Dasar-dasar Teknik dan Praktik Konseling Kognitif Behavioral (CBT)

Dasar-dasar Teknik dan Praktik Konseling Kognitif Behavioral (CBT) - Selamat sore mahasiswa kami, setelah sebelumnya membahas artikel tentang Tes Rorschach. Pembelajaran kali ini Universitas Psikologi akan menyajikan artikel mengenai praktek teknik-teknik dasar konseling, khususnya mengenai teori CBT (Cognitive Behavioural Therapy) yang jika diartikan berarti Terapi Perilaku Kognitif.

Latar Belakang Munculnya Teori CBT

Teori lain mengatakan hubungan yang penting antara klien dan konselor merupakan hal yang penting, tapi fokus permasalahan tidak begitu penting. Konselor CBT percaya bahwa perubahan pada diri klien karena cara berpikir yang berbeda sehingga cara bertingkah laku pun berbeda.

Tujuan Konseling Kognitif Behavioral

Terapi/ konseling Kognitif Behavioral merupakan salah satu treatment untuk menolong klien mengerti bahwa pikiran dan perasaan mempengaruhi perilaku. Dengan cara mengajarkan kepada klien bahwa dia tidak bisa mengontrol setiap aspek dalam kehidupan di sekitarnya. Akan tetapi klien dapat mengendalikan caranya memaknai dan berhadapan dengan lingkungannya. Berpikir yang irasional dipelajari, oleh sebab itu kalau mau berpikir rasional maka hal tersebut harus dipelajari.
Dasar-dasar Teknik dan Praktik Konseling Kognitif Behavioral (CBT)
image source: www(dot)elitehealth(dot)com(dot)au
Baca juga: Tahapan Pelaksanaan, Kartu Bercak, dan Prosedur Khusus Tes Rorschach (Bagian Ketiga)

Peranan Klien dalam Konseling CBT

Selama proses konseling klien belajar untuk mengidentifikasikan pikiran yang irasional yang memiliki pengaruh yang buruk terhadap tingkah laku.

Hubungan Klien- Konselor di CBT

Dalam Terapi Kognitif-Behavioral (TKB), konselor dan klien bekerjasama untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang menyebabkan timbulnya gangguan fisik-emosional. Fokus dalam terapi ini adalah berusaha mengubah pikiran atau pembicaraan diri (self talk).

Konsep dalam CBT

  • Setiap orang dapat menafsirkan kejadian kehidupan dengan sangat berbeda, yang berakibat pada konsekuensi-konsekuensi emosional dan behavior yang banyak dan bervariasi. 
  • Beberapa dari konsekuensi tersebut dapat menolong ( helpful ) atau tidak begitu menolong ( unhelpful ) dalam kehidupan kita sehari-hari. 
  • CBT bukanlah mengenai “melihat sisi yang lebih terang atau baik.” CBT adalah mengenai belajar strategi-strategi khusus untuk berpikir lebih realistis mengenai kehidupan. Strategi-strategi ini secara bersama-sama disebut “Restrukturisasi cognitive.” 
  • Prinsip CBT adalah bahwa keyakinan yang negatif dan tidak menolong perlu “diuji,” guna menentukan apakah keyakinan tersebut akurat, realistis, dan benar. Dalam kebanyakan kasus, pemikiran / keyakinan tersebut sesungguhnya miskonsepsi ( salah mengerti ) yang irasional ( disebut “Bias cognitive” ), yang menimbulkan distres dan membuat lebih sulit menanggulangi suatu situasi. 

Irasional Belief

  • Berpikir Hitam-Putih. Melihat sesuatu dalam bentuk “all good-or-all bad” (semua baik atau semua buruk) 
  • Berpikir katastrofik. Melebih-lebihkan suatu kesalahan atau masalah dengan membesar-besarkannya di luar proporsinya. 
  • Gemar membaca pikiran. Lebih banyak membaca behavior dan ekspresi orang lain daripada apa yang sungguh-sungguh terjadi. Contoh: jika atasan anda memanggil anda untuk datang ke ruangannya untuk berbicara dengan anda, anda berpikir, “Beliau menatap saya dengan aneh. Pasti ia marah pada saya dan saya akan memperoleh masalah yang besar.” 
  • Meramal. Membayangkan skenario kasus terburuk akan terjadi dan beranggapan bahwa semua peristiwa kehidupan akan berakhir buruk. 
  • Pemberian label. Anda melekatkan label/cap negatif terhadap diri anda sendiri atau orang lain daripada menggambarkan behavior aktualnya. 
  • Generalisasi berlebihan. Membuat sebuah kesimpulan umum berdasarkan satu insiden. 

CBT

  • CBT sangat populer karena sesi konseling yang singat, lebih murah dibanding konseling jenis lainnya, secara empiris didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan mampu mengatasi perilaku maladaptif. 
  • CBT sering digunakan untuk menangani kasus phobia, kecanduan obat-obatan, depresi, PTSD dan cemas. 
  • Keuntungan CBT, ketika klien mengerti how and why mereka menjadi sehat secara mental, maka perilaku terssebut cenderung menetap dan lama. 
  • CBT cocok untuk klien yang nyaman dengan introspeksi. Supaya CBT bekerja lebih efektif, klien harus mau dan bersedia menghabiskan waktu dan tenaga untuk menganalisa pikiran dan perasaannya sendiri. 
  • CBT cocok untuk orang yang mencari treatment/ konseling jangka pendek yang tidak menggunakan obat-obatan. 
  • Salah satu kelebihan CBT adalah mengajarkan keterampilan coping yang bisa berguna untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. 
  • CBT menggunakan metode Socratic. Dalam rangka memahami alasan di balik cara berpikir klien, dengan cara bertanya kepada klien ataupun mengajak klien bertanya kepada dirinya sendiri. Contoh: “bagaimana kamu tahu kalau orang-orang tersebut menertawai ku?” bisakah mereka tertawa tentang hal yang lain?” 
  • CBT terstruktur dan direktif. Terstruktur maksudnya: Setiap sesinya ada agenda yang ingin dicapai. Teknik/ konsep khusus diajarkan selama sesi dan berfokus pada tujuan klien. Direktif disini bukan mengatakan apa tujuan konseling dan apa yang harusnya mereka toleransi, akan tetapi kita menunjukkan bagaimana berpikir dan bertingkah laku untuk mencapai apa yang mereka inginkan/ tujukan. Jadi yang dilakukan konselor, bukan mengatakan apa yang harus dilakukan tapi bagaimana melakukannya. 

Teknik-teknik dalam CBT

  • Ketika klien menyadari beberapa pikiran tidak rasional dan tidak sehat bukan berarti secara otomatis perilakunya bisa berubah, sehingga dalam penggunaan CBT tidak bisa menggunakan satu teknik saja tapi menggunakan beberapa teknik, seperti: relaksasi, journaling, 
  • Eksperimen perilaku: untuk mengetes cara berpikir seseorang yang memberikan bukti objektif tentang cara berpikir mana yang lebih baik. Contoh: “Kalau saya mengkritik diri saya karena makan terlalu banyak, maka makan terlalu banyak saya berkurang” VS “ Kalau saya berbicara dengan diri saya secara baik-baik, maka makan berlebihan saya akan berkurang” 
  • Rekaman evaluasi pikiran: untuk mengetes seberapa valid cara berpikir seseorang. Contoh: Ketika mahasiswa mendapat feedback dari dosennya maka ia berpikir bahwa dirinya tidak berguna Mahasiswa tersebut bisa melakukan “rekaman evaluasi pikiran” --- dosen ku memberikan masukan positif kemarin ATAU dosenku memberikan masukan kepada ku, kalau dia berpikir aku tidak berguna mungkin dia tidak akan memberikan masukan kepada ku. 
  • Rekaman evaluasi pikiran membantu mengubah keyakinan irasional menjadi lebih rasional dan logis. Eksperimen tingkah laku membantu merubah keyakinan irasional dan juga perasaan klien (meskipun apa yang dirasakan itu benar terlepas dari kenyataan yang ada).
  • Menjadwalkan kegiatan yang menyenangkan (terutama untuk klien dengan kasus depresi). Jadwal kegiatan harian: memberikan perasaan mampu menguasai, mengatur, dan kepuasan akan pencapaian. Hal ini bisa membantu seseorang berpikir negatif, rigid dan berfokus dengan diri sendiri.
  • Disentisasi sistematis: perlahan-lahan mendekati objek / sesuatu yang menjadi sumber masalah klien (dimulai dari hal yang kurang menakutkan/mencemaskan ke hal yang palng mencemaskan/ menakutkan). 
  • Teknik implosif: mengarahkan klien untuk membayangkan situasi stimulus yang mengancam secara berulang-ulang. Karena dilakukan secara terus menerus dan konsekuensi menakutkan tdk terjadi maka diharapkan kecemasan klien tereduksi.
  • Homework/ PR: memberikan pekerjaan rumah untuk mempraktekkan teknik yang sudah dipelajari selama prosesi konseling.

Terapi Tingkah Laku (TL)

Pandangan Utama tentang Sifat Manusia

  • Manusia pada dasarnya dibentuk dn ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya 
  • Manusia adalah organisme respon 
  • Behavioris radikal menolak asumsi bahwa TL dipengaruhi oleh pilihan dan kebebasan 
  • Berikan sejumlah bayi yang sehat dia akan menjadikan bayi –bayi tersebut menjadi apa saja yang dia inginkan 

Ciri-ciri Terapi Tingkah Laku (TL) 

  • Pemusatan perhatian pada TL yang tampak dan spesifik 
  • Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatmen 
  • Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah 
  • Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi 
  • Tujuan terapi adalah memperoleh TL baru; penghapusan TL yang maladaptif dan mempertahankan perilaku yang diinginkan 
  • Hasil terpi dapat dievaluasi karena tujuan dan teknik terapi yang jelas 

Tujuan-tujuan Terapeutik

  • TL dipelajari (learned); adaptif ataupun tidak, maka Tl bisa dihilangkan (unlearned) 
  • Terapi ini pada dasarnya penghapusan Tl yang tidak adaptif dengan mempelajari respon baru 
  • Kesalahpahaman tentang terapi TL: dangkal (penanganan hanya pada gejala), tujuan terapi ditentukan oleh terapis 
  • Misal: klien ingin mengaktualkan diri. Maka ini harus di breakdown lagi: (1) membantu klien lebih asertif (2) membantu klien menghapus ketakutan yang menghambat dalam keterlibatan sosial

Fungsi dan Peranan Terapis

Berperan aktif dan direktif: guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosa TL maladaptif dan mengarahkan pada TL yang adaptif :
  • “Pengendali” atau “Manipulator” 
  • “Mesin Perkuatan” 
  • “Model bagi Klien” 

Pengalaman Klien dalam Terapis

Klien bersifat aktif, & partisipatif. Aktif: menetapkan tujuan, mengambil cara-cara alternatif dalam mencapai tujuan. Partisipatif: bereksperimen dengan TL yang baru, mengeneralisasi dan mentransfer belajar yang diperoleh dari terapi kedalam kehidupan sehari-hari

Hubugan antara Klien dan Terapis: Mekanistis, Manipulatif dan Impersonal

  • Exposure therapy: desensitisasi sistematik, In vivo exposure dan Flooding 
  • Social Skill Training 
  • Terapi aversi 
  • Pengkondisian operan (positive/negative reinforcement, positive/negative punishment shaping, Perkuatan intermiten, Penghapusan (Extinction), Token economy)

Desensitisasi Sistematis

Berdasarkan prinsip classical conditioning, dikembangkan oleh Joseph Wolpe
  • Tahapan dalam desensitisasi sistematik McNeil and Kyle (2009) : (1) training relaksasi, (2) mengembangkan hirarki kecemasan (2) menggunakan desensitisasi 
  • Teknik membayangkan objek atau situasi yang ditakuti secara langsung + menggunakan teknik relaksasi 
  • Training relaksasi: klien diminta untuk membayangkan situasi yang membuat rileks. Karena sangat penting bagi klien untuk berada dalam situasi rileks dan tenang

In-vivo exposure

In-vivo exposure: konfrontasi langsung objek ditakuti, kegiatan, atau situasi dengan pasien + relaksasi otot.

Contoh: orang dengan gangguan kecemasan sosial yang takut berbicara di depan umum mungkin diminta untuk langsung menghadapi ketakutan dengan memberikan pidato + Relaksasi.

Flooding

In-Vivo Flooding: konfrontasi langsung objek , kegiatan, atau situasi yang ditakuti dengan pasien tanpa ada relaksasi. Dilakukan secara berulang-ulang-----perilaku yang maladaptif akan berkurang

Imaginal Flooding: konflrontasi langsung objek , kegiatan, atau situasi yang ditakuti melalu membayangkan situasi stimulus yang mengancam secara berulang-ulang ---- maka diharapkan kecemasan klien tereduksi.

Social Skill training

  • Modifikasi perilaku 
  • Training keterampilan sosial: asertif, role play. 
  • Anger management training

Modifikasi Perilaku

  • Orang harus memutuskan perilaku spesifik apa yang ingin diubah. 
  • Banyak orang tidak bisa mengubah perilakunya karena kurangnya keterampilan dan ekspektasi untuk perilaku berubah yang tidak mungkin dicapai. 
  • Harapan (Hope) merupakan faktor terapeutik yang akan mengarahkan perilaku pada perubahan, akan tetapi harapan tidak realistis bisa membentuk pola gagal 
  • Menetapkan tujuan. Tujuan harus ditetapkan satu per satu, harus terukur, dapat dicapai, positif, dan signifikan bagi klien, harapan realistis 
  • Menerjemahkan tujuan ke dalam perilaku sasaran. Setelah target untuk perubahan yang dipilih, mengantisipasi hambatan dan memikirkan cara-cara untuk mengatasinya. 
  • Self-monitoring. Mengamati perilaku Anda sendiri, dan membuat catatan perilaku. 
  • Action. Self-reinfocement diperlukan pda tahap ini sampai terbentuknya perilaku baru 
  • Evaluasi, evaluasi adalah proses berkelanjutan dan praktik sepanjang hidup

Sekian artikel Universitas Psikologi tentang Dasar-dasar Teknik dan Praktik Konseling Kognitif Behavioral (CBT). Semoga bermanfaat.

Berlangganan artikel terbaru via email:

0 Response to "Dasar-dasar Teknik dan Praktik Konseling Kognitif Behavioral (CBT)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel