Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling

Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling - Dalam artikel kali ini Universitas Psikologi akan memperkenalkan beberapa dasar konseling dan proses yang harus dilakukan selama konseling. Langkah-langkah ini adalah menurut para ahli dibidang konseling.

Berikut ini anda bisa mencoba mempraktikkan 5 langkah dasar dalam konseling: Bergabung, Eksplorasi, Sharing solusi yang memungkinkan, Membantu klien memilih solusi yang paling tepat, dan Melanjutkan atau mengakhiri.

Langkah-langkah Dasar Melakukan Konseling

Bergabung

Tahap awal ini adalah tahap membangun good raport dengan klien. Kegiatan awal ini biasanya diisi dengan: Memperkenalkan diri anda sebagai konselor dan meminta klien memperkenalkan diri serta menyepakati bahasa apa yang akan digunakan. Mendapatkan informasi umum tentang klien Jelaskan peranan dan tanggung jawab kamu sebagai konselor: mendengarkan, memberikan dukungan, membantu mereka mengidentifikasikan masalah dan solusi yang memungkinkan.
Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling
image source: www(dot)houseofabba(dot)com
Baca juga: Psikologi Konstitusi dan Personologi

Prose praktek langkah 1

  • Memperkenalkan diri anda sebagai konselor dan meminta klien memperkenalkan diri serta menyepakati bahasa apa yang akan digunakan. 
  • Mendapatkan informasi umum tentang klien 
  • Jelaskan peranan dan tanggung jawab kamu sebagai konselor: mendengarkan, memberikan dukungan, membantu mereka mengidentifikasikan masalah dan solusi yang memungkinkan 
  • Alih tangan kasus kalau konselor tidak mampu 
  • Menjaga kerahasiana akan tetapi… 
  • Membahas masalah waktu 
  • Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya 
  • Tanya pendapat klien mengenaik record proses konseling 
  • Pastikan kalau klien merasa nyaman dan aman (jangan pernah menyentuh mereka tanpa meminta izin, buka pintu kalau itu hal yang mereka inginkan) 
  • Bicara dengan klien sesuai dengan usianya (khusus untuk anak-anak) 
  • Jujur, hal apa yang bisa dicapai, positif tapi tetap realistis 
  • Peduli kepada permasalahan klien secara otentik/murni 
  • Sensitif/ peka terhadap budaya klien 
  • Menghargai prinsip kerahasiaan-tidak mendiskusikannya dengan keluarga ataupun teman 
  • Tidak menghakimi klien 
  • Temukan inforasi umum tentang klien (tidak menginterogasi) 
  • Tidak rumus cepat dan khusus dalam membangun kepercayaan dengan klien. Jika konselor menunjukkan empati, mendengarkan secara aktif, kemampuan merefleksikan permasalahan dari awal pertemuan hal ini juga bisa membangun hubungan kepercayaan denganklien 
  • Memberikan ventilasi untuk klien 

Rapport adalah suatu iklim psikologis yang positif, mengandung kehangatan dan penerimaan, sehingga klien tidak merasa terancam berhubungan dengan konselor (Jeanette Murad Lesmana, 2006). fungsi dan tujuan rapport adalah membuat klien merasa nyaman dengan konselor sehingga terjalin hubungan kerjasama yang baik antara klien dan konselor. Struktur dibutuhkan pada tahap awal ini dan untuk memerjelas hubungan antara konselor dan klien, memberikan arah, melindungi hak dan peran masing-masing.

Mengeksplorasi

Memahami permasalahan: mendapatkan pemahaman yang lebih baik lagi terhadap permasalahan yang dihadapi klien dengan cara membantu klien menceritakan permasalah mereka. Fase ini merupakan fase yang panjang dan lama. Ventilasi terus berlanjut pada fase ini Sering klien “stuck” dengan permasalahan, emosi dan pengalaman mereka. Yang konselor lakukan adalah membantu klien mengatur pikiran, perasaan mereka juga kamu bisa mengeksplor pilihan/opsi lainnya. Contoh pertanyaan untuk mengeksplorasi:
  • Apa kabar mu hari ini? 
  • Kita ada waktu sekitar 50 menit. Menurut mu apa yang bisa kita lakukan dengan waktu itu? 
  • Bisakah kamu mengatakan apa yang membawa mu hari ini kemari? 
  • Dimana kau ingin memulainya? 
  • Ceritakan pada ku tentang keluarga mu…siapa saja yang tinggal di rumah? Gimana keadaannya 
  • Bagaimana sekolah/ kerja? Apakah kamu suka dengan guru/bos? Bisakah kamu menceritakannya… 
  • Apa ingatan yang paling menyenangkan dalam hidup mu? Apa yang kamu harapkan? 
  • Apakah ada hal-hal tertentu yang mengganggu mu yang ingin kamu bicarakan? 
  • Saya bisa bantu apa? 
  • Ketika kau merasa siap, kamu bisa memulainya jika kamu mau 
  • JANGAN BERASUMSI DAN MEMBUAT KESIMPULAN apa permasalahannya dari klien. Jangan mengabaikan apa yang dikatakan klien karena kamu berpikir hal itu bukan masalah bagi dirimu. 
  • Sangat penting sekali untuk memahami kehidupan keluarga dan kehidupan sosial, sehingga kamu bisa memahami permasalahannya dan sumber-sumber kekuatan bagi klien 
  • Membuat prioritas terhadap masalah yang ingin diselesaikan terlebih dahulu 
  • Memberikan waktu/ kesempatan. Jangan mengharapkan bahwa klien akan terbuka secara otomatis pada pertemuan pertama, berikan mereka waktu untuk membuka diri. 
  • Jika selama fase eksplorasi kamu menyadari bahwa kasus klien adalah di luar kapasitas, ataupun konseling saja tidak cukup untuk menolong klien. 
  • Alih tangan kasus bukan hanya sebatas menyarankan akan tetapi membantu prosesnya juga. 
  • Jelaskan kepada klien kenapa kamu mengalihkan mereka ke tenaga ahli lainnya, bantu mereka dengan informasi kemana harus pergi, kapan dan siapa yang ditemui mereka 
  • Beritahukan/ informasikan kepada tenaga ahli/ organisasi lain tentang kondisi klien 
  • Tetap memantau kondisi klien yang dialih tangan kasus. Tanggung jawab sebagai konselor berakhir ketika orang lain secara resmi mengambil alih kasus 

Fungsi dan tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui alasan klien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Pendefinisian masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konseling serta menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan klien (positive strength).

Perlu diingat bahwa klien tumbuh dan berkembang dari kekuatannya sendiri, yakni aset-aset positif dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya. Jadi asset-aset positif dan kemampuan itu harus digali untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan untuk perkembangannya di masa mendatang.

Keterampilan-keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam tahapan ini antara lain:
  1. Mampu mengangkat isu dan masalah yang dihadapi oleh klien.
  2. Mengidentifikasikan masalah dan mampu mengdiagnosis secara cermat.
  3. Apabila klien menceritakan masalahnya secara samar-samar, konselor harus membantu klien mengidentifikasi masalahnya secara tepat agar tidak terjadi kekeliruan dalam diagnosis.
Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling
Belajar Konseling Dasar Bagian Satu
Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling
Belajar Konseling Dasar Bagian Kedua

Sharing Solusi yang Memungkinkan

Tanyakan kepada klien apakah solusi yang paling memungkinkan untuk permasalahannya. Hargai idenya dan semangati klien untuk mencari solusi terhadap permasalahannya. Tanyakan kepada klien apakah solusi yang paling memungkinkan untuk permasalahannya. Hargai idenya dan semangati klien untuk mencari solusi terhadap permasalahannya. INGAT konselor HARUS NETRAL meskipun yang solusi dari klien jelak ataupun bagus. Contoh kasus: list solusi untuk siswa yang hamil di luar nikah

Pemerintah memiliki dana bantuan untuk ibu mudah dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.
Bisa menempuh langkah hukum agar ayah dari bayi bertanggung jawab klinik/rumah sakit setempat menggratiskan biaya persalinan. Perkumpulan ibu-ibu yang bisa membantu mengajarkan cara mengasuh anak. Aborsi?

Membantu Klien Memilih Solusi yang Tepat

Sebagai konselor ada beberapa pertanyaan yang harus diajukan kepada klien dalam membantunya menyelesaikan permasalahannya, seperti:
  • Apa pro dan kontra dari setiap pilihan yang diambil? Apa akibat ataupun konsekuensinya? Bagaimana solusi yang diambil akan berdampak pada klien? Apa akibat dari solusi yang diambil terhadap orang lain? 
  • Apa pro dan kontra dari setiap pilihan yang diambil
  • Apa akibat ataupun konsekuensinya?
  • Bagaimana solusi yang diambil akan berdampak pada klien?
  • Apa akibat dari solusi yang diambil terhadap orang lain?
  • Bagaiman caramu agar membuat solusi ini jadi nyata? Langkah pertama apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah
  • Siapa yang bisa membantumu?
  • Apa saja tantangan ataupun masalah yang akan kamu hadapi dengan solusi yang ingin kamu ambil dan bagaimana cara kamu mengatasinya?
  • Di akhir sesi konseling adalah fase resolusi permasalahan.

SEMUA KEPUTUSAN HARUS DILAKUKAN OLEH KLIEN

Klien mungkin tidak siap untuk mengambil keputusan saat konseling berakhir. Dalam kasus ini biarkan klien mempertimbangkannya kembali keputusan apa yang akan diambilnya. Jangan paksakan untuk mengambil saat itu juga.

Kadang klien siap untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil saja dan kemudian dia akan masuk ke fase eksplorasi kembali dengan permasalahan yang lainnya.

Kadang klien malu ataupun resisten untuk melakukan resolusi terhadap permasalahannya ini tandanya ada hal-hal yang dia tidak bicarakan. Eksplorasi kebali tentang perasaan, pikiran seputar permasalahan tersebut.

Terutama untuk konselor pemula ada kecenderungan untuk terburu-buru menyelesaikan masalah karena khawatir tidak bisa membantu klien.

Ada kasus dimana klien hanya butuh teman untuk mendengarkan dan bercerita bukan untuk membantu menyelesaikan masalah.

Melanjutkan atau Mengakhiri

Syarat-syarat terminasi: apakah klien sudah siap secara emosional untuk mengakhiri konseling? bagaimana keluarga bisa terlibat dalam memberikan bantuan? Langkah ini merupakan langkah terakhir dalam konseling. Evaluasi terhadap hasil konseling akan dilakukan secara keseluruhan.

Yang menjadi ukuran keberhasilan konseling akan tampak pada kemajuan tingkah laku klien yang berkembang ke arah yang positif. Evaluasi penting mencakup: Apakah hubungan yang terjalin memberikan kemajuan pada diri klien? Sejauh mana proses konseling membantu? Bila tidak membantu, mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah semua sasaran strategi telah tercapai? Jika sasaran sudah tercapai, sejauh mana sudah tercapai? Dan lain sebagainya.

Menurut Willis (2009)

Langkah terakhir pada sebuah proses konseling akan ditandai beberapa hal: 
  • Menurunnya tingkat kecemasan klien. 
  • Adanya perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat, dan dinamis. 
  • Adanya rencana hidup di masa mendatang dengan program yang jelas. 
  • Terjadinya perubahan sikap positif. Hal ini ditandai dengan klien sudah mampu berpikir realitis dan percaya diri. 
  • Selain hal itu, Willis (2009) juga menambahkan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam langkah terakhir proses konseling adalah: 
  • Membuat keputusan untuk mengubah sikap menjadi lebih terarah dan positif. 
  • Terjadinya transfer of learning pada diri klien, artinya klien mengambil makna hubungan konseling yang telah dijalani. 
  • Melaksanakan perubahan perilaku 
  • Terminasi oleh konselor:Sasaran sudah tercapai
  • Tidak adanya kemajuan, sehingga tidak ada manfaat untuk diteruskan.
  • Klien bersikap dependen (bergantung terus pada konselor) 
  • Terminasi oleh klien:Klien merasa dirinya telah sembuh meskipun sebenarnya hal tersebut hanya berupa pengurangan simtom 
  • Klien merasa telah berhasil sesuai dengan kesepakatan dalam konseling 
  • Terjadinya premature termination yang disebabkan oleh klien menolak pengalaman sakit terkait konseling atau klien menolak berhadapan dengan bagian dirinya yang tidak disukainya, klien tidak memiliki komitmen yang cukup kuat untuk berubah, klien tidak memiliki cukup waktu atau tidak memiliki cukup uang, klien merasa tidak mengalami kemajuan sehingga percuma melanjutkan konseling. 
  • Kadang permasalahan tidak selesai dalam satu kali pertemuan, ada yang harus beberapa kali. 
  • Biasanya konseling tidak lebih dari 1 jam 
  • Sangat sulit untuk me-recall kembali apa yang sudah didiskusikan pada minggu lalu. Gunakan teknik “summary” atau “merangkum” 
  • Move on without assistance 
  • Syarat-syarat terminasi: a. apakah klien sudah siap secara emosional untuk mengakhiri konseling? b. bagaimana keluarga bisa terlibat dalam memberikan bantuan 

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling. Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Langkah Dasar Melakukan Konseling dan Proses Konseling"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel