dari masyarakat.

Yokohama Strategi untuk Dunia yang Lebih Aman atau yang lebih dikenal dengan Yokohama Strategy (1994): panduan untuk langkah dan aksi preventif untuk bencana alam, persiapan dan mitigasi bencana. Dalam World Conference of Disaster Reduction tahun 2005 ada revisi terhadap Yokohama Strategy yang melahirkan rencana kerja pencegahan dan pengurangan dampak bencana 2005-2015.

Ada pun langkah strategisnya yaitu:
  • Memastikan bahwa reduksi resiko bencana merupakan prioritas baik secara lokal ataupun nasional, dengan institusi atau organisasi yang kuat dalam pengimplementasiannya. 
  • Identifikasi, mengases, dan memonitor resiko dari bencana dan meningkatkan early warning system. 
  • Menggunakan pengetahuan, inovasi dan edukasi untuk membangun budaya yang aman dan resiliens pada semua level. 
  • Mengurangi faktor-faktor resiko yang ada. 
  • Meningkatkan kesiapan terhadap bencana untuk respon yang efektif pada semua level. 

Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana
Strategi Psikologi Bencana
Kesimpulannya adalah, area kerja Disaster Risk Reduction adalah sebelum bencana.

DRR dalam Konteks Kajian Psikologi

Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana


Langkah preventif dan promosi kesehatan mental adalah isu yang penting dalam kancah internasional yang sedang berkembang sekarang ini. Ketika seseorang atau masyarakat dihadapkan dengan kejadian bencana di luar ekspektasi mereka, sangat sulit untuk menangani gangguan-gangguan psikologis yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut.

Oleh karenanya perlu dirasa untuk meningkatkan kapasitas psikologis dalam menghadapi bencana dalam hal ini disebut resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri individu yang mengarahkannya ke arah yang positif sama seperti kondisi psikologis sebelum bencana.

Pengertian yang hampir serupa yang dikemukakan oleh Norris, et.al. (2008) resiliensi adalah proses menyatukan (me-link-kan) kapasitas adaptif kepada hal-hal yang positif dan adaptasi setelah kejadian bencana.

Model stress resistance dan resilience sepanjang waktu. Resisten terjadi ketika resource (sumber daya) cukup tersedia, berlimpah ataupun cepat untuk menyanggah ataupun menghalangi efek stressor seperti: tidak terjadinya disfungsi psikologis.

Resiliense terjadi ketika resource (sumberdaya) cukup tersedia, berlimpah, ataupun cepat untuk menghalangi ataupun menyanggah efek dari stressor yang akan mengembalikan individu ke fungsi awalnya, bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Pada individu dan komunitas adaptasi ini termanifestasikan dalam bentuk kondisi yang baik-baik saja (wellness). Kerentatan terjadi ketiaka resource (sumber daya) tidak tersedia, berlimpah ataupun cepat untuk resisten ataupun resuliens yang menghasilkan disfungsi yang bersifat persisten.

Resiliensi Sebagai Satu Set Kapasitas

Resiliensi muncul dari satu set kapasistas yang adaptif. Resiliensi komunitas adalah satu set kapasitas networked yang bersifat adaptif. Hal ini merupakan poin penting karena resiliensi tergantung pada dua resource yaitu diri individu itu sendiri dan dinamika dari atribut resourse tersebut (cukup tersedia, berlimpah, ataupun cepat); dalam hal ini akan digunakan istilah “kapasitas adaptif” untuk meringkas ketiga kombinasi tersebut.

Pembangunan resiliensi pada masyarakat merupakah agenda yang penting dalam program DRR yang tidak hanya fokus pada pemulihan individu perindividu tapi juga pada pemulihan fungsi sosial pada tataran negara, komunitas, rumah tangga, dan juga tetangga. Banyak riset telah mengkaji bagaimana meningkatkan resiliensi pada orang anak-anak, namun riset sangat sedikit mengkaji peningkatan resiliensi pada orang dewasa.

Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana


Goodman et. al (1998) mendefinisikan kapasitas komunitas dalam dua cara: (1) karakteristik komunitas yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengidentifikasi, memobilisasi, dan memasukkan isu sosial dan kesehatan (2) Penanaman dan mentransfer pengetahuan, keterampilan, sistam dan sumber daya yang ada di komunitas dan individu yang berubah sesuai dengan tujuan dan sasaran kesehatan publik. Ressiliensi pada komunitas mencakup pada empat resources, yaitu: perkembangan ekonomi, sosial, informasi dan komunikasi, dan kompetensi masyarakat.

A. Kapasitas Coping Pada Orang Dewasa dan Cara yang mungkin dilakukan untuk mempromosikannya

Fenomena resiliensi menunjukkan betapa pentingnya kemampuan untuk coping (mengatasi) dalam menghadapi resiko. Dua keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan coping yaitu: pemeliharaan level kesehatan dan proses penyembuhan yang cepat pada fungsi psikologis dalam menghadapi kejadian traumatik. 

Pada suatu saat seseorang menunjukkan resiliensi dalam kehidupannya, namun disaat yang lain individu tidak menunjukkan hal tersebut. Resiliensi adalah hasil dari interaksi antara kondisi personal dan lingkungan. Riset resiliensi pada orang dewasa mengidentifikasikan macam-macam faktor yang dapat mengurangi kemungkinan disfungsi reaksi yang adaptif kepada reaksi adaptif yang lebih positif, adapun faktor yang sangat menentukan adalah faktor psikologis individu.

Contohnya adalah: optimism, menemukan tujuan kehidupan, locus control internal, self-efficacy. Selain faktor personal, lingkungan juga memainkan peranan penting, seperti: dukungan social dari keluarga, teman, jaringan social, isntitusi dan adanya contoh yang baik dari orang lain.

Terkait dengan perbedaan level yang mempengaruhi resiliensi, maka promosi untuk resiliensi bisa dilakukan dalam dua hal yaitu: pertama, pendekatan personal dengan fokus pendekatan pada merubah secara langsung perilaku yang tampak dalam proses bekerja dengan masing-masing individu. Kedua, pendekatan lingkungan dengan memodifikasi lingkungan tempat individu tersebut tinggal, perubahan lingkungan ini akan mempengaruhi kemampuan coping individu secara tidak langsung.

Meskipun proses promosi resiliensi ini bisa merubah cara seseorang dalam menghadapi permasalahan namun ada hal-hal yang tidak dapat diubah, contoh: self-efficacy dapat diubah dan diajarkan namun temperament seseorang cenderung menetap seumur hidup. Lebih lanjut, kesempatan untuk mempengaruhi kemampuan resiliensi seseorang tergantung dari kualitas program, tergantung dari kemungkinan individu untuk berpartisipasi, motivasi dan keterampilan dari penerima, dan kesempatan untuk melakukan coping positif dalam situasi spesifik dan konteks lingkungan.

B. Peranan Resiliensi Psikologis dalam DRR (Level Komunitas VS Level Individu)

DRR mengacu pada eksplorasia dan implementasi langkah-langkah untuk mencegah atau mengurangi efek dan berfungsi sebagai pemberi dukungan dan resiliensi. Resiliensi dalam kacamata DRR diartikan sebagai “kemampuan dari sebuah sistem komunitas dan sosial yang terekspos kepada kejadian bahaya. Resiliensi termasuk melawan, menyerap dan mengakomodasi dan memulihkan diri dengan waktu dan cara yang efisien (UNISDR, 2009).
Dalam prakteknya resiliensi dalam DRR ini bisa dilakukan sebelum, ketika dan setelah bencana. Membangun program resiliensi berbasis komunitas lebih menonjol dibandingkan dengan program resiliensi berbasis individu. Pendekatan resiliensi berbasisi komunitas adalah dengan membangun kapasitas keluarga, lokal dan nasional yang telah dilakukan oleh Palang Merah Kanada dan Palang Merah Indonesia. Strateginya adalah fokus pada pengingkatan kapasitas masyarakat seperti dalam hal agricultural, komunikasi, kapasitas organisasi dan sumber bantuan dana.

Pentingnya pembangunan resiliensi pada tingkat komunitas versus tingkat individu sudah mendapat perhatian sebagai seperti perhatian yang diberikan oleh institute kajian pengembangan (Institute of Development Studies). Dalam DRR, pembangunan resiliensi individu kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan pada level komunitas. Resiliensi individu hanya menjadi bagian dari strategi membangun resiliensi pada komunitas, yang dalam prakteknya berfokus pada pengukuruan penguatan resiliensi mental.

Pengukuran ini bisa diartikan menjadi bagian dari praktik DRR secara keseluruhan, sebagai contoh: Proyek Palang Merah Mogolia memberikan dukungan sosial kepada orang-orang yang mengalami gangguan jaringan tradisional ketika berhadapan dengan bencana. Namun, ketika disebutkan tentang kemampuan coping individu, maka fokus perhatian lebih sering kepada hal-hal berbau fisik.

Bagaimana cara selamat dari situasi krisis, daripada bagaimana meregulasi dan memanage stress yang sama pentingnya dalam menghadapi ancaman. Sejauh ini program DRR pada peningkatan resiliensi komunitas hanya berfokus pada hal-hal yang tampak dan lebih kepada kuantitas, seperti: bangunan, asset fisik dan financial, kehidupan manusia daripada kapasitas dan kerentanan manusia.

Jika DRR memfasilitasi pembangunan kapasitas psikologis, dalam kebanyakan kasus dilakukan secara tidak langsung, hanya pada tataran komunitas. Sebagai contoh: resiliensi psikologis hanya berfokus pada perbaikan setelah bencana karena hal tersebut berdampak pada stress sehingga menjadi target intervensi setelah bencana.

C. Alasan untuk Mendirikan Intervensi Resiliensi Psikologis

Selain pandangan tentang pentingnya membangun resiliensi pada level komunitas dibandingkan dengan level individu, oleh karenanya penting untuk dilakukan riset berfokus tentang pembangunan resiliensi psikologis, hal ini harus diutamakan sebagai strategi tindakan dalam DRR.

Meskipun pembangunan resiliensi pada level sosial seperti: rumah tanggal, lokal area, dan secara nasional berdampak pada resiliensi psikologis, sebagai contoh:menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk individu, yang menjadi faktor penentu dalam kondisi kesehatan mental. Namun tidak semua aspek fungsi sosial dan resiliensi, seperti: sumber daya ekonomi dan fisik, informas dan komunikasi akan berpengaruh pada resiliensi psikologis.

Tentu saja faktor ini merupakan faktor protektif (pelindung) pada level lingkungan untuk orang yang beresiko (at risk individual). Membangun resiliensi pada sistem sosial tentu tidak boleh tertukar dengan pembangunan resiliensi pada level individu, sebagaimana sistem sosial dan psikologis adalah dua hal yang berbeda. Oleh karenanya, pendekatan berbasis komunitas tidak bisa diintegrasikan ke dalam pembangunan resiliensi pada level individual jika pendekatan berbasis komunitas tidak berfokus pada kebutuhan potensial psikologis individu dalam menghadapi krisis.

United Nation International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) mencatat bahwa disfungsi psikologis merupakan bencana pada resiliensi sosial. Kalau seorang individu tidak mampu coping dengan situasi, maka ia tidak akan bisa resilien dalam menghadapi bencana, yang akan termanifestasi dalam symptom disfungsi psikologis seperti: penyakit, ketidakmampuan terlibat secara sosial, dan kemungkinan tindakan kriminal, yang akan berujung pada membebankan sistem sosial.

Oleh karenanya promosi resiliensi pada level individu bisa mengurangi beban pada sistem sosial, yang juga akan mengurangi dampak setelah bencana. Sebagai contoh ketika kejadian tsunami dan kebocoran nuklir di Jepang tahun 2011, sistem sosial secara cepat tanggap terbentu. Hal ini tidak hanya dikarenakan oleh organisasi non-propit (NGO), akan tetapi juga karena adanya sosialisasi budaya untuk tenang dan sabar kepada penduduk lokal. Kemampuan untuk menghubungkan dan membentuk silaturahmi (bonding) merupakan faktor pelindung pada level individu dan sosial.

Membangun resiliensi psikologis yang menjadi bagian dari strategi DRR tidak hanya relevan untuk populasi rentan akan tetapi juga pada professional yang bekerja di area yang penuh tekanan (contoh: relawan). Kesimpulannya adalah, tujuan DRR dalam memperkuat resiliensi komunitas tidak bisa mengabaikan aspek penting lainnya yaitu resiliensi psikologis.

Resiliensi mental merupakan hal penting pada fungsi sosial, dan membangun resiliensi individual akan bermanfaat juga untuk pengembangan resiliensi berbasiis komunitas. Membangun kemampuan untuk menghadapi (coping) membutuhkan waktu, usaha yang lebih dari sekedar pertolongan psikologis pertama ketika atau setelah bencana. Lebih meluaskan kajian pada pengembangan strategi untuk mempromosikan kekuatan psikologis pada individu ataupun lingkungan dimana individu tersebut tinggal, meningkatkan kapasitas coping, dan faktor pelindung kesehatan mental dalam menghadapi stress.

D. Pendidikan Orang Dewasa Berkontirbusi Pada Pembangunan Resiliensi Psikologis

Pendidikan orang dewasa mengeksplorasi aspek khusus dalam belajar pada kelompok yang menjadi target. Resiliensi adalah sebuah fenomena didasarkan pada proses belajar, sehingga pendidikan orang dewasa akan mendapatkan keuntungan dari pemahamannya tentang kapasitas coping dirinya sendiri. Hasil riset pada professional yang bekerja dengan pendidikan orang dewasa menunjukkan bahwa keterampilan berkomunikasi adalah hal yang bisa diaplikasikan dalam program DRR.

Aksi individu dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana adalah berdasarkan persepsi individu itu sendiri dan akan berpengaruh pda seberapa banyak stress yang ia alami dalam situasi mengancam, oleh sebab itu komunikasi tentang faktor resiko secara professional akan mempengaruhi kemampuan coping individu, memberikan informasi yang tepat tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana, dan mencegah mental overload.

Pendidikan orang dewasa dapat memberikan kontribusi untuk memanipulasi lingkungan untuk memfasilitasi pengembangan coping yang kuat dan sehat pada populasi yang rentan melalui cara riset dengan pendekatan dunia kehidupan yang lebih ril, mendesign lingkungan untuk individu yang beresiko yang dapat mendukung perkembangan.

Pendekatan tersebut bisa diadaptasikan pada sekelompok orang yang tinggal pada darerah tertentu, termasuk orang yang tinggal dalam lingkungan yang sulit, dan bisa berfokus pada hal-hal spesifik yang dapat membantu strukturnya. Pendekatan pendidikan untuk orang dewasa lainnya adalah vocational training, yang dapat memberikan kontribusi pada pengetahuan dan pendidikan pada tenaga professional kesehatan mental dan juga relawan program DRR, meningkatkan keamanan dan dukungan untuk anggota komunitas yang menghadapi bencana.

Training dapat dilakukan untuk professional ataupun relawan. Tentu saja training ini tidak berdampak pada perlindungan kondisi mental relawan namun hal tersebut dapat mengurangi beban masyarakt ketika menghadapi situasi krisis.

Pendidikan pada orang dewasa juga memberikan insight dalam proses belajar sebuah budaya, yang akan memberikan kontribusi pada pembangunan budaya dalam situasi krisis dan bencana. Recovery budaya setelah bencana lebih dari sekedar kompensasi dari kerusakan, rekonstruksi material, dan juga teknisk adaptasi yang dibutuhkan, seperti: pengembangan sistem deteksi dini pada bencana.

Bencana juga bisa mempengaruhi memori kolektif dan proses budaya dalam mengintegrasikan tentang bencana yang baru saja terjadi. Sebagai contoh: pembangunan monument kenangana, serta inisiatif pendidikan bencana untuk masyarakat. Aksi ini bisa didukung oleh pendidikan, menciptakan lingkungan bagi individu yang menawarkan kesempatan untuk mendiskusikan dan menghandle krisis dan bencana. 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Pencegahan, Persiapan, dan Pelatihan Sebelum Bencana"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel